Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 17


__ADS_3

Selama kembali ke rumah abah, Aish tidak memilki banyak kegiatan, selain bolak-balik membaca buku juga laporan dari para pekerjanya. Memang dia tidak ikut andil dalam kepengurusan pondok, berbeda dengan kedua kakaknya.


Berhubung Aish tidak banyak kegiatan, Shela-istrinya Hanif meminta ditemani membeli kebutuhan sekolah anak-anaknya.


"Aku ijin abah dulu ya, Mbak."


"Ok, Mbak tunggu di depan ya."


Aish segera menemui abah yang tengah mengawasi para tukang yang membangun ruangan baru.


"Bah, ... Mbak Shela minta ditemani membeli keperluan anak-anak sama Aish. Abah mengijinkan?"


"Kalian hanya berdua?"


"Sama sopir lah, Bah. Kan mbak Shela gak bisa bawa mobil, Aish juga gak berani," kekeh Aish.


"Ya sudah, pulangnya jangan terlalu sore. Ingat hindari berkhalwat, ingat status kamu ya."


"Iya abah, Aish berangkat ya." Tak lupa ia mengucapkan salam dan mencium punggung tangan abah.


Di dalam mobil, Shela sudah menunggu. Kakak ipar Aish itu sudah ijin pada abah juga suaminya lebih dulu. Aish masuk dan mobil mulai memutarkan rodanya.


Sopir diminta menunggu saat sudah tiba ditujuan. Tak lupa Aish memberikan uang pada sopir takutnya dia terlalu asik berbelanja hingga mengabaikan perut orang lain.


Shela dan Aish langsung menuju store yang menyediakan kebutuhan anak sekolah. Dimulai dari alat-alat tulis hingga seragam, tas dan sepatu sekolah.


Aish hanya mengekor di belakang kakak iparnya. Sesekali dia juga memilih yang sekiranya pantas untuk Zia. Ya dia tidak bisa mengabaikan anak sambunya begitu saja. Meskipun sudah dua hari sejak perpisahan, suaminya tidak pernah datang menemui Aish di pondok. Entah sibuk atau memang keberadaan Aish tidaklah penting. Itu yang dipikirkan oleh Aish.


Terlalu asik memilih sampai Aish tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Grep, Aish dibekap mulutnya dan dibawa menjauh dari kakak iparnya.


"Mas!" seru Aish saat tangan yang tadi membekapnya lepas. Ianjuga terkejut karena kelakuan suaminya.


"Shuuut!!!" Asyraf menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti takut ada orang yang mengawasinya.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kamu. Gak lucu tau gak." Aish ikut memelankan suaranya. Padahal tidak mengerti kenapa suaminya bersikap seperti itu.


"Aku ingin bicara sama kamu, tapi belum sempat mengunjungimu. Maafkan suamimu ini Aish."


Belum sempat Aish menjawab, terdengar langkah kaki Shela mendekatinya. Refleks tangan Aish mendorong sang suami agar menjauh darinya. Lucu, padahal mereka pasangan halal tapi seolah dua remaja yang tengah saling jatuh cinta tapi terganjal restu dan norma agama.


"Kamu bicara sama siapa, Aish?" tanya Shela yang sudah berdiri di dekat Aish. Mata ibu beranak dua itu menatap sekeliling , menyelidiki apa yang tengah dilakukan oleh adik iparnya.


"Gak ngapa-ngapain kok. Ini cuma lagi nyari sesuatu yang sesuai dengan karakter Zia aja." Kalimat itu muncul begitu saja, tanpa maksud untuk berbohong.


"Oh, kirain kamu lagi ...."


"Gak ada ah. Menurut Mbak ini cocok gak untuk Zia?" Aish menunjukan salah satu pernak pernik anak perempuan.


"Cocok."


Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka langsung menuju kasir. Mengabaikan Asyraf yang masih menunggu dan sudah di luar store.


Sesekali Aish menoleh ke belakang, memastikan sang suami masih ada di sana atau sudah pergi. Rasanya tidak mungkin ia akan menemuinya sekarang.


Asyraf menoleh pada dua perempuan yang menenteng belanjaan. Saat dia akan mendekat, istrinya menoleh ke arahnya dan menggelengkan kepala. Apa itu artinya sebuah penolakan.


Tak kehabisan akal, Asyraf mengikuti kedua perempuan itu dari jarak aman sampai ke tempat parkir. Ia masuk ke dalam mobil lebih dulu dan melajukan mobilnya kemudian berhenti di tempat Shela dan Zia menunggu mobil mereka.


Dengan gerakan cepat dia keluar dari mobil dan membawa istrinya untuk masuk kembali.


"Aish," pekik Shela saat sang adik ditarik masuk ke dalam mobil. Dia tidak terlalu melihat Asyraf karena saat itu dia tengah membalas pesan dari suaminya.


Mobil yang membawa Asih meluncur lebih dulu. Melaju pesat meninggalkan Shela yang masih menunggu mobilnya.


"Pak, Bu Asih di bawa seseorang dan meluncur ke arah sana. Ayo kejar!" ujar Shela pada sopir. Tentu Shela merasa khawatir akan keselamatan adik iparnya. Ia pun menghubungi suaminya.


"Mas Aish diculik," lapor Shela tanpa mengucapkan salam karena terlalu panik.

__ADS_1


"Diculik? Kok bisa?"


"Iya tadi kita lagi nunggu mobil keluar dari tempat parkir. Tau-tau ada mobil berhenti dekat kita dan membawa Aish masuk. Karena panik aku tak memperhatikan nomor polisinya."


"Sudah jangan panik, Allah pasti melindungi Aish. Tunggu di sana! Mas akan menyusul."


Ulah Asyraf benar-benar membuat semua orang panik. Sedangkan dirinya tersenyum saat mobil tiba di sebuah hotel.


"Gak lucu tau gak," omel Aish.


Asyraf hanya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat menjauh dari tempat Aish dan kakak ipranya menunggu. Selebihnya ia melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Sebanarnya kalau dikejar menggunakan mobil Shela, mereka pasti kekejar juga. Sayangnya Shela terlalu panik.


"Menurutku sih lucu ya, kita itu seperti anak abege yang tengah curi-curi waktu untuk nge-date. Ayo turun, kita harus bicara."


Asyraf turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri. Ah manisnya. Aish hanya mengikuti Asyraf. Anehnya suaminya itu tidak melakukan pendaftaran lebih dulu. Dia hanya menggunakan sebuah kartu untuk akses masuk. Oh apa ini hotel miliknya?


"Kok ke sini?" tanya Aish sambil meneliti desain kamar yang dibuka oleh suaminya.


"Kan mau honeymoon," jawab Asyraf sambil melepaskan jas dari tubuhnya setelah pintu dipastikan menutup sempurna. "Kalau ke rumah mereka akan menemukan kita lebih cepat sedangkan aku butuh waktu untuk bicara sama kamu." Asyraf meralat ucapannya.


Sang istri hanya memutar mata sambil mencibir, "tapi kamu keterlaluan. Mereka pasti panik dengan kelakuan kamu."


"Sekali-kali membuat kegaduhan kan tidak masalah. Biarlah ini jadi hiburan untuk kita," ujar Asyraf. Dia duduk di sebuah kursi tunggal dan merogoh ponselnya. "Mau makan apa?"


"Aku gak lapar."


"Tapi kita belum makan siang dan kamu butuh tenaga banyak untuk ...."


"Untuk?"


Ponsel di tangan Asyraf keburu berdering dan itu dari ibunya. Kakak ipar Aish pasti sudah memberi tahu bahwa Aish di culik.


"Kelamaan mikir. Ibu menghubungi." Asyraf menunjukan layar ponsel yang menampilkan nomor ibunya. "Iya bu?" tanya Asyraf tak lupa mengucapkan salam lebih dulu."

__ADS_1


"Kamu di mana Asyraf? Sama Aish gak? Barusan abah menghubungi ibu dan memberi tahu kalau Aish di culik. Kamu yang membawa Asih?" Asyraf diberondong pertanyaan. Ia ingin tertawa tapi urung. Dia tidak boleh memberi tahu keberadaan mereka lebih dulu.


__ADS_2