Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 19


__ADS_3

Aish lebih dulu mengambil wudhu, menggelar sajadah yang tersedia dan memakai mukena. Menunggu giliran Asyraf.


Suaminya baru saja keluar dari kamar mandi. Tetesan air wudhu menambah kesan tampan pada pria itu. Hari ini serba manjadi yang pertama kali dalam kebersamaan mereka. Makan dari piring yang sama menggunakan sendok yang sama. Shalat berjamaah dengan Asyraf yang menjadi imam, dan mungkin nanti akan berbagi ranjang bersama, atau mungkin lebih dari itu.


Setelah mengucap salam, Asyraf berbalik menatap istrinya. Disambut tangannya yang langsung dicium oleh sang istri. Dia angkat dagu wanitanya agar tatapan mereka kembali bertemu. Tangannya ia ulurkan dan diletakan di ubun-ubun sang istri. Membacakan doa atas baikan dan keburukan yang dibawa olah sang istri. Pun dengan harapan penikahan mereka penuh berkah


Merdu suara sang suami membuat Aish terbuai sampai tidak sadar bibirnya dan bibir sang suami sudah menempel.


"Aku buka kerudungnya ya?" tanya Asyraf dengan senyum manis.


Aish mengangguk.


Pandangan Asyraf disambut pemandangan indah dari surai legam sang istri. Aish benar-benar penuh kejutan. Dibalik pakaian dan kerudung sederhana istrinya itu menyimpan keindahanan. Beruntungnya hanya Sastra yang dapat menikmati keindahan itu.


Ia bawa istrinya ke pembaringan. Ditatapnya kembali wajah yang merona di hadapannya. Mereka mulai menapaki perjalanan indahnya. Tentu Asyraf bertindak sebagai pemandu karena ia lebih pengalaman.


Asyraf mengajak Aish menengal anatomi dalam tubuhnya. Sesekali perempuan itu memejamkan mata menahan hantaman gejolak yang etah seperti apa bentuknya. Yang jelas hantaman itu terasa begitu mengikuti dan menggetarkan.


Deru nafas keduanya menandakan pendakian akan segera dimulai. "Kamu cantik sekali hari ini," puji Asyraf untuk menenangkan sang istri yang sesekali terlihat meringis.


"Bibit yang akan kutebar akan menjadi bibit unggul karena akan tumbuh diladang bidadari seperti mu."


Aish tak membalas setiap pujian Asyraf meskipun sedikit membuatnya tenang ketika dasyatnya gelombang kembali menerjang.


Tirai yang tak tertutup sempurna bergerak perlahan oleh tiupan AC dalam ruangan itu. Nyatanya angin itu tidak mampu meredakan keringat yang mulai membasahi keduanya.


Beberapa jejak perjalanan ditinggalkan oleh Asraf pada bukit indah yang amat mempesona. Sengaja ia tinggalkan jejak agar ia tak tersesat dan kehilangan arah.


Melodi alami dari bibir sang istri semakin menyulit kobaran asmara dalam diri Asyraf. Sampai akhirnya Aish memekik kala jalan lahir untuk bibit yang akan ditebar Asyraf terbuka.


Aish terengah kala ia lebih dulu sampai ke puncak perjalanan. Nyatanya perjalanan belum selesai karena ia harus membantu suaminya untuk sama-sama tiba dipuncak nirwana.

__ADS_1


"Terima kasih untuk hari ini dan hari-hari yang akan datang," ucap tulus Asyraf meski dengan nafas masih terengah kala ia berhasil menyusul sang istri dan menebarkan bibit unggulnya. "Anak kita akan bangga karena akan lahir dari perempuan sempurna sepertimu, Istriku." Sekali lagi kecupan hangat Asih dapatkan.


Keduanya sibuk menetralkan kembali nafas masing-masing. Saling melempar senyum tanpa melepaskan tautan tangan. Dunia benar-benar terasa milik berdua.


"Mas ...."


"Hmmm," jawab Asyraf yang mulaibmerasa kantuk setelah melewati perjalan yang indah.


"Hari ini sikapmu teramat manis. Bahkan lebih manis dari pada madu. Kalau boleh aku meminta, jangan pernah membawa madu pahit ke dalam pernikahan kita."


Asyraf membuka mata kembali, menatap manikyang juga tengah menatapnya sambil tersipu. "Tidak akan. Semoga Allah menjaga janjiku padamu." Kembali Asyraf dapatkan kecupan pada pucuk kepala sang istri.


Mereka terlelap setelah melepaskan hormon stres dan mengabaikan orang-orang rumah terutama yang mengkhawtirkan keberadaan Aish.


Salwa berkali-kali menghubungi nomor Asyraf tapi tetap saja tidak aktif. "Anak itu benar-benar keterlaluan. Sudah tahu istrinya hilang dia malah mementingkan pertemuan dan sekarang nomornya juga tidak aktif."


"Nomor kak Aish juga gak bisa dihubungi, Bu. Sulit sekali melacaknya," sahut Isha yang duduk sambil memangku laptop.


Tidak jauh beda dengan Abah. Cinta pertama Aish itu meminta para santri yang sudah dewasa dan memilki ilmu bela diri untuk membantu mencari putrinya. Hilal yang akan meminpin.


Mereka mulai menyusuri setiap tempat yang dipastikan biasa menjadi bescamp para bandit. Tentu mereka harus berhati-hati agar tidak memancing musuh yang bukan seharusnya.


Shela dan Hanif meminta izin masuk ke ruang pemantauan. Sayangnya tempat Aish dan Shela tidak terjangkau kamera pengawas.


Sampai Adzan ashar berkumdang, mereka belum menemukan titik terang atas keberadaan Aish. Mereka mulai cemas.


"Gimana?" tanya Abah dari seberang sambungan telpon dengan Hanif.


"Sulit, Bah. Tapi semoga saja Aish baik-baik saja," jawab Hanif. Dia memang tidak panik berlebihan seperti yang lain. Kakak sulung Aish itu yakin kalau adiknya akan baik-baik saja.


Orang-orang yang dibayar Haji Aqim pun mulai menyebar. Cara kerja mereka tentunya berbeda. Penuh kehati-harian serta pertimbangan dan tentunya mereka memilik strategi yang berbeda.

__ADS_1


Salah satu dari mereka pun bertanya pada Shela jam terkahir bertemu Aish. Kemudian meminta ijin pada pengelola kawasan belanja tersebut untuk kembali memeriksa kamera pengawas. Memutar kembali rekaman kamera pengawas pada waktu hilangnya Aish. Sampai akhirnya mereka menatap mobil putih yang lajunya berbeda dari dari yang lain.


"Pause, Pak." pinta orang surhan Aqim saat melihat mobil putih itu. "Bisa diperbesar?"


"Bisa, Pak." Meskipun terlihat buram tapi orang-orang Aqim itu pandai membaca nomor polisi pada mobil putih itu. Lalu orang itu menghubungi Aqim dan menanyakan nomor polisi mobil Asyraf.


Haji Aqim menyebutkan nopol mobil sang anak, "Benarkah menantu saya diculik suaminya?"


"Saya belum bisa memastikan, tapi kalau tulisan nopol ini benar. Itu artinya menantu anda diculik suaminya," kekeh Jon.


"Apa kata mereka, Yah?" tanya Salwa setelah suaminya menutup sambungan telepon.


"Kemungkinan Aish diculik suaminya," jawab Aqim datar dan duduk di sofa dekat Isha.


"Gak mungkin, tadi Asyraf bilang dia sedang menemui klien." Salwa menyangkal ucapan suaminya.


"Astagfirullah, kenapa kita gak tanya pada sekertarisnya kak Asyraf sih." Isha menepuk keningnya karena baru kepikiran.


"Coba kamu hubungi showroom, siapa tahu sekertarisnya belum pulang. Keterlaluan kalau Asyraf sampai mempermainkan kita." Rasa khawatir di hati Salwa mulai memudar kala mendengar ucapan Isha.


Tadi dia begitu panik sehingga tidak kepikiran menanyakan keberadaan putranya pada orang-orang yang dekat dengan sang anak. Itulah penting tidak terburu-buru. Pekerjaan yang terburu-buru adalah pekerjaan setan.


Hans, yang bersiap pulang, urung melangkah kala telepon berbunyi. "Halo selamat sore, dengan shooroom Al-Mustaqim ada yang bisa kami bantu?"


"Pah, Hans ini Isha-adiknya kak Asyraf. Apa kakak saya masih di kantor? Kak Asyraf hari ini ada pertemuan dengan klien mana saja ya?"


"Oh, Dek Isha, tunggu sebentar saya lihat dulu. Pak Asyraf sejak pertemuan dengan klien dari Angkasa Group belum kembali lagi ke sini. Dan hari ini jadwal pertemuan dengan kolega hanya dengan Angkasa group saja. Memangnya ada apa, Dek?


"Enggak, ini ibu ingin bicara penting sama kak Asyraf tapi ponselnya sulit dihubungi. Ya sudah pak Hans terima kasih infonya." Isha menoleh pada ibu dan ayahnya. "Kak belum kembali ke showroom setelah pertemuan dengan kliennya. Kata pak Hans hari ini hanya ada satu jadwal pertemuan dengan kolega."


"Keterlaluan kakakmu itu," dengus Aqim.

__ADS_1


Saat senja mulai kembali keperaduan ponsel di saku pria tua itu kembali berdering. Jon menghubunginya. "Ya gimana?"


__ADS_2