Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 10 Bocah Absurd


__ADS_3

Tangisan Yaya sudah mereda beberapa saat yang lalu dan aku mulai menyiapkan beberapa pertanyaan dalam hatiku. Iya, hanya dalam hati, karna aku akan membiarkan Yaya mengungkapkannya sendiri seperti biasa. Yaya duduk dengan badan yang cukup tegak terlihat gelisah, tangan kanannya menggenggam tangan kirinya. Yaya sedang ragu dan takut. Aku semakin serius meperhatikan setiap gerak-gerik dan ekspresi wajah Yaya. Aku sungguh sangat penasaran saat ini, tapi Yaya belum juga bersuara. Aku menahan diri dan mencoba untuk lebih tenang. Beberapa menit menunggu dan kondisi taman yang mendadak sepi setelah pengumuman pembagian makan siang oleh para panitia acara perpisahan anak kelas IX. Mungkin yang lain sedang menikmati makan siang terakhir sebagai siswa di sekolah ini, bercengkrama dan tertawa sambil mengabadikan berbagai momen dan membaginya ke sosial media, tak lupa menambahkan kalimat mengharu biru lalu men-tag beberapa orang. Kondisi yang sangat kontras dengan aku dan Yaya saat ini.


“Maaf” ucap Yaya sangat pelan tapi aku masih bisa menangkap suaranya, namun aku tak bisa menangkap makna dan tujuan kata itu.



“Untuk?” tanyaku, karna aku tak merasa Yaya melakukan kesalahan apapun padaku.



“Karna aku, kita gak bisa nikmatin momen menyebalkan dalam keramaian.” Jawabnya sarkastis. Tentu saja, aku memang tidak akan menikmati apapun diatara keramaian dan kesibukan yang tak bisa kukondisikan, yang ada aku merasa sesak dan mual. Aku tersenyum miris menanggapi perkataan Yaya, karna aku mendapati diriku tak mengalami perkembangan positif dalam bergaul.



“Nay,” panggil Yaya dalam mode pelan. Entah sejak kapan Yaya menyukai mode pelan yang nyaris seperti dengungan ini.



“Hm,”



“Apa kita bisa hamil kalau dicium laki\-laki?”


Aku membisu dan memastikan pendengaranku, ah mungkin itu pikiranku yang sedang bicara. Tapi tadi itu suara Yaya, aku semakin membeku setelah yakin bahwa itu memang keluar dari mulut Yaya. Yaya melirikku takut-takut, untuk melihat ekspresi di wajahku. Aku membalas tatapannya dengan pandangan menuntut penjelasan. Yaya mendengus, mungkin ia sudah menebak responku ini. Suasana kembali hening, Yaya tidak memberi penjelasan yang kuinginkan.


“Untuk menghasilkan sebuah makhluk baru tentu butuh proses, kalau ingin punya anak tentu harus melalui tahap pembuatan anak, dan itu tidak sesederhana permukaan kulit menempel pada permukaan kulit yang lain.” Jawabku hati\-hati.



“Emang kamu tahu gimana proses membuat anak?” tanya Yaya dan membuat aku kelimpungan dengan pertanyaan itu. Sebenarnya aku tahu, karna aku pernah membacanya di buku biologi milik kakakku. Tentu penjelasannya sangat ilmiah dan jauh dari kata mesum seperti konotasi “membuat anak” dalam pikiran kebanyakan orang. Namun tetap saja mendengar pertanyaan gamblang seperti itu membuatku berpikir bahwa ini tidak layak untuk dibicarakan.



“Kamu dicium?” tanyaku pada Yaya menghindari pertanyaan anehnya. Yaya langsung melotot tak suka kepadaku. Aduh, mungkin aku salah menanyakan itu. Aku melemparkan pandanganku ke arah sepatuku yang sedang bertengger di atas rumput yang menutupi permukaan tanah.

__ADS_1



“Iya,” cetus Yaya pelan seperti bisikan angin pada malam yang tenang. Aku menghujam sepatuku dengan tatapan membunuh. Namun aku masih diam. Kurasakan Yaya melirikku dari ekor matanya, memastikan perubahan ekspresi wajahku. Beberapa menit kemudian aku masih bungkam.



“Ivan ngajak aku ke belakang kelas IX\-G di sebelah toilet perempuan, terus dia nembak aku dan ngasi aku hadiah yang udah aku buang di toilet tadi. Sebelum aku jawab dia nyuri nyium pipi aku dan pergi gitu aja.” tuturnya sambil mengusap air mata yang ingin banjir di wajahnya. Ini pasti berat bagi Yaya, aku tak boleh menyudutkannya. Aku melihatnya dengan tatapan yang mungkin sulit dimengerti orang lain kecuali Yaya dan keluargaku, bahwa aku sedang berempati pada Yaya. Aku menggenggam tangannya dan mengelus punggunggnya dari samping.



“Yang udah terjadi gak akan bisa kita ulangi, tapi bisa kita balas. It’s ok.” Kucoba menguatkan Yaya dengan kata\-kataku. Yaya diam dan mengangguk. Kemudian kami kembali diam, sibuk dengan pikiran masing\-masing.



“Ya’, aku mau kekantin, kamu mau nitip apa selain minum?” tanyaku.



“Coklat?” tanyanya balik dan kujawab dengan anggukan kemudian berlalu.


“Ada Ivan?” tanyaku canggung dan kaku pada seorang anak lelaki yang sedang berdiri di samping kusen pintu kelas IX\-G.


“Oh, Iya. Itu dia, Van dicariin Nayya.” Kata anak lelaki yang juga canggung dengan situasi ini. Aku mengikuti arah pandangan orang yang kutanyai. Terlihat seorang anak lelaki sebaya kami, dengan wajah tampan kurasa. Tinggi, agak kurus, putih dan agak malu-malu melihat ke arahku. Ini tidak sesuai ekspektasiku, kukira Ivan itu akan terlihat memiliki wajah songong nan berandal dengan gaya petentengan serta minimal sedikit urakan. Yang pasti tidak serapi dan sesopan ini. Tidak, tidak, orang sopan mana yang mencium orang lain dengan lancang?


“Aku mau bicara.” ucapku sungguh sangat kaku dan kikuk. Dia yang bernama Ivan itu terlihat sedikit khawatir dari senyum kecut yang terbit di wajah tirusnya. Aku berjalan meninggalkan kelas itu diikuti Ivan tak jauh di belakangku, menyisakan orang\-orang yang mungkin keheranan, dan anak lelaki tempat bertanyaku tadi yang mungkin sedang terpelongo, mengingat reputasiku yang sulit mengeluarkan kata\-kata pada orang lain dan sekarang menghampiri Ivan dan mengajaknya bicara. Akal sehatku mungkin sudah bergeser akibat pengakuan Yaya di taman tadi. Si kurang ajar Ivan ini harus diberi pelajaran. Aku menoleh ke belakang memastikan Ivan masih mengekoriku, dan dia terlihat bagai anak yang patuh. Aku jadi ragu, tapi tidak, Bocah ini tetap bersalah. Aku menghentikan langkahku di samping perpustakaan yang sepi. Aku membalik badanku dan menatap tajam padanya, ia jadi salah tingkah dan ada raut bersalah di sana. Aku bersedekap menyilangkan lenganku di dada, terus menusuk Ivan setajam yang kumampu. Ivan berdiri gelisah di tempatnya.



“Maaf,” cetusnya sambil melirikku di sela\-sela pandangannya yang tertunduk. Suaranya berat penuh penyesalan. Bagus, berarti ia tahu dimana letak kesalahannya.



“Maaf karna aku memanfaatkan Yaya.” Cetusnya, membuat aku mengerutkan keningku. Maksudnya? Memanfaatkan? Mengapa ia menganggap menyatakan cinta dan kebablasan mencium Yaya ia kategorikan sebagai memanfaatkan? Apa si Ivan ini punya cara berpikir yang aneh? Ooo aku tahu, dia memanfaatkan kepolosan Yaya dan mendaratkan kecupan menjijikkan di pipi Yaya. Dasar generasi bangsa tak bermoral.


__ADS_1


“Minta maaf sama Yaya sebelum kita pergi dari sekolah ini.” kataku dengan nada dingin. Aku melihat senyum tipis di wajahnya. Apa maksud si bocah gila ini? Dia tidak mau?



“Akan aku lakukan karna aku memang bersalah dan keterlaluan,” jawabnya dan aku ingin dia memastikan kapan dia akan memohon maaf pada Yaya, memohon dalam artian yang sesungguhnya, itu yang aku inginkan.



“Sekarang?” tanyaku memberi tawaran, karna jika dia tidak mau sekarang dia bisa melakukannya nanti sebelum pulang sekolah, karna sependek yang kuamati sepertinya dia tidak akan menghindar untuk melakukannya. Dia mengangguk pelan, dan melihat ke wajahku. Tepat ke manik mataku. Aku membuang muka, dan suasana menjadi lebih canggung menggantung di atmosfir mengelilingi sekitar kami. Aku berdehem dan akan beranjak dari tempatku menuju kantin terlebih dahulu.



“Nay,” panggilannya menghentikan langkahku. Gila si Ivan ini memanggilku dengan nada suara yang terdengar aneh dan membuat ilfil di telingaku. Nada suaranya terdengar seperti canggung namun lembut. Aku melihatnya yang masih berdiri di depanku. Ivan terlihat mengumpulkannya sebuah keberanian, berkali\-kali ia mengambil napas dalam. Kuperhatikan gerak\-geriknya dan aku mulai mual dibuatnya. Aku sungguh mulai mual.



“Aku kehabisan akal, Nay.” Katanya pelan, ada apa ini? si Ivan mau curhat? Aku mendengus pelan mamprediksi dugaanku yang sepertinya benar. Aku tidak bisa begini, tapi aku juga tidak bisa langsung pergi. Sepertinya Ivan anak yang baik, mungkin ia hanya terlalu menyukai Yaya.



“Aku penakut, aku memendam perasaanku 2 tahun lebih. Sejak aku sadar kita akan segera pergi dari sekolah ini aku jadi sering gelisah. Aku ingin kau tahu, itu saja. Tapi rasanya tidak memungkinkan berbicara denganmu,” jelasnya hati\-hati. Aku semakin mengerinyitkan dahiku, wajah bingung terpampang jelas di muka yang baisanya dihuni ekspresi datar ini. Mungkin si Ivan ini salah menggunakan kata ganti orang, ‘mu’ yang dimaksud Ivan adalah Yaya. Tapi aku semakin mual sekarang. Aku membuang napas berat dan akan mencoba bertahan sebentar lagi, aku harus menghargai Ivan yang sedang kesulitan kurasa.



“Kau menutup semua kesempatan untuk siapapun agar bisa bicara padamu, dan hal bodoh ‘itu’ yang spontan kulakukan.” Katanya semakin hati\-hati bercampur takut. aku menjadi bingung tidak mengerti arah pembicaraan ini.



“Awalnya aku hanya akan meminta Yaya memberikan hadiah yang kutitipkan padanya, tapi tiba\-tiba aku melakukan hal nekat agar bisa bicara seperti ini sama kamu, Nay.” Tuturnya pelan namun masih jelas di pendengaranku. Aku bagai disambar petir di siang bolong. Si Ivan ini mungkin sudah kehilangan akal sehat, aku mengeluarkan awra dingin dan mencekam yang kumiliki entah sejak kapan, menghujam Ivan semakin dalam dengan tatapan benciku. Aku menyadarinya sekarang. Aku tidak sebodoh itu untuk memahami perkataan Ivan bahwa ia sengaja mencium Yaya agar ia bisa mendapat kesempatan bicara denganku. Betapa bodoh dan menjijikkannya si Ivan ini, makiku dalam hati.



“Makan saja maafmu itu dan bawa ke alam baka. Jangan pernah muncul dalam hidupku dan Yaya.” Ungkapku tegas dan penuh penekanan tepat di depan wajahnya. Aku pun pergi begitu saja, dengan hati dongkol dan perut mual, kepalaku pusing dan pandanganku sedikit tidak fokus. Aku sedang dalam emosi yang memuncak, amarahku sudah mencapai ubun\-ubun. Aku benci manusia tak tahu malu dan gila seperti bocah tengil itu. Aku berjalan cepat dengan sedikit tertunduk memastikan jalanku benar dan tidak menarik perhatian orang, aku benar\-benar butuh toilet saat ini. Sesampainya di dalam toilet aku langsung memuntahkan isi perutku. Aku tidak pernah berhadapan dengan situasi seperti barusan selama ini, dan itu membuatku benar\-benar harus muntah sekarang.


__ADS_1


Aku tidak mengerti jalan pikiran Ivan. Ah, sudahlah. Persetan dengan bocah itu. Aku harus membawa minuman dan wafer coklat yang sudah kubeli barusan menuju taman. Sambil berjalan aku sesekali menenggak freshtea yang sudah tinggal setengah. Aku tidak akan memberi tahukan kejadian di samping perpus tadi pada Yaya, jika Yaya tahu ia akan semakin terluka. Dan aku akan semakin membenci diriku karna itu. Anggap saja aku tidak pernah bicara pada Ivan, toh sejak hari ini kami tidak akan bertemu Ivan lagi.


__ADS_2