Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 21


__ADS_3

"Tadi ngobrol sama siapa Sha? Kamu sudah punya pacar."


"Apaan sih, Kak. Mana ada aku punya pacar, lagian barusan itu gak sengaja itu orang ketabrak sama aku."


"Masa sih?" Asyraf mengerutkan kening.


"Kalau pun pacar ya langsung dikenalin aja, Sha!" Asih tidak mau kalah menggoda.


Isha hanya menepis angin sambil menggelengkan kepala pelan.


Mereka pun berpisah di tempat parkir, karena pas datang pun tidak janjian. Hanya kebetulan bertemu saja.


Satu bulan pernikahan telah terlewati. Aish dan Asyraf semakin akur. Kadang saat libur Asyraf pun tak segan membantu pekerjaan sang istri di rumah. Sekarang tidur pun di satu ranjang yang sama.


Foto-foto mendiang Syfa mulai ditinggal dan disimpan di gudang. Asyraf menatap foto perempuan yang pernah singgah dalam kehidupannya.


Aish menyusul Asyraf ke gudang dengan maksud ingin memberi tahu ponselnya terus berbunyi. Ia mematung di belakang sang suami yang menatap foto almarhum penuh rindu. Ia juga menyaksikan suaminya mengusap sudut mata. Disitulah ia menduga bahwa cinta sang suami belum tumbuh untuknya.


Lalu apa arti dari perlakuan Asyraf selama ini? Mungkin itu bentuk tanggung jawabnya yang bisa ia tunaikan sebagai suami.


Ternyata kehadiranku tak cukup mengobati lukamu.


Aish berbalik dan memilih menunggu suaminya di sofa. Dia menelisik diri sendiri dari kaki hingga bagian yang bisa ia jangkau dengan pandangannya.


"Aish?" Tepukan Asyraf pada pundaknya menarik kembali kesadaran Aish.


"Ya?"


"Mikirin apa sih istriku ini?"


"Mikirin apa ya, aku juga bingung." Seperti biasa Aish memang pandai menyembunyikan perasaannya. Ia mampu tersenyum meski sembilu menyayat hati. Aish seperti seorang aktris profesional.


"Hei!' Asyraf mengangkat dagu Aish, "katakan, apa aku menyakitkan?"


Aish terkekeh, "menyakiti apa? Aku juga merasa baik-baik saja."


"Jangan sembunyikan apa pun dariku. Katakan apa yang kamu tidak suka dariku agar aku memperbaikinya." Asyraf tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Dari awal pernikahan ia sudah memperhatikan sikap sang istri. Perempuan yang tengah duduk dihadapannya terlalu pandai memainkan karakter yang berbeda dalam waktu bersamaan.


"Beneran enggak ada, Mas. Eh jemput Zia di rumah ibu yuk, sekalian jalan-jalan."

__ADS_1


"Boleh, yo bersiap."


Asyraf bangkit lebih dulu untuk mengambil kunci mobil. Sedangkan Aish memejamkan mata sambil menghela nafas.


Ikhlas Aish, ini kan pilihan kamu untuk tetap bertahan.


Kalau gak kuat ya mundur aja Aish. Jangan buang-buang waktu berbakti pada suami tidak tahu terima kasih.


Jangan salah Aish, dia juga sedang berusaha mencintai kamu. Pantaskah kamu cemburu pada orang yang sudah tiada?


Aish terus bermonolog sampai Asyraf kembali menghampiri. "Loh kok belum siap?


"Gara-gara kamu, Mas."


"Kok?"


"Kamu terlalu menarik untuk tidak diperhatikan. Aku selalu terpesona setiap waktu bahkan dalam keadaan apa pun," jawab Aish.


"Termasuk saat aku gak pake baju?" Asyraf menarik turunkan alisnya menggoda.


"Ish, aku ganti kerudung dulu ah," ucap Aish sambil beranjak tidak mempedulikan suaminya yang terkekeh.


"Bundaaa!" Zia berlari ke arah datangnya mobil sang ayah. "Bunda aku punya mainan baru," lapor Zia.


"Wah dari siapa?" tanya Aish sambil mensejarakan tubuhnya dengan Zia. Dia selalu bersikapbantisias agar sang anak nyaman bercerita ke padanya. Ini merupakan bounding Aish.


"Dari tante Isha, katanya dari temannya."


"Iya, Sha?" tanya Asyraf pada Isha yang ikut menyambut di depan pintu.


Isha mengangguk tapi enggan memberikan jawaban. Asyraf mengikuti langkah Isha sedangkan Aish langsung bergabung dengan ibu mertuanya. "Gimana kamu sama Asyraf, dia dzolim lagi?" Salwa langsung mengintrogasi menantunya.


"Lebih tepatnya bukan dzolim sih, Bu. Waktu itu aku sama mas Asyraf belum saling mengenal dengan baik. Pun tidak menyadari perasaan yang sesungguhnya. Kan nikahnya dadakan. Tiba-tiba ibu sama ayah datang bawa rombongan." Aish tertawa pelan.


Salwa tersenyum dan mengusap Aish penuh kasih sayang. "Iya ya, padahal saat itu bisa saja kamu menolak. Secara agama kami masih ajah di bawah kalian."


"Ibu ...." Aish merasa tidak enak hati, "kita itu sama, sama-sama belajar. Aish justru banyak belajar dari ibu. Ibu adalah perempuan yang luar biasa, dan aku adalah perempuan beruntung yang memiliki mertua seperti ibu."


Salwa mencubit pipi Asih, "kamu terlalu pandai membesarkan hati orang, Nak. Aku tidak sebaik itu." Salwa memeluk menantunya. Aish mungkin bisa mengelabui orang lain melalui senyum yang selalu ia tebar. Akan tetapi sesama perempuan, Salwa bisa melihat sorot kosong dari tatapan Aish. "Jangan takut menyampaikan keluhan pada ibu, Nak. Sampaikan saja andai itu tentang suamimu. Aku tidak akan mebenarkannya jika ia salah."

__ADS_1


"Insyaallah, Bu. Tapi Alhamdulillah sejauh ini mas Asyraf bersikap manis sekali. Bahkan aku selalu merindukannya dalam setiap detak."


Di area taman Isha terkejut saat membalikan badan. Ia tidak tahu kalau ternyata Asyraf mengikuti. "Loh kok ngikutin aku?" tanya Isha.


"Kangen ngobrol aja sama kamu. Dah lama ya kita gak ngobrol begini."


"Iya lah, pertama kaka sibuk meratapi nasib setelah kepergian kak Syfa, terus bucin sama kak Aish."


Asyraf mengangguk-angguk, "gitu ya?"


"Ya."


"Kamu merasa kahilangan momen ga waktu kakak begitu?"


"Jelas lah, Kak. Banyak banget yang ingin aku ceritakan sama kakak."


Asyraf berhasil memancing sang adik, "salah satunya?"


Isha menoleh ke arah pintu, "soal laki-laki." Ia mengerutkan kening saat kakaknya malah tertawa. "Nyebelin lah kakak ini."


"Oke, oke terus gimana?" Asyraf membenarkan posisi duduk siap menjadi pendengar yang baik bagi adiknya.


"Ada nomor asing yang terus mengirim pesan perhatian, dan aku yakin ini nomor laki-laki. Masalahnya aku gak tahu laki-laki ini serius apa enggak."


"Coba aja kamu balas, terus tes keseriusannya. Minta laki-laki itu mengahadap ayah."


"Terus kalau ayah tiba-tiba memutuskan kami harus nikah gimana?"


"Ya tinggal nikah lah."


Isha memberengut mendnnegar jawaban dari snag kakak. Ia belum siap untuk melepas mas lajang. Lagi pula usianya juga baru saja menginjak 22 tahun. Rasayan terlalu muda untuk menikah.


Mereka pun bercerita tanpa panjang lebar dan diselingi canda tawa. Tidak kalah seru dari mereka yang di dalam.


Hari semakin sore, mereka pun pamit karena seperti tujuan awal. Mereka akan pergi jalan-jalan sore. Menikmati akhir pekan di taman kota.


Zia begitu girang saat mobil menepi di bahu jalan yang digunakan sebagai tempat parkir. Asyraf turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri.


Lihat Aish dia begitu manis. Tidak perlu lah kamu merisuakan dan mengharapkan ungkapan cinta. Toh suamimu berusaha untuk menyenangkanmu.

__ADS_1


Aish bermonolog sampai seseorang menabraknya dan membuat Aish limbung. Mata Aish membulat.


__ADS_2