Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 11


__ADS_3

Ponsel Isha jatuh dan menghantam lantai, ia yang tengah di pusat perbelanjaan dan tengah bicara melalui telepon harus bertubrukan dengan orang lain. Menyebabkan gerak reflek hingga ponselnya terlepas.


"Yaaa ponselku?" Isha seger mengambilnya.


"Maaf," ujar seorang pria tampan yang mengulurkan tangan pada Isha. "Saya tidak sengaja menabrakmu."


Tanpa menerima uluran tangan dari si pria, Isha bangun lebih dulu. Hanya mengangguk dan kembali berjalan. Sebagai seorang perempuan dia tidak ingin terlalu banyak interaksi dengan lawan jenisnya yang bukan mahromnya.


"Aku ke rumah sekarang ya." Ia kembali melanjutkan percakapannya di telpon. Segera ia memasuki mobil dan meluncur ke rumah kakaknya.


Para pekerja dadakan sudah selesai mengerjakan pekerjaannya dan mendapatkan bayaran yang sesuai dari Aish. Mereka pamit setelah bertukar nomor telpon agar memudahkan ketika Aish butuh mereka lagi.


Mereka berpapasan dengan Isha yang baru saja turun dari mobil.


"Mereka siapa, Kak?" tanya Isha yang baru datang.


"Orang yang membantu meringankan pekejaan di rumah, Sha."


"Kak Asyraf gak menyediakan pekerja? Keterlaluan dia, mau manisnya doang tapi tidak meringankan pekerjaan istrinya. Nanti aku laporan dia pada ayah ya."


Aish hanya tersenyum mendengar adik iparnya menggerutu. Berjalan lebih dulu ke tempat ia tadi menerima laporannya. "Tidak perlu, Sha kakakmu belum sempat saja."


Sebelum ditawarkan minum Isha lebih dulu mengambilnya. "Gak apa kan kalau aku ambil minum sendiri?"


Aish menoleh, "Ya gak papa lah, Sha. Anggap saja seperti di rumah Ibu. Oh ya ibu apa kabar? Kemarin gak sempat bicara banyak sama ibu."


"Baik sih kayaknya," jawab Isha setelah menenguk minumannya dalam tiga kali tegukan. "Kok gak ada cemilan?" tanya sambil emmbuak setiap lemari di dapur seperti di kebiasannya di rumah ibu.


"Belum belanja, niatnya mau nanti sore bareng ayahnya Zia."


"Tante Isha mah kebiasaan," celetuk Zia yang sejak tadi asik dengan dunianya sendiri.


Isha ikut duduk di sebelah Zia. Menggobrol ringan dan mengusulkan untuk belanja bersama. "Gimana, Kak?"


"Aku belum ijin sama Ayahnya Zia."

__ADS_1


"Biar aku telpon," ujar Isha sambil mengelurkan ponsel dari tasnya. Tiga kali terdengar nada tersambung tapi panggilan belum juga diangkat.


Asyraf yang tengah memandangi foto masa remaja istrinya melirik ponsel yang bergetar sejak tadi. Nama sang adik tertera di layar. "Kenapa, Sha?"


"Kak Asihwa di rumah gak? Aku mau ngajak dia beli kebutuhan kamar mandiku, Kak."


Aish melotot mendengar percakapan Isha dengan suaminya. Bisa-bisa Isha bertanya padahal orang yang dia maksud ada di sampingnya.


"Nanti saja sore, kakak juga jam lima pulang."


"Ish lama, kasihan kalau mereka kelaparan," balas Aish cepat.


"Ya sudah, Aish ada di rumah kok." Panggilan berkahir.


"Ih tante Isha bohong sama ayah." Zia bersidekap dengan melipat tangan di dada. Matanya dibuat melotot, tapi bukannya takut yang ada malah gemas.


"Tapi mau kan jalan-jalan sama tante Isha?" goda Isha sambil menggelitik keponakannya.


Zia tertawa karena geli, "ya sudah, aku mau deh," jawabnya tidak jelas.


Akhirnya mereka berangkat menuju pusat belanja terdekat. Obrolan ringan lebih di dominasi Isha yang terlihat kalem ternyata lebih rusuh. Apalagi saat saling menggoda antara keponakan dan tente.


Tiga keranjang troli penuh oleh kebutuhan tak lupa cemilan untuk Zia. Berbeda dengan keranjang Isha yang lebih banyak cemilan dibandingkan kebutuhannya.


Mereka saling bercanda tanpa menyadari ada yang tengah memperhatikan dari jauh.


Aish membayar semua yang ia beli menggunakan uangnya sendiri. Tidak menggunakan ATM yang dikasih suaminya kemarin. Entahlah, dia masih belum berani saja. Kemari dia mengatakan seperti itu karena tak ingin Asyraf lalai akan kewajibannya untuk memberi nafkah.


Sebelum pulang mereka menyempatkan membawa Zia untuk bermain sebentar baru lah mereka pulang.


Sampai di rumah Aish langsung membereskan belanjaannya. Zia dan Isha lebih banyak bercanda ketimbang membantu.


***


Jam sudah menunjuk pada angka lima, Asyraf bersiap pulang setelah menutup berkas terakhirnya. Dia melihat layar ponsel tapi tidak ada notifiksai pengeluaran dari kartu ATM yang diberikan pada Aish.

__ADS_1


Dia mengerutkan kening, tapi ya sudahlah. Sekarang saatnya untuk pulang. Saat turun ke lantai satu ia berpapasan dengan Nindy yang hendak naik.


Asyraf bersikap acuh tapi tiba-tiba Nindy menghentikan langkahnya dengan merentangkan tangan.


"Ada apa?" tanya Asyraf datar.


Hal tak terduga, Nindy malah memeluknya tiba-tiba. Asyraf terkejut dan langsung mendorong tubuh Nindy. "Apa mau kamu?" bentak Asyraf yang tidak suka dengan kelakuan Nindy. Menyesal hari itu dia tidak langsung memecatnya dari pekerjaan.


"Aku mau, Pak Asyraf. Aku suka sama kamu," balas Nindy. Tanganmu hendak kembali emnggapai tubuh Asyraf tapi lebih dulu ditepis.


Asyraf menyungingkan senyum mengejek. Tidak membalas perkataan Nindy dan ia turun lebih dulu dengan melangkah cepat menghampiri Hans yang masih duduk di meja kerjanya. "Pecat Nindy!" perintahnya pada Hans.


Hans yang hafal sikap Nindy tak banyak tanya, dia mengangguk mengiyakan.


Nindy yang mendengar, mengepalkan tangan. "Sia-sia aku merendahakan diri kalau aku tak mendapatkan kamu."


Setelah berbicara dengan Hans, Asyraf langsung memasuki mobil. Dia menghubungi telpon dirumahnya dan diangkat oleh Zia.


Dia mengusap dada karena sempat berpikir Aish yang akan mengangkat telponnya. "Ayah sampai di rumah tiga puluh menit lagi ya," ucapnya memberi tahu.


"Bunda, katanya ayah sampai di rumah tiga puluh menit lagi," teriak Zia dari dekat telpon rumah.


"Iya." Terdengar suara Aish oleh Asyraf sebelum panggilan ditutup.


Asyraf tidak mengerti perasaan apa yang tiba-tiba menyelundup ke dalam hatinya. Sejak beberapa hari lalu perasaan itu sering hadir secara tiba-tiba.


Bayangan Aish yang tengah menyisir rambut, dengan anting-anting panjang di telinga sang istri yang ia lihat secara tak sengaja selalu mengganggunya. Membuat ia berdebar dan ingin menyentuhnya. Asih menggunakan perihasan di alik kerudungnya.


Mobil segera melaju meninggalkan tempat parkir khusus untuk dirinya. Tanpa mempedulikan Nindy yang menatap kepergian mobilnya dengan tangan terkepal.


Selepas kepergian Asyraf dari hadapannya, Hans langsung berhadapan dengan Nindy. Pria itu menggelangkan kepala. "Sudah berapa kali ku katakan, Pak Asyraf bukan pria hidung belang yang mudah tergoda hanya dengan melihat belahan dada. Yang ada dia malah semakin tidak suka. Hari ini terkahir kamu kerja di sini. Segala hak kamu akan saya urus besok. Silahkan tinggalkan tempat ini."


"Cih, so alim. Munafik padahal kalau lihat ************ pasti tergoda juga," cibir Nindy yang langsung meraih tasnya dan meninggalkan tempat ia bekerja selama tiga tahun.


Ia menatap kepergian mobil Asyraf dengan segala sumpah serapah di dalam hati. Dia berjanji pada dirinya akan menaklukan pria seperti Asyraf. Tentunya dengan cara kotor yang menurutnya paling mudah. Buka kancing kemeja dan naikan roknya. Dia tersenyum membayangkan hari itu akan tiba.

__ADS_1


"Jangan sebut aku Nindy kalau aku tidak bisa menaklukanmu. Tunggu saja."


Bersambung ....


__ADS_2