
‘Sekarang tutup kedua matamu, lalu bayangkan, kau sedang berdiri di tengah hamparan padang rumput yang hijau, saat itu pagi hari, matahari masih sepertiga di upuk timur, rumput basah karna embun, bulu mata dan alismu juga disinggahi embun. Tubuhmu terasa dingin dan segar, rentangkan kedua tanganmu dan katakan dalam hati ‘aku bahagia’. Lalu buka matamu dan hadapi dunia dari sudut pandang orang yang sedang bahagia. Maka segala sesuatu akan menjadi berbeda.’ Ketika aku berada di situasi yang sulit, terapi seperti itu sering kulakukan untuk membuat diriku merasa lebih baik. Setiap saat manusia diintai oleh masalah. Bagiku masalah adalah persoalan tentang kesanggupan untuk bertahan, bukan seberapa hebat menyelesaikannya tapi sejauh mana kita tetap meneguhkan hati.
Sejujurnya aku sedang bingung akan 2 buah persoalan, aku sedang berada dalam masalah. Pertama masalahku adalah mengenai perkataan Edgar 2 minggu yang lalu, yaitu ‘menyeleksi karya orang lain untuk di tempel di mading sementara aku bahkan tidak pernah mengirim karya ke mading’ itu benar. Belum pernah sekali pun aku membuat karya untuk mading. Aku punya alasan;
Aku tidak pandai membuat puisi atau kata-kata mutiara seperti Ivan dan yang lain, aku lebih tertarik membuat cerita.
Aku tidak percaya diri sama sekali menunjukkan buah pikiranku di tempat umum seperti wall mading.
__ADS_1
Aku takut orang menilai buruk karyaku.
Aku memang bukan orang yang memiliki percaya diri untuk dilihat orang lain dalam bentuk apapun. Mungkin aku harus segera mengundurkan diri dari kepengurusan mading. Masalah yang ke dua adalah tentang Ivan. Ivan berhenti bicara padaku sejak kejadian di lab bahasa, dan aku bahkan tidak percaya diri untuk meminta maaf, oh tidak, lebih tepatnya aku gengsi. Lalu Ela? Dia menceramahiku berhari-hari setelah aku mengatakan hal yang aku ingin dia tahu saja. Aku mengatakan pada Ela bahwa aku dan Ivan ngobrol, kemudian aku mengutarakaan isi pikiranku tentangnya dan Ivan marah padaku, hanya itu saja. Aku tidak ingin Ela tahu mengenai Edgar, urusan bisa tambah ribet, karna Ela tidak akan tinggal diam, ia akan pergi memburu Edgar dan berusaha menguliti anak laki-laki urakan itu dengan kata-katanya. Meladeni Edgar hanya akan mempermalukan diri sendiri. Aku tidak ingin Ela menjadi tontonan anak-anak yang lain, sungguh tidak penting sama sekali.
Sudah 2 minggu pula kami tidak berkumpul di rumah bibiku ataupun di tempat lain. Bahkan jika aku di depan mata Ivan sekali pun dia pura-pura tidak melihatku. Aku pasti membuatnya sangat marah. Tapi aku justru mengikuti permainannya dan menghindarinya. Ela bilang seharusnya aku meminta maaf secara tulus dari hati ke hati, aku pikir juga begitu tapi entah mengapa aku selalu merasa waktunya tidak tepat.
Ela sudah berusaha untuk meminta Ivan memaafkanku tapi Ivan selalu menghindari percakapan tentangku bersama Ela. Ya, aku harus melakukannya sendiri, bukankah berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Aku sudah ngechat Ivan 3 kali dalam sehari semalam, tapi dia tidak membalasnya, bahkan telponkupun ia matikan. Bagus, padahal aku sudah bersusah payah memaksa diriku untuk melakukan itu. Aku pasti sudah menyakiti hatinya sampai ia mengabaikan aku begini.
Hari ini hari sabtu, minggu depan ujian semester 2 kelas XI dan setelahnya bagi rapor dan libur sekolah. Ela sedang melakukan beberapa tugasnya sebagai seketaris kelas, seperti rekap absen dan laporan ini itu pada wali kelas kami, sehingga ia tidak bisa menemaniku mengembalikan semua buku yang kupinjam di perpustakaan.
Aku berjalan sedikit terburu-buru menuju perpustakaan, khawatir dengan kemungkinan antrian panjang karna hari ini adalah hari terakhir mengembalikan buku, kalau tidak dikembalikan hari ini maka akan dikenakan denda. Sesampainya di perpus ,dan aku harus mengantri. Aku berdiri sambil memeluk 3 buah buku yang cukup tebal di dadaku. Seperti biasa, aku hanya diam dan menunduk lesu menunggu antrian. Ada sekitar 7 orang lagi di depanku. Aku hanya akan merengsek ke depan jika sepasang kaki di depanku melangkah, aku tidak berminat lihat kanan kiri atau muka belakang, hanya menunduk malas menunggu kaki di depanku melangkah ke depan lagi, memangkas antrian.
Aku kembali melangkah setelah kaki manusia di depanku ini melangkah, dan kaki itu melangkah satu langkah ke depan dan aku pun melangkah namun kaki itu mundur kembali dengan cepat, aku tidak siap dengan gerakan cepatnya, kepalaku menyundul punggungnya. Siapa manusia panjang yang membuat langkah tidak terencana seperti itu? Aku mendongak ke atas melihat wajahnya yang sudah membalikkan setengah badannya dan menatapku. Owh Goodness! That’s Ivan Hadiawan. Aku tersenyum ragu padanya, namun wajahnya datar saja.
Aku menoleh ke samping pintu perpustakaan, di sana Ivan sedang berdiri sambil mengobrol dengan beberapa gadis teman sekelasnya kalau aku tidak salah. Ivan memiliki banyak orang yang ingin berteman dengannya, dia anak yang baik, supel, sopan dan manis, yang paling penting ia tampan dan good looking. Aku hampir lupa, bagi anak IPA kepintaran adalah hal nomor 1, dan Ivan memilikinya. Sedangkan image anak bahasa adalah sekumpulan orang yang suka menghayal dan bicara. Kalau anak IPS? Hidup mereka dinilai terlalu santai dan bebas. Entah mengapa demikian.
Aku menuruni tangga menuju halaman perpustakaan, kudengar suara Ivan dan seorang perempuan sedang bicara di belakangku, aku menoleh dan tatapanku bertemu dengan gadis itu, namanya Yasemin, dia terkenal di sekolah ini karna cantik dan pintar. Kenapa aku merasa mereka cocok sekali. Aku mengembalikan pandanganku ke depan dan sedikit meununduk serta sedikit menyingkir dari depan mereka berdua, aku berjalan di pinggir. Aku tidak ingin menghalangi langkah mereka. Setelah menunggu beberapa saat, mereka tidak mendahuluiku, hanya jarak kami yang semakin dekat sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Yasemin : Aku juga suka film itu, lucu.
Ivan : Bagus kan?
Yasemin : Iya, aku udah download sequel keduanya, kalau kamu mau aku bisa kasi.
Ivan : Serius?
Yasemin : Iyaaa Ivaaaan. Tapi kusimpan dalam laptop di rumah.
Ivan : Ya udah aku antar kamu pulang sekalian aku minta file filmya.
Yasemin : Oke, jangan ingkar janji lho.
Ivan : Iya, bawel.
Ivan terdengar seperti pria modus tengil saat ini, dasar Ivan kutu. Ivan memang sering menggoda aku dan Ela tapi tak pernah seperti nada bicaranya saat ini, ia terdengar layaknya seorang pacar. Jangan-jangan Ivan dan Yasemin sudah pacaran, pantas saja. Ya sudahlah, toh itu bukan urusanku. Kalau mereka tidak ingin mendahuluiku berarti aku yang harus mempercepat langkahku. Sayang sekali aku tidak bawa headsetku tadi, tapi alangkah tidak baik kalau aku memakai headset terang-terangan di trotoar sekolah.
__ADS_1
Terus melangkah dan fokus pada jalan yang kutuju, mungkin Ela sudah selesai dengan urusannya. Aku ingin makan es krim rasa vanila atau coklat bersama Ela saat ini. Entah mengapa aku merasa kesal setelah bertemu Ivan tadi.
➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿