Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 3


__ADS_3

"Kalian ngapain?" tanya Salwa yang memergoki anak dan menantunya berdiri di dekat gorden. Terlebih wajah mereka terlihat panik.


"Cari suasana baru kali Bu. Bosen kan di kasur terus?" tanya Haji Mustaq atau sering dipanggil Haji Aqim.


"Huss ada Zia, ngelantur aja ni ayah kalau bicara. Aish Ibu bawa makanan, kamu harus cobain masakan Ibu. Ini sudah dipastikan enak dan kamu bakal suka." Ibu mengangkat wadah berisi makanan.


"Kok jadi Ibu yang kirim, kan harusnya aku yang nyiapin," ujar Asih merasa malu. Mereka pun bergandengan menuju dapur, diekori Aisha dan Zia.


"Gak papa, Kak. Kita paham sikon kok," celetuk Aisha.


Para perempuan sibuk berbincang di dapur untuk mengakrabkan diri. Salwa juga berusaha membuat menantunya merasa nyaman dengan kehadirannya. Dia tidak ingin ada istilah menantu dan mertua tidak akur.


Sedangkan H. Aqim menatap putranya, "ayo kita bicara." Mereka memilih duduk di gazebo halaman belakang. Agar perbincangan mereka tak di dengan para perempuan terutama Aishwa.


Haji Aqim menatap tajam putranya sebelum bicara, "Berapa usiamu?" suara datar seperti itu harus diwaspadai apalagi kalau sudah tanya soal umur. Biasanya akan ada ceramah panjang lebih dari satu jam.


"34, Yah."


"Pantas? masih pantas kamu bersikap seperti itu pada perempuan yang telah kamu pilih jadi istri? Kecelakaan itu takdir, kamu tidak bisa menyalahkan Aishwa."


"Aku ..."


"Tidak perlu melakukan pembelaan, ayah lihat sendiri kalau kamu masih memasang foto mendiang di sini. Tujuannya apa kalau bukan untuk menyakiti istrimu."


"Aku cuma mau tes reaksinya saja, Yah."


" Tes reaski? Permpuan mana pun akan merasa sakit hati jika ada permpuan lain antara dirinya dan suami. Tidakkah kamu membayangkan andai anak perempuanmu yang diperlakukan seperti itu. Andai adikmu satu-satunya mengalami hal yang sama dengan Aish. Pikir! Cinta tidak cinta kamu telah memilihnya. Perlakuan dia selayaknya. Lupakan dendam tidak jelasmu itu. Jangan sampai orang yang melihat berpikir ibadah yang kita lakukan hanya sebagai topeng untuk menutupi sikap busuk. Paham sampai sini?"


"Paham, Yah."


"Berikan hak Aish. Syfa dan Aish memiliki tempat masing-masing di hatimu, tapi condongmu harus pada yang masih hidup. Kalau kamu lalai itu sama saja mendzoliminya." Ceramah Haji Aqim berhenti kala melihat Aish menghampiri.


Haji Aqim tersenyum pada menantunya yang datang mengantarkan minum. "Ayah sudah datang dari tadi tapi aku baru memberi ayah minum. Maafkan anakmu ini ayah," ujar Aish sambil menunduk.


Diusapnya puncuk kepala Aish dengan penuh kasih sayang oleh ayah mertuanya. "Kalau ayah butuh minum kan ayah bisa ambil sendiri. Ayah masih sehat, kaki juga masih sanggup melangkah. Yang enggak sanggup ya kalau harus lari maraton," candanya.


Aish terkekeh pelan menanggapi ucapan ayah mertuanya. Ada rasa haru saat dirinya diperlakukan seperti anak kandung mereka.


"Loh kok malah pada ngobrol di sini. Itu loh makanan sudah siap. Ya itung-itung makan siang walaupun sudah telat," kekeh Hj. Salwa.

__ADS_1


Mereka beriringan menuju ruang makan. Terlihat Aisha tengah bercanda dengan keponakannya.


Aish duduk di antara Asyraf dan Zia. Perempuan itu mulai menjalankan kewajiban sebagai istri yang melayani suami. Dia mengambilkan makanan lebih dulu untuk suaminya juga anak sambungnya, baru untuk diri sendiri.


"Ini contoh yang patut ditiru oleh Aisha," ujar Haji Aqim.


Aish hanya menunduk dan mengangguk. Dia selalu merasa malu kala terlalu sering dipuji. Takut dia lupa daratan hingga suatu saat akan menjatuhkan dirinya. Bhakan ia takut seperti nyamuk yang mati karena sebuah tepuk tangan.


"Jelas, Yah. Tapi Isha kan masih lama nikahnya. Kuliah aja belum lulus."


Selesai makan siang yang sebenarnya sudah terlambat mereka memilih berbincang di area halaman belakang sambil menunggu waktu ashar.


Setelah ashar pun mereka kembali berbincang sambil menikmati makanan ringan.


Aish mulai mengakrabkan diri dengan Zia. Dia menemani Zia yang tengah bermain dan memposisi diri sebagai teman tang sebaya. Aish terlalu pandai untuk mencuri perhatian seorang anak kecil.


"Aku panggilnya apa? Ibu, atau bunda, atau mama, hihi aku bingung." Zia menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.


"Senyamannya Zia aja. Lebih nyaman kata apa?"


"Bunda. Boleh aku panggil bunda?"


"Minta bayaran sama ayah aja, ayah kan kaya. Iya kan ayah?" menoleh pada Asyraf. "Bunda anaknya mana?"


"Horor ya, baru satu hari nikah sudah ditanya anak," ujar Aish pada adik ipar yang tertawa di sampingnya.


"Kok bunda malah tertawa, ayah kan anaknya aku. Nah anak bunda mana?" Dikira Aish nikah dengan ayahnya dalam status janda anak satu kali ya.


"Anaknya bunda masih di dalam perut," ujar Isha. Dia menjelaskan sambil tertawa karena ekspresi kakak iparnya.


"Kan perut bunda gak buncit seperti perut Micky. Mana ada anaknya, ish tante bohong nih." Anak itu memberengut kesal karena tidak mendapat jawaban yang memauaskan. Dia berdiri dan menghampiri kakek juga ayahnya.


Micky adalah nama kucing yang sedang hamil di rumah kakeknya.


"Kode tuh, Raf," kata ayahnya.


Hj. Salwa tidak ikut campur, dia malah sayik menikmati cemilan sambil memperhatikan setiap bunga yang ada di sekelilingnya.


"Kakek, bunda sama tante Isha bohong sama aku," lapor Zia pada kakeknya.

__ADS_1


"Bohong apa?"


"Katanya anaknya bunda ada di perut seperti Micky, tapi kok perut bunda gak buncit." Anak kecil itu cemberut karena merasa dibohongi.


"Tanya sama ayah sana!"


Asyraf gelagapan. Dia menggaruk keningnya yang tak gatal. Sedangkan Haji Aqim tertawa pelan.


"Ish, ayah kok malah diam. Ayo ayah jawab, anaknya bunda dimana?"


Susah kalau harus menjelaskan tentang anak pada anak-anak. Asyraf lebih memilih menjelaskan fitur mobil baru pada klien ketimbang menjawab pertanyaan putrinya. Salah bicara maka urusan akan semakin lebar.


"Zia sini!" panggil Salwa. Zia berlalari ke arah neneknya. Lumayan panggilan itu menyelamatkan Asyraf.


"Isha sih bahas-bahas soal anak," semprot Asyraf pada adiknya.


"Loh dia nanya, ya kita jawab ya, kak?" Isha menoleh pada Aish yang mengangguk.


"Lagian tinggal jawab, Raf. Kok malah nyrempet ke yang lain." Haji Aqim membela menantu dan anak perempuannya.


Sampai adzan maghrib tiba kedua orang tua Asyraf masih di sana. Hanya Isha yang pulang duluan karena harus mengerjakan tugas.


Mereka magriban berjamaah. Baru setelah itu mereka pulang. Drama terjadi kala Zia ingin tinggal di sana.


"Besok kita ke sini lagi ya," bujuk Salwa.


Zia menolak dia malah semakin erat memeluk Aish. "Gak papa, Bu. Zia di sini juga. Mungkin dia kangen sama ayahnya," ujar Aish.


"Tapi kan kalian butuh waktu berdua."


"Bisa nunggu Zia tidur dulu kok," kekeh Aish.


Asyraf memperhatikan sikap istrinya yang jauh berbeda dengan sikap mendiang. Menurutnya Aish terlalu pandai bersandiwara. Di hadapannya dia bersikap jutek tapi di depan kedua orang tuanya Aish bersikap manis sekali.


"Bener nih, katanya tadi Zia tanya soal anak. Nanti proses pembuatannya terganggu loh. Ayo lah Zia, kiat pulang. Kasihan tante Isha di rumah."


"Gak papa, Bu, Zia di sini aja. Aku juga kangen kok sama dia," kata Asyraf.


Aish melihat seringai di bibir sang suami. Dia tidak takut. Dia menerima tantangan itu dan ikut membenarkan perkataan suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu. Tapi Asyraf hati-hati loh! jangan sampe Zia lihat." Aqim mengingatkan anaknya, meskipun dia yakin kalau anaknya belum melakukan hal yang lebih jauh sebagai suami istri.


__ADS_2