
Aishwa, berdua 27 tahun. Cantik paripurna dengan pakaian yang menutupi auratnya. Anak bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki dan sudah menikah.
Ketika kedua kakaknya memilih untuk mengabdikan diri dengan menjadi pengajar di pondok, Aishwa memilih mengembangkan hobi dengan membuka toko dan usaha lainnya.
Asyraf Mutaqim, Lelaki yang menikahi Aishwa dengan niat terselubung di dalamnya. Dari pernikahan sebelumnya Asyraf memiliki satu orang anak perempuan yang kini berusia 4,5 tahun. Dia memiliki beberapa usaha, di antaranya resaturan, kafe, showroom mobil dan masih ada lagi.
Keluarga Asyraf termasuk termasuk keluarga terpandang di lingkungannya. Mereka dikenal keluarga yang paham agama. Dilihat dari tutur kata, serta tingkah laku yang dilakukan anggota keluarga. Pun dengan kekayaan yang mereka punya.
Selamat membaca, jangan lupa kasih love, komen dan bantu share ya.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Ashwa Qodriya binti Ahmad Qodriya dengan mas kawin rumah tiga milyar, dan uang Satu milyar dibayar tunai." Kalimat Kabul yang didengar Aishwa dari kamar begitu menggetarkan hati. Entah harus bahagia entah sebaliknya.
Pasalnya Aiswha sendiri tidak begitu mengenal Asyraf. Dia hanya tahu Asyraf adalah suami sahabatnya yang sudah meninggal.
Pintu kamar dibuka dan Aishwa dibawa ke meja akad untuk menandatangi berkas pernikahan. Senyum bahagia dari orang-orang sekitar mengiringi doa untuk pernikahan kedua mempelai.
Sebagaimana seharusnya Aishwa melakukan tugas pertamanya. Mencium punggung tangan pria yang mengambil alih tanggung jawab atas dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Pun dengan Asyraf yang mencium kening perempuan yang kini sah menjadi istrinya.
Ucapan selamat diterima dari sahabat, rekan bisnis, sanak saudara pun dari tetangga yang hadir.
Acara pernikahan selesai tepat sebelum adzan ashar. "Abah, saya izin membawa Aishwa ke rumah yang sudah saya siapkan," ujar Asyraf sepulang mereka dari masjid.
Abah menglea nafas, ada rasa berat untuk melepas anak bungsunya. Akan tetapi lelaki paruh baya itu sadar putrinya sudah hak milik suaminya. "Sejak mengucapkan kabul, dia sudah hakmu, Nak. Abah titipkan dia untuk engkau jaga, lindungi dan didik dia hingga ke jannah-Nya."
Asyraf mengangguk, sejenak dia lupa pada niat awal menikahi Aishwa.
__ADS_1
"Nak Asyraf, selama dua puluh tujuh tahun aku menjaganya, mendidiknya dan memberikan cinta yang tidak pernah dia rasakan dari sang ibu. Aku tidak rela sedikitpun andai dia terluka baik fisik maupun batin. Andai dia tidak sesuai dengan keinginanmu, kembalikan dia padaku. Aku akan senang hati menerimanya kembali."
"Iya, Bah. Doakan agar saya bisa menjadi suami yang baik dan mahfum untuk putrimu."
"Pasti, sebelum kau membawanya, izinkan aku menemuinya lebih dulu."
Abah menemui putrinya yang tengah bersiap ditemani oleh kedua kakak iparnya. "Sudah selesai Aish?"
"Abah! masuk Bah. Abah kenapa? Abah belum rela ya Aish keluar dari sini?" tanya Aish duduk di sebelah sang ayah. Menyandarkan kepala pada bahu yang tak sekuat baja lagi. Abahnya sudah sih bahkan sudah memilki dua cucu dan satu lagi akan segera lahir.
"Setiap orang tua pasti berat saat harus melepas putrinya, Nak. Ingat pesan abah ya, Nak. Jadilah istri shaleha, senangkan pandangan suamimu, manjakan perutnya, buat dia nyaman dengan kahadiranmu. Tunduklah jika suamimu meminta haknya, ikuti perintahnya jika itu menuju kebaikan. Andai dia dzolim, kamu memiliki dua pilihan yang bisa kamu tentukan. Pertama bertahan dan yang kedua tinggalkan. Pelankan suara ketika dihadapan suamimu, Nak. Jangan menunjukan kamu lebih paham dsn lebih mampu darinya. Suami akan senang ketika seorang istri menghargainya."
"Iya Abah, Aish akan berusaha menerapkan setiap ilmu yang abah ajarkan," balas Asih dan memeluk abahnya. "Doa abah yang Aish harapkan mengiringi perjalan rumah tangga Aish."
"Tentu, doa abah akan selalu menyertaimu."
Asyraf mulai menujukan sikapnya. Selama perjalan, lelaki itu tidak mengajak bicara sang istri sedikitpun. Dia hanya menjawab pertanyaan Aish dengan singkat. Menciptakan suasana menjadi canggung.
Aish memaklumi, toh mereka juga sebelumnya hanya sebatas kenal dan tidak pernah akrab.
Sebelum maghrib, mobil sudah sampai di tujuan. Berhenti di depan rumah tingga lantai yang cukup besar nan mewah. Sayangnya rumah itu terlihat sepi. Bahkan hanya lampu bagian depan yang menyala.
"Pulang saja ke rumah ibu. Kalau ibu bertanya, katakan aku ingin mengenal istriku," ucap Asyraf pada sopir.
Apa yang diucapkan Asyraf sungguh bertolak belakang dengan tindakannya. Setelah sopir pergi, suasana menjadi semakin canggung. Dimana Asyraf hanya menyuruh Aish masuk menggunakan dagu. Sungguh tidak sopan.
Aish mengededarkan pandangan, di rumah ini hanya ada dirinya dan sang suami. "Kita akan tinggal berdua saja?" Aish memberanikan diri untuk bertanya.
Asyraf yang tengah melepas jas berbalik dan menyunggingkan senyum sinis.
__ADS_1
"Memangnya kamu berharap seperti apa? Jadi nyonya? Itu tidak akan terjadi, nyonya di rumah ini hanya Syfa-alm. Istriku."
"A- maksudku bukan begitu ...." beluk Aish menyelesaikan kalimatnya Asyraf lebih dulu memotong.
"Dengar Aishwa, aku menikahimu bukan karena cinta, juga bukan niat ibadah. Aku hanya ingin kamu merasakan bagiamana hidup kesepian setelah jauh dari orang yang kamu cintai. Aku dan Zia-putriku harus merasakan kesepian itu setelah istriku meninggal. Kalau saja hari itu dia tidak memaksa pergi dengan kamu. Mungkin dia masih ada di sampingku dan juga Zia. Kamu adalah penyebab kematiaannya," teriak Asyraf penuh emosi. Matanya memerah dan urat syaraf di wajahnya terlihat jelas.
"Asyraf!" Bukan maksud Aishwa melupakan pesan dari abah. Tapi dia terkejut karena Asyraf berteriak kepadanya bahkan dengan tuduhan yang paling menyakitkan. Penyebab kematian istrinya.
"Oh jadi begini rupanya sikap anak seorang guru, bahkan pemilik pesantren." Asyraf tersenyum meremehkan. "Berani meninggikan suara di depan suaminya."
"Jangan hina ayahku karena kebencianmu padaku." Dengan berani Aishwa membalas tatapan Asyraf.
"Rumah ini akan menjadi neraka duniamu, Aish. Tidak akan aku siapkan pelayan di rumah ini. Artinya kamu sendiri yang harus membersihkannya. Melayani kebutuhanku dan Zia sebagai pengganti peran Syfa."
Asyraf berbalik dan berjalan menuju kamar di lantai atas. Dia kembali membalikan badan saat ada kalimat yang belum ia lontarkan pada istrinya. "Jangan berharap cinta dariku, karena itu tidak akan pernah terjadi. Kamu tidak akan mampu menjadi Syfa atau menggantikannya."
Debum pintu yang ditutup keras hampir saja membuat Aish jantungan. Aish masih mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Asyraf.
Sungguh dia tidak menyangka akan mendapatkan kalimat pahit di malam pertama.
Aish membawa kopernya pada sebuah kamar yang terletak di lantai bawah. Ruangan yang tidak terlalu besar namun dirasa cukup untuk dirinya.
Berhubung adzan maghrib sudah berkumanadang, Aish melupakan sejenak kalimat Asyraf. Dia fokus pada kewajibannya menghadap pada Sang Pemilik kehidupan. Dalam sujud, dia adukan sikap suaminya pada pemilik sesungguhnya.
"Ya Allah, dengan segala kerendahan hati aku memohon padamu. Lapangan hatiku untuk menerima perlakuannya. Tebalkan telingaku untuk menerima caci makinya. Ya Allah semoga Engkau meridhoi jalan yang aku ambil.
Selesai Solat, Aish lipat sajadah serta mukenanya. Dia duduk di tepian tempat tidur dan berpikir. Jalan mana yang harus ia ambil. Tidak mungkin dia pulang ke rumah abah di malam pertama. Apa kata mereka nanti.
Bukan suaminya yang akan dipandang buruk, melainkan dirinya.
__ADS_1