Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 8


__ADS_3

"Kok cuma ini sarapannya?" tanya Hamish yang baru saja duduk di ruang makan.


"Maaf, kepala rumah tangga di sini belum memberikan nafkah," balas Aish santai. Sebenarnya bukan dia tak punya uang. Ah andai sang suami tahu kalau dirinya begitu mandiri dan ia katakan apa yang ia punya.


Sebenarnya ia bertahan bukan karena uang yang miliki Asyraf. Tapi karena tak ingin mencorengkan malu pada Abah juga keluarga suaminya.


Asyraf tehenyak, sebegitu lalaikah dirinya. Ia sampai lupa bahkan ini sudah hari ke sepuluh mereka hidup bersama. Apa yang ia makan dan jadi tenaga dalam hari-hatinya berati hasil dari snang istri.


"Kenapa tidak minta?"


"Aku tidak ingin mengemis, dan aku menunggu kesadaran dari suamiku. Aku yakin dia paham kewajibannya."


Sengaja Aish menggunakan waktu saat sarapan untuk bicara pada sang suami. Sebab di luar itu Aish dan Asyraf terkesan seperti dua orang asing yang hidup dalam satu rumah. Padahal mereka halal.


Ucapan Aish seperti sebuah teguran halus yang disadarai Asyraf. Kehilangan cinta membuta ia menambah pundi dosa dengan abai pada ia yang hidup.


"Ambilah ini." Asyraf menyodorkan salah satu kartu ATM miliknya. Ada sedikit penyesalan yang mencubit perasaannya tapi kata maaf hanya terucap dalam hati.


Aish menhela nafas dan menerima yang diberikan suaminya. "Aqiqah putranya mas Hilal akan dilangsungkan hari esok. Andai kamu sibuk aku izin membawa Zia ke sana." Hati-hati Ais dalam berucap.


Tidak melulu untuk menyentuh hati suaminya Aish hrs menggunakan keanggukahan tapi tidak juga dengan derai air mata. Sesekali Aish menunjukan sisi lembutnya. Entah Asyraf sadari atau tidak.


"Kita akan berangkat nanti sore," ujar Asyraf. Tak mungkin dia membiarkan sang istri pergi ke rumah orang tuanya hanya seorang diri. Tak ingin mertuanya berpikir macam-macam tentang dirinya. Padahal tingkahnya memang macam-macam.


"Apa tidak mengganggu pekerjaanmu?" tanya Aish sambil menyuapkan sesondok nasi ke mulutnya.


"Aku memilki banyak asisten untuk menghandle pekeraanku."


"Ah iya aku lupa siapa suamiku."


Lagi perkataan Aish terasa menyinggung Asyraf. Dimana dia memilki banyak asisten untuk membantu meringankan tapi dia tidak membantu meringankan pekerjaan sang istri di rumah.

__ADS_1


***


Pukul tiga, Asyraf sudah menjemput anak dan istrinya. Seperti ucapannya tadi, pekerjaan ia alihkan pada sistennya.


Aish yang duduk di kabin depan terus menaggapo celotehan Zia. Banyak yang diceritakan anak itu tapi Aish sepertinya tak bosan menanggapi dan mendengarkan.


Mungkin itu salah satu cara Aish menusir bosan karna diabaikan sang suami.


Sesekali bibir Asyraf melengkungkan senyum. Entah karena celotehan sang anak tau karena perempuan yang duduk di sampingnya.


Ponsel Aish berdering, mama yang menghubungi. "Iya, Bu?" tanya Aish setelah lebih dulu menjawab salam.


"Kalian dimana? Ibu sama Ayah sudah dipertigaan terkahir Aish?" terdengar suara dari seberang sana.


"Kami masih di jalan, Bu. Kalau diijinkan aku ingin membeli buah tangan untuk anaknya mas Hilal."


Asyraf yang tengah menyetir menautkan alis. Sang istri tengah izin padanya dengan cara tidak langsung. Unik memang. dia menggunakan orang lain untuk bisa bicara pada sang suami.


"Ya sudah maaf kalau ibu sama ayah harus menunggu." Sambungan terputus. Asyraf masih menunggu Aish meinta izin padanya.


Melalui ekor matanya Asyraf melihat Aish yang ragu dan seperti hendak bicara. Namun Asyraf menghentikan mobilnya sebelum Asih bicara.


"Turun!" seperti biasanya nada bicara Asyraf selalu terdengar ketus.


Aish sempat bingung tapi ternyata Asyraf memang berhenti di depan toko kebutuhan ibu dan bayi. Mereka masuk bersamaan, Aish yang memilih tapi tetap meminta pendapat sang suami.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka melanjutkan perjalanan menuju pondok Abah-orang tua Aish.


Mobil Haji Mustaq masuk lebih dulu. Haji Mustaq turun lebih dulu lalu membuat pintu untuk dirinya.


Merek disamabut oleh besan sera dua anak lelakinya.

__ADS_1


Di dibelakang mobil Asyraf. Tidak seperti yang tua, Asyraf dan Aish justru turun masing-masing.


"Wah yang muda kala sama yang tua," canda Hilal-kakak kedua Aish. Disambut gelak tawa yang lain.


Asyraf dan Aish menyalami Ibu, Ayah, Abah dan kedua kakak Aish. Begitu pun Zia yang memang sudah didik untuk menghormati yang lebih tua sejak dini.


Mereka masuk bersama-sama dan Asyraf paling belakang. Namun ads lagi yang membuat hati Asyraf terbakar tepi oleh persaan apa. Iya dibelikan lelaki yang bertemu Asih tempo lalu juga ada di sana?"


Diliriknya sang sistem yang terlihat bahagia di tengah-tengah keluarganya. Aish adalah anak bungsu dan satu-satunya perempuan.


Saat acara berlangsung Asyraf terus mengamati Aish. Dia diperlakukan begitu manis oleh keluarganya tapi diperlukan begitu pahit oleh suaminya.


Jam sembilan malam tamu sudah mulai berkurang. Pun dengan mertua Aish yang menolak menginap dnegan alasan kasihan Isha di rumh sendirian. Tinggal keluarga inti dan beberapa anak muda saja. Mereka tengah membantu membereskan sisa-sisa acara. Sialnya lelaki benama Juan juga masih ada di sana. Bahkan tak segan menyapa Aish tapi tidak menyapa Asyraf.


Hanya sekedar bertanya kabar tapi sukses membuat suhu pada tubuh Asyraf naik. Eh ada apa ini kenapa hati tiba-tiba terasa aneh seperti ini. Apa mereka memiliki kisah yang tidak pernah ia tahu. Tapi dari gelagat Juan, sebagai lelaki Asyraf bisa menyimpan kalau laki-laki itu mengahrapakan perempuan yang kini jadi istrinya.


Melihat sang suami yang terlihat mulai tidak nyaman, Aish menawarkan sang suami untuk istirahat di kamarnya. "Mas ... capek ya? Mau istirahat di kamarku? Zia juga sepertinya udah ngantuk."


"Boleh," ujar Asyraf sambil berdiri, tangannya langsung merangkul pundak Aish. Dia yakin lelaki bernama Just itu pasti melihatnya. "Bah, Mas. Aku ijin istirahat lebih awal ya."


"Oh silahkan-silahkan, pengantin baru pasti capek," kekeh Abah mengharapkan gelak tawa bagi orang di sekitarnya.


Tak lupa mereka mengajak Aish yang sejak tadi terlihat beberapa kali menguap. Sampai di kamar Zia langsung melepas kerudungnya dan langsung loncat ke pembaringan. Bibirnya terlihat membacakan doa tapi tak lama dengkiran halus mulai terdengar.


Asyraf memperhatikan kamar yang akan menjadi tempatnya istirahat. Tak sebesar kamar yang ditinggalinya. Ia beralih menatap Aish yang tengah membiarkan selimut pada tubuh Zia.


Perempuan itu berbalik dan bertanya, "tadi mas sudah makan?"


"Hanya sedikit." Aish sudah tak aneh lagi dengans ikam sang suami.


"Maaf ya kamarnya tak seluas di rumah sana. Mas bisa tidur sama Zia di pembaringan dan aku akak tidur di sofa."

__ADS_1


__ADS_2