Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 16 Memalukan!


__ADS_3

Matahari terik pukul 13. 45 dengan senang hati menyengat kulit siapapun yang tidak dinaungi pelindung saat ini. Aku berjalan terseok-seok menyususri bahu jalan, mungkin sekitar 100 meter lagi aku akan sampai di rumah bibi. Tidak seperti biasanya, aku merasa perjalanan pulang sekolah kali ini payah dan lamban, mungkin karna aku sedang demam. Kuseret langkah demi langkah gontai, berharap matahari di atas sana sedikit mengasihani aku dan orang-orang yang sedang membutuhkan empati matahari saat ini. Tetapi sepertinya doa dalam hatiku itu tidak akan terkabul hari ini, buktinya tidak ada tanda-tanda surya singa siang di atas sana akan meredup walau sejenak.


Angin berhembus semilir berusaha menyeimbangi matahari terik siang bolong. Keringat jagung menghiasi keningku, tubuhku agak lemas dan mataku sedikit tidak fokus. Aku harus bertahan, sedikit lagi aku sampai di rumah. Tapi aku mulai lunglai, apa sebaiknya istirahat sebentar ya? Kuhampiri sebuah bangku panjang di bawah pohon yang menjulang tinggi serta rimbun dekat jalan. Aku bersandar lega setelah mendaratkan tubuhku di kursi. Jalanan dekat komplek perumahan bibi tidak ramai, bahkan bisa dibilang lengang. Mungkin orang\-orang lebih memilih menyejukkan diri dengan pendingin ruangan daripada harus lalu lalang di bawah sinar matahari siang yang sedang garang\-garangnya.



Sejenak kunikmati pemandangan di sekitarku sambil mengumpulkan energi agar bisa berjalan kembali. Kuarahkan pandanganku ke jalan yang sudah kulalui tadi, dan? Kusapu kedua mataku pelan untuk memastikan penglihatanku. Cahaya matahari yang menyilaukan bisa membuat kita meragukan pandangan kita sendiri. Kusipitkan mataku ke arah itu untuk memfokuskan penglihatanku. Demam dan cuaca panas membuat aku mengalami fatamorgana. Aku melihat Ivan berjalan ke arahku. Ivan? Apa penglihatanku ini benar? Kalau benar berarti aku sedang dalam ketidakberuntungan level maksimal. Ya, aku memang kurang beruntung. Ivan kini sempurna mendarat di sampingku. Duduk dengan mantap, sesekali melepaskan napas gerah akibat cuaca atau akibat duduk di sampingku? Mungkin karna cuaca. Kalau ia gerah dekat denganku ngapain juga duduk di sini, dia bisa mencari tempat lain.



Kupandangi sepatuku yang dilapisi debu tipis, debu memang ada di mana\-mana lalu menempel dimanapun yang ia inginkan. Jujur aku menikmati berada di bawah pohon ini, aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Kalau dipikir\-pikir dengan kepala dingin dan tidak melibatkan kebencianku pada Ivan yang tertanam di awal kala itu, tentu cukup melegakan punya teman sebangku di saat seperti ini. Apa aku yakin? Tidak! Enyahlah dari pikiranku Ivan! Jika saja aku tidak bertemu Ivan setiap hari dan mengotori pandanganku semaksimal mungkin, ia tidak akan masuk dalam otakku sesering ini. Aku sungguh takut terbiasa. Takut jika nanti aku menganggapnya teman dan melupakan kejahatannya pada Yaya. Bukankah kebiasaan memberikan dampak yang mengerikan bagi orang yang terbiasa? Aku membuang napas berat lalu memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Namun kurasakan seseorang menyentuh pergelangan tanganku. Aku menoleh ke arah tanganku dan ke orang yang menyentuhnya. Siapa lagi kalau bukan Ivan. Aku melotot ngeri ke arah Ivan dan menepis tangannya dengan sedikit kasar. Aku tidak ingin meladeni Ivan sinting pengidap tumor otak gesrek. Lebih baik aku pergi.



“Kamu demam?” tanya Ivan dan kuhentikan langkahku yang belum sampai 1 meter. Kubalikkan badanku melihat ke arahnya yang sudah berdiri dari duduknya, lalu mengangguk sekenanya. Sepersekian detik aku terkesiap dengan perlakuan Ivan, ia menempelkan punggung tangannya di keningku. Tubuhku menjadi sedikit kaku mendapat perlakuan tiba\-tibanya. Kutepis tangan Ivan kasar dari keningku setelah aku memperoleh kesadaran akan perlakuannya. Tubuhku memang agak lemas namun emosi membuat aku mendapat kekuatan entah dari mana.


__ADS_1


“Mau kamu apa sih, Van?!” tanyaku menahan emosi.


“Mau ngecek suhu badanmu.” Jawab Ivan santai. Emosiku semakin naik karna responnya yang biasa saja. Wajahnya lebih terlihat khawatir dari pada merasa bersalah. Aku bertambah geram, tidak seharusnya ia menyuguhkan ekspresi yang menyebalkan itu padaku. Apa Ivan berpikir aku temannya? Tidak Ivan, aku tidak sudi.



“Dengar ya, Van. Aku udah merasa sial sejak Yaya pertama kali menyebut nama kamu di telingaku. Dan kesalahan terbesar aku adalah terpancing dengan jebakkan kotormu ke Yaya dan mendatangimu ke kelasmu hari itu. Jangan pikir aku lupa siapa kamu, Van. Aku merutuki setiap hari yang kulewati di sekolah ini semenjak sekelas dan bahkan lebih sial lagi sebangku denganmu!” kumuntahkan isi hatiku yang selama ini kupendam, tak kupedulikan perubahan raut wajahnya yang mulai memerah karna tersulut emosi. Aku tidak peduli, yang kuinginkan sekarang adalah ‘Ivan harus sadar aku tidak suka berteman dengannya, tidak, lebih tepatnya aku benci ia masuk dalam hidupku seenak bokongnya!’



“Mulai besok pindah dari bangkumu, jangan duduk di sampingku, jangan lihat aku, jangan hampiri duniaku, Ivan!” ucapku sedikit berteriak padanya. Napasku sedikit memburu akibat emosi dan kata\-kataku sendiri. Lalu Ivan? Keningnya mengerinyit heran.



Aaaaaaaaaaaaa. Memalukan! Mungkin Ivan sudah melupakan kejadian waktu itu dan menganggapnya sebagai kesalahan yang menjijikan juga untuknya. Aku terlalu berlebihan menganggap Ivan mengikuti aku dengan sengaja. Aku berpikir kejauhan!


-----------------------------------

__ADS_1


Silahkan like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...


CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.

__ADS_1



Terima kasih 😊


__ADS_2