
‘***Jika rindu memiliki kaki, maka ia akan berlari kencang kepada yang dirindukan. Jika rindu memiliki tangan, maka akan ia genggam erat yang dirindukan. Jika, jika saja. Apa yang lebih sulit untukku saat ini? Rinduku sempurna dengan kaki tangannya. Ia mampu berlari, ia mampu meraih. Tapi apa jadinya, jika yang dirindukan tak mengharapkan rindu itu?’
Semester 1 kelas x akan berakhir.
I H***
“Bagus.” Gumam Ela disampingku. Kami sedang berdiri di depan mading sekolah. Membaca dan menikmati karya siswa-siswi sekolah ini, dan salah satu yang tertempel indah dengan tulisan yang sangat rapi itu adalah milik seseorang yang berinisial IH. Siapa kira-kira?
“Kalau si penulis itu bilang ‘semester I kelas X akan berakhir ’ berarti dia kelas X, Nay.” Tutur Ela yang mencoba menyampaikan analisanya. Aku setuju dengan Ela.
“Yang punya inisial nama IH kelas X siapa ya?” tanyanya padaku. Ela melemparkan pertanyaan pada orang yang salah. Aku tidak akan tahu, ada 9 kelas untuk kelas X. Syukur alhamdulillah aku mengenal dan mengingat semua nama orang di kelasku. Tapi jangan tanya siswa kelas lain. Namun sepertinya pertanyaan itu tidak Ela tujukan untukku, buktinya ia mulain berceloteh sendiri menjawab pertanyaannya.
“Setau aku ada banyak murid kelas X yang namanya diawali hurup I. Ira Zihra, Izy Yusda, Ita Sari, Irza Maheswara, Isna Dwika, Iko Perdana. Itu kelas X1, dan nama kedua mereka bukan diawali hurup H. Kalau kelas kita, Indra Pratama, Icut Tania, Isro Laila, dan Ivan. Iya! Ivan, Nay!” Ela tiba\-tiba berteriak kegirangan, aku setengah kaget dibuatnya. Maksudnya apa tadi?
“IH itu Ivan Hadiawan, Nay!” teriaknya lagi tepat di depan wajahku dan pastinya kami masih berdiri di depan mading yang penuh dengan karya anak bangsa ini. Eureka! \(kata yang diucapkan Archimedes waktu berhasil menjawab pertanyaan atas hipotesisnya sendiri\) Ela kegirangan bagai mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang paling sulit di dunia.
“Ckckck. Ivan emang idaman banget, muka sih indo, tapi kelakuan udah kayak oppa eshem\-eshem korea aku, Nay. Aduh gemesh aku, jadi pengen ngintilin Ivan kemana\-mana. Hahahahaha.” Ujar Ela dengan paras sok imut dan penuh penekanan pada kata\-kata tertentu, kemudian cekikikan seperti kuntilanak baru ketemu genderuo idamannya. Ela memang ABG alay level pedes gila. Aduh, gak ngerti dede’ sama omongan si ela ey. Yasudahlah Ela, terserah anda kalau mau ngintilin si Ivan kemana\-mana. Kebayang kalau si Ela juga ngikutin Ivan ke toilet cowok, bisa geger satu sekolah. Ela ela, gara\-gara tulisan mading seorangn Ivan Hadiawan gadis lugu sepertimu luluh sekejab mata. Sungguh wanita, perasaan mengendalikan 99% hidupnya. Tapi bagaimana denganku? Bukankah aku wanita juga? Tapi kenapa aku tak mudah baper seperti Ela dan beberapa perempuan yang kukenal? Mengapa aku tidak merasakan apa yang mereka rasakan? Apa aku aneh?
“Tapi ya, Nay. Aku rada aneh deh liat Ivan.” Cetus Ela membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Sambil jalan ceritanya ya, La. Bentar lagi masuk.” Kataku dan kamipun bicara sambil berjalan menuju ruang ujian. Hari ini adalah hari ke\-enam ujian, alias hari terakhir dan sebentar lagi kami akan menyelesaikan ujian mata pelajaran yang terakhir pula. Itu artinya libur semester sudah di depan mata, dan hatiku gembira. Jika kalian anak perantauan, kalian pasti tahu bagaimana rasanya melihat deretan tanggal yang akan kalian habisan dengan keluarga tercinta di kampung halaman. Sungguh momen yang sangat ditunggu\-tunggu.
“Kamu ngerasa gak, Nay?” tanya Ela. Ngerasa? Rasa apa? Aku menggeleng tak mengerti.
“Aku pernah beberapa kali mergoki Ivan lagi ngeliatin kamu.” Ujar Ela kemudian. Aku membuang napas malas membahas topik seperti ini. Namun Ela, ratu kepo sejagad tidak mau kalah.
“Kamu gak percaya? Ni, ya.” Ela menjeda kata\-katanya dan menarik napas dalam lalu melanjutkan.
“Nay!” Ela menyentakkanku yang sedang larut dalam pikiranku sendiri. Ela kebiasaan mengagetkan orang lain. Kalau saja aku punya penyakit jantung, mungkin aku sudah mati dari kemarin\-kemarin.
“Kok malah ngelamun? Kamu lagi mikirin yang aku bilang barusan, ya? Iya kamu harus pikirin, Nay. Kalau dari 1\-10, Ivan itu dapat 9,5 lho.” Ujar Ela sambil nyengir, disertai dua jempol tangan yang mengacung ke depan wajahku. Entahlah, aku tidak tahu harus merasa apa, menanggapi bagaimana, lalu berbuat apa. Lagi pula, mungkin itu dugaan Ela saja. Lalu bagaimana dengan segudang kebetulan yang Ivan seret di belakangg kakinya hingga berada di tempatnya sekarang, sekelas denganku. Sebagian besar hati dan pikiranku lebih memilih mengabaikan apapun pasal Ivan, tapi setitik kecil dari hatiku menuntut otakku untuk berpikir tentang ‘benar atau tidak’ setiap kebetulan adalah kebetulan yang sesungguhnya?
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉
__ADS_1
Jangan lupa vote yaa...
Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.
Nah, cara dapatin poinnya:
temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda
Ambil poin yg ada di pusat misi.
setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊
CARA VOTE
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊