
Juan tersenyum karena langkahnya kian dekat. Apa lagi saat ia bertemu tatap dengan ayahnya Isha. Dia yakin kalau pria tua itu akan meminta ia menikahi putrinya. Dengan senang hati ia akan mengiyakan. Karena menikah dengan Isha adalah jalan agar ia bisa dekat dengan Aish bahkan mungkin sampai merebutnya.
Perasaan cinta memang tidak mengenal siapa ia yang dicinta dan seperti apa statusnya. Hanya saja ada akal yang bisa digunakan untuk mengendalikan rasa itu. Tetapi banyak akal yang tidak digunakan oleh sebagian orang yang mendewakan cinta. Cinta bisa membuat yang waras hilang akal. Itu yang terjadi pada Juan.
Dia tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim tapi hatinya terus meminta agar Aish menjadi miliknya. Padahal sudah jelas Aish sendiri tidak melihat pada dirinya.
"Enggak, biar sopir yang mengantar Nak Juan. Sudah kamu berangkat saja."
Juan mengubur senyum. Dia salah menduga.
"Maaf ya Kak Juan." Isha menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil dan berangkat.
H. Aqim meminta sopir sang istri meminta untuk mengantarkan Juan tapi Juan menolak. "Gak usah repot-repot, Pak. Saya bisa pulang naik taksi dari sini."
"Tapi ...."
"Sungguh saya gak apa-apa."
"Maaf ya, Nak, saya melarang kalian pergi menggunakan satu mobil. Kalian bukan mahrom jadi saya pikir lebih baik menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ya saya yakin kamu tidak akan macam-macam tapi ini bisa jadi fitnah saat orang lain yang melihat."
"Iya, Pak. Maaf sudah mengganggu waktu sarapan anda, saya permisi dulu."
"Gak mau sarapan bersama?"
"Tidak pak saya juga harus bekerja."
"Oh baiklah terima kasih ya." Juan meninggalkan rumah Isha dengan perasaan kesal karena tidak sesuai keinginan. Ia harus lebih gencar lagi mendekati Isha.
Setelah tamunya tidak terlihat lagi, Aqim baru masuk dan melanjutkan sarapan bersama sang istri. "
"Anak kita sudah besar sekarang, dan seorang pria sepertinya sedang berusaha mendekati anak kita. Menurut Ibu apa kita harus menikahkan mereka?"
"Kalau sudah terlihat tanda-tanda cinta berbalut syahwat memang perlu dinikahkan. Tapi Bukannya Isha kemaren bilang belum ingin menikah."
"Iya tapi barusan kalau Ayah tidak keluar, mereka bisa pergi dengan satu mobil lagi. Yang ayah khawatirkan mereka tidak kuat menahan godaan syetan. Ujung-ujungnya mereka juga yang rugi," papar Aqim.
***
__ADS_1
Hans mengantarkan atasannya sampai ke ruangan padahal Asyraf menolak diperlakukan seperti itu. Sebelum memulai pekerjaan Asyraf menyempatkan diri menghubungi sang istri. Mengabarkan kalau ia sudah sampai. Tapi sampai tiga kali panggilan diulang, tidak ada satu pun panggilan yang diangkat. Dia coba sekali lagi tapi masih sama. ia pun mengirimkan pesan.
Assalamualaikum, istriku. Mas sudah sampai di kantor. Jangan terlalu capek ya di rumah.
Setelah pesan terkirim, Asyraf meletakan ponselnya dan membuka laci yang menyimpan foto masa remaja Aish. Dia hanya punya foto itu selain foto pernikahan. "Maaf ya," ucapnya sambil mengusap wajah Aish melalui foto.
Cinta belum ia berikan sepenuhnya pada Aish, tapi ia tidak menampik kalau bersama Aish dia merasakan ketenangan. Aish yang kadang-kadang bersikap tegas, lembut dan penyayang selalu memberi warna bagi hari-hari yang ia lalui.
Ia masukkan kembali foto sang istri ke dalam laci. Kembali melihat ponsel sekedar untuk melihat balasan dari sang istri. Nyatanya pesannya belum dibalas.
Ia pun memulai pekerjaan sampai tidak terasa waktu makan siang sudah tiba. Hans mengetuk pintu dan menanyakan atasannya akan makan siang di mana.
"Makan siang di sini saja, tolong disiapkan," jawab Asyraf.
Karena Aish tak kunjung membalas pesan yang ia kirim. Ia pun kembali menghubungi tapi masih sama tidak diangkat. Dia pun menghubungi telepon rumah.
Terdengar suara pekerja rumah dari seberang sana. "Bu Aish ada di rumah?" tanya Asyraf langsung pada inti.
"Ada, Pak, lagi tidur di sofa. Kelihatan ibu kurang sehat, Pak."
"Kurang sehat? tolong bangunkan Bu Aish dan kasih tau saya telepon. Saya matikan sambungan dari ini."
"Pak Asyraf barusan telepon dan menanyakan ibu," kata Teh Tika.
Aish mengangguk, rasa pusing masih terasa. Ia duduk lalu mengambil ponselnya di atas meja. Beberapa panggilan tak terjawab dari Asyraf dan pesan ia lihat. Dia hendak menghubungi kembali tapi Asyraf lebih dulu menghubungi memakai video call.
Wajah tampan nan rupawan langsung menyapa saat ia sudah menggeser ikon warna hijau.
"Sakit apa?" tanya Asyraf lembut.
"Mungkin asam lambung kambuh lagi, dari tadi mual dan kepala terasa pusing."
"Sudah minum obat?"
Aish menggelengkan kepala, dia termasuk golongan orang yang jarang minum obat.
"Kalau gitu aku pulang ya," kata Asyraf lagi.
__ADS_1
"Gak perlu, Mas. Kamu juga pasti masih banyak yang harus dikerjakan 'kan?" Aish memejamkan mata.
"Hans bisa menghandle pekerjaanku."
"Jangan terlalu sering membebankan pekerjaan kita pada orang lain. Mereka juga perlu waktu untuk keluarganya. Sudah mas lanjut kerja aja, nanti kalau aku kenapa-napa juga kan masih ada Teh Tika dan yang lain."
"Bener ya gak papa aku gak pulang?"
"Iya."
"Ya sudah jagan lewatkan makan siang ya. Aku tutup dari sini, Assalamualaikum."
"Waalaikum salaam." Panggilan berkahir.
Aish melirik jam, dia teringat kalau Zia seharusnya sudah ada di rumah. Ia bergegas bangun sambil menahan rasa pusing. Menanyakan sopirnya menjemput Zia atau enggak.
Deru mobil terdengar, tak lama disusul ucapan salam dari anaknya. "Bundaaaa ...." Zia langsung menghampiri, mencium punggung tangan Aish, kening, hidung, dan juga pipi lalu memeluknya. "Kangen bunda," ucap Zia.
"Bunda juga sama," balas Aish sambil membalas pelukan Zia. Anak sambungnya selalu bersikap manis, membuat rasa sayang Aish kian bertambah. "Ganti pakaian dulu yuk, nanti kita makan siang bareng."
Aish tak menghiruakan rasa pusing yang tak kunjung hilang. Ia membantu anaknya berganti pakaian lalu kembali ke maja makan.
"Nenek," teriak Zia girang dari arah tangga. Menghampiri neneknya dan dibalas pelukan oleh Salwa.
"Cucuku sehat?"
"Alhamdulillah."
Ternyata di meja makan sudah ada ibu mertuanya, "Ibu," sapa Aish. "Kok gak bilang mau kesini?"
"Ibu khawatir sama kamu, tadi Asyraf bilang kamu lagi sakit. Ya sudah Ibu kesini tadi ibu telpon Asraf karena mau ngajak kamu menjenguk teman ibu. Eh anak Ibu juga ternyata lagi sakit. Sudah baikan?" Salwa mengusap pucuk kepala Aish.
Ibu mertuanya selalu mamperlakukan Aish seperti anak sendiri. Dari sejak dinikahi anaknya Aish selalu mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu mertuanya. Itu salah satu alasan Aish bertahan dari awal pernikahan.
"Ya ampun, padahal hanya pusing loh aku, Bu" kekeh Aish lalu mengajak ibunya untuk duduk. Pun menarik kursi untuk Zia.
"Pusing juga sama sakit kan. Ayo makan dulu, nanti minum obat. Belum minum obat kan?"
__ADS_1
Aish tertawa pelan karena ibu mertuanya begitu perhatian.
"Ibu tanya mereka ya?" Aish malah balik bertanya.