Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 33


__ADS_3

Sudah menjadi kebiasaan sebelum acara pernikahan berlangsung maka akan diadakan sebuah pengajian. Biasanya diisi oleh tausiah tentang pernikahan. Untuk yang akan menikah bisa jadi bekal kelangsungan hidup rumah tangannya nanti pun jadi pengingat untuk yang sudah lebih dulu menjalani hidup berumah tangga.


Pihak keluarga meminta Abah menjadi orang yang mengisi pengajian tersebut.


Sesekali pengajian, Abah diantar untuk istirahat oleh Aish. Alih-alih tidur abah malah ingin duduk berdua dengan putrinya di sebuah gazebo dekat kolam ikan. Entah ada yang terjadi atau apa tapi abah merasa ada sesuatu yang harus ia tanyakan pada putrinya.


Lama tidak bermanfaat dengan sang ayah Aish langsung merebahkan kepalanya pada panggilan abah. Usapan lembut tangan abah di pucuk kepelanya membuat Aish tiba-tiba menjatuhkan air mata.


"Nak ...."


Aish pura-pura tidur dari pada harus menjawab pertanyaan abah. Pada umunya orang tua bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sang anak.


"Abah masih menjadi tempat kamu bercerita paling menyenangkan 'kan?" Abah yakin putrinya tidak benar-benar tidur. "Cerita saja jika itu terlalu menyesakkan dada. Tidak baik dipendam sendirian apa lagi kamu dalam keadaan hamil muda."


Aish membuka mata dan menatap wajah teduh yang tersenyum ke arahnya. "Aku hanya sedang rindu pada, Abah," kilah Aish. Tidak mungkin dia menceritakan keburukan sang suami. Sekalipun itu pada abah orang yang bisa dia percaya. "Rindu tidur dipangkuan abah. Rindu saat abah menggendongku dari tempat kajian gara-gara ketiduran." Aish mengenang masa-masa itu. Di mana seluruh kasih sayang abah dan kedua kakaknya hanya tercurah pada dirinya.


"Masa sudah punya anak masih mau digendong sama abah," kekeh abah tanpa menghentikan usapan pada kepala Aish. Peria berusia senja itu sangat mengenal sang anak yang begitu pandai menyimpan rahasia. Meskipun didesak Aish akan tetap pada pendiriannya. Pada akhinya lantunan doa untuk kebaikan sang anak yang bisa abah berikan.


"Kan namanya juga rindu, Bah. Pengen main ke pondok. Main sama anak-anak lagi tapi gak enak kalau harus mengganggu waktu kerja mas Asyraf. Takutnya aku merepotkan dia, Bah."


"Kan bisa kamu katakan baik-baik. Kamu bisa ke pondok dengan ditemani salah satu pekerja perempuan kamu. Anak-anak, teman-teman kamu, kakak iparmu juga merindukan kamu."

__ADS_1


"Hanya mereka, abah enggak?" Aish merajuk.


"Tentu abah pun merindukan kamu, tapi sekarang kamu milik suamimu. Apa-apa memang harus atas izin sang suami, insyaallah baktimu dihadiahi syurga."


Aish mengaminkan ucapan abah. Dari balkon kamar yang mengahdap ke gazebo, Asyraf memperhatikan sang istri yang tengah belanja pada ayahnya. Mungkin sang istri juga tengah mengadukan sikapnya?"


Abah mengecup kepala sang anak saat merasa anaknya benar-benar tidur. Meski tubuhnya sudah memasuki usia senja, tapi karena pola makan dan pola hidup yang sehat, abah masih kuat emngangkat tubuh sang anak. Entah perasaannya saja atau memang benar, tubuh Aish terasa semakin ringan. Padahal seharusnya berat bada harus sudah naik mengingat putrinya tengah mengandung.


"Nak Aish kenapa, Bah?" tanya Aqim menghampiri saat melihat besarnya tengah membopong tubuh sang menantu.


Tanpa melepaskan senyum abah menjawab, "dia hanya ketiduran. Mungkin terlalu nyaman dan merasa menjadi anak bungsuku lagi jadinya seperti ini."


Abah mengikuti langkah Aqim menuju kamar Aish. Direbahkannya tubuh itu di pembaringan. Dilepaskannya kerudung sang anak seperti dulu. Dia kecup keningnya kemudian mengusap perutnya, membedakan doa untuk kebaikan putri serta cucunya.


"Istirahatlah, Nak. Jangan paska tubuhmu untuk tetap laut aku kamu sendiri sudah merasa berat. Istrahat bukan berati melepaskan," ucap Abah pelan tapi Asyraf pun bisa mendengarnya.


Setelah abah menaikan selimut hingga menutupi dada Aish dan sudah keluar dari kamar barulah Asyraf keluar dari balik tirai. Ia tatap permintaan yang diperlakiakn begitu baik oleh orang tuanya tapi tidak dieorlakukam baik oleh dirinya. Padahal dirinyalah yang meminta pada calon mertuanya saat itu agar menikahkan dirinya dengan Aish.


***


Sejak semslam rumah keluarga Aqim tidak benar-benar sepi. Ada beberapa orang yang sengaja bergadang bahkan masih mempersiapkan untuk acara hari H.

__ADS_1


calon pengantin sendiri tidak bisa tidur nyenyak, membayangkan beberapa jam lagi statunya akan berubah. Sampai pintu kamar diketuk Isha masih tidur-tidur ayam. Pintu kembali terdengar diketuk sehingga memaksa calon pengantin itu bangun. Gegas dia meraih kerudungnnya dan membuka pintu.


Di depan pintu tampak pekerja rumahnya tangi berdiri bersama dua orang pernata rias yang khusus untuk mempercantik dirinya. Untuk eluarga lain sudah disioakan tim make up masing-masing.


"Jam berapa ini mbak? Kok sudah datang?"


"Sudah hampir subuh, Non Isha. Tadi ibu juga yang suruh yang penata rias ke sini."


Isha melirik jam dinding lalu mengangguk dan mempersilahkan penata rias untuk masuk. Tak lupa Isha juga meminta diantarakn makanan juga minuman untuk penata riasnya.


"Make-up nya berapa lama kira-kira?" tanya Isha. Dia harus tahu berapa lama kemampuan penata risa dalam memenage waktu untu mempercantik dirinya. Sebab jika harus didandani dari sekarang rasanya Isha belum siap. Belum lagi ia jiga harus salat subuh lebih dulu.


"Paling sekitar tiga jam, Bu Isha."


"Itu untuk pengantin perempuan saja?" tanya Isha tak percaya.


"Betul, Bu. Kebanyakan untuk mendapatkan hasil maksimal saat merias seorang pengantin itu mengahbiskan waktu sekitar tiga jam."


"Selama itu? berarti saya harus make-up dari sekarang. Nunggu adzan sbuh dulu gimana?"


"Mangga, Bu. Kan acaranya dimulai juga sekitar pukul sembilan. Masih ada waktu, santai saja Bu Isha. Saya sengaja datang lebih awal karena agar sedikit santai," kekeh salah satu permata rias yang terlihat paling dominan.

__ADS_1


"Oh begitu, ya sudah saya mandi dulu. Sikhakan dinikmati sajian seadanya." Isha mempersilahkan merek untuk mengganjal perut. Barulah dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Isha masih tidak percaya kalau dirinya akan menikah dengan oria yang batru saja ia kenal. Belum ada cinta di antara mereka. Entah akan seperti apa pernikahan mereka nantinya.


__ADS_2