
Asyraf yang katanya lelah ternyata tak bisa memejamkan mata. Berbeda dengan Zia dan juga Aish yang begitu lelap meski tidur di sofa.
Diperhatikannya wajah lelap Aish. Perempuan penuh pengorbanan yang tak ia pahami bagaimana perasaannya. Ada rasa bersalah saat ia memperlakukan perempuan yang begitu diperlakukan manis oleh keluarganya.
Saat tengah memperhatikan wajah Aish, sekelebat iw melihat bayangan dari balik tirai jendela. Entah perasaan atau memang benar ada yang tengah mengintip kamar istrinya.
Perlahan ia mendekat dan menyingkap tirai. Tidak ada siapa pun di sana, hanya gemericik hujan yang baru saja turun. Tapi tunggu. "Apa itu'" gumam Asyraf. Kertas putih terselip rapih di kusen jendela. Penasaran, Asyraf pun langsung mengambil kertas itu.
Mengejutkan isinya merupakan ungkapan cinta untuk sang istri.
Dear, Aishwa
Kabar pernikahanmu yang berhembus dibawa angin dan ia sampaikan padaku. Membuat hari-hariku suram, mendung tanpa warana. Gelap dan menakutkan. Aku seperti berdiri di sebuah lorong panjang dan tak menemukan cahaya.
Hatiku sakit, andai kabar itu benar. Namun satu hal yang harus kamu tahu, bahwa dalam sujud panjangku namamu lah yang sering kusebut dan kuminta Kepada-Nya.
Sungguh bayanganmu tersenyum disamping pria lain selalu menghantuiku. Membuat tidurku tak tenang. Tak pernah lagi kurasakan tidur nikmat hanya karena takut kabar itu benar.
Aishwa, pertemuan kala itu benar-benar menghapus angan yang kurajut. Mimpi yang kubangun untuk hidup bersamamu hancur lebur. Hanya menyisakan kepingan hati yang terluka.
Aku berharap ini hanya mimpi, dan saat aku bangun semua kembali sperti biasa. Nyatanya tidak, saat aku bangun aku harus menelan pil pahit itu.
Aku mencoba ikhlas, merelakanmu tapi itu sulit. Sangat sulit.
Aishwa, ijinkan aku bertanya, apa kamu bahagia dengan ia yang jadi pendampingmu? Andai tidak dan ia menyakitimu carilah aku di tempat biasa. Aku akan di sana saat kamu mencariku nanti.
Dariku yang mencintaimu sejak lama.
Juan.
__ADS_1
Asyraf meremas kertas yang baru saja ia baca. Penasaran, adakah surat lain yang diterima oleh sang istri. Dia pun membuka satu persatu laci di ruangan itu. Namun dia tidak menemukan apapun selain berkas-berkas penting milik Aish. Juga foto-foto masa kecil hingga remaja perempuan yang kini jadi istrinya.
Asyraf mengamati perubahan-perubahan Aish dari foto yang ia pegang. Cantik, pujinya dalam hati, bibirnya pun melukiskan senyum.
Didekatinya sang istri, dia perhatikan wajah Aish dari jarak dekat. Alis tebal yang alami, hidung bangir, bibir mungil, tahi lalat di bawah kelopak mata yang kanan dan dibalut kulit yang bersih.Membuat ia benar-benar sempurna sebagai permpuan berwajah cantik. Benar dia sangat cantik, pantas bayak lelaki memujanya, tapi kenapa Aish menerima dirinya. Ah itu adalah pertanyaan yang tak mungkin ia tanyakan secara langsung.
Asyraf terkejut kala Aish mengerjap membuka mata. "Ngapain, mas?" tanya Aish dengan suara serak dan menjauhkan wajahnya dari Asyraf.
"Enggak, tadi niatnya mau bangunin kamu agar tidur sama Zia. Aku takut abah nyelonong masuk ke dalam sini dan melihat anaknya tidur di sofa." Tidak biasanya Asyraf bicara panjang dan terlihat gugup.
Aish merubah posisinya hingga ia duduk dan berhadapan dengan Asyraf secara langsung. Ia menyungingkan senyum. "Mana mungkin abah nyelonong masuk. Kan anak gadisnya sudah bukan miliknya. Anak gadisnya sudah milik suaminya."
"Ya bisa aja, kan kita gak tahu bisa saja abah ada perlu sama kamu. Sudah gak usah banyak bicara, pindah sana."
Duh meskipun disampaikan dengan nada ketus, tapi Aish rasa ini adalah sebuah perhatian dari sang suami. Pesona Asyraf sungguh membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
"Sebanarnya tempat tidur itu muat kok untuk bertiga, tapi aku takut mas gak nyaman." Aish melirik kertas yang masih dipegang Asyraf. "Apa itu?"
Aish melirik jam yang sudah menunjuk angka 12:15. "Mas sendiri kenapa gak tidur?"
"Aish mentang-mentang di rumah sendiri ya kamu banyak tanya?"
"Ya emang, soalnya kalau di sana rumah sendiri tapi terasa di rumah orang lain. Jadi sungkan aku bertanya."
Astga, Asyraf lupa kalau rumah yang mereka tinggali sekarang adalah mahar yang ia berikan kepada Aish. Aishlah yang lebih berhak atas rumah itu, bukan dirinya. Aish justru seperti pekerja di rumahnya sendiri. Sedangkan Asyraf seperti pemilik dirumah yang sudah milik istrinya.
"Ya sudah besok tuker kamar."
"Kenapa harus tukar kalau bisa tidur bersama?" tanya Aish dengan ekspresi menggoda. Sepertinya tidak masalah kalau Aish keluarkan sisi centilnya. Toh yang digoda juga suami sendiri.
__ADS_1
"Kamu ingin aku seperti ini?" Asyraf mendorong Aish hingga sang istri ada dibawahnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa cm saja.
Aish gemetar ketika posisi sudah seintim ini. Dia kaku dan tenaganya seperti hilang entah kemana. Untuk mendorong pun sepertinya tak kuasa. Hanya detak jantung yang bekerja lebih dari biasanya.
Asyraf mendekatkan bibirnya dan hendak merampas pasokan udara milik sang istri. Tapi yang terjadi Aish malah melengos sehingga bibirnya mendarat di pipi.
"Kenapa?" tanya Asyraf sekaligus ia juga penasaran dengan perasaan Ais terhadapnya. Dia kembali menegakan tubuh.
"Aku belum siap, niat kamu masih untuk sebuah dendam kan. Aku belum siap."
"Bagaimana kalau aku mau?"
Aish menggelengkan kepala. Ia belum sanggup menjadi istri Asyraf seutuhnya. Apalagi niat Asyraf yang pernah ia sampaikan di malam itu. "Perbaiki dulu niatmu, baru datangi aku."
Aish beranjak tapi tanganmu ditarik lagi oleh Asyraf. Membuat Aish jatuh dipangkuannya.
"Aku menemukan kertas ini," ujar Asyraf menyodorkan kertas yang sempat ia baca dan langsung diterima oleh Aish. Sungguh Asyraf penasaran dengan ekspresi Aish saat membacanya. "Kamu mencintai dia?" tembak Asyraf.
"Tidak pantas seorang istri mencintai pria selain suaminya."
"Kamu mencintaiku?" Asyraf meraih dagu Aish membuat mereka kembali saling bertatapan. "Kenapa tidak dijawab? atau memang kamu mencintai pengiriman surat itu." Nada suara Asyraf tiba-tiba lembut. Jauh berbeda dengan Asyraf sebelumnya. "Jawab Aish!' lanjut Asyraf mendesak sebuah jawaban.
"Pentingkah sebuah jawaban?" Aish bertanya balik, kalau pun ia cinta pada Asyraf ia belum ingin mengakuinya.
"Ok sepertinya kamu orang yang cukup memilki gengsi tinggi untuk mengakui sebuah perasaan," balas Asyraf. Padahal ia sendiri tak ada bedanya, hanya saja belum memahami perasaan yang sesungguhnya. Lelaki itu tiba-tiba membopong tubuh Aish dan membaringkannya di dekat Zia.
Aish sempat memekik kaget. Dalam hatinya sempat bertanya suaminya kesurupan apa, sehingga sikapnya tiba-tiba berubah. Mungkinkah surat itu mempengaruhinya.
Asyraf sendiri tak mengerti kenapa ia bersikap demikian. Tiba-tiba saja ada sebuah dorongan yang memaksa ia melakukan itu.
__ADS_1
Cinta kah ia pada Aish? masa iya secepat itu benci berubah cinta. Rasanya sangat mustahil. Bagi Asyraf semaunya butuh proses, rasanya aneh saja kalau ini benar sebuah dorongan dari kata bernama cinta.