Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 14


__ADS_3

Setelah menyiapkan hidangan di atas meja, Aish memeriksa anaknya sekaligus memanggilnya. Zia keluar dari kamar dan menyapa ibu sambung dengan kalimat manis. "Pagi bunda cantik."


"Ah manisnya. Sudah rapih rupanya anak bunda."


"Sudah dong, kan kakak mau punya ade."


"Eh kok bilang gitu."


"Tante Isha yang bilang kemarin."


Rupanya ini kerjaan Isha. Aish tidak tahu saja suaminya sudah dilabrak oleh adik iparnya.


Semua sudah kumpul di meja makan, sebekum saarapan di mulai Aish meminta ijin pergi ke tempat kerjanya. Semalam dia membuka ada email masuk dari usaha yang ia rintis.


"Kamu gak kuliah, Sha?" tanya Asyraf


"Kuliah tapi nanti jam dua."


"Kalau gitu kamu temani Aish, biar Zia kakak yang antar."


"Oke."


Setelah sarapan semua kembali pada aktifitas masing-masing. Asyraf setelah mengantar Zia ke sekolah langsung ke showroom. Rencananya nanti siang dia ada pertemuan dengan relasi bisnisnya.


Aish ditemani adik iparnya. Bahkan saat ia sudah tiba di tempat usahanya adik iparnya malah betah dan akan menemani sampai selesai.


Tak ambil pusing, toh Isha bukan anak kecil yang masih merepotkan. Aish meminta beberapa orang yang dia percaya masuk ke dalam ruangannya.


Satu persatu memberikan laporan dari tugasnya masing-mading. Tak lupa mereka pun berdiskusi untuk kemajuan usaha.


"Ide yang bagus," puji Aish pada salah satu karyawan yang memberikan ide.


Pukul sepuluh mereka sudah diijinkan kembali pada kegiatan masing-masing. "Saya harap eksekusi ide barusan berhasil dengan baik. Untuk laporan bisa kirim ke email, karena saya sendiri tidak bisa terlalu sering keluar rumah tanpa ijin suami. Terima kasih silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." Kalimat itu menutup pertemuan Aish dengan beberapa orang yang ia percaya untuk memajukan usahanya.


Aish keluar lebih dulu, baru orang-orangnya belakangan. Baru pukul sebelas, ia masih bisa meminta Aisha untuk mengantarnya menjemput Zia. Anaknya pasti senang kalau ia yang jemput. Biasanya kan sopir dari rumah ibu mertuanya.


"Sudah selesai, Kak?" Tanya Isha mengakihkan tatapannya dari layar ponsel.

__ADS_1


"Sudah, jemput Zia dulu yuk. Bisa gak?"


"Ya bisa dong kan jam kuliahnya masih tiga jam lagi." Isha menyampirkan tas nya ke pundak laku menyusul kakak iparnya.


Di dalam mobil Isha banyak bertanya tentang usaha yang dirintis oleh istri kakaknya. Beberapa kalimat berbalut kagum ia lontarkan. Memuji dan mengatakan kalau ia pun ingin seperti Aish.


"Kak Asyraf tahu kalau kakak punya usaha ini?" tanya Isha tak mengalihkan fokusnya dari jalanan yang mulai padat karena hampir makan siang.


"Belum, kayaknya," kekeh Aish.


Mobil yang mereka tumoangi berhenti di depan pintu gerbang sekolah Zia. Beberapa orang tua juga sudah terlihat sedang menunggu anak-anaknya keluar.


Dering bel terdengar seiring pintu gerbang terbuka. Beberapa anak kecil berhanvut mneyingsong orang tuanya.


Zia berjalan begitu anggun di antara kerumunan. Dia menoleh ke arah mobil tantenya lalu tersenyum dan menyongsong.


Dengan jahilnya Isha tak membuka jendela pun meminta Aish agar jangan turun lebih dulu. Ia tertawa melihat keponakannya mengetuk-ngetik kaca lalu memutari mobil.


"Udah ah kasian," ujar Aish sambil membuka pintu dan turun.


"Bunda," seru Zia yang akhirnya merasa lega karena sudah beberapa kali memutar mobil tapi tak ada yang membukakan pintu. Terik matahari membaut pipinya yang gembul jadi kemrahan, jaringan juga terliahtvdikening dan hidungnya.


Isha masih tertawa memperhatikan ibu dan anak itu. Apalagi melihat ekspresi Zia yang kesal.


"Tante Isha jahat, nanti aku bilangin sama nenek loh."


"Bilangin aja, nanti tante gak mau kasih kamu coklat lagi."


"Akus sekarang sudah gak suka coklat, sukanya strawbery."


Perdebatan tante dan keponakan itu mewarnai perjalanan ketiganya menuju reastauran milik Asyraf. Aisyah belum tahu tempat itu.


Di sana Asyraf sudah lebih dulu datang dan menyambut koleganya. Sekalian ia menjamu makan siang. Obrolan tak jauh dari seputar pendanaan dan keuntungan.


Asyraf sendiri tidak tahu kalau istrinya akan makan siang di sana. Sampai saat ia menoleh ke pintu, istri dan anaknya ada di sana dengan Isha.


Dia tidak menyapa mereka berhubung mejanya juga jauh dari pintu. Ia kembali melanjutkan perbincangan.

__ADS_1


Isha memilih tempat duduk dekat jendela. Suasana di sana mulai ramai seiring waktunya untuk makan siang. Seorang pelayan yang mengenali Isha menghampiri dan melayani dengan baik. Beberapa menu telah mereka pesan.


Sambil menunggu makanan datang Aish lebih banyak bertanya kegiatan Zia di sekolah, termasuk mendengarkan anaknya bercerita banyak hal. Mulai dari temannya yang nangis, guru yang baik termasuk saat ia disuruh ke depan dan membaca doa untuk makan.


"Wah seru sekali, tapi Zia gak gugup saat di depan?" Aish.


"Enggak, tapi tangan aku berkeringat," jawab Zia sambil memperhatikan kedua telapak tangannya.


"Hebat sekali anak bunda." Tentunya Aish memuji keberanian anaknya dengan tulus. Ia tak ingin menciptakan jarak ia dan Zia hanya keran status ibu sambung.


Seorang laki-laki menghampiri mereka dan menyapa Aish. Tentunya itu bukan Asyraf tapi Juan.


Aisyah mendongakan wajah begitu juga dengan Isha. Perempuan yang sejak tadi lebih banyak main ponsel itu menyipitkan mata.


"Kak Juan?"


"Iya, meja lain penuh dan di sini aku melihat ada kursi kosong. Boleh gabung gak Aish?"


Aish tak langsung menjawab, bagaimana pun dia seorang istri. Rasanya tidak etis duduk dengan pria yang beberapa hari lalu mengirim surat untuknya. Ya meskipun dia tidak hanya duduk berdua saja.


Isha berdehem apa lagi saat perempuan itu sudah melihat keberadaan kakaknya di meja lain. Ide jahilnya kembali muncul. Asyraf sendiri sempat menoleh ke arahnya.


"Boleh kok, silahkan. Kenalan kak Aish kan?" Sengaja Isha mempersilahkan lelaki lain untuk duduk di satu meja yang sama. Dia ingin tahu reaski kakaknya nanti.


"Isha?" Dari ekspresinya dapat dibaca kalau Aish keberatan tapi Isha tidak mempedulikan itu.


"Gak keberatan?


"Enggak, enggak kok santai aja toh gak cuma berdua. Lagian kasihan kalau harus nunggu meja kosong dulu," kata Isha.


Sebenarnya Aish yang keberatan, tapi Juan terlanjur duduk. Mengusir pun rasanya tidak enak hati. Lain halnya dengan sang ipar, dia terlihat begitu santai.


"Kita hitung sampai sepuluh, aku yakin jak Asyraf sudah melihat keberadaan kita. Satu ... dua ... tiga ... empat ...."


Asyraf Cepat-cepat menuntaskan pertemuan mereka.Tak lupa menjawab tangan klien barunya sebagi tanda usainya pertemuan mereka.


Dia kesal kala melihat ada laki-laki yang ia ketahui mengagumi istrinya. Apa lagi sekarang duduk dalam satu meja yang sama.

__ADS_1


"Aish," Asyraf langsung menarik tangan sang istri.


__ADS_2