Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 31


__ADS_3

Asyraf menepis tangan Aish, lalu tersenyum sinis. "Gak usah merayu," ketusnya.


"Mas kalau may ngajak ribut, ayo kita pulang." Aish meraih tasnya dan berjalan lebih dulu disusul oleh Asyraf.


Asyraf semakin kaku, tapi Aish tidak. Sampai di rumah ia menjelaskannya. Bahkan bersumpah kalau ia tidak bertemu Juan.


"Pelaku kecurangan tidak pernah mau mengakui kelakuannya."


"Kamu gak percaya sama aku, Mas? Kenapa gak kamu lihat cctv di toko tadi," tekan Aish.


"Tidak perlu melihat cctv, Aish, karena tingkah kamu sudah menunjukan itu semua. Pertama kamu gak izin sama aku kedua aku melihat Juan keluar dari tempat kamu. Itu saja sudah cukup membuktikan. Oh iya beberapa hari yang lalu kamu juga menahan aku saat akan memberi tahu ayah dan ibu soal surat itu. Apa itu tidak cukup membuktikan?"


Aish menggelengkan kepala, tidak menyangka bahwa Asyraf memiliki pemikiran sejauh itu. Padahal dia sendiri sudah berusaha menjaga diri dari pria yang bukan suaminya. Bukan hanya Juan saja.


"Baik. Silahkan kamu bersikukuh dengan pemikiran kamu yang seperti itu. Tapi aku minta, pulangkan aku pada Abah."


Ponsel Asyraf berdering tapi tidak dihiraukan. "Kamu minta dipulangkan? Karena kamu ingin lebih dekat dengan dia iya kan?" Asyraf bicara dengan nada tinggi.


Aish memejamkan mata, ini kali kedua Asyraf bicara dengan nada tinggi. Ia duduk di tepi kasur menahan agar air matanya tidak jatuh. Begitu juga Asyraf yang menyadari ucapannya.


Bukan hanya ponsel Asyraf yang berdering tapi juga milik Aish. Perempuan itu segera merogoh ponselnya. Menatap layar yang menampilkan nama ibu mertuanya. Iya segera menjawab panggilan itu. "Assalamualaikum, Bu." Aish berusaha menekan suaranya agar tidak bergetar.


"Aish apa Asyraf di rumah, Nak? Ayah menghubunginya tapi tidak dijawab."


"Mas Asyraf ada di rumah, Bu. Apa ada hal ganting, Bu?"

__ADS_1


"Iya, bisa ibu bicara sama dia nak?"


Aish langsung menyodorkan ponselnya pada sang suami. "Ibu," ucapnya.


Setelah bicara dengan Salwa, Asyraf meraih kunci mobil dan keluar dari kamar. Tak lama dia kembali lagi dan berkata pada Aish, "jangan pernah ke luar rumah tanpa izinku lagi. Urusan kita belum selesai."


Aish tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia memilih untuk tidak mencari tahu. Hari ini dia cukup lelah dengan segala tuduhan dari suaminya. Didiamkan selama beberapa hari lalu kembali bicara dalam pertengkaran membuat tubuhnya terasa lelah. Dia menunaikan kewahibannya lebih dulu kemudian merebahkan tubuh tanpa ingin memikirkan hal lain. Dia hanya ingin tidur untuk saat ini.


Asyraf melajukan mobil menuju alamat yang disebutkan oleh sang ayah. Memarkir mobil, kemudian berjalan tergesa agar segera bertemu dengan orang tuanya. Lalu lalang orang membuat Asyraf sulit melangkah lebih cepat


Beberapa orang yang dilaluinya terdengar menyebut nama Isha. Asyraf akhirnya sampai di sebuah ruangan di mana di bagian pintu orang-orang yang membawa kamera. Beberapa orang termasuk adik dan orang tuanya ada di sana. Begitu juga lelaki yang membuat ia dan istrinya bertengkar.


"Ada apa ini, Ayah?" tanya Asyraf setelah kembali menutup pintu.


"Duduk, Nak! Kita akan bicara tentang adik kamu dan Juan. Silahkan nak Juan bicara." Aqim memberi kesempatan bicara lebih dulu.


Aqim mengangguk, lalu menatap putrinya. "Mau tidak mau kami harus menikahkan kalian ...."


"Enggak, Yah. Lagi pula kita tidak melakukan apa pun," tolak Isha.


"Isha dengarkan ayah dulu, Nak. Kita tidak bisa mengontrol opini publik jika sampai berita ini tersiar. Ayah bukan hanya melindungi nama baik kita, tapi ayah melindungi agama kita. Saat seorang perempuan berhijab syar'i kepergok tengah berdua dengan laki-laki yang bukan mahromnya maka bukan hanya kamu yang akan mendapat cacian. Tapi orang akan memandang buruk agama kita, Nak."


"Tapi Isha gak mau menikah dengan orang yang gak kita cintai, Bu." Isha meminta pertolongan dari ibunya.


"Ayahmu benar, Nak. Lagi pula kalau ibu lihat nak Juan tidak buruk untuk dijadikan suami." Salwa menatap putrinya meyakinkan kalau keputusan sang ayah adalah jalan terbaik.

__ADS_1


"Tolong maafkan kelakuan anak kami, Pak Aqim. Kami kira dia tidak akan berusaha lebih setelah putri anda menolak," ujar Pak Hamdan-ayahnya Juan. "Harusnya kamu tahu diri, Nak, setelah ditolak." Pria itu menatap putranya.


Asyraf belum bicara, dia hanya berusha menyimak dengan baik juga memperhatikan wajah Juan.


"Saya hanya ingin meyakinkan Isha bahwa saya tidak main-main, Pa. Saya ingin dia tahu bahwa saya memang menginginkan dia," tekan Juan.


"Ya, saya paham gelora anak muda. Maka dari itu saya merestui kamu. Pak Hamdan?" Aqim menatap parang tua Juan.


"Saya percaya keputusan yang anda ambil adalah yang terbaik, tapi putri anda?" Pak Hamdan merasa tidak enak hati atas sikap nekad sang anak.


"Jadi gimana, Pak Aqim? Di luar wartawan sudah tidak sabar ingin mendapatkan informasi." Seorang dosen yang menjadi penangung jawab seminar ikut bicara.


"Katakan kalau mereka sudah tunangan dan minggu ini mereka akan menikah," perintah Aqim.


Juan tersenyum karena rencananya berhasil. Jalan untuk mendapatkan Aish kian terbuka.


"Asyraf gimana?" tanya Aqim.


"Ayah sudah memutuskan. Aku ikut saja pada keputusan, Ayah." Terlambat kalau sudah memutuskan baru meminta pendapat. Asyraf hanya berharap Juan bukan petaka untuk pernikahannya dengan Aish.


Setelah sepakat akan menikahkan Isha dan Juan, mereka pun menemui wartawan yang sejak tadi berkerumun. Bahkan membuat petugas keamanan kewalahan. Mereka mengumumkan bahwa Isha dan Juan akan menikah dalam waktu dekat. Mereka mengatakan rencana pernikahan ini bukan sudah dari beberapa hari yang lalu saat Juan melamar Isha.


Asyraf tidak ikut bicara tapi menarik Juan merajuk dari wartawan. Membawa lelaki yang akan menikahi adiknya ke lorong yang sepi. "Saya akui kamu pandai menyusun strategi untuk mendapatkan istri saya. Tapi pegang kata-kata saya, saya tidak akan melepaskan istri saya begitu saja. Dan saya juga tidak akan membiarkan kamu menyakiti adik saya."


Juan tersenyum santai, "waw ternyata begini isi pikiran seorang Pak Asyraf. Menuduh tanpa bukti. Anda pernah melihat saya menggangu istri anda? Tidak kan. Saya bahkan lebih berjuang untuk mendapatkan adik anda. Tidak berjuang lebih untuk istri anda. Lihat saya bahkan membeli cake kesukaan adik anda."

__ADS_1


Juan mengatakan demikian karena saat keluar dari toko milik Aish dia melihat mobilnya Asyraf.


__ADS_2