
Nekad. Itulah yang terjadi pada Juan. Karena cinta yang berubah jadi ambisi, dia meninggalkan segala cara termasuk mendatangi orang tua Isha. Dia mengatakan kalau dirinya begitu tertarik dengan Isha dan berharap kalau keluarga si perempuan akan menerima. Bahkan membawa orang tuanya turut serta.
Aish dan Asyraf saling tatap, lalu ikut bergabung.
"Ini Nak Juan datang bersama orang tuanya ingin meminta Isha," kata Haji Aqim.
Asyraf mengangguk dan tersenyum. Dia tidak menyangka kalau Juan akan senekad itu demi rasa bernama cinta. Asyraf lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan gerak gerik Juan. Dia sengaja tidak melepaskan genggam pada tangan Aish agar Juan sadar bahwa cinta yang ia punya hanyalah ambisi belaka.
"Ini Aishwa 'kan?" tanya ibu Juan.
"Iya, Bu." Aish mengangguk sungkan.
"Masya Allah ternyata jadi mantunya Pak Haji ya. Abah sehat?"
"Alhamdulillah sehat." Aish menoleh pada Asyraf yang juga tengah menatapnya. Aish tidak mengerti tatapan itu, lagi pula dia hanya menjawab pertanyaan. Bukan sengaja ingin berbincang dengan mereka.
"Oh jadi Aish sama nak Juan sudah saling kenal?" tanya H. Aqim menatap tamu juga menantunya.
"Teman masa kecil, Pak Haji," jawab Juan dan melirik Aish.
"Begitu rupanya. Nak Juan kami tidak bisa memberikan jawaban langsung atas pinanganmu pada putri kami. Kamu harus memastikan Isha-nys lebih dulu. Takutnya kalau kami asal menerima, nantinya nak Juan yang merasa tersakiti karena sikap putri kami." Haji Aqim sangat hati-hati dalam bicara.
"Kami paham, Pak Haji. Silahkan bicarakan dulu dengan yang bersangkutan. Karena biar bagaimana pun putra kami dan putri anda yang akan menjalani. Tapi sungguh dalam hati kami menginginkan Nak Isha jadi menantu di rumah kami," balas pak Hamdan-ayahnya Juan.
Pak Hamdan menatap jam tangannya, "saya rasa pertemuan ini sudah cukup. Kami sudah menyampaikan niat dari putra kami, Juan, tinggal menunggu jawaban dari nak Isha saja. Kalau begitu kami pamit, Pak Haji."
"Silahkan-silahkan, terima kasih untuk kunjungnnya." H. Aqim dan Salwa mengantuk tamunya sampai ke depan pintu. Lalu kembali menemui Asyraf dan Aish.
__ADS_1
"Tumben, siang-siang mampir?" Salwa lesi dulu bertanya dan duduk di dekat zang menantu.
"Iya tadinya kita mau menyampaikan kabar baik pada ayah dan ibu," balas Asyraf.
"Apa itu?" kali ini H. Aqim yang penasaran.
"Kita diberikan rezeki berupa anak, Ayah. Zia akan menjafi kakak," tutur Asyraf.
"MasyaAllah, kalian sudah cek?" tanya Salwa.
"Tadi pagi sudah, dari kemarin aku udah feeling kalai sakitnya kayak gitu gak menutup kemungkinan kalau istriku tengah hamil." Setiap bicara Asyraf selalu menatap sang istri. Dia berusaha membuat Aish merasakan cinta darinya meski tetap belum utuh.
"Deg-degan, Bu. Aku pikir kok cepet banget gitu kan nikahnya baru beberapa bulan aja," ujar Aish.
"Cepat atau lambat itu adalah ujian, Nak. Allah mengetahui pa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Ini jalan untuk kalian tambah rekat. Tambah romantis dengan adanya titipan ini." H. Aqim mampu membaca keresahan menantunya.
"Ayah dan ibu akan tetap menerima lamaran dari Juan?" tanya Asyraf.
"Iya sih aku berharap Isha menolak," jujur Asyraf. "Aku gak yakin dia benar-benar mencintai Isha. Aku merasa dia punya niat terselubung."
"Mas, ...." Aish menggelangkan kepala takut Asyraf keceplosan tentang surat atas nama Juan. Itu belum tentu Juan yang kirim. "Kamu yang mengajarkan aku untuk tidak berprasangka buruk."
Asyraf menyipitkan mata, tidak suka Aish seperti tengah membela Juan. Asyraf memaksakan untu tersenyum kemudian mengajak sang istri untuk istirahat di kamarnya.
Aish langsung merebahkan tubuh tapi Asyraf malah termenung di sampingnya. "Mas?" Aish bangun dan menyentuh pundak sang suami.
"Kamu sedang membalas aku Aish?" Juan bicara dengan nada yanh datar. Menatap dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Aku gak mengerti maksud kamu, Mas. Katakan salahku di mana?"
"Tadi kamu memintaku untuk tidak mengatakan tentang surat Juan kan. Kamu ingin melindungi dia, dan bisa menikah dengan Isha. Itu artinya kalian punya kesempatan untuk dekat. Iya kan?" tuding Asyraf.
"Gak gitu maksud aku, Mas. Aku takut kamu salah menuduh, ...." Belum Aish selesai bicara Asyraf sudah memotong ucapan sang istri.
"Menuduh? Surat itu terselip di kusen jendela kamar kamu. Dan nama pengirimnya jelas. Juan. Kamu membela dia karena ingin membalasku atas kejadian tadi pagi kan? Terserah kalau kamu inginnya begitu. Balas aku sesuka hatimu Aish." Asyraf tersinggung oleh sikap Aish padahal istrinya bermaksud baik.
Asyraf mendiamkan Aish bahkan sampai mereka pulang ke rumah bersama Zia. Aish berusaha untuk tetap sabar, tetap melayani meski diabaikan. Bahkan ketika malam tiba Asyraf tidak tidur di kamar mereka.
Aish turun dari ranjang dan mencari keberadaan sang suami. Di lantai satu tidak ada dia naik ke lantai dua. Dia masuk ke dalam kamar yang pernah menjadi kamar sang suami. Dia melihat tubuh sang suami meringkuk di atas sofa.
Aish hendak membangunkan agar sang suami pindah ke tempat yang nyaman tapi ia urung melakukannya saat melihat sebuah pigura di dekapan sang suami. Dia mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh suaminya.
Ia kembali ke dalam kamar membawa sesak yang diberikan Asyraf. Ia menatap langit-langit kamar, mengussp perutnya. Tanpa di duga air mata jatuh saat ia mengedipkan mata.
Ia pun tidur dalam keadaan hati yang gundah. Bisakah ia bertahan lebih lama lagi. Haruskah ia pergi? tapi itu terlalu egois jika anak yang masih di dalam perutnya dijauhkan dari sosok ayah.
Sudah tiga hari Asyraf mengunci mulut dan semakin membuat Aish merasa sesak. Saat hamil muda seharusnya ia mendapatkan kasih sayang lebih tapi ini malah sebaliknya. Ia menjalani fase awal kehamilan seperti orang yang tidak memilki suami.
Ia harus menahan keinginan saat tiba-tiba suatu malam ia menginginkan makanan tertentu. Ia tidak mungkin meminta pada Asyraf yang tengah marah pada dirinya.
"Bunda sama ayah kok diem-diem terus," tanya Zia, merasa tidak nyaman dengan keadaan.
Aish tersenyum dan mengusap pucuk kepala seng anak, "Ayah lagi saum."
"Saum apa bunda? Memangnya ada ya saum tapi boleh makan?"
__ADS_1
"Ada, namanya saum bicara. Seperti yang dilakukan oleh ibundanya nabi Isa a.s"
"Oh gitu?" Zia menagguk-mengangguk dan terlihat lucu di mata Aish. Dia membantu Zia turun dari kursi setelah sarapan selesai. Aish tidak lagi berusaha bicara dengan sang suami, toh percuma karena tidak pernah dibalas.