Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 22 Libur Semester 1


__ADS_3

Libur semester aku pulang ke kampung untuk melepas rindu pada keluargaku. Seperti saat ini, aku sudah berada di kampung dan berleha-leha menikmati waktu yang terasa semakin berharga bersama keluarga. Keluargaku sangat bangga saat tahu aku memperoleh juara 2 di kelas. Lalu juara 1 nya? Kalian pasti sudah tahu. Iya, apa yang kalian pikirkan benar, Ivan yang memegang piala kemenangan. Tapi yang lebih membuat aku kaget adalah Ivan tidak hanya juara kelas, Ia jadi juara umum. Daebak! Encer banget isi kepala si Ivan tengil itu.


Sebenarnya aku ingin jujur, kadang aku merasa tidak nyaman di rumah orang tuaku sendiri. Kenapa? Ya, hal itu menggerayangi hatiku pada saat-saat ibu menuntutku untuk menjadi begini dan begitu. Maksudku ibu mulai berharap lebih pada dunia sosialku yang sepi seperti jamaah sholat jum’at di mesjid dekat rumah. Ibu ingin aku menerjang bebas lembah pergaulan manusia sosial seperti yang ia pahami.


Ibuku orang yang ceria, lembut, ramah, mudah membaur dengan orang lain, bersenda gurau dengan banyak orang, memiliki banyak teman baik tetangga maupun orang\-orang yang entah ia temukan dimana, lalu mereka menjadi akrab. Ibu menjadi salah satu orang penting dalam berbagai perkumpulan ibu\-ibu di kampungku. Sebut saja PKK, pengajian, dan ibu tidak hanya punya satu pengajian tapi 4 pengajian sekaligus. Ibu memang orang yang sangat sosialable. Sama seperti kakak\-kakakku yang mewarisi kepribadian ibu.



Ibu adalah ibu yang baik sebenarnya, namun terkadang ia mungkin iba padaku yang menurutnya kesepian karna tidak memiliki teman. Sehingga sering kali ia mengkhawatirkan nasib pergaulanku. Ibu sering memanfaatkan berbagai momen untuk membawaku melihat manusia\-manusia lama, seperti tetangga\-tetangga kami dan saudara\-saudara. Dan bahkan ibu juga ingin menunjukkan sebuah dunia baru yang ia harap mampu menolongku untuk bersosialisasi. Seperti bertemu orang\-orang baru.



Dengan alasan yang beragam beliau akan memintaku menemaninya ke suatu tempat agar aku berhenti memenjarakan diriku dirumah, itu menurutnya. Jauh berbeda dengan pandanganku bahwa aku nyaman dan bahagia dengan tetap diam di rumah. Aku dan ibu memiliki pikiran yang sangat bertolak belakang.



Pernah suatu hari ibu memintaku keluar malam seperti kebanyakan remaja di desaku. Saat itu aku masih libur kelas IX SMP. Ibu ingin aku menonton pertunjukan wayang di pesta hajatan. Kebanyakan dari orangtua remaja sebisa mungkin akan berusaha untuk melarang anaknya keluar malam, karna hal itu akan berdampak negatif pada anak tersebut. Tapi ibuku? Dia sering kehabisan akal untuk membuatku memiliki dunia sosial yang katanya luar biasa penting, sampai\-sampai ia harus menyeretku keluar walau itu malam hari. Kadang aku frustasi sendiri menghadapi ibu, dan ibu juga tak kalah frustasi menghadapiku. Aku tahu ibu menginginkan yang terbaik untukku, aku juga sudah berusaha semampuku menuruti keinginannya. Bagaimanapun juga ibu adalah wanita yang melahirkan, membesarkan dan membanjiriku dengan kasih sayang serta perhatian seumur hidupku, dan aku sangat mencintai ibuku. Tapi aku juga terkadang pengap dengan keinginan ibu dan usaha\-usahannya agar aku hidup dengan baik dalam versinya, sementara aku menginginkan cara lain untuk hidup dengan baik versiku.



Dan sekarang libur semester 1 kelas X, ibuku masih dengan tekat yang sama. Mungkin semakin semangat dari sebelumnya. Ibu membawaku ke sebuah acara perkumpulan ibu\-ibu. Lalu sibuk dengan teman\-temannya. Aku tidak masalah, toh aku bisa mendengarkan lagu dari headset. Tapi kemana headsetku? Aku mencari\-cari di kantong celana jins berwarna navy yang kugunakan. Tidak ada. O iya, tadi ibu menawarkan agar aku menyimpan headset itu di tas yang ia bawa. Lalu kucari keberadaan ibu diantara para ibu\-ibu. Setelah celengak\-celinguk kulihatlah ibu sedang bebicara riang dengan ibu\-ibu yang lain. Akupun menghampirinya.



“Headset Nayya sama ibu?” tanyaku berbisik ke telinga ibuku. Ibu pun membuka tas yang berada di pangkuannya. Dan mencari\-cari di sana. Dan keningnya menjadi sedikit mengerinyit.



“Gadak, Nay. Nih kamu periksa aja sendiri.” Jawab ibu kemudian menyerahkan tas tangannya padaku. Kuperiksa beberapa kali, namun memang tidak ada. Aku membuang napas kesal dan menyerahkan tas itu pada ibu. Aku mengendus kejanggalan berbau konspirasi, aku yakin hal ini berkaitan dengan misi ibu ‘dunia sosial untuk putriku yang kaku’. Apa yang harus kulakukan sekarang? Jelas\-jelas tadi sudah kumasukkan ke dalam tasnya, aku ingat betul. Ibu sungguh wanita yang memiliki 1001 cara. Baiklah, Bu, anakmu akan mengalah. Toh aku juga tidak bisa berbuat apa\-apa lagi, walaupun aku sangat kesal saat ini.



“Yaudah, jangan cemberut gitu dong. Sana ngobrol sama si Pita dan Salsa itu.” Kata ibu dan mengisyaratkan sebuah meja dan kursi dengan bibirnya. Aku jadi lebih bad mood lagi. Salsa itu teman SD ku yang membantu Lia dan Fanetta menyebarkan fitnah kalau aku merebut Jio dari Lia alias ‘temen makan temen’. Ya sudahlah, aku akan duduk di samping ibu sambil bermain hp saja.


__ADS_1


“Nayya apa kabar, kapan pulang kampungnya?” tanya salah satu ibu yang juga merupakan tetangga tak jauh dari rumah.



“Seminggu yang lalu, Bi.” Jawabku.



“Oo, pasti seru banget bisa sekolah di luar.” Timpal ibu\-ibu satunya lagi yang entah siapa aku tidak tahu.



“Anak bibi si Fanetta juga sebaya kamu kan, Nay?” tanya salah satu ibu yang dari kata\-katanya mengindikasikan bahwa ia adalah ibu Fanetta yang juga teman SDku. Sorry, sepertinya aku gagal move on. Salsa dan Fanetta adalah mantan temanku saat SD. Aku mengangguk dan tersenyum tipis pada ibu Fanetta.



“Anak zaman sekarang itu, pergaulannya kadang gak tau batas lo ibu\-ibu.” Salah satu ibu yang entah siapa lagi berujar begitu saja. Ibu\-ibu yang lain termasuk ibuku tiba\-tiba menanggapi serius menyetujui pernyataan si ibu tadi.



“Ck. Bahkan anak Bu Lila yang rumahnya di samping pak Kades itu udah hamil.” Ujar si ibu yang sama. Dan ibu\-ibu yang lain bertambah serius dengan topik baru mereka. Oh sungguh ibu\-ibu.




“Iya, waktu ketauan hamil itu 1 bulan sebelum UN!” seru ibu yang menjelaskan tadi. Semua terlonjak kaget, dan aku pun cukup terkesiap mendengarnya. Suasa menjadi sedikit lebih hangat dari sebelumnya akibat ghibah yang juga ikut kunikmat. Aku terbawa suasana.



“Padahal anaknya pendiam gitu.” Timpal ibu itu lagi. Dan disambut decakan, geleng\-geleng kepala, serta helaan napas kecewa oleh ibu\-ibu yang lain.



“Makanya Bu Tia, hati\-hati punya anak perempuan, apalagi anak ibu sekolah di luar semua. Bukan maksud saya gimana\-gimana, Bu, takutnya ketemu sama laki\-laki gak baik.” tutur ibu yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Ibu mengangguk\-angguk mengerti. Aku memperhatikan wajah ibuku, di sana ada seberkas kekhawatiran.

__ADS_1


Waktu bergulir lamban dan cukup membebaniku, tapi akhirnya ibu mengajakku pulang karna acara sudah selesai. Aku membonceng ibu dengan sepeda motor matic menempuh perjalanan sekitar 20 menit agar sampai di rumah. Aku berhenti di pinggir pasar depan rumahku membiarkan ibu turun dan membuka pagar rendah setelah titi. Aku memandang lurus ke depan, sekitar 200 meter di tepi jalan sana ada sosok yang sepertinya tidak asing.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...


Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.


Nah, cara dapatin poinnya:



Temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda


Ambil poin yg ada di pusat misi.


setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊



CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.

__ADS_1



Terima kasih 😊


__ADS_2