Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 30


__ADS_3

Isha menolak saat sang ayah memberitahu kalau Juan telah melamarnya. "Aku kan sudah bilang, Yah. Aku belum siap nikah muda."


"Ayah gak maksa, ayah hanya menyampaikan niat nak Juan ke kamu, itu aja."


"Ya tapi bukan berarti ayah akan menerima kan?"


"Ya lihat kondisi aja." H. Aqim melengos dan menginggalakn Isha, kemudian langsung menghubungi orang tua Juan dan mengatakan kalau putrimya menolak. Ia pun mengucapkan permohonan maaf kalau penolakan ini membuat mereka terutama Juan akan tersinggung.


Juan sendiri menatap sinis cermin di hadapannya setelah mematikan sambungan telpon dengan sang ayah. Dia pun langsung memikirkan ide lain agar bisa menikah dengan Isha.


Dia membayar seseorang untuk mencari tahu kegiatan Isha. Tak sampai satu hari dia sudah mendapatkan info kegiatan Isha untuk beberapa hari ke depan. "Kamu boleh menolak tapi aku tidak akan menyerah. Kali ini kamu harus menikah denganku Isha," gumamnya.


Kampus tempat Isha menuntut ilmu akan mengadakan acara seminar. Isha terpilih dari beberapa orang yang berprestasi untuk menjadi moderator.


Juan memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Isha. Ia tak segan membayar lebih agar bisa masuk ke ruang ganti Isha dan mengatakan bahwa ia calon suami dari Isha yang hendak memberikan kejutan.


Dia juga sudah membayar orang untuk memprovokasi dan menggerebek mereka saat waktunya tiba. Rasa cintanya telah berubah menjadi ambisi bahkan menjadi nafsu yang akan merusak.


***


Untuk membuat pikirannya kembali jernih, Aish memilih berangkat ke toko kue. Dia tidak pamit pada Asyraf dan hanya menitipkan pesan jika nanti Asyraf menanyakan dirinya.


Diantar oleh sopir Aish sudah sampai di toko. Tokonya tampak ramai pembeli, hilir mudik pegawai dan mengabaikan keberadaan dirinya tak menjadi permasalahan. Aish masuk ke dalam ruangan dan menyandarkan kepala.


Marni yang diberitahu oleh dalah satu pekerja bahwa atasan mereka datang pun menghampiri ruangan Aish. Mengetuk pintu lebih dulu baru masuk setelah diizinkan.


"Maaf, Bu, baru sempat menemui." Perempuan itu tersenyum, "Bu Aish ke sini mau cek laporan atau mau coba resep yang baru?"


"Coba resep yang baru boleh sepertinya."


"Saya akan ambilkan untuk Bu Aish."


Tak lama Marni masuk kembali dan membawa cake untuk atasannya. "Terima kasih, mbak Marni. Silahkan boleh melanjutkan kembali pekerjaannya."

__ADS_1


***


Mendiamkan sang istri sampai berhari-hari membuat Asyraf merindukan senyum sang istri. Tidak seharusnya dia mendiamkan sang istri bahkan sampai berhari-hari hanya karena masalah kecil.


Saat makan siang ia memutuskan menghubungi rumah untuk menanyakan keberadaan sang istri. Rencananya ia akan membuat kejutan dengan mengajaknya makan siang.


"Pergi?" tanya Asyraf pada pekerja di rumahnya.


"Iya tadi Bu Aish hanya menitipkan pesan kalau beliau akan ke toko, Pak."


"Ya sudah." Asyraf mematikan sambungan telepon. "Pasti dia merasa sungkan untuk izin. Tidak apa-apa Aish aku ridho," katanya sambil meraih kunci mobil. Dilantai bawah dia memberitahu Hans kalau ia akan makan siang bersama sang istri.


Asyraf sempat bingung dia akan menjemput istrinya kemana karena tidak tahu alamat. Beruntung Isha mau memberi tahu meskipun dia harus diomeli oleh adiknya.


"Mau kasih tahu apa enggak?" tanya Asyraf pada Isha yang tengah mengomeli dirinya dengan kecepatan kereta ekspres.


"Iya, iya nanti aku kirim alamatnya. Makanya kalau cinta itu jujur aja, Kak. Gak perlu kucing-kucingan giliran rindu malu sendiri."


"Bawel." Asyraf langsung melajukan mobilnya setelah melihat alamat yang dikirim oleh Isha. Tak sampai setengah jam Asyraf tiba di depan sebuah ruko bertingkat yang dipenuhi pengunjung.


Dia pun turun dan pura-pura sebagai pembeli. "Yang paling populer yang mana, Mbak?" tanyanya pada Marni yang melayani.


"Yang paling populer yang ini, Pak." Marni menunjuk kue yang resepnya diberikan oleh Aish. "Anda baru pertama kali membeli di toko kami, Pak?"


"Iya, ini baru pertama kali."


"Kalau begitu anda boleh mencoba dulu, Pak. Ada hak istimewa untuk calon pelanggan baru, Pak."


"Begitu, boleh deh. Saya duduk di meja sana ya." Asyraf meneliti bangunan tempat usaha sang istri. Jika dilihat dari luar orang tentu akan memandang biasa aja. Akan tetapi saat mereka masuk tentu mereka akan terbuai oleh desain interiornya. Belum lagi pelayan-pelayanan yang rama. "Terima kasih," ujar Asyraf pada Marni yang menyajikan potongan cake. "Oh ya apa pemiliknya sering ke sini?"


"Sebelum beliau menikah ya tentu sering, tapi setelah menikah ya tentu harus tergantung izin dari suaminya, Pak."


"Begitu ya?" Asyraf menyuapkan cake paling populer di toko sang istri. Memejamkan mata untuk meresapi nikmat. "Saya suka dengan cake ini, bisa tolong bungkuskan satu?"

__ADS_1


"Tentu, silahkan nikmati cake-nya sambil menunggu." Tak lama marni kembali dan dengan membawa pesanan Asyraf dan langsung menerima bayaran.


"Saya menyukai cake ini dan sepertinya tertarik untuk menjalin kerja sama. Kapan kira-kira saya bisa bertemu dengan ownernya langsung."


"Sebenarnya hari ini beliau datang, Pak. Tapi saya coba tanyakan dulu bisa bertemu apa tidak ya."


Aish yang tangah menyandarkan tubuh dan memejamkan mata pun bangun saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


"Bu di laur ada tamu yang katanya mau bertemu dengan ibu dan hendak bekerja sama," lapor Marni.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki, Bu."


Aish tampak berpikir tapi ternyata Asyraf masuk dan membuat Aish menatap ke arahnya.


"Saya orangnya, Bu Aish."


"Mas?"


Marni menatap Bingung, tapi tidak mungkin juga meninggalkan atasannya dengan laki-laki yang tidak diketahui. Tapi mengengar kalimat sang atasan sepertinya mereka saling mengenal.


"Bisa keluar mbak?" pinta Asyraf pada Marni. Perempuan itu menatap pada Aish dan mendapat anggukan darinya.


"Mas, maaf aku gak izin lebih dulu sama kamu."


"Karena mau bertemu Juan?" tanya Asyraf dengan nada khasnya. Datar. Pria itu mendudukan tubuhnya di sofa dan meletakan bungkusan cake yang tadi dia beli.


"Juan?" Aish tidak merasa bertemu dengan lelaki itu. Dari sejak datang dia tidak keluar dari ruangannya.


"Tidak usah pura-pura bingung Aish. Tadi aku melihatnya keluar dari toko kamu."


"Keluar dari toko ini kan bukan berarti kita bertemu, Mas. Bisa jadi dia hanya membeli kue dari toko ini. Kamu cemburu?" Aish mendekati suaminya yang membuang muka. "Mas cemburu ya?" goda Aish.

__ADS_1


"Enggak. Aku hanya gak suka aja lihat kamu sama dia."


"Emang kapan aku sama sama dia? perasaan gak pernah deh. Bilang aja kalau cemburu, Mas." Aish menggoda bahkan memainkan tangannya di wajah sang suami. "Cemburu kan?"


__ADS_2