
"Mas?" Aish terkejut tidak tahu dari mana datangnya Asyraf. Sorot matanya jelas memancarkan kemarahan. Apa lagi ia juga sadar berada satu meja dengan lelaki yang bukan mahromnya.
Tapi ini bukan karena Aish, sebab dia pun sempat menolak pada adik iparnya.
Isha berdiri karena takut dengan sorot tajam dari sang kakak. Dia hendak menjelaskan tapi Asyraf lebih dulu bicara.
"Jelaskan saja nanti. Aish ikut saya. Isha antar Zia pulang." Kalimatnya tidak diucapkan dengan nada tinggi, pelan tapi penuh penekanan.
Tanpa mempedulikan tatapan pengunjung lain, Asyraf membawa istrinya masuk ke dalam mobil.
"Mas, tadi aku sudah menolak. Sungguh ini tidak seperti yang kamu tuduhkan." Aish berusaha menjelaskan tapi suaminya tak peduli.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Menghadirkan kenangan pahit yang pernah Aish alami. Ia memejamkan mata sambil terus merapalkan doa. Keringat mulai bercucuran, tangan mulai gemetar, jantung bekerja lebih dari biasanya.
Bayangan mobil menghantam pembatas dan ditabrak mobil lain yang tak sempat menginjak pedal rem kembali terbayang. Aish memejamkan mata dengan air mata yang hendak menerobos pertahanan.
Asyraf tak mempedulikan pluit polisi lampu lintas yang memintanya berhenti. Bahkan salah satu orang polisi mengejar mobilnya seorang diri.
Mobil memasuki halaman rumah. "Turun!" tegas nan dingin ucapan Asyraf. "Turun!" sekali lagi Asyraf membentak istrinya. Nafsu dan cemburu yang tak diakui bersatu dan memberontak dalam diri Asyraf. Menyulut emosi hingga meledak.
Meski kakinya gemetar, Aish masih bisa menapak di bumi. Dia berusaha melangkah lebih cepat untuk melawan traumanya. Namun yang terjadi dia ambruk saat tiba di pintu.
Asyraf yang lebih dulu masuk dan berkacak pinggang menoleh saat mendengar Aish jatuh. Panik, dia segera menyongsong tubuh yang tergeletak di lantai. "Aish, bangun Aish! Aish ...."
Dia cek denyut nada istrinya yang terasa lemah. Tanpa pikir panjang dia langsung membopong Aish dan membawanya ke dalam mobil. Tujuannya adalah rumah sakit. "Bertahanlah, aku mohon," lirih Asyraf sambil mulai melajukan mobil.
Isha yang khawatir pada kakak dan iparnya pun menyusul Sayangnya kecepatan mobil Asyraf seperti menantang maut. Dia yang merasa waras tidak bisa melakukan hal yang sama. Tak lupa dia pun menghubungi kedua orang tuanya.
"Ada apa, Nak?" tanya haji Aqim setalah menjawab salam lebih dulu.
"Ayah, kak Asyraf dan istrinya sedang tidak baik-baik saja. Barusan dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Lebih detilnya aku jelaskan nanti. Sekarang aku harus memastikan dulu mereka baik-baik saja."
Saat tiba di rumah sang kakak, Isha malah melihat mobil kakaknya keluar. Dia pun kembali mengikuti.
"Ayah marah sama bunda ya tante?" tanya Zia.
__ADS_1
"Engga, bukan. Kita ikuti ayah dulu ya."
Isha memicingkan mata saat mobil sang kakak memasuki plataran rumah sakit. Dari kejauhan ia melihat kakaknya membopong Aish dengan tergesa.
"Kak Asyraf membawa kak Aish ke RS. Husna Sedia, ayah," lapor Isha. Dia tidak bisa turun karena ada Zia.
"Memangnya apa yang terjadi? Kakakmu kecelakaan?" Terdengar nada pink dari sebrang sana.
"Bukan kecelakaan, tapi sepertinya terjadi sesuatu dengan kak Aish. Tadi aki lihat kak Asyraf membopongnya. Ayah datang saja ke sini. Aku tidak bisa masuk karena membawa Zia."
Sementara itu Asyraf meminta perawat segera memeriksa keadaan sang istri. Amarah yang sejak tadi membara kini terganti oleh rasa cemas yang tiada tara.
Dia mondar mandir di depan pintu ruang UGD, ingin segera mendapatkan kabar baik dari dokter.
Di dalam Aish mulai mendapatkan perawatan. Infus mulai di pasang untuk memudahkan cairan masuk ke dalam tubuh.
Tak lama Aish pun sadar ia tampak mengerjakan mata menyesuaikannya dengan cahaya. "Aku masih hidup?" tanya pelan.
Dokter yang ada disampingnya mengaguk dan tersenyum. "Apa yang anda rasakan?"
Dari cara pasien menjawab dr. Disha sudah bisa menarik kesimpulan. Pasien mengalami trauma. "Baiklah saya paham. Istirahat ya, saya permisi dulu."
Orang tua Asyraf datang bersama besannya. Asyraf gugup saat bersalaman dengan abah. Mengingat sang istri adalah anak yang paling diistimewakan oleh mertuanya.
Rasa bersalah menyelinap ke relung kalbu. Tapi kembali merasa lega saat dokter keluar dan memberi tahu keadaan Aish.
"Istri anda baik-baik saja hanya mengalami serang panik. Sekarang biarkan beliau istirahat. Pak Asyraf bisa ikut saya?"
"Bisa." Asyraf mengikuti langkah dokter muda itu ke ruangan praktiknya.
"Istri anda mengalami serangan panik yang tak mampu dikendalikan oleh tubuhnya. Dan itu membuatnya pingsan. Apa sebelum ini terjadi ada sesuatu yang terjadi lebih dulu?" papar dokter setelah mempersilahakan duduk pada Asyraf.
"Iya ada, saya membawa mobil dengan kecepatan tinggi."
"Istri anda pernah mengalami kecelakaan?"
__ADS_1
"Pernah, apa ini ada hubungannya?"
"Benar ada. Istri anda sepertinya mengalami trauma akibat kecelakaan. Jangan khawatir karena masih bisa diatasi, tapi kita juga tidak boleh abai meski ini dianggap trauma ringan."
"Saya khawatir istri saya akan tersinggung jika diajak ke psikiater." Asyraf diam sejenak untuk menimang baik dan buruknya.
"Anda bisa katakan dengan cara yang lembut. Buat istri anda merasa nyaman agar tidak tersinggung. Tapi keputusan saya kembalikan ke tangan anda. Ini hanya sebuah saran saja." Dokter Disha mengulas senyum.
Asyraf mengucapkan terima kasih kemudian kembali menemui keluarganya. Terlihat Aish di pindahkan ke kamar rawat. Meski dokter mengatakan kondisi Aish tidak ada yang perlu dikhawatirakn, tapi Hj. Salwa dan suaminya ingin Aish dirawat lebih dulu.
"Apa kata dokter?" tanya Hj. Salwa yang belum masuk ke ruang rawat menantunya. Memilih ingin bicara dengan Asyraf dan menjauh dari sana agar leluasa saat bicara.
"Aish mengalami trauma kecelakaan. Sepertinya efek kecelakaan bersama Syfa. Dokter menyarankan agar kita membawa Aish ke psikiater. Tapi aku belum memutuskan."
"Apa sebaiknya kalian berpisah saja?" tanya Hj. Salwa.
Asyraf menoleh, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Tidak ada angin tidak ada hujan tapi tiba-tiba mengatakan kata pisah. Apa fungsi telingannya terganggu.
"Pisah?" Asyraf memastikan apa yang diucapkan oleh Hj. Salwa.
"Iya, ibu rasa perpisahan lebih baik untuk kalian. Toh yang ibu lihat kalian seperti mempermainkan sebuah pernikahan."
"Isha yang mengatakan aku mempermainkan pernikahan?"
"Bukan hanya Isha, tapi ayahmu juga. Mumpung belum terlanjur jauh, sebaiknya diakhiri saja."
Sungguh-sungguh kah ibunya mengatakan harus berpisah. Atau ini hanya sebuah trik saja.
"Bu ... Aish sedang sakit dan sekarang ibu meminta aku mengakhiri pernikahan ini. Ibu kenapa sih? Bukankah sedari awal ibu yang paling setuju atas pernikhan ini."
"Memang. Tapi ibu rasa menyetujui keputusanmu adalah sebuah kesalahan, karena pernikahan kalian tidak dilandaskan untuk ibadah. Kamu ingin balas dendam atas kematian Syfa pada Aish kan? Iya?"
Asyraf memejamkan mata dan mengusap wajahnya. Awalnya memang seperti yang dikatakan oleh sang ibu, menikahi dengan tujuan balas dendam. Tapi dia sendiri tidak merasa puas saat melihat Aish mengalami serang panik dan berujung dirawat.
Haruskah berpisah?
__ADS_1