
Aish menyiapkan masakan untuk makan malam ditemani Zia yang menikmati cemilan.
Aish melirik pintu kamar Asyraf yang tak kunjung di buka. Sudah waktunya makan malam tapi suami kakunya tak kunjung turun.
Tak kehabisan akan, Aish menggunakan Zia agar Asyraf turun. Ya meskipun Asyraf sikapnya menyebalkan dia tetap suami Aish. Meskipun belum mendapatkan cinta dari sang suami tapi Aish tetap harus berbakti, tidak boleh mengabaikan suaminya.
"Panggil ayah untuk makan yuk!"
"Ayo." Zia semangat dan turun dari kursi, berlari ke arah tangga menunggu kamar Asyraf. Aish mengikuti di belakang.
"Ayah, ayah ayo makan." Tidak ada sahutan dari dalam.
"Panggil lagi!" seru Aish pelan. Tidak ingin Asyraf mendengar suaranya.
"Ayaaaaahh, ayaaaaaaahhh ayah ayo makan. Aku lapar ayaaahhh. Ayaaaahh!" Masih tidak ada jawaban.
"Mas Asyraf," panggil Aish sambil mengetuk pintu. "Makan malamnya sudah siap. Mas!" Masih sama, pintu itu masih tertutup rapat.
"Ayah tidur kali bunda."
"Iya mungkin, ayo kita turun."
Kalau menunggu Asyraf turun, Aish kasihan Zia. Perut anak kecil tidak sama dengan perut orang dewasa. Akhirnya memilih untuk makan malam lebih dulu.
Aish sudah beres makan dan mencuci bekas makannya, tapi pintu kamar sang suami masih tetap sama.
Makanan yang belum habis Aish simpan di dalam kulkas. Dia juga menuliskan note yang ditempel di pintu lemari pendingin.
"Makanannya aku masukan ke dalam kulkas, kalau lapar bangunkan saja aku. Kalau enggan membangunkan bisa dihangatkan di microwave."
***
Selesai makan Aish menemani Zia belajar. Sesekali Zia juga cerita tentang teman-temannya di sekolah.
"Oh ya begitu?" tanya Aish antusias. Dia ingin Zia merasa nyaman dengan dirinya dan tak menjadi asing walau tidak ada ikatan darah.
"Iya bunda, terus Jihan marah sama aku. Katanya Noufal itu pacaranya Jihan."
"Eh kok sudah tahu pacar?"
"Kata Jihan gitu. Mungkin Jihan, juga pacar aku kan sering main bersama. Alia juga, Nara juga, Emmely juga. Begitu kan bunda?"
"Bukan sayang, mereka itu teman. Pacar itu tidak ada, ingat ya tidak ada dan tidak boleh."
"Kenapa tidak boleh?" tanya Zia lagi.
__ADS_1
"Karena nanti Allah marah. Kalau Allah marah nanti Zia tidak disayang lagi sama Allah. Mau?"
Zia menggelengkan kepalanya tampak lucu sambil bilang gak mau.
Jam sudah menunjuk angka sembilan, Asyraf tak kunjung turun. Ah mungkin sang suami masih marah pada Aish.
"Zia tidur yuk sudah malam."
"Bobonya berdua lagi?"
"Zia mau sendiri?"
"Enggak, mau sama bunda aja."
Aish membawa jia masuk ke dalam kamar. Tidak lupa dia juga memastikan pintu dan jendela lebih dulu. Sekali lagi ia melirik pintu kamar sang suami.
***
Bukannya tak mendengar panggilan dari anak juga istrinya. Asyraf mendengar tapi enggan untuk bangun dari posisinya.
Dia menatap foto sang istri yang masih di pajang. Mengurai rindu lewat angan. Mengenang kembali kebersamaan mereka dari awal bertemu sampai akhirnya perpisahan yang meninggalkan luka.
Tak sadar matanya mulai menutup dan dia terlelap dalam tidurnya. Mengabaikan makan malam yang sudah Aish siapakah dengan sukarela.
***
Mungkin dia ketiduran, tapi kalau aku bangunkan marah gak ya?
Masa bodo dia akan dimarahi atau tidak, tapi dia tidak ingin sang suami mengabaikan perut yang sudah pasti demo meminta diisi.
"Mas Asyraf," panggil Aish sambil mengetuk pintu, "Mas kamu gak makan? Mas?" Sudah tiga klau Aish mengetik pintu tapi masih sama.
Aish menyerah dan kembali ke dalam kamar. Masuk kedalam selimut dan memeluk Zia. Hingga kantuk kembali mengharapkan dirinya ke alam mimpi.
Sampai Aish bangun kembali keadaan dapur masih sama. Aish menyiapkan sarapan, memabngunkan Zia dan membantu anaknya bersiap.
Pukul setengah enam Asyraf baru bangun. Perutnya terasa sakit karena semalam dia mengabaikan makan malam.
Duh kesiangan, gegas dia menunaikan kewajibannya terlebih dulu. Masalah diterima atau tidak yang penting ditunaiakan dulu.
Saat mandi tubuh air yang menyentuh kulit terasa begitu dingin. Ia tetap bersiap karena cuti kerjanya hanya empat hari.
"Pagi ayah," sapa Zia yang tengah nikmati sarapan yang dibuat oleh Aish.
"Pagi," balas Asyraf pelan.
__ADS_1
"Kamu sakit mas?" tanya Aish melihat ada yang berbeda dari suaminya.
"Enggak, hari ini aku masuk kerja. Kamu di rumah kan?" Meski dalam keadaan tidak enak bada Asyraf tidak bisa mengesampingkan perasaannya lebih dulu. Seharunya dia bisa merasakan ketulusan Aish.
"Aku tidak akan kemana-mana tanpa izin darimu."
Asyraf hanya menyuapkan beberapa sendok sarapannya. Salah sendiri dia mengabaikan perut padahal dia tau kalau dia memiliki riwayat asam lambung.
"Dah bunda," ujar Zia kala mobil Asyraf mulai melaju dan meninggalkan Aish yang memejamkan di depan pintu.
"Baiklah kita bertempur dengan rumah Aish," ujar Aish menyingsingkan lengan baju.
***
Asyraf keluar dari mobil dengan kepala yang teramat pusing. Tubuhnya serasa tidak bertenaga. Ia masuk ke ruang kerja dan meminta Nindy membelikan obat pereda sakit kepala.
Nindy mengetuk pintu rung kerja Asyraf dan membawa obat yang diminta. Sempat dipersilahkan masuk oleh Asyraf tapi sekektika lelaki itu berteriak menyuruh Nindy keluar.
Hans yang mendengar teriakan Asyraf berlari menghampiri. Menatap Nindy yang tengah membetulkan kancing bagian atasnya.
"Kamu tidak dengar pak Asyraf memintamu keluar?" Hans menatap dengan sorot tajam.
Nindy menatap Asyraf yang memijit kepalanya sendiri. Sial niatnya hendak menggoda tapi malah diusir.
Hans menghampiri Asyraf yang terlihat tidak-baik saja. Benar seketika Asyraf jatuh pingsan di tempat duduknya. Hans langsung membawa Asyraf ke rumah sakit.
Dokter mengatakan asam lambung Asyraf kumat lagi.
"Seneng banget nyiksa diri sendiri," ujar Hans saat menemui Asyraf yang sudah sadarkan diri.
"Semalam ketiduran, jadi mengabaikan makan malam."
"Istrimu tidak membangunkan?"
"Mungkin membangunkan, hanya saja aku terlalu nyenyak tidur," balas Asyraf. Dia memang sempat mendengar Aish dan Zia memanggil untuk makan malam. Tapi ia absi dsn memilih meratapi kepergian istrinya.
"Setelah cairan infus habis, aku akan mengantarmu pulang. Dokter bilang tidak perlu dirawat. Hanya perlu menjaga pola makan saja dan habiskan obat yang sudah diresepkan."
Ish yang baru saja duduk setelah membersihkan rumah harus bangkit kembali kala bel rumah berdenting. Cepat dia kenak kembali kerudung intan yang sempat dilepas.
"Asyraf sakit." Hans memberitahu kala pintu sudah dibuka oleh Aish.
"Ayo bawa masuk, mau langsung istirahat di kamar atau di sofa dulu?"
"Sofa aja," balas Asyraf dengan nada lemah.
__ADS_1