
"Maaf," Aish langsung melepaskan tangannya dari pria yang menbaranya tadi. Ia mengguk dan berlalu tapi si lelaki malah mengikutinya.
"Aish sebentar aku ingin bicara sama kamu." Juan menahan langkah Aish. Perempuan itu menoleh dan tersenyum samar.
"Maaf tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Permisi."
Juan terus mengikuti langkah Aish meski perempuan itu mengabaikannya. Asyraf yang sudah lebih dulu bersama Zia menoleh lalu kembali menghampiri sang istri.
"Ada masalah?" tanya Asyraf. Ia tidak suka ada pria yang berusaha mendekati istrinya. Ya meskipun ia tahu kalau sang istri tentu tidak akan melayani. Istrinya tahu batasan berinteraksi dengan lawan jenis. Apa lagi pria yang berusaha mendekati itu terang-ternyata mengungkapkan perasaan meski lewat surat.
"Oh, Pak Asyraf ya. Kakaknya Isha?"
"Ya?"
"Tadi saya ingin bicara dengan Aish karena saya rasa melalui dia saya bisa mengenal adik anda."
Asyraf tersenyum sinis. Dia tidak percaya dengan laki-laki yang ada dihadapannya. "Saya yang lebih kenal Isha, dan saya termasuk walinya. Jadi anda tidak perlu mendekati wanita bersuami kalau niat anda untuk mendekati Isha."
"Akhirnya saya bisa bicara dengan anda, Pak. Tadinya saya pikir anda termasuk orang yang kaku jadi saya segan untuk mendekati anda. Jadilah saya mendekati istri anda karena kami emang saling kenal."
"Begitu?"
"Ya tentu saja."
"Kalau begitu kita bicara lain kali. Maaf sore ini kami ingin menghabiskan akhir pekan bersama."
"Oh maaf saya mengganggu, kalau begitu silahkan nikmati akhir pekannya." Juan mengulas senyum tapi tidak dengan hatinya. Rasa kesana dia salurkan menjadi kepalan tangan di samping tubuhnya.
Asyraf sempat melihat itu saat menoleh, tapi dia tidak ingin mempermasalahkannya. Ucapan tadi sudah dirasa cukup untuk menyadarkan pria yang mencintai istrinya.
***
Waktu untuk verkatifitas telah kembali, Asyraf sudah mengenakan pakaian kerjanya yang disiapkan oleh sang istri. Aish tetap melakukan kewajibannya dengan baik. Tidak sekalipun dia berusaha menunjukan sikap yang akan menyinggung sang suami. Aish selalu menebar senyum dan bertutur manis saat berhadapan dengan Asyraf.
"Aku sudah rapih?" Asyraf membahagiakan badan dan meminta penilaian dari sang istri.
__ADS_1
"Tentu saja, dalam keadaan apa pun suamiku selalu terlihat rapih dan mempesona," kata Aish sambil merapihkan kerah jas sang suami.
Asyraf merangkum wajah Asih dan memberikan kecupan pada bibir sang istri. "Simpan pujianmu untuk nati malam," ucap Asyraf pelan dan sukses membuat Asih merona. "Hari ini aku pulang pasti pulang agak malam. Hans bilang ada jadwal pertemuan dengan klien dari luar negeri."
"Ys sudah gak papa. Semoga kebaikan selalu menyertai langkahmu dan semoga Allah slalu menjagamu untukku."
"Apa istriku sedang meragukanku?"
"Tidak," kekeh Aish, "sudah berngakt sana."
Aish melambiakn tangan pada sang suami dan juga sang anak. Ia kembali masuk ke dalam rumah dan mulai bekerja. Dia sudah jarang datang ke toko pun ke perusahaan yang dirintisnya. Akan tetapi itu bukan berarti dia lepas tangan. Dia tetap bekerja meskipun dari rumah.
"Bu ada yang kirim bunga," lapor salah satu palayan di rumahnya.
"Dari bapak?"
"Kurang tahu, Bu. Tadi yang antar gak bilang, tapi bilangnya memang dari pria tampan."
"Oh ya sudah mungkin itu dari bapak." Bunga yang dibawa oleh pelayan diletakan di meja. Aish kembali fokus pada pekerjaannya. Saat ada waktu senggang dia berkirim pesan dengan abahnya.
(Assalamualaikum Bah sehat? Ada setumpuk rindu untuk Abah.)
(Waalaikumsalaam, Alhamdulillah abah sehat nak, Asyraf bagaimana?)
(Kok yang ditanyakan mas Asyraf sih, kan Aish yang merindukan abah)
(Ya siapa tahu menantu abah juga merindukan pria tua ini)
Aish tertawa membaca balasan dari abah. Dia segera mengakhiri percakapan karena ternyata waktu sudah diang dan sebentar lagi ia harus menjemput Zia.
Sebelum beranjak dia iseng membuka instagram. Matanya memicing saat melihat sebuah ugahan cerita pada sebuah akun.
Sebuah foto dimana Asyraf tengah berdiri di eskalator dan membelakangi si pengunggah serta memamerkan jari yang tersemat cincin. Yang mengusik hati Aish adalah tulisan si pengunggah.
Terima kasih untuk hari ini, tak apalah aku menjadi yang tersembunyi tapi kamu tetap menjadikan aku istimewa.
__ADS_1
Aish tidak ingin terjebak karena menebak, dia mengabaikan unggahan itu dan bersiap menjemput Zia.
***
Asyraf baru saja menyepakati kontrak kerja sama dengan koleganya. Dia tersenyum senang karena usahanya semakin berkembang. Bersama Aish rezeki serasa dimudahkan.
Behubung sudah waktunya makan siang dia pun mengubungi sang istri melalui panggilan video. Panggilan tersambung dan tak lama menampakan istrinya dan anakanya yang baru saja duduk dengan wajah seperti lelah tapi senyum tetap paripurna.
"Assalamualaikum bidadari."
"Kok bidadari, ayah? kan harusnya princes kareana kau masih kecil," protes Zia sedang kan Aish hanya tersenyum.
"Jawab dulu salamnya, Nak. Iya kan ayah manggilnya sama bunda."
Asyraf selalu berhasil membuat Aish merona, tapi lelaki itu juga selalu berhasil mematahkan hati Aish. Di depannya Asyraf memang selalu bersikap manis tapi Aish pun sering memergoki sang suami tengah menatap foto ibunya Zia. Bahkan beberapa kali mengugau dan memanggil nama Syfa.
"Sudah makan?" tanya Aish.
"Baru pesan, aku makan di resto barusan baru selesai menemui klien."
"Oh ya sudah, kita juga mau makan siang dulu. Kasihan Zia sudah memberengut." Aish mengarahkan kamera pada Zia yang memang cemberut karena merasa diabaikan.
Asyraf terkekeh lalu mengangguk dan minta maaf pada Zia. Penggilan pun berkhir kemudian melanjutkan makans siangnya bersama Hans.
Lepas makan siang meraka kembali ke kantor. Asyraf tidak menyadari kalau ia tengah diikuti oleh seseorang. Ia juga tidak mengetahui apa yang sudah diketahui Aish lebih dulu.
Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Dia juga memabtasi berinteraksi dengan pegawai perempuan. Mengantisipasi kegilaan seperti yang pernah dilakukan oleh Nindy.
Asyraf menatap jam yang menunjuk angka empat lebih tiga puluh menit. Seharusnya dia pulang tapi Hans mengingatkan janji temu dengan klien dari Malaysia.
Hans masuk setelah mengetuk pintu. "Mereka sudah mengirim lokasi untuk pertemuan, Pak. Tapi ..." Hans mengehela nafas sebelum menyampaikan kalimat selanjutnya. "Mereka ingin bertemu di klub Golden, Pak."
"Klub?" Asyraf ragu mendengar kata klub. Dia tidak pernah memasuki tempat seperti itu. Ia mengetuk-ngetukan jari pada meja. Pekerjaan menuntut ia untuk profesioanl tapi hatinya menolak masuk ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi itu.
"Kalau anda ragu, kita bisa mengusulkan tempat lain, Pak." Hans mengerti keraguan di hati atasannya.
__ADS_1
Asyraf masih menimang baik dan buruknya. Tawaran dari pihak mereka memang menggiurkan tapi Asyraf merasa tidak yakin.
Apa yang akan terjadi?