
Aish bangun lebih awal. Semalam sudah dia temukan keputusannya. Dia akan bertahan di sisi sang suami, berbakti dan menjadi sebaik-baiknya istri untuk Asyraf. Semoga Asyrag tersentuh dengan baktinya. Urusan cinta dia akan minta pada Sang Pemiliknya. Bukankah Allah Maha Membolak-balikan Hati.
Berhubung waktu subuh masih satu jam lagi, dia memilih menyusuri setiap lorong dalam rumah itu. Mengenali setiap sudut rumah yang dijadikan mahar oleh sang suami. Dimulai dari lantas paling atas. Selain itu ia juga membawa alat kebersihan. Anggap saja bekerja dan gajinya kelak akan ia terima di surganya Allah.
Dengan seneng hati dia membersihkan setiap sudut ruangan. Merawat setiap tanaman yang tersedia di teras balkon.
Tiba di lantai dua di mana kamar Asyraf berada Aish menarik nafas. Suaminya sepertinya belum ada tanda-tanda sudah bangun. Haruskah dia mengetuk pintu dan memungkinkan suaminya. Ah tapi ini terlalu pagi untuk menerima ujian.
Aish kembali melanjutkan aktifitasnya samai dilantai satu. Hanya sekedar menyapu dan membersihkan lantai dari debu. Masih ada lima belas menit sebelum subuh. Ais pergi ke dapur, melihat bahan makanan yang tersedia. Hanya ada mie instan, beberapa butir telur, gula dan juga teh celup. Bahkan Aish tidak melakukan beras di sana. Rupanya suaminya sudah merencanakan ini sejak awal.
Baiklah mari kita lihat, akan sejauh mana Asih bertahan. Siapa yang akan kalah lebih dulu dan meminta untuk tetap bersama. Aish atau Asyraf.
Aish memanaskan air dan membuat Teh manis. Setidaknya teh manis membantu memulihkan tenaga yang sempat terkuras.
Saat adzan subuh berkumandang, barulah Aish melihat suaminya turun. Koko putih, serta sarung dan peci hitam yang dikenakan menambah kesan tampan pada suaminya. Sayangnya lelaki itu tidak sebaik yang dikira. Mungkin orang-orang akan menatap suaminya sebagi pria idaman. Dimana lelaki itu memiliki postur tubuh yang tinggi, kulit bersih tampan dan juga kaya. Tapi yang dilihat dari luar memang tidak sama dengan yang di dalam. Mungkin Aish butuh waktu lebih banyak untuk mengenal sang suami.
Tidak ada sapaan manis seperti pengantin pada umumnya. Aish sibuk dengan aktifitasnya pun dengan Arsyraf. Lelaki itu hanya menoleh sebentar, tak ada niat untuk menyapa. Bukan senyum pun seperti sesuatu yang mahal.
Asyraf pulang dari masjid bersamaan dengan Aish yang keluar dari kamar. Penampilan istrinya sungguh cantik membuat perhatian Asyraf tertuju padanya, tapi hanya sebentar kemudian beralih ke arah lain.
"Mau kemana kamu?"
"Aku mau ke toko, sekaligus membeli bahan makanan. Tenagaku tidak cukup kuat untuk menghadapimu kalau tidak ada asupan. Semoga kamu mengizinkan dan rmeridhoi setiap langkahku. Aku akan pulang sebelum makan siang." Anggap saja itu kalimat permohonan izin dari Aish.
Asyraf baru ingat kalau dia memang belum menyuruh orang untuk menyediakan kebutuhan makanan di rumah ini. Tapi egonya cukup tinggi untuk mengakui kekurangannya.
Aish duduk sebenar untuk meminum sisa teh manisnya. Meski semalam Asyraf mengeluarkan kalimat menyakitkan tapi Aish tetap membuatkan minum untuk suaminya. Melihat Asyraf hendak bicara, Aisyah memotong lebih dulu. "Aku tidak ingin abah dihina lagi hanya karena anaknya lupa menyenangkan perut suaminya. Hanya ini yang bisa aku sajikan, mungkin nanti saat makan siang baru ada sesuatu yang bisa mengenyangkan."
Asyraf tak menimpali, dia hanya membasahi tenggorokannya dengan teh manis buatan Aish. Dalam setiap tegukan dia memikirkan sisi lain Aish. Ternyata Aish yang terlihat anggun itu memiliki sisi tegas dalam dirinya.
Saat matahari mulai muncul, Aish menemui Asyraf yang tengah di ruang olah raga, memberitahu dirinya akan berangkat. Meskipun suaminya itu menyebalkan tapi Aish tetap harus menghormati sebagai mana mestinya. Kalau suaminya berbuat dzloim dan main tangan baru akan Aish lepaskan. Untuk saat ini sepertinya dia masih sanggup menghadapi.
__ADS_1
Maaf mas aku bukan Syfa istrimu yang begitu manut. Aku tidak akan berusaha menjadi dia. Aku akan tetap menjadi diriku, Aishwa Qodriya.
***
"Loh pengantin baru kok ke toko? Bukannya harusnya libur ya, Bh?" ujar Marni orang yang sudah bekerja lama dengan Aish.
"Males ah libur, orang gitu-gitu aja kok aktifitasnya." Pernyataan Aish membuat para pekerjanya tertawa. Pikiran mereka dan pikiran Aish tidak sama. "Loh bener kan?"
"Iya ya, Bu. Gitu-gitu aja nanti ************ lecet kalau keterusan."
Nah kan benar, walau rambut sama hitam tapi isi kepalanya berbeda. "Ish lah, terlalu dewasa obrolan kalian. Aku masuk dulu ya."
Di dalam ruang kerja Aish tidak bekerja, tetapi malah memikirkan kelakuan Asyraf. Sampai tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat.
Aish ingat di rumah tidak ada bahan makanan, lalu bagaimana suaminya akan makan siang. Gegas dia menyambar tas dan menuju super market terdekat.
Beberapa kebutuhan makanan dan kebutuhan mandi sudahlah di dalam troli, tinggal membayar langsung pulang.
***
Perutnya mulai berdemo tapi belum ada tanda-tanda istrinya pulang. Di rumahnya hanya ada mi instan dan telur, tapi dia tida tertarik.
Pergi ke luar juga malas, khawatir bertemu keluarganya dan menanyakan kenapa dirinya pergi sendiri padahal sudah beristri. Alhasil dia memesan makanan melalui aplikasi.
"Ini si Aish gimana sih, katanya anak seorang guru tapi kok gak paham suaminya kelaparan. Dia kenyang di luaran sana bisa bebas makan lah aku? Lihat sajabkalu dia pulang dalam keadaan kenyang." Sebuah ide tiba-tiba muncul. Ia masih ingat beberapa foto istri pertamanya dibawa ke rumah ini.
Sambil menunggu makanan datang, dia pasang semua foto Syfa termasuk foto pernikahannya yang masih terbingkai rapih.Asyraf tersenyum membayangkan Aish akan kaget, kalau bisa menangis. Tanpa sadar dia membayangkan wajah lucu Aish yang menangis.
Bel rumah berbunyi, segera dia mengintip dari jendela. Ah ternyata kurir yang mengantarkan makanan, bukan Aish.
Aish sendiri terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas. "Ada jalan pintas gak, Pak?"
__ADS_1
"Susah muter baliknya, Neng. Udah padet gini," jawab sopir taksi.
Alamat Aish akan mendapatkan cacian lagi dari Asyraf kalau begini. Sudah satu jam Aish di dalam taksi, pengap dan panas mulai ia rasakan. Belum lagi ponselnya berdering dan menampakan nomor asing. "Halo," sapa Aish setelah menggeser ikon tombol warna hijau.
"Aishwa, ini mamanya Asyraf. Kalian di rumah kan? Ibu sebentar lagi ke sana ya."
Baru juga bilang Iya sambungan telpon sudah mati. Aish mulai khawatir jika mama mertuanya sampai di rumah lebih dulu.
Beruntung taksi mulai melaju meskipun lambat setidaknya membuat Aish merasakan lega. "Ayolah jangan sampe ibu mertua yang tiba lebih dulu," gumam Aish.
Taksi akhirnya sampai di depan rumah. Aish masih bisa bernafas lega karena ibu mertuanya belum tiba. Gegas dia membawa belanjaannya masuk.
Baru tiba di depan pintu bukannya dibantu membawakan belanjaan, Asyraf malah mengomel.
"Dari mana kamu?" tanya Asyraf dengan nada ketus, "katanya pulang sebelum makan siang. Yang jalan-jalan sih enak bisa jajan, lah yang di rumah?"
"Aku kena macet, bilang aja kamu lapar," balas Aish singkat. Aish abaikan suaminya yang bicara panjang lebar. Dia sibuk menata belanjaan dan merapihakan pada tempatnya. Aish juga sempat melihat bungkus makanan di atas meja depan televisi.
Asyraf terus mengomel agar Aish menatap dirinya dan melihat foto-foto Syfa yang dipajang. Benar Aish menoleh tapi ekspresinya datar tidak sesuai dengan keinginan Asyraf.
"Sebentar lagi ibu sampe di sini, terus kamu mau ibu melihat foto-foto itu?" tanya Aish datar.
Benar saja baru saja Aish menagtupkan bibir, bunyi klakson sudah terdengar. Sontak hal itu membuat Asyraf panik dan sesingkat mungkin dia menurunkan foto-foto itu.
Aish yang melihat suaminya panik pun mulai iseng, dia berjalan ke arah pintu dan membuat Asyraf semakin panik. "Jang dibuka dulu Aish," teriak Asyraf.
"Kena sendiri kan batunya," ledek Aish. Meskipun demikian dia tetap membantu suaminya. Menyembunyikan foto-foto itu di belakang gorden.
"Aish, Asyraf!!!"
"Ayah, ayah di mana?" itu suara Zia. Sepertinya tidak hanya ibu yang datang tapi papa, Zia dan Aisha-adiknya pun turut serta.
__ADS_1
"Kayakanya mereka lagi ngerem deh, Bu," celetuk Aisha.
"Kalian ngapain?" tanya Ibu Salwa yang memergoki anak dan menantunya berdiri di dekat gorden. Terlebih wajah mereka terlihat panik.