Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 5


__ADS_3

Mau bertemu abah. Mau apa dia?


Asyraf bertanya dalam hati. Sikapnya yang dingin tak menunjukan apa yang ada dalam hatinya.


"Oh kalau mau main ya main aja, Kak. Toh tempat abah kan terbuka untuk siapa aja."


Asyraf berdehem saat Aish tak kunjung mengenalkam dirinya.


"Oh iya kak Juan, ini mas Asyraf dan ini Zia anaknya."


"Kamu?" Juan memicingkan mata dan Aish hanya menjawab dengan anggukan saja.


Aish mengalir obrolannya dengan Juan karena tujuannya memang mengajak Zia bermain. Bukan untuk bernostalgia dengan orang-orang di masalalunya.


"Senang ya bertemu lelaki tampan tapi biasa aja."


Aish mengabaikan suaminya. Toh itu jugapertemuan tak sengaja. Bukan karena ada janji temu lebih dulu.


Aish tidak ikut bermain, dia hanya mengawasi Zia dari tempat duduknya. Sesekali bibirnya leukiskan senyum.


"Senyam-senyum mikirin pria lain padahal sudah bersuami. Katanya paham agama," sindir Asyraf.


"Lagi pula cape hati mikirin suami yang abai. Mending mikirin yang tampan juga baik." Udh tak mau kalah. Padahal mana ada dia memikirkan pria lain. Memikirkan untuk melunakan hati suaminya saja masih pusing.


"Sifat lugu dan pendiam itu ternyata cuma kedok." Lagi Asyraf bicara asal. Padahal jelas dia tidak bisa membaca isi pikiran sang istri.


"Impas loh, sama-sama pandai akting. Kamu bahkan lebih pantas dapat penghargaan aktor antagonis."


Asyraf tidak lagi menyahut, dia pura-pura sibuk memainkan ponsel.


"Bunda sini," teriak Zia.


"Titip ini ya," ujar Aish meletakan tas dekat Asyraf. Perempuan itu mendekati anaknya dan ikut main bersama.


Bercanda, mengobrol dengan anak kecil jauh lebih menyenangkan. Dibanding ngobrol sama orang dewasa seperti Asyraf. Lama-lama ketularan kaku, beku dan mati sendirian.

__ADS_1


Asyraf menatap istri dan anaknya yang tenang tertawa. Entahlah bisikan setan perkara dendam pada Aish begitu kuat. Padahal kebaikan dari wanita itu banyak yang dia lihat. Teringat dengan pria bernama Juan yang tadi bertegur sapa dengan istrinya. Diliriknya tas Aish yang sudah tentu di dalamnya ada ponsel.


Dia memalingkan wajah saat Aish tak sengaja menoleh ke arahnya.


Belum sempat dia membuka tas Aish, anak dan istrinya sudah menghampiri. Zia mengatakan puas bermainnya dan ingin pulang.


Aish mengambil tasnya yang dekat dengan sang suami. "Enak ya, main puas, ketawa-ketawa. Suami suruh nungguin tas. Udah puas gak bilang terima kasih sama sekali."


Nah ada lagi kesalahan Aish di mata sang suami. Aish berbalik menatap suaminya dan tersenyum. Senyum yang tidak pernah Asyraf lihat sejak kemarin. "Terima kasih."


Disebabkan capek, Zia tidur dipangkuan Aish. Yang memangkunya pun tidur saat mobil sudah melaju dan dibangunkan saat sudah sampai.


Tidak ada cara membangunkan yang paling romantis selain cara Asyraf. Dia menginjak rem sekaligus membuat Aish kaget dan refleks memegangi Zia.


Aish mengisi sudut matanya saat mobil suda berhenti dengan baik. Aish menangis bukan hanya karena perlakuan Asyraf tapi kenangan saat kejadian itu kembali terlintas.


Hari itu Aish tengah berada di toko. Sejak tadi ponselnya terus berdering tapi ia abaikan. Toh dia tengah fokus pada resep baru yang ia coba.


Setengah jam kemudian, Syfa datang dan mengajaknya jalan-jalan. "Ayolah Aish, aku penat di rumah terus."


"Aish kamu tuh gak ngerti rasanya jadi aku. Sesekali ya kau juga perlu jalan-jalan. Aku penat jadi ini rumah tangga. Di rumah ngurus anak, ngurus suami. Aku tuh juga pengen kayak orang lain bergerak bebas tanpa harus menjaga imej nama kaluarga."


"Suudsh izin pada suami?"


Syfa menggelengkan kepala.


"Izin dulu, baru kita pergi."


Sudah pun menghubungi Asyraf suaminya. Dari cara Syfa bicara yang sedikit memaksa, Aish simpulkan kalau sahabatnya tidak mendapatkan izin.


"Ayo, Ish. Kita berangkat." lamunan Aish buyar kala tanganmu ditarik masuk ke dalam mobil.


Hari itu di dalam mobil Syfa terlihat begitu bahagia. Dia bahkan bernyanyi sambil menyetir. Sesekali kepalanya bergoyang. Bebeda dengan Aish yang hanya tersenyum melihat sahabatnya. "Pake seatbelnya, Fa." ucapan Aish tidak dihiraukan.


Ponsel Syfa berdering. Perempuan itu melupakan aturan tidak boleh bermain ponsel saat tengah mengemudi.

__ADS_1


"Syfa awas," teriak Aish yang melihat mobil kontenar dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan. Aish meraih kemudi dengan niat menghindari kecelakaan. Sayangnya kendaraan dari belakang menuburuk mobil mereka membuat mobil terpental.


"Cengeng baru gitu aja nangis," hardik Asyraf dan turun lebih dulu.


Aish masih berusaha menormalkan degup jantungnya. Pelakuan Asyraf tadi menurut Aish bukan lagi hal wajar. Andai tadi Aish tidak menggunakan sabuk pengaman dan tidak reflek menahan tubuh Zia. Sudah dipastikan apa yang akan terjadi.


Cinta kadang membuat logika tidak berfungsi, seperti itulah keadaan Asyraf di mata Aish.


Ia turun setelah Zia diambil alih oleh ayahnya. Aish berjalan dengan langkah yang teramat lemas karena kejadian barusan.


Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mancung wajahnya. Menyenderkan tubuh pada dinding. Sejak kejadian itu Aish tidak lagi berani menggunakan mobil sendiri.


Pintu diketuk dari luar. Gegas Aish keluar dari kamar mandi. Asyraf berdiri di hadapannya.


"Aku jauh lebih merasakan sakit saat dia pergi," tekan Asyraf. Sorot matanya begitu menunjukan kemarahan yang teramat sangat pada Aish.


"Kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi," balas Aish mendorong tubuh Asyraf yang menghalanginya. Dia masuk ke dalam kamar dan meraih handuk untuk membersihkan tubuh.


Sampai adzan magrib tiba, Aish tidak nampak keluar dari kamar. Aish mengerjakan mata, saat lantunan adzan membangunkannya. Ia mangusap wajah dan menguaco istighfar. Dia segera menunaikan kewajibannya da setelah selesai barulah dia keluar.


Aish merasa bersalah pada Asyraf dan juga Zia karena dia ketiduran. Untungnya saat dia keluar dari kamar Zia belum bangun.


Hanya ada Asyraf yang menatap tayang di tv tapi pikirannya tidak di tempat.


"Kamu tidak shalat?" tegur Aish karena Asyraf tak kunjung beranjak. Barulah lelaki itu menolah pada Aish dengan wajah penuh sisa air mata.


Kamu terlalu mencintai makhluk-Nya, Asy. Mungkin Allah cemburu pada Syfa sehingga Ia mengambilnya dari sisimu.


Aish juga membangunkan Zia agar tidak terbiasa tidur kebablasan. Untungnya Zia ditidurkan di kamar khusus untuknya. Jadi dia tidak perlu repot izin masuk pada Asyraf.


*Mundur saja, Aish! Percuma bertahan, dia tidak mencintaimu.


Jangan Aish! Ini ujian untukmu. Kamu dapat memetik banyak pahala di dalamnya. Panen Ish, panen.


Alah, pahala masih bisa didapt dari cara lain Aish. Jangan siksa hatimu. Dzolim namanya.

__ADS_1


Tidak Aish, dia hanya sedang turun imannya. Tugasmu membimbingnya kembali pada jalan yang benar. Semangat Aishwa*.


__ADS_2