
Kita sudah berkenalan sebelumnya, ya hanya sebatas hal yang aku izinkan untuk kalian tahu. Dan aku akan membeberkan beberapa rahasial kecilku. Seorang introvert memiliki banyak rahasia. Aku ingin membagi beberapa pada siapa saja yang sudi membacanya.
Aku orang yang iri\-an. Aku selalu iri pada orang\-orang yang memiliki banyak teman, disukai banyak orang, berinteraksi dengan riang, berlari menjelajahi dunia tanpa beban membiarkan masalah hidupnya menjadi mudah dengan sendirinya. Aku iri pada orang\-orang yang tidak mudah kikuk dengan situasi apapun, orang yang dengan mudah berbicara dengan orang lain kemudian menjadi akrab, bertukar nomor handphone, berinteraksi di sosial media, dan hal sejenis lainnya. Hal yang tidak mampu aku lakukan karna aku seorang introvert. Mungkin banyak diantara kalian yang merasa hal ini terlalu mengada\-ada layaknya drama, namun begitulah adanya, drama itu nyata.
Aku punya kekhawatiran yang sudah tertanam di alam bawah sadarku, sehingga kemunculannya itu otomatis. Kekhawatiran itu entah sejak kapan datang dan bersemayam dalam diriku, aku tidak tahu. Ketika aku duduk di sebuah bangku panjang di dekat sekolah, aku sedang menunggu ayah menjemputku. Di sampingku ada seorang anak perempuan sebayaku, saat itu aku masih kelas IX\-D, dan anak perempuan yang duduk di sampingku itu namanya Gadis, dia anak kelas IX\-C. Bukan hanya aku dan dia yang duduk bersampingan, kelas kami juga bersebelahan, namun aku tak pernah berbicara dengan si Gadis ini, bahkan saat dia duduk di sampingku dan hanya ada kami berdua di sana. Waktu berjalan terseok\-seok terasa lamban bagiku, mungkin juga untuk si Gadis karna harus terjebak dengan orang kikuk sepertiku. Dalam hati aku ingin sekali memulai percakapan basa\-basi dengannya, tapi aku takut kalau dia tidak akan meresponku, takut dia tidak akan mendengar kata\-kataku, takut kalau dia tidak suka bicara padaku, takut kalau dia bepikir aku sok akrab dengannya. Dan masih banyak ketakutan dan kekhawatiran lainnya. Sehingga aku memutuskan tunduk meratapi kedua sepatu malang yang selalu kujadikan sasaran tatapan pasrah di banyak situasi. Tiba\-tiba perempuan paruh baya datang menjemput Gadis, tanpa kusangka Gadis menyebut namaku Nay, duluan ya. Katanya sambil tersenyum padaku, dan kubalas dengan senyum kaku disertai anggukan yang tak kalah kaku. Ini sulit bagiku, akan lebih mudah kalau aku harus membaca sebuah buku 800 halaman dari pada harus berkenalan atau memulai pembicaraan dengan orang yang tidak akrab denganku.
__ADS_1
Suatu sore aku dan kakakku yang nomor 2 duduk manis di teras rumah sambil bertukar cerita tentang sekolah, tiba\-tiba seorang temannya datang bergabung mengobrol bersama kami. Tahukah kalian apa yang kurasakan? Aku risih dan memilih pergi. Aku tak mampu mngendalikan perasaanku. Dengan nyengir kaku kukatakan kalau aku mau mandi, padahal aku sudah mandi setengah jam sebelumnya. Perasaan risih yang kumiliki karna aku tidak mau mendengar celotehan orang lain yang akan membuat aku terganggu atau sakit hati seperti hari\-hari yang lalu. Ini semacam proteksi diri yang muncul dalam bentuk perasaan yang kuat sehingga aku risih berada diantara orang yang tidak akrab dalam hidupku. Ditambah lagi karna aku bodoh dalam bersosialisasi, maka sempurnalah kediamanku ini.
__ADS_1
‘Dunia bertambah tua, kemajuan dan kemutakhiran dikoak\-koakkan, kebakaran serta kemiskinan juga perang bersemayam di lubuk hati bumi yang terdalam. Semua berdampingan dengan anggun dalam harmonisasi yang canggung. Namun kita katakan saja dengan pasrah alih\-alih tak berdaya bahwa semua harus berjalan di garis porosnya masing\-masing, sambil kita terus berupaya menjadi manusia yang lebih baik. Pernyataan ini timpang, tapi aku bisa apa? Oh iya, aku punya doa untuk kita semua.’ Itu adalah sepenggal kutipan hasil kesepakatan miris hati dan pikiranku. Sebuah kerja sama yang baik antara keduanya. Bagaimana pendapatmu tentang apa yang kupikirkan? Apa aku masih terlihat tidak memiliki simpati dan empati kepada orang lain? Apa aku hanya memikirkan diriku seorang? Apa aku tetap terlihat egois? Apa mereka masih berpikir kalau aku monster kutub tak berperasaan? Mengapa mereka menghukumku dengan penilaian mereka padahal mereka tidak tahu apapun tentangku? Apa itu adil? Jika kalian menemukan orang lain yang lebih memilih menyimpan kata\-katanya dari pada mengumbarnya, bukan berarti dia tidak perduli, bukan berarti dia bengis, bukan berarti dia sombong, dan bukan berarti dia adalah berbagai hal negatif yang ada di dalam pikiran kalian, tapi percayalah dia memiliki alasan yang mungkin sulit untuk kalian pahami. Untuk itu ia lebih memilih diam sebagai pelarian.
Siapa pun kalian, kalian bebas menjadi diri kalian, apapun pilihan yang kalian buat. Orang lain tidak memiliki hak untuk menghakimi. Jika seseorang menilai dirinya lebih baik dari orang lain, itu artinya ia tidak mengenal dirinya sendiri apa lagi mengenal orang lain. Tidak ada siapa lebih baik dari siapa pun, yang ada kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri dan mengakui keberadaan orang lain dengan kepribadian yang ia miliki, kepribadian yang pasti berbeda dan membawa keistimewaannya masing\-masing. Yakinkan diri, bahwa kita tidak memiliki hak untuk menzolimi siapapun dalam bentuk apapun.
__ADS_1
Seorang introvert pemikir sepertiku selalu memikirkan tindakan, sikap, prilaku, dan bahasanya. Walau aku selalu memikirkan segala sesuatunya bukan berarti semua yang kulakukan sempurna tanpa cela, tidak tentu tidak begitu. Aku hanya manusia biasa seperti kalian juga.