Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 12


__ADS_3

Isha memutuskan untuk menginap dan tak lupa mengirimkan pesan pada kedua orang tuanya. Dia asik berbincang dengan Aish yang memang pandai menyesuaikan diri.


Mereka asik memasak menyialakn makan malam. Kali ini tidak direcoki Zia karena anak itu asik bercerita pada sang ayah di depan tipi. Sesekali Asyraf melirik Aish yang terlihat menikmati aktifitasnya.


Sampai kumandang adzan terdengar, barulah mereka meninggalkan aktifitas masing-masing. Aish dan Isha menunaikan kewajibannya di dalam rumah, ssedangkan Zia ikut Asyraf ke masjid yang jaraknya tak terlalu jauh.


"Kak aku tuh penasaran sama kalian," ucap Isha kala sudah melipat sajadah dan mukena.


"Penasaran apa?" tanya Aish yang juga melakukan hal yang sama.


"Kalian pernah itu gak sih?"


"Itu apaan, Isha kalau kasih pertanyaan itu yang jelas."


"Itu loh masa gak paham maksudku. Di ranjang."


"Rahasia," jawab Aish, "kan urusan ranjang gak boleh diceritakan ke orang lain."


"Ya memang, tapi aku tuh lagi penasaran aja. Soalnya kalian itu kayak ... kayak apa ya. Kayak ada jarak gitu. Bener gak sih tebakanku?"


"Memangnya lihat dari mana, kita ada jarak. Perasaan biasa saja."


"Ada kok. Aku yakin kalian ada jarak. Tadi aja kak Asyraf pulang, kak Aish menyambutnya biasa aja. Terus kayak jarang ngobrol gitu."


"Kak Asyraf lagi capek, dia kan baru pulang kerja. Tugas seorang istri salah satunya memahami kan?" Aish membela suaminya.


"Tapi kan katanya obat capek itu kala melihat istri dan anak di rumah. Ayah sama kalau pulang kerja sering cium ibu yang mebyabut kok."


"Kan tadi ada kamu, takut kamu jadi mau. Jomblo soalnya," ledek Aish sambil tertawa pelan.


Isha memberengut kala tak mendapat jawaban memuaskan. Ia yakin ada yang tidak beres dengan pernikahan sang kakak. Maka dari itu dia memutuskan menginap. Jangan sampai kakaknya dzolim pada istrinya. Bukan maksud ikut campur, hanya saja kalau ternyata terindikasi ada kedzoliman ia perlu melurukannya.


Ucapan salam terdengar dari Zia dan Asraf. Untuk menghindari kecurigaan adik iparnya, Aish menyambut sang suami dengan senyum. Dia cium punggung tanganmu dengan takzim lalu dia peluk. "Isha curiga," bisik Aish.


Paham dengan apa yang dilakukan sang istri karena ada Isha ia pun membalas pelukan dari istrinya. Ia berikan kecupan hangat nan lama di kering sang istri.


Isha mendelik, ia masih yakin dengan dugaannya.

__ADS_1


Ais melepaskan tangannya dari tubuh Asyraf saat adik iparnya sudah lebih dulu masuk ke ruang makan. "Maaf," ucap Aish tanpa menatap dan berlalu menyusul anak serta adik iparnya. Bukan perkara menyusul adik ipar dan anak, tapi Aish takut debarannya meledak tiba-tiba. Dia harus kembali pada prinsip awal. Membaut Asyraf jatuh cinta pada dirinya.


Toh ia tidak merebutnya dari Syfa, serba Asyraf datang padanya setelah enam bulan paca kecelakaan.


Asyraf mengusap dadanya, yang tiba-tiba bergemuruh. Ia akui pelukan istrinya tadi kembali menghadirkan debar yang tak biasa. Dia pun menyusul di belakang. Sajahnya ia sampingan di atas sofa. Biasanya akan dipindahkan oleh istrinya.


Asyraf meminpin doa, lalu mulai menikmati hidangan malam. Sesekali matanya melirik sang istri yang melayani dirinya. Mengambilkan nasi serta lauk pauk untuknya.


"Terima kasih," ucap Asyraf sambil menatap mesra istrinya.


"Sama-sama," jawab Isha sambil mencibir. "Gak usah pura-pura kali, Kak."


"Isha ...."


Adiknya langsung diam dan kembali menghabiskan makanannya yang ada di piring. Dia melirik Zia, sebuah ide langsung muncul di benaknya. Baiklah dia akan mengorek informasi dari anak kecil ini. Bukankah anak kecil belum pandai berbohong. Semoga saja.


Selesai makan, Aish mencuci piring bekas makan dan dibantu suaminya.


"Isha bertanya macam-macam?" bisiknya.


"Iya."


Isha langsung mengajak Zia duduk di depan tv yang jaraknya lumayan jauh dari ruang makan. Dia yakin suaranya tak mungkin terdenagr sampai ke mereka. Pokonya ia harus medapatkan informasi dari si kecil Zia.


"Zia, mau coklat gak?"


"Mau!" seru Zia kegirangan.


"Shuuut jangan keras-keras. Tante akan kasih coklatnya tapi Zia harus jawab pertanyaan. Gak boleh bohong, ingat bohong itu do-."


"Iya tahu dosa. Mana coklatnya." Zia menegadahkan kedua tangan.


"Ada di kamar tante. Sekarang jawab dulu ya! Ayah sama bunda tidurnya sekamar apa pisah?"


"Gak tau."


"Kok gak tau?"

__ADS_1


"Kan aku sering bobo duluan dari pada ayah sama bunda."


Isha menarik nafas, ternyata susah juga mengumpulkan informasi dari anak kecil. Ok, mari kita coba lagi.


"Ayah sama bunda sering berantem gak?"


"Emmm ...." Zia terlihat berpikir tentang kejadian waktu ayahnya sakit. Itu masuk kategori marahan tau enggak tapi saat itu bundanya tak menanggapi.


"Zia ...." Isha tak sabar ingin mendapatkan jawaban. Setidaknya satu kunci bisa menjadi kunci lainnya untuk membuka tabir.


"Bentar tante Isha, aku mikir dulu."


"Ck, lama."


"Ih tante gak sabaran banget sih." Zia memberengut kesal, "enggak kayaknya."


Haduh mikir lama jawabannya enggak. Isha menepuk jidat. Baiklah cara ini tidak berhasil. Dia harus memperhatikan gerak-gerik kakak dan iparnya. Kalau mereka berakting pasti ada celah untuk memahaminya.


Sepasang suami istri itu ikut bergabung di ruang keluarga. Asyraf duduk di samping Aish, tangannya ia gunakan untuk merengkuh sang istri agar bersandar pada dada bidangnya. Aktingnya harus total agar sang adik tidak menemukan celah.


Aish sempat meringis kala tubuhnya ditarik oleh sang suami. Buru-buru dia bersikap rileks sebelum Isha menyadarinya. Ia balas dekapan suaminya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang.


Keadaan seperti ini ternyata membuat suami istri itu tersiksa oleh gejolak yang tiba-tiba hadir. Entah gejolak seperti apa itu.


"Tante Isha tanya apa Zia?" selidik Asyraf.


"Tante Isha tanya ayah-"


Hap, Isha langsung membekap mulut keponakannya. Dia lupa memperingatkan keponakannya. "Kita ambil coklat sekarang yuk," ujar Isha mengangkat tubuh keponakannya yang mulai berat. "Aku kasih satu kok, Kak. sekalian sikat gigi biar tidur bareng. Kangen soalnya."


Baik Asyraf maupun Aish baru bisa bernafas lega saat tubuh Isha menghilang ditelan pintu kamar. Mereka merasa lega tapi kondisi mereka tidak berubah untuk beberapa menit. Aish masih dalam dekapan sang suami.


Asyraf berdehem, barulah tautan tangan pada pinggang lepas. Asih menjauh. Rona merah tentu saja langsung muncul dipipi, membuat suhu tubuh dan permukaan wajah terasa panas.


"Aku ke kamar," pamit Aish sambil menunduk. Tak kuasa memperlihatkan rona di wajahnya.


"Oke," balas Asyraf seperti biasa kala debar semakin tak menetu maka gerak tubuhnya terasa kaku. Pun dengan lidah.

__ADS_1


Selalu lupa dengan keberadaan Isha di rumahnya, Asyraf malah naik ke lantai atas. Saat pintu akan ditutup, sepasang tangan menahannya.


Bersambung ....


__ADS_2