Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 16


__ADS_3

Asyraf meninggalkan ibunya tanpa mengucapkan kalimat apa pun. Dia masuk ke ruang rawat istrinya dimana ayah dan mertuanya ada di sana. Asih sendiri tengah duduk menyandar.


"Aish?"


Semua orang menoleh, termasuk Aish yang tengah beruarai air mata. Aish sendiri sudah diberi tahu oleh abah juga mertuanya.


Apa ini? Apa mereka pikir aku akan setuju dengan kata perpisahan. Tidak akan pernah.


"Ibu mu sudah mengatakan sesuatu? tanya H. Aqim.


"Sudah, tapi tidak akan ada perpisahan."


Asyraf mendekat pada sang istri dan menggenggam tangannya. Aish sendiri tidak menepis tangan itu. Hanya sorot mata keduanya seolah menolak perpisahan.


"Tapi ini demi kalian berdua," ujar abah.


"Maaf, Bah, sudah saya katakan tidak akan ada perpisahan. Iya kan, Aish?"


Bolehkah Asyraf meminta Aish untuk tetap di sisinya. Memulai lagi dari awal, dengan niat yang diperbaiki. Asyraf membuang pandangan kala tak mendapat jawaban dari Aish. Hatinya sakit saat sang istri bersikap acuh. Padahal selama ini itu adalah kelakiannya sendiri.


"Aish, kamu akan akan tetap bersama suamimu atau ikut abah?" tanya Ahmad.


"Lebih baik bawa Aish pulang, Bah. Saya lebih suruh itu," timpal H. Aqim.


Entah apa rencana para orang tua, mereka seolah ingin sekali memisahkan keduanya hari ini. Padahal Asyraf berniat untuk memperbaiki.


"Anak laki-laki meskipun sudah menikah tetap menjadi milik ibunya. Akan tetapi anak perempuan akan menjadi milik suaminya. Aish akan tetap di sini, Bah." Aish akhirnya ikut bicara setelah sejak tadi dia lebih banyak diam.


"Tidak, abah tidak setuju. Besok pulang bersama abah."


Tak sampai menunggu besok, saat cairan infus habis Aish sudah diijinkan pulang. Dan mereka benar-benar dipisahkan.


Abah tetap membawa putrinya pulang ke pondok. Asyraf tidak bisa mencegah karena alasannya selalu di tolak. Ia hanya memandang mobil yang membawa istrinya sampai menghilang di balik tikungan.


Genangan air mata tak sanggup lagi ia tahan. Ikut jatuh saat ia memejamkan mata. Dia masuk ke dalam mobil dan mengabaikan oranga tua, adik serta anaknya.

__ADS_1


Ia benar-benar muak dengan orang tua yang ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Asyraf tidak menjalankan mobilnya, dia hanya duduk terpekur dibalik kemudi.


***


Saat Asyraf ke ruangan dokter, Abah dan besannya berunding membahas pernikahan anak mereka. Hingga sebuah rencana yang dianggap menyakitkan mereka pilih. Yaitu memisahkan Asyraf dan Aish sementara, sama mereka sama-sama mengakui perasaannya.


"Ini terlalu beresiko. Bagaimana kalau mereka benar-benar berpisah karena campur tangan kita." Abah kurang setuju degan usulan dari besannya.


"Semoga saja tidak, Bah. Anggap saja perpisahan ini pisah ranjang sementara sampai mereka menyadari ada rindu di hati masing-masing," kata H. Aqim.


***


Mobil yang membawa Aish memasuki pelataran pondok langsung di sambut oleh kedua kakak iparnya. Aish menolak duduk bersama di ruang keluarga, ia memilih untuk istirahat di kamar.


Ia rebahkan tubuhnya pada pembaringan, menatap langit-langit kamar. Mengangkat tangannya yang terselip cincin pernikahan di jarinya. Apa secepat itu perjuangan usai.


Ponsel di saku gamisnya bergetar, lekas ia ambil dan menatap nomor yang tertera di sana. Ibu mertuanya yang menghubungi.


"Assalamualaikum," sapa Aish setelah menggeser ikon warna hijau.


"Baru saja tiba, Bu."


"Oh ya sudah, ibu hanya ingin memastikan keadaan kamu saja. Istirahat yang cukup ya." Panggilan pin berakhir setelah saling mengucapkan salam.


Aish merasa heran, bukankah mereka memisahkan dirinya dengan sang suami tapi kenapa masih bersikap baik. Belum juga ia menemukan jawaban, ketuksn pada pintu membuyarkan pikirannya. Ia beranjak membuka pintu dan melihat abah berdiri di sana.


Abah mengulas senyum pada putri bungsunya, " boleh abah bicara sebentar?


"Boleh."


"Di kamar kamu saja, ini tentang kamu dan suami."


Aish mempersiapkan abah masuk dan duduk di satu sofa yang sama. Rasa gugup begitu terasa kala abah menatapnya lama.


"Ada yang ingin kamu ceritakan sama abah? Mungkin tentang pernikahan kamu atau persaan kamu."

__ADS_1


"Enggak ada, Bah. Semua baik-baik saja." Aish tidak ingin membicarakan keburukan suaminya. Dia paham kalau ia masih tetap istri Asyraf dan sudah kewajiban menutupi keburukan sang suami. Biarlah hanya ia dan Asyraf yang saling mengetahui. Orang luar termasuk abah tidak boleh ada yang tahu. Biarlah mereka mengetahui dan menyimpulkan dari pandangan masing-masing. Asal tidak dari mulutnya sendiri.


"Terus kenapa sampai kamu harus dilarikan ke rumah sakit, apa suamimu dzolim?"


"Enggak, Mas Asyraf memperlakukan aku dengan baik kok, Bah. Kalau masuk rumah sakit kan tidak harus menyimpulkan suami dzolim. Aku hanya lemas aja saat mas Asyraf melajukan mobil sedikit cepat. Ya mungkin tujuannya agar cepat sampai."


Abah tersenyum mendengar penuturan putrinya. Jelas sekali Aish berusaha memilih kalimat agar tidak menceritakan keburukan suaminya.


"Syukurlah kalau begitu. Sungguh abah khawatir suamimu berbuat dzolim, nak."


"Enggak, Bah. Jangan khawatir karena mas Asyraf juga suami yang paham akan kewajibannya pada istri."


"Kamu sudah mulai mencintai dia?"


Aish terkekeh, "cinta itu seperti apa sih, Bah? Apa saat kita perhatian pada seseorang itu dikatakan cinta. Atau saat kita merasa nyaman di dekat seseorang itu juga dikatakan cinta. Kalau iya, aku merasakan itu berada di dekat mas Asyraf."


Abah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Aish, tujuan abah membawamu kesini bukan untuk memisahkan kalian. Abah ingin melihat sejauh mana perasaan kalian saat dipisahkan. Mungkin kamu bisa mengatakan ini terlalu jahat, tapi abah takut saat kalian tidak menyadari saling mencintai akan ada orang lain yang memanfaatkannya."


Aish mengangguk paham.


***


Asyraf pulang ke rumah dengan perasaan yang tak menentu. Rasa takut dan khawatir menjadi yang paling dominan. Kahatir perpisahan ini akan menjadi perpisahan selamanya.


Dia duduk di tempat Aish berbaring, dan merasakan kehadiran Aish tapi saat ia menolah semua sirna begitu saja. Ia tetap di sana sampai matanya terpejam tanpa mengganti pakaiannya.


Saat adzan maghrib berkumandnag baguslah ia bangun dan mendapati rumah dalam keadaan gelap. Dia segera membersihkan tubuh lalu menunaikan kewajiban masih di kamar Aish.


Setelah menunaikan kewajiban dan melipat kembali alat solat ia keluar dari kamar sang istri. Menyalakan beberapa lampu dan disitulah dia menyadari bahwa kehadiran Aish sangat ia butuhkan.


Ada ruang hampa saat mereka berjauhan, tapi kenapa harus ia sadari saat ada perpisahan. Ia ambil ponsel berniat menghubungi Aish, tapi baru ia ingat kalau ia tak memiliki nomornya.


"Aish, apa kamu bahagia dengan perpisahan ini?" tanyanya pada foto masa remaja sang istri. "Wajar kalau kamu bahagia, karena aku tidak pernah membahagiakanmu. Maafkan aku Aish."


Kesalahan-kesalahan yang sengaja ia perbuat agar Aish merasa tersiksa dengan pernikahan ini kembali terngiang. Berputar baik dalam dalam otak. Menghadirkan rasa sesal yang tiada tara.

__ADS_1


__ADS_2