
Aish masuk ke dalam selimut dan memeluk Zia yang tidur membelakanginya. Dia sembunyikan rona merah dari sang suami. Belum saatnya Asyraf mengetahui semuanya.
Prihal surat itu mungkin benar Juan yang kirim. Dan mungkin suaminya tengah cemburu. Ah ini sih rencana yang gak di sangka sangka.
Baiklah marikita lanjutkan. Goda dengan masakan, goda dengan keangkuhan, goda dengan kecentilan, dan goda agar dia cemburu. Obrolan singkat dengan Juan dan perkataan hendrick tempo lalu sepertinya berhasil membuat mood Asraf buruk. Cemburu kah itu, mari kita pancing lagi.
Pagi-pagi setelah selesai sarapan, Aish bertanya sesuatu yang membuat abahnya menyipitkan mata.
"Abah, kak Juan semalam nginep di pondok apa pulang?"
Sontak pertanyaan Aish mengejutkan semua orang dewasa yang tengah duduk di sana dan menikmati sarapan. Tak terkecuali Asyraf.
Aish melirik Asyraf melalui ekor matanya. Asyraf sempat menhentikam suapannya tapi tak lama kembali melanjutkan.
"Kena gak ya? tanya Ais dalam hati.
"Pulang," jawab abah datar. Lelaki tua iru tak suka sikap Aish yang menanyakan laki-laki lain di depan suaminya. Apa tujuannya coba.
"Enggak, Bah. Kayanya Juan nginep deh di pondok putra," ujar Hanif-kakak sulung Aish. "Kenapa tanya dia, Aish?"
"Gak papa, tanya aja," jawab Aish sesantai mungkin. Padahal dalam hatinya ia tengah berdebar di tatap oleh sang ayah. Pasti setelah ini ia kan dipanggil dan diceramahi.
Benar selesai sarapan, Aish diminta ke ruang kerja Abah. Wajah teduh nan berkarisma itu terasa sangat menyeramkan kala Aish sudah masuk dan kembali menutup pintu.
"Apa maksudnya tadi, Aish?"
Aduh Aish bingung harus mengatakan apa pada abah. Enggak mungkin borok rumah tangganya ia bongkar di depan abah. Bukankah ia harus menutup keburukan suaminya.
"Aish?" Abah mengulangi pertanyaannya.
"Abah, Aish minta maaf kalau membuat abah tersinggung. Jadi ...." Ragu-ragu Aish hendak bercerita.
"Kamu sedang bermasalah dengan suami-mu? Dia dzolimi?"
"Enggak, Bah. Begini, tadi malam Mas Asyraf menyodorkan sebuah surat yang isinya ungkapan sebuah perasaan. Tapi nama pengirimnya kak Juan. Aish tanya karena takut mas Asyraf tengah mengerjai Aish, atau mungkin kalau benar pengirimnya kak Juan, Aisyah takut Mas Asyraf salah paham. Gitu, Bah."
__ADS_1
"Ya abah mengerti, tapi menurut kamu caramu bertanya itu benar? Semua orang tengah menikmati sarapan, termasuk suamimu. Lantas kamu menayankan laki-laki di depan dia? Kan bisa kamu temui Abah setelah selesai makan."
"Iya, Bah"
"Aish, kamu perempuan yang didik dengan ilmu. Jangan sampai cinta membuatmu mengikis ilmu dan adab, Nak. Kamu perempuan bermartabat, jangan sampai marwahmu jatuh karrna kamu tak pandai mengolah perasaan."
"Iya, Bah, Aish minta maaf."
Di luar ruangan Asyraf ingin tahu aoa yang istri dan mertuanya bicarakan. Sayangnya suara dari dalam tak mampu ia dengan.
Saat pintu dibuka ia belum beranjak dari sana. Untuk kesekian kalinya ia kepergok. "Mas Asyraf?"
Asyraf menggaruk hidung uang sebenarnya tak gatal. Hanya saja ia tengah menutupi malu dengan sikap so juteknya.
"Asyraf?" tanya Abah yang ternyata menghampiri pintu.
"Ah iya bah, tadi mau pamit sekalian mau nanya Aish masih mau di sini atau tidak. Soalnya saya sudah ditunggu." Akhirnya otak Asyraf berpungsi dengan baik menyediakan alasan meski smpean mati kutu.
"Aku pulang kok Mas."
Mereka pun menuju mobil. Di dalam Zia sudah duduk cantik di dalamnya.
"Pasti, Bah. saya berangkat dulu," pamit Asyraf sambil mencium punggung tangan mertuanya.
Aish menyusul setelah melakukan hal yang sama. "Lihat suamimu jadi terlambat," bisik Ayah sambil menguap pucuk kepala anak bungsunya.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Asyraf ketahui tentang istrinya. Tapi mau dimulai dari mana, aneh ini rasanya canggung sekali. Seperti anak muda yang baru saja mengenal kata cinta.
Aish diantar ke rumah bersama Zia yang hari ini kembali absen sedangkan Asyrfa sendiri kembali ke kantor dan disambut oleh Hans.
Nindy yang melihat kedatangan atasnya pun langsung sigap berdiri. Perempuan itu masih berusaha menarik perhatian astannya yang ia kira dingin-dingin empuk.
Banyak hal yang harus dikerjakan Asyraf. Memeriksa laporan kerja karyawan, laporan keuangan dan beberapa perusahaan yang ingin menjadi relasi di perusaahannya.
Baru jam sampai jam sepuluh dia kerja tapi capek ditubuh sudah mulai terasa. Disandarkannya kepala pada sandaran singgasananya.
__ADS_1
Tangannya merogoh sesuatu dari balik saku. Menampilkan senyum kala apa yang ia cari sudah ada didepan mata.
Pipi tembem, dan tubuh sedikit gemuk perempuan yang ada di dalam foto mampu megahpus rasa cepak yang ia rasa. Iya foto yang dipandnagi adalah foto isttinya yang ia dapat dari laci di kamar snah istri tadi malam.
"Perubahannya jauh banget ya. Kamu operasi plastik ya?" dia bertanya pada foto yang tengah ia tatap dalam genggamannya.
Sedangkan yang ditatap dalam foto dan telah bermetamorfosis kini tengah menatap rumah mewah yang menunggu ia bersihkan.
Tega banget suaminya, di rumah tiga lantai nan luas itu tak disediakan pelayan. Tunggu, dia punya ide. Dia pun keluar rumah dan menemui satpam komplek perumahannya.
"Nyonya Asyraf?" Aish terkekeh mendengar sapaan dari orang yang akan ditemuinya.
"Bukan, istri aja pak bukan nyonya. Saya sedang butuh beberapa perempuan untuk membantu saya di rumah pak. Pak satpam bisa bantu carikan?" Aish berkata dengan nada yang teramat lembut.
"Oh buat bantu-bantu di rumah ya? Ada sih, tunggu saya hubungi dulu orangnya." Pak satpam menghubungi seseorang dan mengatakan ada pekerjaan. "Kenapa tidak pakai jasa penyalur saja, Nyonya ... eh Bu. Saya harus manggil apa ya?" pak satpam tertawa pelan sambil menggaruk pelipis.
"Panggil Bu saja seperti yang lain. Ada pak orang yang bisa bntuin saya-nya?"
"Jadi lupa, ada bu. Katanya siap. Itu adik sama keponakan saya."
"Baiklah, saya tunggu di rumah ya pak. Tahu kan rumahnya pak Asyraf?"
"Siap nanti saya antarkan," jawab si satpam sambil memberi hormat ala militer membuat lawan biacara terkekeh.
Aish kembali ke rumah dan tak sampai lima belas menit orang yang akan membantu meringankan pekerjaannya sudah datang.
Tak perlu dijelaskan secara detail, dua perempuan muda yang tadi diantar oleh satpam pun sudah tahu tugasnya. Asih hanya berpesan agar tidak masuk ke kamar Asyraf. Buatlah kamar itu ia yang akan membersihkan. Termasuk urusan mencuci pakaian sang suami.
Sambil menunggu dua pekerja dadakannya selesai, Aish menyempatkan membuka email laporan dari toko juga bisnis yang tengah ia geluti. Ditemani Zia yang duduk di sebalahnya dan tengah Asyik menikmati cemilan juga tayangan kartun di tv. Sesekali anak kecil itu tertawa.
Ponsel Aish bergetar, ada nama Isha terter di layar. Segera ia angkat dan mengucapkan salam. "Iya Sha?"
"Kak Aish ada di rumah kan?"
"Iya aku di rumah, mau main ke sini?"
__ADS_1
"Iya-"
Suara Isha tidak lagi terdengar jelas, hanya terdengar suara sesuatu yang jatuh.