
Saat sekolah dasar aku memiliki seorang sahabat, namanya Lia. Lia anak orang kaya di kampungku tapi dia sangat baik dan lumayan pintar. Kami sering bersama, di sekolah pagi maupun sore kami duduk sebangku dari kelas 1 hingga kelas 4. Bahkan kami punya jadwal menginap, setiap malam jum’at aku tidur di rumahnya dan setiap malam minggu ia menginap di rumahku. Saat memiliki seseorang yang kuanggap sahabat, maka aku akan menyayanginya. Sayang dalam artian yang sesungguhnya, sayang seperti kepada adikku sendiri, mungkin karna aku tak memiliki adik.
Cara bertemanku adalah banyak mendengarkan dan melakukan aktivitas menyenangkan. Karna sangat akrab dengan Lia banyak sekali orang yang mengatakan kalau kami mirip. Memang jika diingat-ingat ada beberapa hal yang membuat kami mirip, kami sama-sama memiliki kulit kuning langsat, ramput panjang sepinggang bergelombang, gigi kelinci dan mata yang cukup besar, namun bedanya hidung Lia pesek dan hidungku mancung serta alisnya tipis dan alisku tebal. Tinggi kami sama dan kami sama-sama gadis kecil yang pendiam.
Setiap menginap di rumah Lia ibunya selalu bertanya padaku
"Nayya makan apa sih di rumah, vitamin ya? Kok Nayya pinter banget sih? Sering-sering ajari Lia belajar ya biar gak main terus. Nayya tiap tahun selalu juara ya? Ibu Nayya pasti bangga banget. Si Lia udah bibi kasi minum sirup A sirup B, Vitamin C vitamin D, biar pinter kaya Nayya tapi masih lima besar aja, sekali-sekali pinjamin juara satunya sama Lia dong? Hahaha."
Kadang-kadang ibunya memuji masalah fisik seperti ini
"Nayya cantik ya Lia, kayak India. Nanti kalau udah besar Nayya pasti banyak yang suka."
Dan begitulah pujian silih berganti diucapkan ibu Lia padaku di depan Lia dan terkadang juga di depan ayah Lia. Iya, Lia anak tunggal jadi hanya ada Lia, ibu dan ayahnya.
Ayah Lia adalah ayah yang sangat baik di mataku. Dia sosok ayah yang sangat menunjukkan kasih sayangnya kepada Lia. Buktinya Lia selalu di antar jemput sekolah, dan sampai kelas 4 SD setiap tidur di rumah Lia ayahnya selalu mengantarkan Lia hingga terlelap menjenguk alam mimpinya. Lia pun sangat manja dengan ayahnya, Lia lebih sering memanggil ayahnya jika memerlukan sesuatu ketimbang ibunya, Lia juga lebih sering bercerita tentang ayahnya di banding ibunya, Lia sangat dekat dengan ayahnya. Berbeda denganku yang takut dengan ayah, karna ayahku adalah pria dewasa yang pendiam dan jarang tersenyum. Aku lebih suka ibuku yang sering berbicara lemah lembut meskipun sangat tegas. Aku dan kakak\-kakakku dibesarkan dengan disiplin dan tekad yang kuat dalam belajar. Meski kami tidak pernah dipaksa belajar oleh ayah dan ibu tapi kami selalu menomor satukan masalah sekolah. Hingga membuatku sangat suka belajar dan membaca buku. Oh iya, mengenai ibu Lia yang sering memujiku sebenarnya aku sangat senang, dengan tersipu malu aku akan mengulum senyum tanpa membalas komentarnya. Tetapi lama\-lama Lia risih dan terkadang Lia mendiamkanku beberapa saat jika ibunya memujiku.
Sebagai anak kecil yang mungkin terlalu sensitif terhadap lingkungan, aku selalu memperhatikan gerak gerik orang didekatku. Peka terhadapa ekspresi, bahasa dan cara pandang mereka serta cara mereka tersenyum. Ya, aku terlalu mengamati apa yang terjadi pada orang lain, sehingga tidak benar yang mereka katakan kalau aku tidak peduli pada siapapun.
Saat naik ke kelas 5 SD aku tidak lagi sebangku dengan Lia karna ia ingin berganti suasana kupikir, tapi kami tetap bersahabat walaupun kami sudah tidak melakukan aktifitas tidur bergantian. Aku berharap semua baik\-baik saja, walaupun ada hal lain yang berubah, Lia yang biasanya bodo amat dengan orang lain sekarang sebagai anak kecil kelas 5 SD Lia terkesan jaim atau jaga image. Lia suka tertawa bergaya seperti orang dewasa, dan bahkan sering mengucapkan kata dewasa dikit la di berbagai kesempatan dalam perbincangan anak kecil sehari\-hari kami. Oh iya, kami sekarang bersahabat 4 orang, aku, Lia, Salsa dan Fanetta.
Semenjak menjadi berempat ada yang lebih aneh dari sekedar menjadi sedikit dewasa seperti yang mereka sering katakan. Mereka sering memintaku untuk mengantarkan selembar kertas berwarna pink yang dihiasi oleh kartun barbie di tepi\-tepi kertas, bawaan dari percetakannya untuk seorang kakak kelas. Dari dulu sebenarnya aku tak suka berteman dengan kaum adam kecil manapun, tidak suka saja. Tapi di sekolah ini aku memiliki satu orang teman lelaki namanya Jio. Jio anak kelas 6, aku mau menerimanya sebagai temanku karna dia sangat baik padaku, sering membantu kalau ada anak lelaki menggangguku saat jam istirahat. Jio jago sekali bermain bola kasti, larinya kencang mungkin karna kakinya panjang dan dia juga tidak sombong. Jio tidak tampan menurutku tapi dia manis meskipun tidak pintar dalam urusan pelajaran. Dia malas kalau belajar.
Jam istirahat aku langsung menuju kelas Jio sambil membawa kertas pink di saku rok merah kembang selututku. Pak Daso guru matematika keluar dan kemudian anak kelas 6 pun menyerbu keluar untuk bermain dan jajan. Aku masih menunggu di luar dekat pintu kelas, menunggu Jio. Tak lama Jio dan 2 orang teman perempuan di sampingnya keluar dari kelas. Karna heran melihat aku di dekat pintu kelasnya, dia bertanya pelan
"Tumben, kamu digangguin orang?"
Aku menggelengkan kepala dan menarik tanggannya ke samping kelas paling ujung yang tidak banyak anak-anak bermain di sana. Bingung namun Jio mengikut saja dan sesampainya di ujung kelas Jio menaikkan alisnya tanda bertanya, dia melihatku dengan sedikit menundukkan kepalanya, ya, karna aku kala itu hanya sebahunya.
Perlahan aku mengambil kertas pink itu dari saku rok dan memberikannya pada Jio.
"Dari kamu?"
__ADS_1
Tanyanya nyengir, kujawab dengan menggelengkan kepala. Lantas keningnya berkerut.
"Kita baca sama-sama, yuk."
Ajaknya langsung menarik ujung lengan bajuku, aku protes dengan menepis tangannya.
"Aku mau jajan, Jok." Jawabku.
Jio yang sering kupanggil Jok itu pun berbalik dan bilang, "Ya udah, suratnya buat kamu aja."
Kemudian Jio ingin pergi, dan aku jadi bingung harus bagaimana, nanti Lia bisa sakit hati kalau suratnya tak dibaca Jio.
"Iya iya, tapi sekalian dibalas suratnya, ya?" Kataku.
"Oke, tapi aku ambil pulpen dulu di kelas."
Jio berlari ke kelasnya dan aku menunggu di tempatku berdiri.
Kami duduk di tepi kolam kecil buatan di bawah pohon yang tidak kutahu namanya itu. Jio pun mulai membacakan isi surat itu padaku
Hai Jio
Langit punya banyak bintang, tapi aku Cuma punya satu dan itu kamu.
Salam Lia
Aku melipat kepalaku ke bawah menahan malu mendengar isi surat itu. Biasanya Jio menerima surat dari Lia lewat aku dan tak pernah membacakannya padaku, serta Jio juga tak pernah membalasnya. Bisa\-bisanya Lia menulis surat cinta untuk kakak kelas.
"Nay, kayaknya si Lia suka ya sama aku. Jadi aku balas apa ni?" Tanya Jio yang menurutku perkataannya itu terlalu kepedean.
"Jok, kamu kok ge\-er banget sih. Lia gak suka sama kamu." Jawabku ketus
"Nay, aku udah sering dapat surat kayak gini dari kelas 1 SD, Nay. Jadi aku udah paham." Jawabnya santai
Aku hanya teronggok bodoh, aku sering baca buku tapi aku tak tahu jawaban untuk soalan Jio ini. Tanpa menunggu aku yang bingung sendiri Jio pun menulis surat balasan di sebalik kertas itu, kemudian melipatnya kembali dan dia berikan kepadaku.
"Nay, nanti kalau Lia dan kawan-kawan yang lain ngajak kamu ke hajatan Mbah Sri jangan mau ya. Aku liat kalian minggu lalu di hajatan Lek Sarno, Si Lia dan kawan-kawannya main kejar-kejaran sama anak cowok, eh kamu ditinggal." Katanya sambil melihat aku tak suka.
__ADS_1
"Aku juga temannya, Jok. Lagian aku udah kenal Lia lama, dia baik.: Jawabku polos
"Iya dia baik, tapi dia udah belajar pacaran, jadi kamu gak usah ikut\-ikutan."
Teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttt
suara bel tanda jam istirahat selesai berbunyi. Aku dan Jio pun masuk ke kelas masing-masing.
Sesampainya di kelas, Lia, Salsa dan Fanetta menghampiri aku dengan wajah sumringah, dan bertanya heboh.
"Dia bilang apa, Nay?" Tanya Lia malu\-malu.
sementara Fanetta dan Salsa cekikikan sambil menatapku penasaran. Kupasang wajah yang ceria dan kuberikan kertas milik Lia itu padanya sambil mengisyaratkan untuk membuka kertas itu dengan mulutku tanpa suara. Jujur aku tidak penasaran isinya apa, tapi karna wajah Lia tiba-tiba berubah dari deg-degan jadi cemberut dan merah karna ingin menangis, aku pun mengambil surat itu dari tangannya dan membaca isinya.
*Maaf Lia aku gak bisa, aku pulang dijemput Lelekku. Dan aku juga udah punya orang yang aku suka. Oh iya satu lagi, aku bisa minta tolong gak Lia. Tolong jangan ajak Nayya kehajatan nonton kibotan malam ya, kasian sebenernya dia itu takut dan gak suka tempat rame apalagi berisik.
Terima kasih suratmu
JIONDRA*
Dan aku merutuki isi surat itu dalam hati, kemudian Salsa dan Fanetta menarik surat itu dari tanganku dan membacanya bersama. Sementara Lia, dia duduk dibangkungnya dengan tangan dan kepala menangkup di meja. Lia menangis. Aku menghampiri Lia begitu pula Salsa dan Fanetta. Aku ingin duduk di samping Lia, tetapi aku terkejut karna tiba\-tiba Lia bangun dari duduknya dan menatapku dengan benci. Iya, dia memberikan sorotan mata benci padaku.
"Sok baik, ternyata temen makan temen. Kamu bilang apa sama Jio? Kamu ngadu kalau aku ngajak kamu. Kamu suka kan sama kak Jio?!" Bentaknya padaku, aku hanya diam dan menunduk, mataku sudah mengembun, marah dan malu.
"Gak usah nangis, aku yang kamu giniin. Percuma sahabatan lama, tapi kamu nusuk dari belakang. Dasar gak tau diri, sukur aku mau temenan sama kamu tau gak." Ketus lia dan mencari tempat duduk di belakang bertukar tempat duduk dengan anak yang lain.
Lia tidak ingin duduk di dekat bangkuku lagi, begitu juga dengan Salsa dan Fanetta. Aku diam dengan kesialan ini, tapi dalam hati aku mencerca JIONDRA. Apa maunya menulis surat begitu, dia mau aku gak punya teman sama sekali. Aku benci JIONDRA.
Jujur ini masalah yang sangat besar bagiku. Tiba-tiba dimusuhi oleh ketiga sahabatku sekaligus. Aku sangat terpukul, terutama Lia yang sudah kusayangi seperti adikku sendiri. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa menjelaskan apapun, ini semua karena surat bodoh Jiondra.
Sekarang aku duduk sebangku dengan Jani, walaupun dia anak yang baik dan sama lugunya denganku, tapi aku sangat kesulitan untuk mengakrabkan diri dengannya. Aku tak terbiasa dengannya, ditambah Lia, Salsa, dan Fanetta yang mempengaruhi teman-teman yang lain agar tidak ingin berteman denganku. Tatapan mata mereka menjadi aneh ketika melihatku, tidak seperti biasanya. Aku membenci setiap hari sekolah sampai kelas 5 usai.
Sejak insiden surat itu, aku tidak mau berbicara lagi dengan Jio. Apapun upaya Jio, aku menolaknya. Jio harus tahu bahwa dia tidak memiliki hak untuk merampas teman-temanku dariku. Ketika perpisahan untuk anak kelas 6 pun aku tidak hadir, karna tidak ada yang istimewa dan aku hanya akan jadi orang bodoh yang menjengkelkan di mata teman-teman kelasku. Oh ya, gosip aku suka Jio itu juga disebarkan oleh Lia dan antek-anteknya kepada teman-teman mereka di luar kelas maupun di luar sekolah. Jio memang disukai banyak orang, mereka bilang Jio itu keran, tapi aku tak bisa mengamini itu karna aku tidak tahu yang dimaksud dengan keren itu seperti apa.
__ADS_1