Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 27 Sihir Putih Hujan


__ADS_3

‘*Hujan sering mengirimkan banyak pesan, terutama bagi hati yang sedang sedih dan hampa. Gemerincing air di genting, di daun pohon, di tanah, di kulit manusia, dan apapun yang sedang disentuh hujan terdengar seperti alunan alam, miliaran tetes air menyentuh bumi. Hujan dan bumi bagai sepasang kekasih, saling merindu karna tidak bisa setiap saat bertemu. Saling menerima, ketika hujan turun bumi merentangkan kedua tangannya menyambut hujan masuk dalam pelukannya, memenuhi rongga hati. Walau terkadang setiap bulir tetes air hujan menekan aliran darah di tubuh bumi, namun itu tetap kasih sayang. Karna bagi bumi cintanya termasuk menerima rasa sakit dari hujan . Bumi begitu setia dan sabar meski hujan tak jarang memberikan luka.


Hujan turun dari pukul 6 pagi ini. Energi hujan menarik manusia yang biasanya sibuk lalu-lalang dengan aktivitasnya. Hujan menarik perhatian siapa saja dengan respon yang beragam, tapi satu hal yang pasti, mereka sedang dalam pengaruh hujan. Suka atau tidak, manusia tetap selalu tertarik dalam pesona hujan.


Dari bumi yang kini menyesap hujan ke tubuhnya*.’


Kubaca ulang kalimat\-kalimat pasal hujan yang kutulis di buku cacatan kecil yang selalu ku bawa. Hujan masih sama, tak bertambah deras juga tak kunjung reda. Hujan ini akan lama, padahal sekarang bulan Maret. Hujan tak berada di siklusnya ini sepertinya benar\-benar rindu pada bumi, terlihat berlama\-lama dan enggan menyudahi. Tapi aku senang akan hal itu. Bagiku, hujan memiliki kekuatan magis, sejenis sihir putih. Mulai dari mendungnya yang perlahan atau terkadang buru\-buru, terkadang memberi kesan lembut dan terkadang sangat kuat.



Hujan sang sihir putih, tak jarang membuat aku berada dalam pengaruh sihirnya. Aku merasa tenang dan nyaman pada saat seperti ini. Merasa disayangi, ditampung dan diterima. Hujan membawa bunyi\-bunyi nyaring di telinga, namun tidak menggangguku. Udara menjadi sejuk, meski aku memiliki masalah terhadap udara dingin, tapi aku terlanjur jatuh cinta pada hujan. Aku menerima rasa sakit karna aku terlanjur jatuh cinta padanya. Bagaimana jadinya kalau aku jatuh cinta pada seseorang? Apa yang akan terjadi padaku jika saat\-saat semacam itu datang?



Aku sedang berada di perpustakaan sekolah, menikmati hujan dari balik kaca besar jendelanya. Aku tertarik sepenuhnya pada pemandangan di luar sana, sudah lama aku tidak mandi hujan. Terakhir kali aku mandi hujan saat pulang sekolah zaman SMP. Walau pada saat itu aku langsung demam dan tidak sekolah selama 2 hari. Fisikku tidak terlalu kuat, aku tidak tahan dingin. Suatu hari nanti, di saat yang tepat, aku akan mengambil resiko untuk menari dan tertawa di tengah hujan, menikmati setiap sentuhan air di kulit dan rambutku, melepaskan semua beban dan berteriak sekeras yang kumau, meski aku akan sakit setelahnya. Terkadang aku ingin bebas, aku ingin terbang atau berlari kencang sampai lelah dan bahagia. Bukan berarti aku tidak bahagia saat ini, hanya saja aku ingin membebaskan diriku. Terkadang aku merasa sunyi, tapi kesunyian yang aku maksudkan bukan karna aku tak memiliki siapapun,tidak. Tapi tidak satu pun dari orang\-orang yang berada di sekitarku yang kurasa mampu memahamiku. Aku ingin bertemu seseorang yang bisa mentransfer rasa nyaman sehingga aku bisa mengutarakan apa yang aku rasakan. Berbagi apa yang kusuka dan tidak kusuka. Belakangan keinginan jenis ini muncul dalam hatiku, walau pikiranku selalu mengatakan bahwa aku baik\-baik saja, tapi hatiku berkata aku sedang tidak baik\-baik saja. Aku menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang bisa memenuhi hatiku yang terasa kosong. Tapi entah apa yang dapat menggenapi hati ini. Aku tak tahu.



Perpustakaan terbilang sunyi saat ini, hanya ada satu dua orang yang lalu lalang mencari buku. Aku suka hujan dan kesunyian yang ia ciptakan. Tadi aku ke sini pada saat jam pelajaran, tetapi guru bahasa Inggris kami ada urusan mendadak dan harus segera pulang, sehingga kami tidak belajar. Ela sedang tidak ingin ke perpustakaan, Ia kedatangan tamu bulanan dan tidak ingin melakukan apapun selain malas\-malasan di kelas.



“Hei,” suara seseorang menyapaku, aku tahu itu suara milik siapa.



“Jangan ngelamun, ngeri.” Ujar Ivan lagi sambil bergidik. Aku mengulum senyum melihat ekspresi Ivan yang dibuat\-buat. Aku belum pernah dengar ada orang yang kesambet karna mengamati hujan. Ivan ada\-ada saja. Ivan mendaratkan dirinya di kursi seberang meja tepat di depanku.



“Kamu kok suka banget liatin hujan? Tahan berjam\-jam ngeliatin tetesan air.” Tanya Ivan. Aku memalingkan wajahku ke arah jendela besar, mencoba memindai tetes hujan yang masih turun seperti tadi. Aku diam cukup lama, membiarkan huruf demi huruf kata\-kata Ivan menggantung dan gentayangan di atas kepalanya. Ivan yang duduk di seberang meja di depanku ikut memandang ke arah jendela besar yang sedikit berembun karna udara dingin yang merambatinya.

__ADS_1



“Aku merasa tenang.” Ujarku pelan. Dan kami diam beberapa saat, memberikan ruang hening dalam jiwa kami.



“Aku sering liat kamu merasa terganggu, dengan keramaian, kebisingan, apa kamu juga pernah terganggu sama aku atau Ela?” tanya Ivan lagi. Aku tersenyum tipis dan melihat Ivan sekilas.



“Dulu iya, tapi sekarang udah gak sama sekali.” Jawabku jujur. Ivan tahu persis perihal itu, terutama ketidaknyamanan karna dirinya. Tapi aku sudah membuang jauh\-jauh perasaan itu. Suasana kembali hening dan damai.



“Apa yang lagi kamu rasain saat ini, Nay?” pertanyaan Ivan mengusik pendengaranku, pertanyaan yang tak pernah aku dapatkan selama hampir 17 tahun keberadaanku di bumi. Tetapi entah apa yang menyentilku, hatiku bersuara, ingin seseorang mendengar apa yang sedang menggeliat gelisah di dalam sana.




Aku tahu Ivan sedang mengamatiku dari tempatnya, apa ia jadi iba padaku? kulirik Ivan untuk melihat seperti apa ia menatapku. Ivan sedang tersenyum tulus, wajahnya melembut dan apa lagi yang ada di wajah itu? Matanya menyampaikan sesuatu, seperti ‘aku senang mendengarmu berbicara hal pribadimu padaku’ aku membuang napas pelan, dan tersenyum tipis. Kami kembali kepada hujan yang justru belum ingin reda. Indah sekali. Aku juga suka udara dan bau tanah setelah hujan. Rasanya seperti pulang kampung dalam ketenangan.



“Nay, kamu punya aku kalau ingin berbagi. Apapun itu. Aku akan menjaganya dan aku bakalan ngelakuin semua yang aku mampu untukmu.” Ujar Ivan pelan, penuh perasaan, terasa tulus dan menakjubkan di telingaku. Perkataannya menyelip perlahan ke dalam hatiku. Aku tidak tahu apa yang bisa Ivan lakukan untukku, tapi entah mengapa aku merasa sedikit lega mendengar pernyataannya itu. Aku tidak mengharapkan apapun dari Ivan, yang aku rasakan sekarang adalah ‘aku memiliki seseorang yang menginginkan aku berbagi dengannya’, Ivan memang orang yang baik.


💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧


Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...

__ADS_1


Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.


Nah, cara dapatin poinnya:



temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda


Ambil poin yg ada di pusat misi.


setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊



CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.



Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2