
“Kamu beneran di suruh Bu Renny?” tanyaku yang sebenarnya ragu kalau wali kelas kami itu mengutus Ivan untuk menjengukku yang beru 1 hari libur. Aku mengangkat kepala melihat ke arahnya. Dan ya, Ivan nyengir kuda menjawab pertanyaanku. Ia tidak disuruh Bu Renny sama sekali.
“Aku permisi pulang karna aku ngerasa sakit juga.” Tuturnya lagi. Kini wajahnya lebih santai, tidak sekikuk tadi.
“Kalau sakit kenapa kamu ke sini?” tanyaku heran. Seharusnya ia ke UKS atau kalau pun sudah tidak tahan, bisa pulang langsung ke rumahnya, atau ke klinik, atau ke rumah sakit sekalian jika memang diperlukan. Ivan memang memiliki cara pikir yang tidak bisa kumengerti. Namun Ia hanya mengangguk-angguk kecil mendengar pertanyaanku.
“Kamu gak lagi kesambet kan?” tanyaku lagi karna Ivan cuman diam tidak menjawab pertanyaanku tadi. Kemudian Ia menggeleng dan memasang tampang yang tidak seperti biasanya. Bagaimana aku menggabarkannya ya? Ia canggung begitu pula dengan aku, terkadang ia tersenyum tipis dalam diamnya dan beberapa kali ia melempar sorot mata khawatir dan sedih padaku. Apa terjadi sesuatu padanya? Tapi apa peduliku. Ah setidaknya aku merespon baik karna ia sudah mau repot datang kemari walaupun entah karna alasan apa.
“Kamu sakit apa?” tanyaku kemudian, belum pernah aku bertanya sebanyak ini pada orang yang tidak akrab. Ivan melihat ke arahku dengan wajah yang..., terkejut? Senang? Tidak, tidak, ia sedang berusaha menyembunyikan apapun yang sedang ia rasakan. Mengapa aku bisa menapsirkan kalau ia sedang berusaha menyamarkan sesuatu? Hal itu terlihat jelas dan terang saat ini, seperti melihat bulan di malam gelap. Entah apa yang sedang melanda Ivan, tapi aku tidak punya hak untuk ikut campur.
“Sakit perut.” Jawabnya sambil mengangguk-angguk kecil, seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri tentang sakitnya. Ivan sedang bebohong. Aku terkekeh dalam hati mendapati kenyataan bahwa Ivan bebohong. Namun aku tidak akan membuatnya malu, mungkin ia hanya ingin kabur dari sekolah dan tak tahu mau kemana. Tapi tunggu dulu. Darimana Ivan tahu rumah Bibi?
“Kamu kok bisa tau aku tinggal di sini?” tanyaku penasaran, jangan sampai dugaanku kalau Ivan menguntitku itu benar.
“Kamu nulis alamat tempat tinggal kamu waktu tugas perkenalan Mr. Cloud.” Jawabnya santai. Oo iya, aku juga menambahkan itu di biodata singkatku waktu itu. Aku bernapas lega. Dan lagi-lagi suasana canggung merambati seisi ruangan. Mungkin lebih baik aku melanjutkan lagu yang tadi kudengar sebelum sebentar lagi Ivan akan pergi atau jika dia tidak belum mau pergi maka aku akan mengusirnya perlahan. Tapi nanti, sebentar lagi. Demi rasa sopan santun, penghargaan dan rasa terima kasih kepada sesama manusia, aku akan membiarkannya di sini sebentar lagi.
Aku menekan tombol play pada layar ponselku, untuk melanjutkan lagu yang tertunda, dan untuk mengusir kecanggungan ini.
Namun kurasa cukup kumenunggu
__ADS_1
Semua rasa tlah hilang
Sekarang aku tersadar
Cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
Dahulu kaulah segalanya
Namun sekarang aku mengerti
Tak perlu kumenunggu sebuah cinta yang semu
Aku menikmati lagu itu sebisa mungkin, membuang pandangan ke semua arah dan tak sengaja melihat wajah Ivan berubah menjadi murung dan menunduk. Ivan kenapa? Apa karna lagu ini ia jadi teringat masalahnya? Memangnya apa yang sedang ia alami? Apa sangat sulit hingga ia yang merupakan siswa pintar memilih bolos dengan alasan konyol? Rahangnya yang agak tirus namun terlihat tegas mengeras, ia sedang menahan sesuatu yang sedang bergejolak di suatu tempat, entah itu di hati atau pikirannya, atau justru keduanya. Kenapa hatiku merasa sedih melihatnya seperti itu?
---------------------------------
__ADS_1
Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉
Jangan lupa vote yaa...
CARA VOTE
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊