
Niat hati ingin menambah beban Aish, yang terlihat justru Aish menikmati kehadiran Zia. Perempuan itu malah seperti punya teman. Selesai isya, dan makan malam Aish menemani Zia menonton.
Mereka sama-sama tertawa saat ada adegan yang lucu. "Kasihan dia jatuh, Bunda." Zia menunjuk televisi padahal sudah jelas Aish juga menyaksikannya.
"Kasihan ya, nah kalau ada teman Zia yang jatuh harus di to-?"
"Long," sambung Zia.
"Pinter, jangan diterta-?"
"Wakan."
"Duh pinternya," gemas Aish memeluk anak sambungnya.
Asyraf yang duduk di sofa tunggal mencebik. "Zia tidur, besok sekolah." Seperti biasa wajah Asyraf akan terlihat seperti tembok saat bicara.
"Bentar ayah. Belum selesai kartunnya."
"Besok bisa diputar lagi, bisa nonton lagi kan."
"Zia bunda ngantuk," ujar Aish sambil pura-pura menguap, "mau bobo sama bunda gak?"
"Mau? tapi gak sama ayah kan?"
"Iya, kita bobonya cuma berdua. Biarkan ayah bobo sendiri." Aish merentangkan tangan agar Zia masuk ke gendongannya.
Gadis kecil itu menurut lalu menjulurkan lidahnya pada Asyraf. "Dadah ayah kasian bobo sendiri wle."
Aish ingin tertawa melihat ekspresi suaminya. Akan tetapi dia tidak ingin tindakannya di contoh oleh Zia. Bisa semakin murka Asyraf padanya.
Aish mengajarkan adab-adab sebelum tidur, juga membimbing Zia untuk membaca surat-surat pendek dan doa sebelum tidur.
Saat Zia terlelap, Aish pun menyusulnya.
Arsyan sempat mengintipnya dari pintu, tapi tidak berani masuk.
Seperti kata anaknya, kasihan dia punya istri tapi tetap tidur sendiri. Kesalahan di buat sendiri.
***
Pulang dari masjid, Asyraf mendengar canda tawa yang teramat bahagia. Ternyata dari dapur. Istrinya tengah sibuk membuat sarapan dan direcoki oleh Zia.
Anak kecil yang masih serba ingin tahu pun selalu melemparkan pertanyaan pada Aish.
"Ini namanya apa?" tunjuk Zia pada sayuran bergerigi kesukaan Aish.
"Itu pare." Aish tetap menjawab meskipun tanganya sibuk memotong sayur juga membolak-balik daging yang tenagu digoreng.
__ADS_1
"Ini?" Zia mengangkat terong warna ungu.
"Itu terong."
Masih banyak lagi pertanyaan yang dilemparkan Zia dan selalu Aish jawab. "Waaahhh bunda pinter, ayah kalau di tanya jawabannya selalu bilng gak tau."
Zia menirukan gaya Asyraf sambil melipat tangan di dada. Aish semakin gemas.
Asyraf menyandar di pintu masuk menatap putrinya yang kebetulan menoleh padanya. Anak itu ikut menirukan gaya Asyraf. Mereka saling menatap seperti musuh yang saling mengingatkan bendera perang.
Karena tak mendengar lagi celoteh Zia, Aish menoleh penasaran. Dia tersenyum tipis melihat tingkah bapak dan anak itu.
Asyraf berdehem, dia masuk dapur untuk mengambil minum. Dengan sengaja dia menjatuhkan gelas membuat anak dan istrinya berjingkat.
Aish menatap wajah menyebalkan Asyraf. Datar dan dingin. Lebih dingin dari kulkas di rumahnya.
Dari ekspresi suaminyaAish paham kalau gelas itu bukan jatuh sendiri. Asyraf benar-benar ingin menguji kesabarannya.
Aish segera membersihkan pecahan gelas, "kok gak mikir ya, gimana kalau pecahan gelas itu terinjak oleh anaknya. Dendam ya dendam tapi gak usah membuat yang lain jadi korban juga." Aish menggerutu dan Asyraf mendengarnya.
Saat berhadapan dengan Asyraf, Aish penampilan ekspresi dingin. Akan tetapi akan berbeda saat berhadapan orang lain juga anaknya.
Drama pagi kembali terjadi, kala Zia tidak ingin berangkat ke sekolah. "Berangkat sekolah! kalau tidak jangan minta membeli mainan lagi." Bukannya menurut karena dibentak, anak kecil justru semakin merengek.
Aish menggelengkan kepala, tak paham dengan sikap suaminya. Adab dan ilmu seolah luntur dari diri suaminya.
"Aku mau jalan-jalan sama bunda sama ayah juga," jawab Zia sambil menunduk takut. Tak berani menatap wajah sang ayah.
"Sini bunda kasih tau. Kalau pagi tempat bermainnya masih tutup, gimana kalau kita jalan-jalannya nanti sore."
"Jadi aku harus sekolah dulu?" mata Zia mengerjap. Sisa-sisa genagan air mata masih terlihat di susut mata.
"Iya nanti sore bunda ajak Zia jalan-jalan"
Zia mengangguk senang, dia menuruti perkataan Aish. Bahkan semangat mengganti pakaiannya dengan seragam. Anak kecil memang sulit diberi pengertian, tapi ia akan paham kala kita menunjukan bahwa kita mengerti keinginannya.
"Aku mendidik Zia tegas, tapi kamu memanjakannya," ucap Asyraf ketus.
Aish sedang tidak ingin meladeni sang suami. Dia melengos ke luar dan membantu Zia sarapan.
Berbeda dengan kemarin, Aish tidak lagi melayani Asyraf seperti saat mertuanya datang. Ia ingin menunjukan bahwa Asyraf salah memilih dirinya.
"Emmm makan bunda enak!" seru Zia, "enak kan ayah?"
"Biasa aja."
Kalau tidak ada Zia mungkin Aish sudah berteriak. Apa lagi saat Asyraf menambah lagi lauknya.
__ADS_1
"Enak kok, ish selera ayah sangat buruk."
Aish tak ikut menanggapi, dia sibuk menyukai Zia juga dirinya.
Selesai sarapan Aish menganatar Zia ke sekolah di jemput oleh sopir dari rumah mertuanya.
Asyraf yang masih memilki jatah cuti lebih banyak diam di rumah. Olah raga, memberantakan keadaan rumah dan membuat Aish menggerutu adalah hobi barunya.
Dia mengambil makanan ringan dan memakannya sambil bermain PS. Beberapa sisa makanan jatuh membuat karpet jadi kotor.
Dia tersenyum mebayangkan ekspresi kesal Aish.
Syfa
***
Nah kan benar dugaan Aish, rumah pasti berantakan. Untungnya Aish memiliki stok sabar yang menggunung. Dia tetap membersihkan rumah itu.
Sore hari Zia menagih janji pada Aish. Berhubung mobil Asyraf sudah diantar ke sana, dan tidak mungkin pergi hanya berdua. Aish mengompori Zia untuk mengajak Asyraf.
Lelaki judes mendelik pada Aish, "ngajarin anak itu yang baik-baik."
"Saya juga ngajarin cara hemat dengan memanfaatkan yang ada loh. Kan sayang mobinya nganggur."
"Iih ayaaaah ko malah marahin bunda. Kan aku yang minta main."
"Ayah gak marahin bunda kok, Zia," sanggah Aish.
"Tapi ayah bicara ketus bunda."
"Jalan-jalannya jadi gak?" tanya Asyraf.
"Jadi dong!" seru Zia.
Di dalam mobil Asyraf dianggap seperti patung oleh anak dan istrinya. Toh diajak bicara pun tidak menceritakan manusia.
Zia bersorak gembira saat tiba di area permainan. Mau tidak mau Asyraf pun mengikuti.
"Aishwa!" Entah karena ramai atau memang ada yang tengah memanggil Aish. Samar-samar seperti ada yang memanggil dirinya.
"Aishwa." Nama Aish kian jelas dipanggil. Sontak mereka menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
Seorang pria berwajah tampan dan kulit bersih tengah tersenyum pada Aish dan menghampirinya.
"Kak?"
Tak disangka kalau dia akan bertemu kakak tingkat kelasnya saat menuntut ilmu.
__ADS_1
"Iya ini aku Juan, kamu makin cantik Aishwa. Masih tinggal di pesantren kan? Rencananya aku minggu ini mau bertemu abah-mu, Boleh?