
Pintu didorong oleh sepasang tangan dan Isha masuk. Menatap kakaknya yang juga tengah menatap ke arahnya. Isha bersidekap, "ternyata bener kan?" sinisnya.
"Enggak, kamu salah. Aish lagi halangan makanya kakak tidur di sini."
Isha semakin menyunggingkan senyum sinisnya. "Alasanmu gak bisa diterima, Kak. Cari yang masuk akal dong alasannya. Kalau Kak Aish lagi merah, gak mungkin dia sampai harus berbohong dengan solat?"
"Kamu gak ngerti Isha," elak Asyraf membuang nafas dan duduk di sisi ranjang. Menatap adiknya yang bersikap seperti polisi yang tengah mengintrogasi.
"Bagian mana yang tidak aku mengerti. Aku mengawasi sejak Kak Aish masuk ke rumah ini. Bahkan dengan teganya kakak membiarkaj Kak Aish membersihkan rumah tiga lantai ini seorang diri. Aku akan beri tahu ayah dan ini soal ini." Isha berbalik tapi di tahan oleh kakaknya. Asyraf menggelangkan kepala agar sang adik tidak gegabah.
"Kenapa? Takut dimarahi ayah atau takut diminta menceraikan kak Aish."
"Sha, kita tidak bisa memaksa orang yang belum jatuh cinta dengan kita untuk tidur bersama. Pasti-"
"Oh kalian belum tidur bersam, bahkan pernikahan kalian sudah dua minggu lebih loh, Kak. Kakak tidak mencintai kak Aish atau sebaliknya?
"Aish yang belum mencintai kakak."
"Kenapa kakak tidak berusaha meluluhkan hatinya. Perempuan itu mudah sekali memberikan hatinya kala ia mendapatkan kenyamanan. Apa lagi kalian halal, kakak bebas menggodanya. Yang aku lihat bukan itu alasannya, karena kakak tidak berusaha. Kalau kak Aish, Isha lihat kesunghuhannya menjadi istri. Ia tidak terlihat mengeluh saat harus merawat rumah sebesar ini seorang diri. Pun harus merawat Zia yang bukan anak kandungan."
Isha tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya. Padahal segudang prestasi telah lelaki itu dapatkan.
"Untuk pekerja, baru akan kakak urus besok. Tapi untuk urusan hati kakak terlalu lemah Isha."
"Berusaha dong, jangan sampai aku katakan ini pada ayah atau itu. Atau lebih parahnya keluarga kak Aish sendiri yang mengetahui kedzoliman kakak pada anaknya. Bisa jadi abahnya kak Aish mengambil kembali putrinya. Kak kak Aish kalau jadi janda tak akan sulit mendapatkan kembali suami. Banyak kok yang mengaharoakan perempuan sepeti dia. Cantik, cerdas, tau hak dan kewajiban seorang istri meski suaminya dzolim. Ingat kak dilaur sana banyak lelaki yang mengaharapkan istri seperti istri kakak sekarang."
Isha meninggalkan kakaknya dan memilih kembali ke kamar. Dia sungguh kesal dengan kenyataan ini. Iman kakaknya benar-benar dalam keadaan turun. Bahkan abai pada tanggung jawabnya sebagai suami.
Asyraf mencerna setiap perkataan adiknya. Ia gak menyangka adiknya akan mengetahui ini. Padahal tadi ia dan sang istri sudah merasa aktingnya maksimal.
__ADS_1
Haruskah ia turun ke kamar Aish untuk meyakinkan perasaannya sendiri. Iya perasaan tang selama beberapa hati mengganggu fungsi kerja hatinya.
Setelah dipikir-pikir ia pun turun, berniat ke kamar Aish. Tapi saat di tangga dia melihat orang yang akan ia tuju, keluar dari kamar menggunakan gaun tidur panjang dan ditutupi kardigan. Dilihat dari langkah, sepertinya kain itu memilki belahan yang cukup tinghi. Rambutnya dicepol asal penampilan leher jenjang yang menggoda iman. Hasrat lelakinya menggeliat meminta lebih.
Aish yang hendak kembali ke kamar setelah mengambil air minum tertegun melihat sang suami berdiri di tangga. "Mas?"
Asyraf mengerjapkan mata dari keterpesonaannya seorang Asih. Istrinya malam ini begitu canti dengan gaun malamnya. Iya yakin di pundak yang terbalik kardingan itu ada seutas tali yang bisa ia tarik dan melorotkan kain yang membungkus tubuh istrinya.
Aish berdebar kala langkah sang suami kian mendekat. Jarak diantara merek makin terkikis. Hingga tubuh tegap dengan dada bidang itu berdiri dihadapannya.
"Untuk menghindari kecurigaan Isha, boleh aku tidur di kamar kamu?" tanyanya.
"Boleh, kamu bisa tidur di kasur dan aku tidur di sofa," jawab Aish sambil membuka pintu. Berada dalam satu ruangan dengan cahaya yang remang karena lampu utama sudah dimatikan, mengharapkan gelayar pada dua insan yang tubuhnya hanya berjarak beberapa langkah saja.
Isha mengambil bantal dan selimut kecil dari lemari lalu beranjak ke sofa. "Kamu tidur saja di situ mas, biar aku di sini."
"Aku takut kamu gak nyaman, besok kan kamu harus kerja. Sudah tidur saja di situ." Padahal Aish sendiri bingung kalau harus tidur di sofa dengan pakaian seperti ini. Bisa saja selimutnya turun dan bagian tubuhnya yang selama ini tersembunyi dilihat oleh sang suami. Yang ia khawatirkan Asyraf akan memandang dirinya rendah dan dianggap menggoda.
Ia menggunakan gaun ini bukan maksud ingin menggoda, tapi karena penasaran temanmu memberikan kado ini.
Aish merebahkan diri di sofa, namun rasa gelisah akan kehadiran Asyraf di dalam satu ruangan yang sama membuatmu sulit memejamkan mata. Pun dengan Asyraf.
Lelaki itu bangun, dan menatap Aish. Entah sisi buruk entah sisi baik yang berisik. Yang jelas Asyraf mendekati Aish dan mengangkat tubuh itu dan emmindahkannya ke pembaringan.
Asih ingin membuat mata tapi tak berani. Sungguh keadaan seperti ini membuatnya gugup. Pada akhirnya rasa ngantuk pun hadir dan melemparkan dirinya ke alam mimpi.
Rasa nyaman membaut dua insan terlena dalam lelap. Hingga Adzan subuh hampir berkumandang keduanya tak ada yang beranjak lagi dari atas pembaringan.
Saat adzan berkumandnag barulah Aish menggekiat dan merasakan ada beban yang menimpa tubuhnya. Ternyata tangan Asyraf tengah memeluknya dan itu enjah sejak kapan.
__ADS_1
Pantas nyaman.
Aish lebih dulu ke kamar mandi barulah dia bangunkan suaminya. Dengan lembut dia goyangkan tubuh sang suami. "Mas subuh, adzan sudah berkumandang," kata Aish saat Asyraf mulai menandakan dirinya sudah bangun. Ia menatap Aish yang pakaiannya sudah berganti.
"Semalam mimpi apa nyata ya," gumam Asyraf
***
Isha melihat kakak iparnya sudah berada di dapur tengah membersihkan sayuran. Dia pun mendekat dan menanyakan apa yang bisa ia bantu.
"Apa ya, terserah Isha deh mau bantu apa. Zia sudah bangun?"
"Sudah, katanya mau mandi sendiri. Tadi aku hanya siapakah air hangat juga seragamnya."
Aish pun tak sungkan mengucapkan terima kasih.
"Kak Asyraf belum bangun?" tanya Isha. Ia kembali mengorek informasi. Siapa tahu kakaknya masih bebal setelah semalam ia ingatkan.
"Masih di kamar," jawab Aish tanpa menoleh karena fokus membersihkan daging.
"Kamar atas, kamar bawah?"
"Kamar bawah, lihat aja! siapa tahu tidur lagi."
Isha pun menuju kamar Aish, tak lupa ia mengetuk pintu lebih dulu.
"Iya," jawab Asyraf membuka pintu. "Kenapa Isha?"
"Enggak. Cuma disuruh kak Aish aja buat cek, katanya siapa tahu kaka tidur lagi."
__ADS_1