Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 23


__ADS_3

Isha merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Dia segera menepi untuk memeriksa. Sayangnya dia tidak paham tentang mesin mobil. Dia mulai gelisah apa lagi senja mulai terbenam.


"Bu, Bu, maaf di sekitar sini bengkel sebelah mana ya?"


"Oh bengkel mah di sana neng sebelum tikungan tadi," jawab si ibu dengan khas logat sunda.


"Ibu atau orang di sekitar ibu ada yang punya nomor telponnya?"


"Wah ibu kurang tahu ya. Mungkin mereka mah punya tapi da si ibu mah enggak."


"Oh ya sudah terima kasih. Bismillah semoga selamat." Isha kembali ke dalam mobil tapi mobilnnya malah tidak nyala sama sekali. Isha mulai dilanda panik tapi terus menyebut nama Allah.


Ia pun menghubungi Asyraf tapi tidak diangkat begitu juga dengan sang ayah. Menepikan rasa malu ia mencoba menghentikan mobil-mobil yang lewat dengan harapan ada orang yang bisa menolongnya.


Tidak ada mobil yang berhenti, mungkin mereka takut padahal Isha juga berhenti di tempat yang tak terlalu sepi. Masih ada beberapa pedang kaki lima tapi mereka abai.


Isha menoleh pada mobil sedan metalik yang berjalan mundur dan berhenti tepat di dekatnya. Kaca mobil diturunkan, "Isha 'kan?"


"Iya saya Isha, bisa bantu saya cek mesin mobilnya gak, Kak. Mobil saya tiba-tiba mogok."


Si pemilik pemilik mobil sedan itu turun dan memeriksa kendaraan Isha. "Ini gak bisa dibenerin di sini harus dibawa ke bengkel, Sha."


"Kamu punya nomor bengkel yang bisa dihubungi?"


"Ada punya temanku, tapi mungkin agak lama menunggu soalnya jaraknya terlalu jauh dari sini."


"Gak papa kalau saya harus menunggu, yang penting bisa pulang." Isha bernafas lega.


Lelaki itu langsung menghubungi bengkel, "sudah dia akan segera ke sini."


"Makasih ya."


"Santai, oh ya kamu gak ingat aku? Aku Juan loh yang kita kenalan waktu di super market."


Isha tampak berpikir, "oh kamu. Maaf ya saya orangnya mudah lupa." Isha merasa tidak enak karena selalu bersikap acuh pada lelaki itu.


"Gak masalah, tapi masa iya sih cantik-cantik mudah lupa," kelakar Juan.


"Kan sama-sama manusia."

__ADS_1


Ponsel juan kembali berdering dan segera diangkat. Setelah panggilan ditutup ia menatap Isha dengan wajah penyesalan.


"Ada apa?" tanya Isha penasaran.


"Gak ada montir yang kosong, paling mobil diangkut kesana. Gimana?"


"Ya sudah gak papa."


Tau gini aku tadi minta dipanggilkan montir yang ada di belokan saja.


Tak sampai tiga puluh menit mobil derek pun datang. Dan mau tidak mau Isha menerima tawaran untuk dianter pulang oleh Juan.


Isha duduk di kabin tengah sedangkan Juan di balik kemudi. Suasana terasa canggung apa lagi untuk Isha yang pertama kali satu mobil beruda dengan lelaki yang bukan mahromnya. Dia tenggelam dalam lantunan doa yang dirapalkan melalui hati, sehingga mereka hanya mengobrol singkat saja.


Juan menepikan mobil di halaman sebuah masjid. "Sha, maaf berhenti sebentar ya, takut keburu habis waktunya."


Isha paham dia pun mengangguk dan ikut turun untuk menunaikan kewajibannya. Saat sudah beres dan Isha baru keluar dari masjid, Juan lebih dulu keluar bahkan duduk di dekat sepatu milik Isha.


"Loh sudah diambilkan?" tanya Isha melihat sepatunya sudah tidak di tempat penyimpanan.


"Maaf ya aku lancang." Perlahan tapi pasti itu yang ada dipikiran Juan.


Haji Aqim dan istri keluar dari rumah saat melihat mobil asing memasuki halaman. Mereka heran saat melihat putrinya turun bersama seorang laki-laki.


Isha menyalami keduanya dan mengenalkan Juan. Juan mengangguk dan memperkenalkan diri.


"Mobilmu mana?" tsnya Haji Aqim.


"Mobilku mogok, terus tak sengaja bertemu kak Juan."


"Kenapa gak menghubungi ayah atau kakakmu?"


"Udah tapi gak ada yang angkat."


"Sudah yah, sudah. Ayo masuk, nak Juan masuk dulu?" tawar Hj. Salwa.


"Terima kasih, Bu, tapi saya harus segera pulang."


"Oh gitu, ya sudah sekali lagi terima kasih ya sudah mengantarkan Isha."

__ADS_1


Juan mengangguk dan kembali ke dalam mobil. Membunyikan klakson sebelum mobil meninggalkan halaman rumah Isha.


Tentu saja saat mobil Juan menghilang di balik pagar, Isha langsung dicerca berbagi pertanyaan oleh ayah juga ibunya.


"Beneran yah, Isha gak pacaran. Pernah beberapa kali bertemu tapi memang hanya sekedar menyapa."


"Yakin kamu?" Haji Aqim tidak menerima alasan Isha. Semua ia antisipasi agar putrinya tidak terjebak rasa yang tidak semestinya. Lebih baik menikah muda ketimbang berbuat zina, itu yang Haji Aqim pikirkan.


"Astagfirullah, Ayah. Beneran, lagi pula Isha juga belum siap kalau harus menikah. Apa lagi pacaran dulu."


"Ya sudah mandi sana. Ingat sekali lagi ada lelaki yang kamu bawa ke rumah ayah nikahkan kamu sekalian. Lebih baik menikah dari pada pacaran. Ayah gak sanggup kalau harus ditambah lagi hukuman atas dosa pacaran kamu."


"Iya, ayah iya."


***


Lepas Isya Asyraf dan Hans sudah sampai di tempat yang kliennya jadikan tempat untuk bertemu. Asyraf menarik nafas sebelum turun dari mobil.


"Andai tidak mencapai kesepakatan langsung malam ini lebih baik kita batalkan kerja sama, sama mereka. Saya tidak ingin masuk ke tempat seperti ini untuk kedua kalinya. "


"Siap, Pak." Hans lebih dulu turun dan membuka pintu untuk Asyraf.


Mereka masuk dan menunjukan chat dari klien mereka pada petugas. Bahwa ia tinggal menuju ke ruang VIP yang sudah dipesan oleh mereka.


Keadaan belum terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sudah berlalu lalang di sana. Musik pun sudah diputar tapi masih dalam tahap aman.Bagi mereka yang hidup di dunia malam, jam segitu masih dianggap terlalu pagi. Sebab puncak keramaian tentu nanti saat tengah malam.


Dua pria tampan yang tengah berjalan menuju ruang VIP pun menjadi pusat perhatian beberapa perempuan. Sayangnya Asyraf tidak peduli dengan tatapan memuja dari mereka.


Keduanya tiba di ruangan yang dimaksud. Ruangan dengan cahaya remang menambah kesan buruk dimata Asyraf.Kedatangannya langsung disambut oleh para perempuan cantik tapi berpaikan kurang bahan. Asyraf bahkan menepis tangan yang hendak menyambutnya. Sungguh ia merasa risih dengan keadaan seperti ini.


"Tuan Bobby, bisakah kita meeting tanpa ada mereka?" tanya Hans yang mengerti atas ketidaknyamanan atasannya.


Pria yang dipanggil Bobby itu tertawa seperti mengejek Asyraf. "Kalian tidak suka? Ah saya pikir akan menyenangkan kalau kita bicara dan mereka mendampingi."


Jijik itu yang Asyraf lihat. "Lebih baik rencana kerja sama ini cukup sampai disini. Saya tidak suka urusan bisnis dikaitkan dengan nafsu syahwat. Permisi."


"Wah sayang sekali padahal mereka sudah saya bayar loh untuk menyenangkan malam kalian. Yakin tidak ingin mencintaimu?"


"Tidak," jawab Asyraf berbalik arah dan di susul oleh Hans. Hal tidak terduga seorang perempuan dari lawan arah berlari ke arahnya dan menabrakk dada bidang Asyraf.

__ADS_1


__ADS_2