
Suasana hening dengan pikiran yang ramai berpadu dalam harmonisasi yang ganjil. Otakku mencari berbagai alasan logis tulisan Ivan satu setengah tahun lalu, tapi nihil. Ditambah lagi kenyataan bahwa Ivan juga pernah menyatakan kalau ia menyukaiku kala itu. Semua alasan dan penjelasan menguap ke udara dan hilang begitu saja. Tapi bukankah itu hanya masa lalu? Buktinya Ivan sudah memulai sesuatu yang baru dengan Yasemin. Ya, aku hanya perlu menganggap kalau semua ini adalah cerita yang sudah selesai.
“Ivan memang pernah bilang suka sama aku, tapi itu dulu, 2 tahun yang lalu. Sekarang dia udah move on kali, La. Noh dia pacaran sama si ‘gorgeous girl yasemin’.” Ujarku meyakinkan Ela. Tapi Ela malah tersenyum getir membalas perkataanku.
“Kamu gak ngerasa kehilangan Ivan?” Balas Ela. Aku menimbang\-nimbang, dan menemukan kalau aku memang merasa kehilangan, tapi aku yakin hal itu karna tiba\-tiba Ivan tidak ingin bicara padaku, padahal kita selama ini akrab. Ivan berusaha ada untukku dan mungkin juga untuk Ela, tentu aku merasa kehilangan karna Ivan menarik dirinya dari kami. Aku mengangguk sambil berujar,
“Kamu merasa kehilangan juga kan, La?” tanyaku memastikan. Tapi Ela menggelang.
“Aku tetap ngobrol sama Ivan, lewat chat atau telpon juga.” Ujarnya. Hm, berarti Ivan hanya menarik dirinya dariku. Aku semakin merasa bersalah.
“Nay, aku akan memperjelas segala sesuatunya sama kamu, karna nunggu kamu peka dengan perasaan orang lain itu kayak nunggu kamu disambar petir di siang bolong tau gak. Batu banget.” Ujar Ela setengah geram. Ya, aku memang bukan orang yang peka.
“Jangan potong cerita aku, oke?” perintah Ela padaku, dan aku menurut dengan baik.
“Setelah aku nemuin buku Ivan dan dengan kurang ajar baca semua isi buku itu, aku simpan bukunya, takut kalau ada orang lain yang baca. Besoknya baru aku kasi ke Ivan, waktu aku ngasi buku itu sama dia mukanya langsung kaget dan rada pucat. Terus aku nyengir aja dan bilang ‘aku gak sengaja liat di laci kamu, dan maaf aku baca dikit’ dan tau apa? mukanya yang datar itu jadi salah tingkah. Setelah itu aku mau pergi, eh dia langsung ngajak aku bicara ke tempat yang sepi\- sepi gitu. Aku tau apa yang Ivan mau perjelas saat itu, jadi aku ikut. Dan bener aja, Ivan nanya tulisan yang ada nama kamu itu. aku jawab aja aku udah baca bagian yang itu juga. Ivan bener\-bener panik, Nay, mukanya udah gak ada ganteng\-gantengnya. Terus kamu bisa nebak apa yang dia lakuin selanjutnya? Dia memohon sama aku, Nay. Ckckckc. Awalnya aku mikir kalau dia takut ketahuan orang\-orang dan malu, tapi ternyata aku salah, yang dia takutin cuman satu ‘Ivan takut kamu benci sama dia, terus menjauh’ pelan\-pelan dia ceritain perasaanya ke kamu.” Ela berhenti sejenak, dan aku tertegun menyimak penuturan gadis ini, Ela bukan pembohong, ia bukan tipikal orang yang akan membuat\-buat cerita bullshit. Tapi bukankah semuanya sudah berlalu.
__ADS_1
“Nay, Ivan belum pernah berhenti, bahkan rasa sayangnya ke kamu membuat dia merasa lebih baik.” sambung Ela lagi, kalimat singkat yang aneh. Sayang? Sayang yang seperti apa? Aku sulit mencerna semua ini.
“Bahkan Ivan masih tanya pendapat aku sehari sebelum Edgar ngelabrak gara\-gara mading hari itu. Ivan bilang dia mau ajak kamu ngirim karya ke koran. Bahkan dia bilang ‘lucu ya, La, aku naik kelas modusin Nayya si Es Batu’ sambil ketawa\-ketiwi kayak orang sedeng. Ivan masih Ivan yang sama, dengan hati yang sama. Tapi si bagong kamvret itu gak mau cerita soal si Yasemin sok populer itu sama sekali. Cuman bilang ‘temen satu kelas, La.’ Aku gondok banget sama si Ivan, Nay. Sebenernya apa yang terjadi sih, kenapa Ivan marah sama kamu?” Tanya Ela setelah ceritanya yang penuh ekspresi. Ela tak menyadari bahwa aku telah larut dalam keterpanaan akan ucapannya dan terbang menuju alam pikir yang dilapisi awan pekat dan gelap saat ini. Aku frustasi.
“Woi, Nay! Kok ngelamun sih?” Ela mengguncang lenganku karna tidak merespon pertanyaannya.
“Hm? Kamu bilang apa tadi?” Tanyaku memastikan.
“Kamu kok gak langsung cerita sama aku, Nay? Kamu nganggep aku gak sih?!” Mata Ela berkaca\-kaca, ia marah. Apa yang harus kulakukan.
“Aku bukan gak nganggep kamu, La. Tapi aku cuman gak mau kamu khawatir, aku gak mau kamu kena masalah cuman gara\-gara Edgar, gak penting, La. Lagian semua juga udah berlalu kan?” ujarku ingin menenangkannya. Tapi air mata gadis sebayaku ini malah turun ke pipinya. Aku harus bagaimana sekarang?
__ADS_1
“La, aku minta maaf, aku cuman takut kamu kebawa emosi dan labrak balik si Edgar, aku gak mau kamu jadi tontonan geratis orang.” Ujarku berusaha ingin membuatnya mengerti. Ia mengusap air mata di pipinya dan menatapku.
“Jadi mereka harus bayar kalau mau nonton aku?” tanyanya, hah? Si Ela masih sempat bercanda? Aku sudah mulai panik tapi ia masih bisa bergurau.
“Bukan gitu la, aku gak mau orang buat gosip yang gak bener soal kamu.” Ujarku kemudian. Ela menjadi lebih tenang, aku memberinya tisu dan ia menghapus semua air matanya.
“Sorry, aku kebawa perasaan.” Aku mengangguk mengerti, aku tahu sejak pertama bertemu kalau Ela orang yang luar biasa baper.
“Pantes aja Ivan marah sama kamu, aku aja gak terima kamu giniin. Kayak kamu gak nganggep aku sahabat kamu, padahal aku menempatkan kamu sebagai sahabat aku, Nay.” Aku tertunduk lesu mendengar ucapan Ela.
“Aku terpengaruh kata\-kata Edgar, aku merasa buruk dan gak pantas jadi sahabat kamu dan Ivan. Belum lagi aku merasa kalian kasihan sama aku.” Tuturku masih menunduk.
“Nay,” panggil Ela kemudian meraih tanganku dan membawa kedua tangaku ke dalam genggaman tangannya. Aku menatap gadis dengan senyuman manis di depanku ini.
__ADS_1
“Aku selalu kagum sama kamu, baik, pinter, keren, cantik, dan realistis. Aku gak tau apa yang membuat kamu terlalu melindungi hatimu dari rasa sakit. Kamu mengolah hampir semua hal dengan logika, sampe kamu mungkin gak tau apa yang sedang hatimu rasakan. Semua rasa yang datang ke dalam hati itu adalah anugrah, Nay, kamu gak perlu lari, kamu hanya harus hadapin. Karna lari gak akan membuat kamu tenang, justru semua itu akan jadi bom waktu yang siap meledak kapan aja kalau dipicu. Kalau kamu merasa sakit, kamu bilang kamu sakit, dan bukan malah meyakinkan dirimu dan orang lain kalau kamu baik\-baik aja. Berbagi, Nay. Dengan begitu kamu bisa memaafkan dirimu sendiri dan orang lain. Dan kamu akan menyadari kalau kamu memiliki orang\-orang yang peduli, sayang, dan tulus sama kamu. Dan Ivan, dia udah berjuang dan berkorban banyak untuk kamu, setidaknya kamu harus tahu itu. Mau kamu balas atau gak perasaan Ivan itu hak kamu. Jangan marah sama Ivan, karna perasaan Ivan itu adalah hak Ivan.” Tutur Ela, aku tersenyum kagum pada gadis baper nan dewasa di depanku ini. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Ela. Aku akan memikirkan baik\-baik perkataannya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗