Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 18


__ADS_3

"Diculik?" Asyraf pura-pura panik padahal sejatinya dia ingin tertawa. "Aku baru saja selesai meeting dan sekarang mau menemui klien satu lagi," ujar Asyraf berbohong.


Aish yang mendengar kebohongan suaminya pun melotot, ia hendak berteriak tapi Asyraf keburu mendekat dan merampas hak bernafas dari bibirnya.


"Ya sudah aku harus memulai perempuan. Nanti aku minta hans carikan detektif yang akan mencari keberadaan Aish."


"Dasar suami gemblung, istri hilang kok kayak gak ada panik-paniknya." Masih terdengar omelan sang ibu dari seberang sana sebelum panggilan ditutup oleh Asyraf.


Asyraf menarik bibirnya dari bibir sang istri yang mematung seolah raganya ikut terampas. Suasana tiba-tiba menjadi canggung gara-gara gerakan refleks yang dilakukan olehnya.


"Ponselmu!" Asyraf menengadahkan tangan meminta Aish memberikan ponselnya.


"Untuk apa? Bisa gak bicara langsung pada intinya." Aish menolak memberikan ponselnya.


"Iya kita akan bicara, tapi ponselmu akan menganggu. Mereka akan mudah menemukan kita lewat ponselmu. Mana?"


Dari pada banyak berdebat dan semakin mengulur waktu, Aish memberikan ponselnya langsung. "Jadi?"


Asyraf menerima ponsel sang istri dan langsung menon-aktifkannya. Lalu ia masukan ke dalam laci bersama ponselnya yang sama-sama sudah dalam keadaan non-aktif. "Sabar, kita butuh tenaga Aish. Aku gak kuat bicara dalam keadaan perut kosong."


"Gak kuat bicara bagaimana? Dari tadi saja kamu gak berhenti bicara." Aish kesal karena merasa diperminkan. Belum lagi karena efek ciuman pertama yang mendebarkan.


Asyraf mengabaikan Aish yang terlihat kesal. Dia malah menghubungi pihak hotel dan meminta diantarkan makan siang. Benar-benar menyebalkan bukan.


Tak lama bel kamar berbunyi, pelayan hotel mangantarkan pesanan Asyraf.


"Ayo makan!" ajakan Asyraf diabaikan oleh Aish. "Aish ...." Asyraf memanggil sang istri yang memalingkan wajah dengan nada lembut.

__ADS_1


"Aku gak mau makan. Aku ingin Mas bicara sekarang biar urusan kita selesai. Pulang dan tidak membuat orang-orang rumah semakin khawatir."


Sekali lagi Asyraf tak mengindahkan ucapan sang istri. Dia ambil piringnya dan mendekat pada sang istri. "A, buka mulutnya!" Asyraf mengangsurkan sendoknya agar Aish makan. "Aish ...."


"Mau kamu tuh apa sih mas? Kamu tuh buat aku bingung dari tadi." Kelewat kesal wajah Aish sampai memerah, pun dengan matanya yang mulai berkilat.


Asyraf menghebuskan nafas dan menyimpan kembali piringanya. Dia rangkum wajah Aish yang hampir menjatuhkan Air mata.


"Aku ingin bicara banyak sama kamu, tapi aku lapar." Huh dasar Asyraf memang tidak ada romantis-romantisnya. "Jangan menangis, air matamu terlalu berharga untuk mengikuti kekesalanmu. Boleh aku menyupimu sekarang?"


Gak masuk. Semua yang Aish lihat dari Asyraf hari ini seperti bukan Asyraf yang ia kenal. Memang sifat menyebalkannya masih ada, tapi laki-laki itu tidak lagi bicara dengan nada ketusnya.


"Makan ya!" Asyraf kembali mengangsurkan sendoknya. Akhirnya untuk pertama kali mereka makan dari satu piring yang sama dan menggunakan sendok yang sama. Pun dengan minumnya.


Aish pamit ke kamar mandi saat Asraf meminta pelayan membereskan bekas makan siangnya. Lama ia menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


Sementara di dalam kamar mandi, Aish tengah berusaha menetralkan detak jantung yang tak biasa. Semua karena perlakuan Asyraf yang tak biasa.


Asyraf menoleh pada pintu kamar mandi yang terbuka. Melempar senyum pada sang istri yang masih berdiri di ambang pintu. Ia tepuk pinggiran kasur di sebelahnya, meminta sang istri agar duduk di sana.


"Aish, bolehkah aku memintamu untuk tetap di sisiku. Membersamai langkahku, membesarkan Zia bersama." Asyraf menggenggam tangan sang istri dan kini posisi keduanya tengah berhadapan.


"Kenapa aku harus tetap di sisimu? Karena dendammu belum terbalaskan?" Aish menundukan wajah, tak berani bertemu tatap dengan sang suami.


Hening. "Bukan, tapi karena Zia membutuhkanmu. Dia butuh sosok seorang ibu yang sepertimu. Kalau kita berpisah aku belum tentu menemukan orang yang sama untuk Zia."


"Hanya Zia yang membutuhkan aku?" Aish memberanikan diri mengangkat wajah. Menatap wajah rupawan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ya." Asraf memalingkan wajah, enggan mengakui kalau didinya juga membutuhkan Aish. Berpisah dua hari saja terasa seperti dua tahun. Tapi bukan Asyraf namanya jika dia tidak merasa gengsi mengakui perasaannya.


"Aku akan tetap di sampingmu," kata Aish.


"Kenapa?" Asyraf kembali menatap wajah Aish, sehingga tatapan mereka saling bertemu. Menyalurkan rasa yang tiba-tiba menggelora. Menghadirkan getaran yang tidak biasa.


"Karena baktiku sebagai seorang istri, juga karena aku menyayangi Zia. Semoga keputusan ini mejadi jalan ladang aku mengumpulkan pahala. Perkara cinta itu milik Allah, biarlah Allah yang menentukan akan sepetri apa rasa cinta itu hadir."


"Bukan karena kamu terpaksa, atau karena kamu ingin membalas perlakuanku?"


"Aku diajarkan untuk tidak menyimpan dendam. Karena menyimpan dendam seperti kita meminum racun setiap hari dan berharap orang yang kita benci itu mati secara perlahan. Padahal itu mustahil karena kita sendiri yang meminum racunnya."


Perkataan Aish seperti semilir angin yang menyejukan. Seperti air yang menghilangkan dahaga.


"Boleh?" tanya Asyraf tanpa melepaskan genggam pada tangan sang istri.


Aish mengangguk, mengerti maksud sang suami. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya. Hangat dan lama, sehingga ia memejamkan mata untuk merasakannya. Kecupan beralih pada kedua bola matanya, pipi, hidung dan terakhir mendarat di bibir.


Bukannya lepas tapi kecupan itu menjadi sebuah gerakan yang merampas hak bernafas. Alhasil mereka harus berbagi nafas bersama. Lembut dan menenangkan. Menggerus tenaga yang baru saja diisi.


"Haruskah?" tanya Aish setelah mereka memisahkan diri untuk meraup pasokan udara.


"Kalau kamu ridho, kalau tidak jangan. Serahkan dirimu saat kamu merasa siap. Saat kamu mengerti dari isi hati yang kelu untuk aku ungkapkan."


Isi hati yang kelu untuk diungkapkan? Apa ini artinya Asyraf tengah mengakui perasaannya meski tidak secara langsung. Benarkah ia mengharapkan Aish? Haruskah Aish menjadi Syfa yang penurut?"


"Aku belum shalat dzuhur, bolehkah aku menunaikan kewajiban pada Sang Pemilik Kehidupan lebih dulu?" Baru setelahnya aku akan menunaikan baktiku sebagai seorang istri."

__ADS_1


"Jangan Aish, jangan memaksakan diri. Aku terlalu egois kalau aku terlalu meminta banyak." Asyraf mengulas senyum pada sang istri, menghadirkan kehangatan pada diri Aish. Tidak peluk pengaukan cinta dari sang suami tapi sikap Asyraf sudah mewakilkannya.


Mungkin ini juga saatnya Aish menanggalkan ego. Mengakui bahwa ia juga mengharapkan Asyraf sejak ijab kabul terjadi. Ia menahan semua itu agar Asyraf tak menganggap dirinya sebagai wanita lemah yang terlalu mengaharapkan cinta. Sehingga dengan mudah Asyraf akan menindasnya. Semua ia lakukan sebagai perlindungan diri.


__ADS_2