
Setiap pekerjaan, posisi, keputusan atau hal apapun di dunia ini memiliki resikonya masing-masing. Hal itu berlaku terhadap siapapun dan kapanpun, itu adalah peranturan tak tertulis dalam kehidupan ini. Tak terkecuali padaku dan Ela tentang tanggungjawab yang diberikan Bu Renny soal mading. Contohnya saja istirahat pertama hari ini, aku masuk ke ruang khusus penyimpanan bagi jurusan bahasa. Ruangan ini sebesar kelas pada umumnya, di sini ada berbagi hal yang berkaitan dengan kegiatan yang dikelola para anak jurusan bahasa. Ruang ini dibagi menjadi empat dengan sekat, bagian kanan belakang adalah tempat penyimpanan barang anak sanggar teater sekolah, bagian kanan depan untuk menyimpan berbagai hal yang berkaitan dengan mading, dan sisi lain masing-masing untuk barang anak sanggar tari dan seni rupa. Aku tidak tahu apa yang tersimpan di masing-masing sekat itu, dan aku juga tidak penasaran.
Hari ini aku sendiri karna Ela harus mengikuti rapat perangkat kelas di ruang osis. Ela seketaris kelas kami, kelas XI bahasa 1. Tidak jarang aku terkagum, tercengang, tidak paham, dan lucu melihat berbagai karya yang dikirim ke mading. Bahkan Ela sering mengomel memuntahkan keluh kesahnya tentang orang-orang yang tidak bersahabat dalam mempercayakan karya mereka pada kami. Ada yang protes dengan posisi karyanya di mading, terlalu di pojok, terlalu ke kiri, terlalu ke atas, belum lagi beberapa orang yang tidak ingin karyanya ditempel di dekat karya si A atau si B dan lain sebagainya. Bahkan Ela bilang kemarin ada yang melabraknya saat pulang sekolah karna kami tidak memuat karyanya di mading. Bagaimana aku bisa membiarkan sebuah lukisan dengan kata-kata yang isinya kurang pantas.
Setelah selesai membuat catatan tentang beberapa hal, lalu merapikan beberapa karya aku begegas dan mengunci ruang sekat milik mading sekolah. Setelah kukunci kulihat seseorang masuk ke dalam ruangan, mungkin ia ada keperluan di dalam ruangan ini. Aku pernah melihat anak laki-laki kelas XI IPS ini beberapa kali, aku tidak tahu namanya. Tapi bukankah ia yang kemarin protes dengan Ela karna karyanya tidak kami muat semalam? Anak laki-laki yang berpenampilan agak urakan itu tersenyum sinis ke arahku. Tidak ingin berurusan dengannya aku bergegas keluar tapi ia malah menghalangi langkahku. Ia berada sekitar tiga langkah di depanku, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana , ia berdiri dengan angkuh, matanya dingin dan mengintimidasi. Aku muak dengan versi manusia seperti ini. kalau ia ingin menyampaikan sesuatu ia bisa segera katakan tidak perlu mempermainkanku begini.
Aku membalas tatapannya tak kalah dingin, dengan wajah datar dan berusaha mengintimidasinya kembali. Tapi ia tidak bergeming dan masih dengan senyum sinis yang menjengkelkan.
“Kamu mau apa?” Tanyaku dingin dan malas padanya. Namun ia malah terseyum menjengkelkan. Aku yakin ia ingin protes padaku soal karyanya itu.
“Kamu yang menyeleksi karya yang akan di tempel di mading kan? Siapa namamu? Ssttt... gak usah dijawab, karna aku gak mau tau. Kenapa karyaku gak dimuat?” Gayanya dan cara bicaranya sangat menyebalkan. Memang ada banyak jenis manusia di dunia ini. Baiklah, yang harus kulakukan hanyalah menjelaskan sedikit lalu pergi dari sini.
“Di wall mading ada syarat membuat karya mading, artinya setiap orang yang ingin karyanya di muat di mading maka karya itu harus memenuhi syarat yang ada.” Jelasku sambil mencoba untuk bersabar.
“Oya? Lalu apa yang salah dengan karyaku?” tanyanya seolah karyanya memenuhi semua syarat sederhana yang telah ditetapkan. Mungkin ia tidak pernah membaca syarat itu.
“Karyamu sudah kami kembalikan dan kamu bisa cek sendiri.” Ujarku dan ingin segera pergi, tapi ai malah mecekal tanganku. Apa? orang ini sudah gila? Aku berusaha menepisnya namun tangannya sangat kuat.
“Jelaskan!” Katanya dengan tatapan yang sama. Kubuang napas kasar, aku tidak suka dengan sikap orang ini sama sekali, tapi ia berhak medengar penjelasan langsung dariku, bisa jadi ia bodoh dan tidak mengerti bahasa yang tertera dalam peraturan yang di tetapkan oleh Bu Renny soal karya untuk mading.
“Kamu menggunakan kata\-kata yang mengandung unsur kekerasan dan bernada provokasi untuk orang yang membacanya. Itu tidak diperbolehkan. Jadi tidak bisa dimuat.” Ujarku menahan emosi. Tapi dia malah tersenyum sinis dan menatapaku dengan pandangan jahat yang mengerikan, aku mulai takut. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku membuat aku memundurkan diri dan panik. Orang ini sikopat.
“Mmmm, kalau begitu ajari aku bagaimana membuat karya yang bisa memenuhi syarat. Aku sudah mengirim lebih dari 10 karya selama ini, tapi gak satu pun yang pernah menyentuh dinding mading sialan itu. Kamu tahu itu?! Mmm aku baru ingit, kamu sendiri gak pernah ngirim karya ke mading tapi malah bisa menilai karya orang lain, huh?!!” perkataannya sinis, dingin dan lebih terdengar seperti ancaman. Kutelan saliva kasar mendengar ucapannya, tapi aku tidak boleh menunjukkan ketakutanku dengan orang seperti ini, ia akan meraja lela jika aku terlihat lemah dan takut padanya.
“Kamu bisa berdiskusi dengan Bu Renny atau temanmu tentang itu dan singkirkan tanganmu dari lenganku.” Ujarku kesal. Kusentakkan lenganku menepis tangannya dan ia melepaskan lenganku, tapi tidak melepaskan aku dari tatapannya.
“Kau sangat dingin Nayya dan munafik! Kau menarik perhatian orang\-orang dengan bertingkah sok intelek, cuek dan menutup diri dengan wajah sialan sok cantikmu. Kau membuat dirimu seolah\-olah eksklusif dan hanya berteman dengan 2 manusia yang terpaksa menampung kenaifanmu. Aku benci manusia seperimu!” Ucapnya penuh penekanan dan intimidasi yang mengerikan. Aku melihat pria sinting itu tepat di biji matanya dengan emosi yang sudah mengepul di ubun\-ubun. Apa haknya berkata begitu di depanku?
__ADS_1
“Urus saja hidup masing\-masing!” Akupun pergi dengan emosi yang berusaha naik ke permukaan. Dia pikir dia siapa bisa memperlakukan aku seperti itu? Menilaiku dengan seenak pantatnya. Dasar orang gila! Dia tidak berhak menyakiti harga diriku hanya karna karyanya tidak bisa dimuat di mading. aku tidak pernah mengkotak\-kotakkan karya karna urusan pribadi, aku melakukan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan. Apa dia pikir dia hebat? Karya murahan begitu! Aku berjalan buru\-buru entah ke mana. Aku menoleh ke arah pintu mading yang sudah tertinggal di belakang sana. Manusia terkutuk! Aku benci! Tega sekali mulutnya yang kotor itu menghakimi aku, padahal ia bahkan tak pernah bicara 5 menitpun denganku. Apa haknya!
Aku harus mencari tempat sepi, di mana tempat yang tidak di huni orang di sekolah ini. Belakang lab bahasa! Buru\-buru aku pergi ke tempat itu berusaha menahan air mataku yang akan segera tumpah karna emosi dan sakit hati. Kulihat sekitar tidak ada orang, beberapa saat yang lalu bel sekolah berbunyi, pasti mereka semua sudah masuk ke kelas masing\-masing. Air mata lolos begitu saja, satu tetes, 2 tetes, lagi lagi dan lagi semakin deras. Aku menutup erat mulutku agar tidak mengeluarkan suara apapun. Apa aku terlihat sehina itu? Semenyedihkan itu? Apa aku terlalu buruk? Apa salahku?
Ada bias bayangan yang tertangkap ekor mataku, aku menoleh ke samping dan di sana... Ivan sedang berdiri menatapku. Dengan wajah berurai air mata dan memerah karna emosi yang tertumpah dalam tangis tanpa suara, aku berusaha menghapus semua air mata di pipi dan sudut mataku. Ivan menghampiriku dengan heran, langkahnya pelan namun pasti, wajahnya sedih, emosi, bingun, dan entah perasaan apa lagi yang menjadi satu di wajahnya. Semakin Ivan melangkah dan semakin dekat ke arahku, tangannya terulur menyentuh air mata yang kembali lolos di pipiku. Air mata sialan ini bukan malah berhenti justru semakin deras keluar tak terkendali, kini tubuhku sudah berguncang pelan menahan isak tangis yang ingin lolos dari mulutku. Ivan semakin mendekat dan membawa kepalaku dengan sebelah tangannya yang lain menuju dadanya. Biasanya yang aku butuhkan di saat seperti ini hanyalah kesendirian, tapi kehadiran Ivan sekarang tidak menggangguku. Aku merasa memiliki seseorang. Aku menumpahkan semua air mata yang ingin keluar, terguncang sambil menutup mulutku yang ingin mengeluaran isak tangisku. Tidak, aku tidak ingin ada orang lain yang melihat betapa menyedihkannya aku saat ini. Cukup Ivan saja.
“Ssshhtt... It’s ok. Aku di sini.” Ujar Ivan pelan, sambil kurasa ia mengusap\-usap lembut rambutku.
Setelah beberapa menit akhirnya tangisku reda, kutarik wajahku dari dada Ivan, kuhapus semua jejak air mata di wajahku. Kesadaranku telah kembali, aku sudah lebih lega dan tenang. Kusiapkan diriku, mungkin Ivan akan mulai bertanya. Kurapikan rambut dan pakaianku, dan mulai salah tingkah karna Ivan hanya memperhatikanku tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Aku meliriknya berkali\-kali, tapi tampaknya Ivan belum ingin bertanya apapun. Ia sedang berpikir, ia mungkin sedang menduga\-duga apa yang telah menimpaku. Dia bisa langsung bertanya. Apa ia ingin aku bercerita lebih dulu? Aku menjadi canggung dibuatnya.
“Kamu kok bisa ke sini?” Aku memutuskan bertanya dari pada terus saling diam dan merasa aneh satu sama lain.
“Dia gak apa\-apain aku, aku udah merasa lebih baik. Kita masuk kelas aja.” ujarku ingin melangkah tapi Ivan kembali bersuara.
“Kamu gak akan nangis kalau kamu baik\-baik aja.” ujar Ivan menatap mataku pekat. Aku kesulitan menelan liurku sendiri saat ini. Mengapa Ivan melihatku seperti itu. Aku membuang paandanganku ke segala arah yang penting menghindar dari tatapan Ivan.
“Nay...,” Ivan ingin aku menjawab pertanyaannya. Hatiku berdesir mendengar Ivan memanggil namaku dengan nada mengiba, ia tidak perlu memohon sebuah penjelasan yang tidak ada sangkut paut dengannya. Lagian aku malu jika harus mengatakan betapa buruknya aku di mata seseorang, lalu aku menangis penuh emosi karnanya, apalagi orang itu mengungkapkannya dengan tajam dan kejam. Tapi Ivan justru memintaku menjelaskan hal itu padanya.
“Aku memang orang yang buruk, Van. Kamu dan Ela gak perlu kasian dan bertahan di samping orang egois sepertiku.” Ujarku pasrah.
__ADS_1
“Edgar ngomong gitu?” Tanya Ivan lagi. Kulihat wajah Ivan, entah mengapa hatiku menjadi gusar. Apa ia akan melakukan sesuatu? Tidak, Ivan tak perlu melakukan itu untukku, dan aku juga tidak mengharapan hal semacam itu, hanya akan menambah masalah dan melebar kemana\-mana. Sebaiknya aku menenangkan Ivan yang terlihat menahan emosi saat ini. Aku menatap wajah Ivan dan tersenyum tipis.
“Aku baik\-baik aja. Aku gak mau terlibat masalah, Van. Aku cuman mau kamu dan Ela tahu, aku gak mau kalian berteman sama aku karna terpaksa. Kalian bisa jauhin aku dan aku gak akan menilai kalian gak baik. kalian terlalu baik untuk orang kayak aku.” Jawabku sambil tersenyum kecut karna mendengar perkataanku sendiri. Ivan memandangku heran dan kesal.
“Terus apa yang kamu pikirkan tentang aku? Aku apa terlihat semunafik itu?” Tanya Ivan yang sepertinya mulai kesal padaku yang terdengar tidak tahu diri.
“Kalau lihat kamu, jujur aku merasa memiliki tempat di salah satu ruang di situ.” Ujarku sambil menujuk dadanya.
“Tapi semua orang bisa keliru, terutama orang naif dan sangat mengaharapkan teman sepertiku. Kamu gak perlu terbebani dengan ucapan aku, Van. Aku bakalan baik\-baik aja.” sambungku dan mengangguk\-angguk kecil namun tidak yakin akan kalimatku sendiri. Ivan tertawa kesal sambil membuang napasnya kasar. Aku melihat wajahnya menahan amarah, rahangnya mengetat dan ia berusaha menahan sesuatu di dadanya. Aku pasti membuatnya sangat kesal.
“Aku gak abis pikir sama kamu Nay. Sebesar itu kamu menilai segala sesuatu dengan logikamu. Logika itu memang pikiran realistis manusia, tapi terlalu realistis membuat kamu gak bisa melihat ada berapa banyak orang disekitar kamu yang peduli dan tulus sama kamu. Menurut kamu gimana aku bisa sampai di depan kamu sekarang, huh? Aku di sini karna aku sayang dan peduli sama kamu!” ujarnya benar\-benar tidak terima dengan kata\-kataku.
“Aku punya pikiranku sendiri, Van. Dan aku gak mau terlalu berharap, karna berharap membuat kita menuntut lebih. Perasaan membuat kita terluka dan jatuh lebih dalam, makanya logika itu penting. Kita akan sakit sejauh mana pikiran mengizinkan rasa sakit itu menguasai kita” Aku terlalu pengecut untuk menyayangi orang lain karna aku takut tersakiti ketika aku tidak bisa memilikinya. Memuja perasaan hanya akan membuat kita tamak.
“Kamu gak tau apa\-apa tentang perasaan Nay. Kamu gak pernah kehilangan dan kamu gak pernah merasa memiliki orang lain selain diri kamu sendiri.” Aku tidak habis pikir dengan kata\-kata Ivan, ia secara tidak langsung mengatakan aku adalah orang yang egois.
“Aku memang egois, Van.” Aku memperjelas ucapan Ivan. Ivan membuang dan menarik napas kasar berkali\-kali. Ia baru menyadari betapa buruknya aku sebagai seorang teman.
“Gak ada satu orang pun yang gak egois di dunia ini Nay. Tapi jangan biarin ego membuat kamu kehilangan hal\-hal yang sebenarnya berarti buat kamu.” Ujar Ivan kemudian berbalik dan pergi. Kutatap Ivan yang berjalan menjauhiku hingga sosoknya menghilang dari pandanganku.
‘Maafin aku, Van’ hanya itu yang terbersit di hati kecilku. Aku telah membuat Ivan marah karna kata\-kataku. Aku hanya tidak ingin memiliki teman dari kata kasihan. Walau aku merasa Ela dan Ivan tulus padaku, tapi kata\-kata Edgar mempengaruhiku.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄