
Bel kamar berbunyi. Asyraf yang keluar kamar mandi lebih dulu, mengira yang datang adalah pesanan makan malamnya. Ternyata saat pintu terbuka ia malah mendapat tatapan sinis dari kedua orang tuanya. Terlebih dia hanya menggunakan bathrobe.
"Udah meetingnya?" tanya Salwa dengan tatapan sinis.
Asyraf menggaruk dagu dan menoleh pada kamar mandi yang masih tertutup.
Haji Aqim menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan polah putra sulungnya. Ia pun tak bosan menasehati, setua apa pun Asyraf dimatanya tetaplah anak kecil yang masih perlu ia bimbing.
Aish yang baru saja keluar dari kamar mandi, merasa malu saat keluarga suaminya menoleh ke arah dirinya.
"Menurut kalian ini lucu?" tanya Haji Aqim, menatap anak dan menantunya. "Asyraf kamu itu pemimpin dalam keluargamu, pemimpin dalam perusahaanmu tapi kenapa otakmu yang cerdas itu malah digunakan untuk melakukan hal konyol seperti ini. Kami khawatir akan keselamatan Aish. Seharunya kamu bilang secara baik-baik. Menghadap pada abah meminta izin bertemu istri. Bukan malah melarikannya seperti seorang penjahat."
"Kamu tahu akibat kelakuan kamu? Para santri diturunkan untuk mencari Aish. Ayah menurunkan detektif. Hanif dan istrinya baru pulang barusan dari mencari kalian. Urusan mereka terganggu. Dzolim kamu Asyraf."
Asyraf menggaruk pipi, "ya ... aku minta maaf, Yah. Setelah ini aku akan ke pondok menemui abah dan mas Hanif untuk meminta maaf. Juga pada para santri."
Salwa yang gemas karena tingkah Asyraf tak kuasa menahan tangannya untuk tidak mencubit.
"Aw!" pekik Asyraf, mengusap bekas cubitan. "Sakit," rengeknya pada Aish. Istrinya menahan tawa tapi tetap mengusap bekas cubitan mertuanya.
Isha bahkan bahkan memalingkan wajah karena geli. Seperti itukah orang yang tengah jatuh cinta. Terkesan lebay tapi setiap orang memilki kebebasan untuk mengekspresikan perasaannya.
Mereka berpisah setelah merasa cukup menasehati pasangan suami itu. Merasa tak enak hati pada Abah, Asyraf pun memilih pulang ke rumah mertuanya.
Abah membuang nafas lega kala melihat mobil Asyraf memasuki gerbang. Disusul anak dan menantunya turun.
"Alhamdulillah, kalian pulang," ucap Abah sambil memeluk putrinya. "Abah khawatir, Nak, kenapa ponselmu tidak aktif ?"
"Abah," Asyraf menyalami mertuanya. "Maaf aku membawa Aish tanpa Ijin abah. Aku juga sengaja mematikan ponsel Aish agar leluasa bicara," papar Asyraf setelah menyalami mertuanya.
Abah menepuk pundak Asyraf dan menaggup, "gak papa, Abah memakluminya. Ayo masuk kalian pasti capek."
Kembali Asyraf merasakan malu, kala keluarga istrinya memperlakukan ia dengan baik. Dia tatap wajah perempuan yang sudah menyenangkan dirinya beberapa jam yang lalu.
"Ayo makan dulu, Raf. Kalian pasti capek habis berpetualang," ucap Hanif. Perkataannya membaut Aish semakin menunduk malu.
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka berbincang pun dengan Asyraf memang meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan.
"Gak masalah sih, tapi ya kita takutnya beneran Aish tidak bersama kamu." Hilal ikut bicara.
"Kamu saat kecil gak pernah main kucing-kucing ya, Raf?" tanya Hanif membuat semua orang yang ada di sana tertawa. "Gimana rasanya?"
"Seru, Mas. Kaya remaja lagi pacaran dan curi-curi waktu," kekeh Asyraf.
"Untung sudah halal ya, jadi pasti bebas ngapain aja," ujar Hanif lagi. Hanya kaum lelaki yang lebih banyak bicara. Para istri hanya ikut tersenyum dan duduk di samping suaminya masing-masing.
Berhubung malam semakin merangkak, satu persatu masuk ke dalam kamar masing-masing. Memulai aktifutas malam mereka. Yang jomblo? gigit jari aja, ups.
Pun dengan Asyraf yang masuk ke kamar sang istri untuk kedua kalinya. Ia mengedarkan pandangan lalu tersenyum kala Aish keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
"Kok pake baju?"
"Ya kalau gak pake baju nanti masuk angin. Emangnya mas mau kerokin aku nanti?"
"Lebih dari sekedar ngerok juga mas mau kok."
"Aku lebih suka kalau kamu gak pake baju," ucap Asyraf membuat sang istri tersipu dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Asyraf menyusul naik ke pembaringan. Dia tarik selimut yang menutupi wajah sang istri, tapi Aish pun tak mau kalah memegang ujung selimut agar tidak terlepas.
"Aish ... kok ditutup?"
"Malu," cicit Aish.
***
Keesokan harinya Asyraf membawa sang istri pulang ke rumah. Terlihat beberapa orang tengah aktifitas di rumah tiga lantai itu. Rupanya Asyraf menepati janjinya dengan mengahadirkan pekerja untuk meringankan tugas Aish.
Ya istrinya itu memang ringan dari pekerjaan rumah tapi pekerjaan selanjutnya lebih berat karena harus mengurus bayi besar yang kadang merengek manja padanya. Di depan orang Asyraf tentu tampil dengan pembawannya yang khas, kalem dsn berwibawa. Di depan Aish ia bahkan lebih manja dari pada Zia.
"Zia kok gak turun dari pangkuan bunda. Kasihan bunda nak. Turun ya!" ujar Asyraf yang duduk di samping sang istri.
__ADS_1
"Zia masih kangen sama bunda, Ayah."
"Ayah juga kangen sama bunda." Asyraf tak mau kalah.
"Ayah mau dipangku juga sama bunda? ayah kan berat."
Aish tertawa mendengar ucapan Zia yang membuat suaminya cemberut. "Nanti malam ya," bisik Aish untuk membujuk suaminya.
Hari-hari Aish terasa indah kala Asyraf memperlakukan dirinya begitu manis. Ayah dan anak sering berebut untuk mendapat perhatiannya. Ia tidak merasa keberatan toh ini sudah kewajibannya.
Istri adalah pondasi dalam rumah tangga. Meskipun istri terlihat kuat dan mampu melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan, bukan berarti suami bisa abai pada istri. Justru semakin istri merasa bahagia maka semakin berwana rumah tangga.
Apakah kisah Aish selesai? tidak. Karena ujian tengah disiapkan oleh para pujangga yang menuhankan cinta. Juan, lelaki yang pernah sama-sama menimba ilmu di pondok abah salah satunya.
Dia menatap getir kala melihat Aish tertawa puas tapi bukan di samping dirinya. Beberapa minggu yang kalau dia sempat berharap Aish dan suaminya berpisah. Apa lagi saat ia melihat kilatan amarah di sorot mata Asyraf kala itu. Sayangnya harapannya kembali dipatahakan dengan ia melihat Aish bersama suami dan anaknya tengah belanja di super market.
Sebuah biat jahat muncul kala melihat seorang perempuan menghampiri keluarga Asyraf. Iya itu Isha-adiknya Asyraf.
Dia pun pura-pura mencati sesuatu di deretan yang sama dengan Isha. Sengaja ia pura-pura tak melihat ada orang lain di sekitarnya sehingga mereka bertabrakan.
"Astagfirullah, maaf," ujar Isha buru-buru bangun dan meletakan barang yang jatuh.
"Its oke, its oke. Loh kamu?"
"Aku?" Isha menunjuk dirinya. Ia memang mudah melupakan orang-orang yang hanya kenal sekilas.
"Kita pernah duduk satu meja saat di resaturan, dan aku juga pernah menabrak kamu waktu kamu di mall."
"Oh, kamu temannya kak Aish?"
"Enggak sih bukan teman, hanya sebatas kenal. Oh ya aku Juan, kamu?" Juan mengulurkan tangan tapi Isah membalas dengan mengatupkan tangan.
"Aku Isha, adik iparnya kak Aish. Oh ya maaf aku gak bisa lama. Kakakku sudah menunggu di sana." Isha menunjuk Asyraf dan Aish yang berdiri di barisan kasir juga tengah menatap ke arahnya.
"Oh ok. Sampai bertemu lagi," kata Juan sambil memberikan senyum manis.
__ADS_1