
"Maaf," ucap Asyraf datar sambil mendorong tubuh yang memeluknya. Cahaya yang remang tidak membuat wajah perempuan itu terlihat jelas.
"Munafik," teriak perempuan tadi tapi Asyraf tidak peduli ia terus berjalan cepat agar segera keluar dari tempat itu.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat yang tidak disukainya.
"Saya minta maaf, Pak," sesal Hans dari balik kemudi.
"Bukan salahmu juga, Hans. Mungkin mereka tidak begitu kenal dengan kita. Mungkin juga mereka terbiasa menjalin kerja sama dengan menawarkan pelayanan syahwat lebih dulu."
Jarak yang jauh membuat mereka tiba di rumah lebih malam. Hans langsung dipersilahkan pulang menggunakan mobilnya. Sebab mobil Hans ditinggal di kantor dan meminta ia menjuputnya besok pagi.
Asyraf membuka pintu menggunakan kunci ganda yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga ketika ia pulang terlalu malam. Dia tidak ingin mengganggu istirahat istri maupun para pekerja.
Tatapan Asyraf tertuju pada tubuh yang meringkuk di atas sofa depan televisi. Istrinya ketiduran di sana gara-gara menunggu ia pulang. Padahal tadi pagi dia sudah berpesan kalau dia kemungkinannya pulang malam.
Gerakan dari Asyraf saat mengangkat dan memindahkan sang istri ke pembaringan tidak mengganggu lelapnya Aish. Asyraf tersenyum melihat wajah istrinya yang tidak terganggu. Mungkin istrinya kecapean. Jadi ibu sekaligus bekerja itu bukan hal mudah, maka dari itu dia pandangi wajah yang terlihat damai dalam tidurnya. Mencoba merasakan bagimana pengorbanan sang istri.
Dia juga merasa bersalah karena belum memberikan cinta yang utuh pada Aish. Ia butuh waktu untuk itu tapi dia pun sedang berusaha agar Aish tidak merasa hidup diantara bayang-bayang Syfa.
Asyraf beranjak untuk membersihkan diri. Melangkah denga hati-hati agar tak menggangu sang istri.
Aish menggeliat saat mendengar gemericik air dari kamar mandi. Memaksa bangun meski kantuk masih bergelayut. Ia melirik jam yang sudah menunjuk angka sebelas.
"Aku membangunkan tidurmu?" tanya Asyraf yang terlihat segar saat keluar dari kamar mandi.
"Enggak juga. Mas baru pulang?" tanya Aish sambil duduk dan menyandarkan tubuh.
"Dari satu jam yang lalu. Sengaja aku tidak membangunkanmu toh aku juga bisa kalau hanya sekedar mengambil pakaian ganti." Asyraf duduk di dekat sang istri, memberikan usapan pada pipi yang terlihat sedikit tembem.
"Mau aku siapkan makan malam?"
"Kalau istriku ngantuk lebih baik tidur. Makannya besok pagi aja, sekarang biarkan aku makan yang lain." Asyraf masuk ke dalam selimut dan mendekap erat sang istri. Kecupan sebagai tanda sayang pun menara dibeberoa bagian wajah Aish.
Aish tersipu. Padahal ini bukan untuk pertama kali, tapi Aish selalu saja malu saat Asyraf memberi isyarat meminta haknya.
Seharusnya Asyraf tidak menggunakan piyamanya setelah mandi. Toh selang beberapa menit piyama itu terlempar dan jatuh dari pembaringan.
__ADS_1
"Kenapa istriku makin hari semakin cantik? Bahkan aku tidak sanggup harus lama-lama berjauhan debganmy," bisik Asyraf.
Aish tidak menanggapi tapi ia perasaanya menghangat. Asyraf tak pernah absen memuji saat mereka menyatu dan Aish tidak pernah merasa bosan dengan itu.
"Terima kasih." Asyraf mengecup kening sang istri setelah mereka sama-sama melepaskan hormon stres. Mereka pun tidur dalam keadaan saling memeluk.
Pagi-pagi rumah menjadi rame gara-gara Zia. Anak itu protes karena sebelum tidur sudah mengatakan ingin tidur bersama Asyraf dan Aish.
Aish mendekati Zia yang cemberut sambil bersedekap. "Maaf ya bunda ketiduran, bunda juga gak tau kapan ayah pulangnya."
"Ayah selalu ingkar janji."
Asyraf mengusap kening tapi kemudian tersenyum dan mengangkat tubuh Zia. "Kan kakak mau punya adek bukan? Jadi kakak gak bisa ikut tidur bersama kami. Nanti adeknya gak jadi loh."
"Mas ...," protes Aish.
"Iya, iya enggak. Ayo kita sarapan, nanti ayah antar kakak ke sekolah ya."
Mereka duduk bersama untuk menikmati sarapan dan dipimpin doa oleh Asyraf.
Lepas sarapan mereka berpisah di pintu, Hans sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu. Asyraf tidak lupa pamit pada sang istri dan memberikan kecupan.
"Hati-hati ya! Semoga kebaikan menyertai langkah suamiku hari ini. Dadah kakak." Aish melambaikan tangan pada sang anak.
Aish kembali ke dalam dengan maksud mengeluarkan keranjang yang berisi pakaian kotor, karena tidak ingin ada orang lain yang masuk kedalam kamarnya. Bagian kamar sebagai privasi selalu ia bersih sendiri. Ia juga menyisir beberapa pakaian yang menggantung di tempatnya termasuk jas yang dipakai Asyraf kemarin. Aish terpaku kala mencium aroma parfum lain dari jas sang suami. Aroma yang begitu lembut. Tiba-tiba ia teringat akan postingan sebuah akun kemarin siang.
"Astagfirullah, Aishwa bisa-bisanya kamu berpikir yang tidak-tidak. Hati-hati itu bisa jadi doa," ucap Aish mengomeli diri sendiri.
Namun saat ia akan mengambil ponsel untuk memeriksa postingan kemarin, perutnya tiba-tiba terasa mual. Alhasil ia memilih ke kamar mandi dan mengabaikan pikiran buruk itu menguap dengan sendirinya.
Aish memuntahkan cairan bening, "sepertinya asam lambung kumat lagi ini," keluhnya. Ia memijit kepala yang terasa bertambah pusing.
Keluar dari kamar Aish meminta salah satu pekerja membuatkan teh manis. "Mbak tolong butakan teh manis ya."
"Ibu sakit?" tanya si perkara karena melihat majikannya memijit kening.
"Hanya sedikit pusing. Tolong ya teh manisnya." Ais merelakan diri di atas sofa. Menatap ponsel yang berada dalam genggaman. Bimbang antara harus menghubungi suaminya atau tidak.
__ADS_1
"Ini teh-nya, Bu. Ibu mau saya antar ke dokter? Atau harus menghubungi bapak?"
"Gak usah, gak usah. Saya hanya butuh istirahat sebenar, nanti juga baik sendiri."
***
Isha berjalan tergopoh menuju ruang makan. "Yah aku ada jadwal pagi hari ini," ucapnya memberi tahu. "Aku pinjam mobil ayah ya. Nanti ayah pakai mobil ibu."
"Duduk dulu, baru katakan tujuannya," kata H. Aqim mengingatkan.
"Iya aku pinjam mobil ayah. Aku harus ke kampus sekarang. Gak papa kan aku pakai mobil ayah?"
"Tuan putri ini tahu aja mana yang lebih mahal," sindir Salwa sambil menuangkan air minum untuk suaminya.
"Pakai punya ibu saja, kalau pake punya Ayah takutnya kamu malah pamer," kata Haji Aqim.
"Ya sudah kalau gitu aku pamit ya, Assalamualaikum." Tak lupa Isha manyalami tangan kedua orang tuanya. Ia lari ke arah pintu karena dikejar waktu.
Saat pintu terbuka Isha malah mendapati Juan tengah berdiri di depan pintu. "Loh, Kak Juan?"
Juan menyodorkan kunci mobil Isha, "aku mau nganter mobil kamu. Nih!"
"Kok cepet?" Isha menerima uluran kunci dari Juan. "Aduh kak Juan maaf aku sudah telat. Aku harus berangkat sekarang. Oh ya kak Juan pulangnya gimana?"
"Naik ojol."
"Berangkat bareng aku aja," titah Isah, ia kembali ke dalam "gak jadi pakai mobil ibunya."
"Loh." Haji Aqim menyusul putrinya keluar. Dia melihat lelaki yang sama dengan yang kemarin malam mengantar putrinya.
"Maaf Pah Haji, tadi niatnya hanya mau nganter mobil Isha saja." Juan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Ayah gak papa kan kalau kak Juan berangkat bareng Isha. Dia gak bawa mobil."
"Tadi bilangnya kan mau naik ojol," kata ayahnya.
"Ayah please, kasihan kak Juan sudah jauh-jauh ke sini. Aku juga harus berangkat sekarang. Kak Juan bisa jadi sopir dadakan."
__ADS_1
Sebenarnya H Aqim enggan membiarkan anak permpuannya satu mobil dengan pria asing. Sebagai orang tua tentu banyak pertimbangan yang ia pilih agar keputusannya tidak membuat ia menyesal suatu hari nanti.