Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 7


__ADS_3

Sore hari beberapa teman Asyraf datang berkunjung. Namun ada satu hal yang paling mengganggu Asyraf. Yaitu tatapan Hendrick pada Aish. Tatapan mengagumi seorang laki-laki pada perempuan.


"Gila cantik banget pembantunya, Raf," ujar hendrick, "gak ada niatan dijadikan istri gitu?"


Hendrick memang tidak datang saat pernikahan Asyraf. Jadi wajar saja jika dia tidak tahu menahu soal Aish.


"Di rumah ini gak ada pembantu."


"Lah dia?"


"Istriku."


Untuk pertama kalinya Asyraf menyebut Aish dengan kata manis itu. Aish hanya menunduk malu saat mendengarnya. Tak dipungkiri hatinya berdebar dari biasanya.


"Istri?" Hendrick memastikan dan dibenarkan oleh Asyraf. "Aish, tinggalkan saja Asyraf lalu nikah sama saya. Cantik-cantik ko di jadikan babu." Sebenarnya Hendrick hanya bercanda. Toh dia juga bukan tipe yang suka menikung teman sendiri.


Aish tak menanggapi, setelah mempersilakan tamunya untuk minum, ia memilih menemani Zai bermain.


kampret memang si Hendrick.


Ada rasa yang sulit dijabarkan oleh Asyraf kala mendengarkan ucapan Hendrick. Yang jelas dia tidak menyukai apa yang dia dengar.


Sesekali dia menoleh ke arah pintu, dan etah mengapa hatinya berharap agar Aish masuk rumah saat teman-temannya sudah pergi.


"Rumah segede ini diurus sama istri, Raf?" tanya Hamish, Asyraf tak menjawab dia sibuk memaksakan cemilan ke dalam mulut. "Pekerjaan orang lah, kasihan istri harus ngurus rumah sebesar ini. Mana waktu istirahatnya buat istri. Malam kerja sama kan?"


Kerja sama yang dimaksud tentu dalam arti lain. Hanya orang-orang yang sudah baligh yang memahaminya.


Ah rasanya ini sebuah tamparan bagi Asyraf. Mengingatkan dirinya tentang kewajibannya sebagai seorang suami.


Tak sampai dua jama teman-teman Asyraf di sana. Selain ada urusan lain, tujuan mereka juga karena ingin memastikan keadaan Asyraf saja.


"Aish kok gak masuk-masuk sih?" Hendrick kembali mengeluarkan kalimat yang membuat Asyraf ingin menendang laki-laki itu.

__ADS_1


Kemarin pria bernama Juan sekarang temanmu sendiri. Semenarik itukh pesona sang istri di mata orang lain.


"Gak perlu, Bukan mahram."


"Eh Raf lihat yang yang bening-bening itu refresh terbaik loh. Aish ...." Dengan sengaja Hendrick memanggil nama Aish dengan nada tinggi. Sayangnya Aish tidak mendengar.


"Kebiasaan, Drik. Gak istriku gak istri Asyraf kamu godain. Sumbu kompor memang," kekeh Hamsih mencairkan suasana. "Santai, Raf! tahu sendiri kan Hendrick gimana."


Kedua temannya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Asyraf yang berdiri dengan keadaan setengah pusing.


"Teman-temannya sudah pulang, Mas?" tanya Aish yang masuk bersama Zia.


Teringat ucapan Hendrick, ia tatap istrinya dalam-dalam. Bertanya pada hatinya apa pesona Aish memang tidak menyentuh lobusnya.


"Mas, malah bengong, kasih pusing ya? Mau ke kamar?" Rentetan pertanyaan meluncur dari bibir sang istri. Tanpa membutuhkan jawaban Aish membantu sang suami berjalan menuju kamar.


"Ayah manja sekali," perut Zia yang mengekori kedua orang tuanya.


Aish hanya menanggapi dengan senyum kecil.


Sebesar itukah kamu mencintainya?


Aish bertanya pada Asyraf melelui hati. Meskipun yakin tidak akan mendapat jawaban.


"Maaf aku merepotkanmu, Aish."


"Sudah kewajiban, tidak perlu merasa sungkan." Aish menjawab dengan nada datar, pun dengan ekspresinya. Tidak menampakan sesuatu yang membuat Asyraf akan tertawa atau mendebarkan. Cemburunya Aish pada foto ia dan mendiang istrinya.


"Gimana rasanya dipuji laki-laki lain selain suami?" tanya Asyraf yang merasa jengkel karena tak melihat raut cemburu di wajah Aish.


"Biasa aja," jawab Aish datar tidak ada rona merah di pipi saat tengah digoda.


"Ya sudah keluar sana! aku mau istirahat. Zia mau tidur sama ayah?" Aish tak tersinggung sama sekali oleh ucapan sang suami. Ini sebuah ujian dari opsi yang dia pilih.

__ADS_1


"Enggak, soalnya ayahnya marah-marah mulu sama bunda."


Kenapa Aish begitu cuek diperlukan demikian? Apa tidak ada perasaan cinta dalam hatinya untuk Asyraf? Tentu ada tapi Aish terlalu pintar menutupinya. Sebenernya ada rasa sakit kala melihat cinta sang suami untuk mendiang sahabatnya. Tapi balik lagi ini sebuah ujian untuk dirinya. Seberapa besar kah cinta Aish kepada mahluk dan penciptanya.


Dengan telaten Aish melayani Asyraf saat makan malam. Untuk kedua kalinya Aish memasuki kamar itu.


"Kamu begitu perhatian, Aish. Apa karena ingin aku sentuh? Kaya gini?" Asyraf menarik kerudung Aish hingga terlepas. Menampilkan pesona yang menyilaukan mata.


"Paan sih, gak lucu," omel Asih kembali menggunakan kerudungnya.


Untuk beberapa saat Asyraf terpaku melihat pesona Asih. Benarkah ini perempuan yang ia nikahi. Atau ini bidadari yang turun dari khayangan untuk menyadarkan dirinya.


"Ini obatnya." Aish menyodorkan obat beserta air minumnya.


Bukan obat yang Asyraf ambil melainkan tangan Aish. Mereka saling tatap, menyelami titik terdiam untuk menemukan apa yang ia harapkan.


"Ehm." Aish berdehem untuk menghalau rasa canggung. Sisi perempuan berontak ingin menunjukan perasaannya. Tapi lagi-lagi Aish tidak ingin terburu-buru. Ini terlalu awal untuk mengakui perasaannya.


Gegas Aish membereskan peralatan makan bekas suaminya dan keluar dari kamar itu. Khawatir lama-lama dalam keadaan seperti itu Aish tak mampu mengontrol perasaannya.


Masuk ke dalam kamarnya, dan bersandar pada pintu.


Ayolah Aish jangan jadi perempuan lemah. Jangan terbawa suasana, pastikan dulu perasaan suamimu. Santai saja, waktu masih panjang kok.


Aish bermonolog dalam hati.


Asyraf sendiri menatap kosong di dalam kamarnya. Tapi hatinya kembali terusik kala mengingat dua pria yang dianggap mengagumi istrinya.


Apa ia mulai jatuh cinta pada pesona Aish? Ia mengingat semburat rona merah di pipi sang istri saat mereka mulai bersentuhan tangan untuk pertama kalinya. Tangannya gemetar saat ia sentuh. Lalu bagaimana nanti sikap Aish saat ia meminta haknya. Ah Asyraf jadi membayangkan yang iya-iya.


Entaj dituntun hasrat atau dituntun hati nurani. Asyraf turun ke lantai dasar dan menuju ruangan yang dijadikan kamar oleh Aish.


Tangannya memutar handle pintu perlahan. Pintunya tidak dikunci dan memudahkan Asyraf untuk masuk. Dilihatnya sag istri yang tengah tidur dengan posisi meringkuk dari jarak dekat.

__ADS_1


Kehadiran Asyraf tidak mengganggu tidur pulas Aish. Disamping Aish ada Zia yang jiga terlelap dalam tidurnya. Anak itu seperti nyaman dalam pelukan sang ibu sambung. Membuat Asyraf tiba-tiba ingin berada di posisi Zia.


Pergerkan Aish yang merubah posisi tidur membuat Asyraf khawatir dirinya akan kepergok. Gegas dia kembali ke dalam kamar dan lekas tidur.


__ADS_2