
"Ya jelas ibu tanya mereka. Kalau tanya kamu yang ada seperti sekarang malah balik bertanya," kekeh ibu mertuanya.
Setelah makan siang Salwa tidak langsung pulang. Dia memilih menunggu suaminya pulang sambil menemani Aish. Mereka mengobrol hal-hal ringan tapi Aish selalu mendapatkan ilmu dari mertuanya. Zia juga tidak jauh dari mereka, anak itu sedang menyukai belajar mewarnai.
"Oh ya menurut kamu Isha gimana?" tanya Salwa penasaran dengan penilaian menantunya terhadap sang anak.
"Emmm ... menurutku dia baik, cantik, pinter juga. Kok ini tiba-tiba nanaya itu ke aku?"
"Ya ibu pengen tau aja penilaian kamu. Kalau soal menikah dia sudah cukup belum menurut kamu."
"Kok tiba-tiba begini," kekeh Aish, "Ibu mau menjodohkan Isha?"
"Ya ibu mulai khawatir sih sama dia. Bukan berarti sebelum ini gak mengkhawatirkan ya. Maksud ibu gini loh, dia kan sudah dewasa, dan menurut kamu dia juga cantik. Ibu mulai khawatir tentang pasangan yang akan mendampinginya. Kemarin malam dia pulang diantar seorang pria."
Aish hanya mendengarkan, tidak menunjukan reaksi berlebihan.
"Tentu ayah langsung mempertanyakan siapa pria yang mengantarnya. Isha hanya mengatakan sebatas kenal dan tidak hubungan apa pun. Ibu takut kalau dia tidak terbuka pada kami sebagai orang tuanya. Takut kalau sebenarnya dia sudah siap menikah tapi tidak berani menyampiakannya pada kami." Salwa menceritakan keresahannya.
Aish membalas senyum Salwa, "nanti aku coba bicara sama Isha ya, Bu. Kalau sama ibu mungkin ada rasa takut atau sungkan, tapi kala sama aku kan hampir sebaya ya meskipun lebih tua aku juga sih sebenarnya."
Mereka sama-sama tertawa.
***
Isha melajukan mobilnya ke arah restoran, dia akan makan siang di sana. Dia memang lebih banyak sendiri dan kenal dengan teman-temannya hanya sebatas kenal saja. Tidak terlalu akrab.
Dia segera memesan makan siang lalu duduk di meja kesuakaannya, pojok dan dekat jendela. Sambil menunggu makanan di hidangkan dia menyenangkan diri untuk mengerjakan tugas.
"Isha?"
Isha mengangkat wajah dari tugasnya, dia pun memaksakan untuk tersenyum.
"Dia lagi, dia lagi," batin Isha.
__ADS_1
"Sendirian?"
"Enggak, sama teman tapi lagi ke toilet mungkin."
Juan mengerutkan kening, "mungkin? Kok kayak gak yakin gitu bilangnya."
Isha menutup tugasnya lalu menatap Juan. "Kak Juan maaf, maaf banget nih ya. Kak Jauh tuh hantu ya, kok munculnya di mana aja."
"Iya hantu yang menggentayangi pikiran kamu. Gak sengaja aja sih barusan lihat kamu. Kebetulan aku juga kerja di tempat ini. Kamu kok kayak menghindar terus dari aku?"
Isha mengucapkan terima kasih saat pelayan menghilangkan pesanannya. "Aku memang menghindari kak Juan karena takut ayahku berpikir yang tidak-tidak. Gitu sih."
Juan mengangguk-angguk, "oh itu alasannya, aku kira karena takut dinikahkan."
"Memang. Aku juga belum siap kalau harus nikah muda, duh nanti anak sama ema-nya dikira seumuran. Kasihan kan anak aku," kekeh Isha.
"Ya sudah aku minta maaf kalau kamu merasa terganggu." Juan tidak jadi duduk di sana. Tanpa mereka tahu bahwa Aqim memperhatiksn mereka.
***
Rasa rindu pada ia yang telah tiada membawa laju mobil menuju komplek pemakaman. Tak lupa Asyraf menyempatkan membeli bunga kesukaan Syfa semasa hidupnya.
Kini Asyraf sudah berjongkok menghadap pada batu nisan yang bertuliskan Syfahatun nissa. Asyraf tampak Khusu saat mulai menyampaikan rindu melalui lantunan doa.
Seketika hujan turun begitu lebat, sehingga Asyraf tidak bisa menghindar. Tubuhnya basah kuyup saat ia beranjak dari pusara istri pertamanya. Masuk ke dalam mobil dan melihat kabin belakang, tidak ada pakaian ganti yang bisa ia gunakan. Ia harus menahan rasa dingin sampai di rumah.
Aish terkejut saat suaminya keluar dari mobil dengan keadaan tubuh yang basah. Dia segera menyiapkan air hangat untuk mandi. "Mas aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi, sudah biarkan saja pakaian basahnya di situ." Aish mendorong tubuh Asyraf ke kamar mandi.
"Gak mau mandi bareng?" Asyraf masih sempat menggoda istrinya.
"Sudah cepet mandi, biar gak masuk angin." Aish memunguti pakaian basah milik suaminya. Ia bawa langsung ke tempat cucian. Dia juga menyempatkan membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Membawa minuman hangat itu ke dalam kamar dan ia letakan di atas meja. Tidak lupa menyediakan pakaian ganti untuk Asyraf.
Aish masih mengambilkan pakaian ganti saat Asyraf keluar dari kamar mandi dan memeluk Aish dari belakang. "Dingin," ucapnya dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
"Mas ...."
"Biarkan begini dulu ya, atau kamu bantu aku agar tidak kedinginan." Asyraf masih meluk Aish,
"Ia ini juga mau ambil baju dulu." Tiba-tiba tubuh Aish melayang dan pindah ke pembatingan. "Mas ..." Aish melotot karena terkejut.
"Aku butuh kamu sekarang," Asyraf menatap sang istri yang berada di bawahnya. "Boleh?"
Aish belum mengatakan ya tapi Asyraf sudah menyerangnya. Percuma saja ijin toh diserobot juga. Kadang Aish merasa diperlukan istimewa oleh suaminya kadang juga merasa diperlkaukan seperti bukan dirinya. Ingin menolak tapi tak mungkin mengabaikan perintahnya.
Ia tatap wajah yang sudah memejamkan mata sesesaat setelah pelepasan. Ia mencintai laki-laki ini, mengabdi agar mendapat ridho-Nya. Sesekali ia juga berpikir untuk membebaskan diri, tapi balik lagi tidak mungkin ia bercerai tanpa adanya udzur syar'i.
Suaminya tidak dzolim. Asyraf tetap memberikan nafkah baik lahir maupun batin, tidak selingkuh meski saat dia mengingat postingan sebuah akun kala itu cukup mengganggu. Tidak kasar dan selalu berusaha menyenangkan dirinya.
Lama Aish diam dengan segala pemikirannya, sampai aba-aba akan adzan maghrib barulah dia membersihkan diri. Dia usap wajah suaminya dengan tujuan membangunkan. Tapi ia malah mendapati suhu panas dari wajah sang suami. Asyraf demam.
Gegas ia membersihkan diri lebih dulu dan menunaikan kewajiban. Setelah melipat alat solatnya Aish kembali mengecek suhu tubuh suaminya 39,2°. Aish mengambil Air hangat untuk mengompres.
"Mas," panggil Aish pelan, Asyraf tidak menjawab. Pintu kamar terdengar diketuk dan Aish segera membukanya. Zia berdiri di depan pintu dengan wajah yang ceria.
"Aku jadi tidur sama bunda 'kan?"
"Boleh, tapi ayah lagi demam, takutnya nanti kakak ketularan demam sama ayah. Bobo di kamar kakak saja gimana?"
Zia menunduk, lalu menggelengkan kepala, "maunya bobo sama bunda."
Tak tega, Aish pun mengiyakan membuat Zia loncat-loncat kegirangan. "Ya sudah malam ini boleh bobo sama bunda, tapi jangan berisik ya, ayah lagi sakit. Sini duduk sama bunda." Aish mengajak sang anak duduk di sofa sambil menunggu waktu Isya.
Saat waktu Isya tiba, Aish mengajak sang anak untuk menunaikan kewajiban. Meskipun terjadi drama penolakan dengan alasan dingin, pada akhirnya Aish berhasil membujuk sang anak. Mendidik bukan hanya saat mereka sudah besar, tapi dari sedini mungkin.
"Kalau kakak mau Shalat besok boleh tidur lagi sama bunda di sini."
"Beneran?" tanya Zia dijawab anggukan dari Aish.
__ADS_1