Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 28


__ADS_3

Tubuh Aish bergetar saat garis dua terlihat meski satu garisnya sedikit samar. Air mata jatuh tiba-tiba. Entah harus bahagia atau enggak. Dia memang harus bersyukur nikmat yang Allah titipkan, tapi di sisi lain hatinya mulai goyah dan meminta ia untuk lepas dari Asyraf. Ia usap perutnya yang masih datar.


Asyraf yang tak melihat Aish di dapur segera menyusul ke kamar. Ia ketuk pintu kamar mandi, "Aish kamu di dalam?"


Aish buru-buru menyeka sudut matanya dan menyembunyikan hasil tes kehamilan di saku gamsinya. Baru ia membuka pintu sambil tersenyum.


Sayangnya sepandai pandainya Aish menyembunyikan perasaan Asyraf sudah bisa menebak. "Kamu nangis?" tanya Asyraf mengusap sudut mata istrinya. "Maafkan aku ya."


"Jangan terus mengatakan maaf, Mas. Aku baik-baik aja kok. Sungguh."


"Kita ke dokter sekarang ya. Jangan menolak," putus Asyraf dia segera menghubungi dokter yang menjadi langganannya. Dia menggamit tangan Aish juga mengambilkan tas sang istri.


Menghampiri Zia yang sedang mengganti pakaian dibantu oleh pengasuhnya. "Ayah sama bunda harus ke dokter dulu jadi kakak berangkatnya sama mbak ya."


"Ayah sakit lagi?" tanya Zia mantap kedua orang tuanya


"Iya, ayah sama bunda harus periksa dulu. Gak papa kan gak dianter ayah hari ini?"


"Ya udah deh," jawab Zia.


Mereka berangkat ke rumah sakit diantar oleh sopir karena Asyraf ingin duduk bersama sang istri. Genggaman tangan tidak lepas selama perjalanan.


Tiba di rumah sakit Asyraf langsung menemeui petugas bagian depan dan mengatakan sudah ada janji dengan dokter.


"Sudah ditunggu di ruangannya, Pak," ujar suster memberitahu.


"Terima kasih." Asyraf kembali menggandeng sang istri.


Aish heran saat tahu Asyraf membuat janji dengan dokter kandungan. Ia yang berniat menunda memberi tahu pun akhirnya pasrah. Egois memang tapi ia tetaplah perempuan yang juga menggunakan perasaan.


Senyum manis dokter Sarah menyambut kedatangan mereka. Asyraf tentu sudah tidak canggung lagi karena bukan pertemuan pertama. Asyraf menarik kursi untuk Asih duduk setelah dipersilahkan.


"Jadi gini, Dok, sudah dua hari istri saya mengalami pusing dan sesekali mual. Ya tentu dokter lebih mengerti kan?"


Dokter Sarah mengangguk lalu beralih tatap pada Aish, "peka juga ya pak Asyraf," kekeh dokter Sarah. "Kapan hari terakhir haid, Bu?"

__ADS_1


"Bulan ini memang belum haid, Dok, tapi saya pikir itu biasa karena sebelumnya siklus bulanan tidak teratur."


Dokter sarah mengangguk, lalu meminta suster pendamping memeriksa tekanan darah Aish dan memintanya menimbang berat badan. Termasuk mengambil sample darah Aish.


"Sambil menunggu kita coba cek melalui USG ya, silahkan Bu!"


Aish naik ke ranjang periksa dibantu oleh Asyraf. Perasaannya tak menentu apalgi saat ia dan suami bertemu tatap.


"Rileks aja Pak, kan bukan yang pertama," goda dokter Sarah.


Gel mulai dioleskan kemudian dokter menempelkan transducer. Fokus Aish dan Asyraf tertuju pada layar.


"Janinus sudah terlihat ya Bu meski ukurannya masih sebesar biji beras." Dokter memberikan penjelasan yang bisa dicerna dengan mudah.


Asyraf membantu seng istri turun. Dokter menyarankan beberapa vitamin untuk mengurangi rasa mual juga menyarankan untuk tetap berkatifitas ringan. Bukan berarti dengan alasan hamil seorang ibu bisa bermalas-malas. Mereka harus tetap berkatifitas tapi dalam batas wajar.


Setelah membayar juga menebus vitamin Asyraf tidak langsung membawa sang istri pulang. Dia ingin menebus kesalahan tadi pagi dengan menyenangkan sang istri. Meskipun hanya sekedar duduk di taman menikmati sinar mentari pagi.


"Biasanya suka jajanan pinggir jalan, Sayang. Katakan kamu mau apa?" Asyraf memang selalu bertutur lembut setelah perpisahan itu.


Sikap Aish yang selalu tersenyum dan berusaha terlihat baik-baik saja membuat Asyraf khawatir. Orang yang lebih ekspresip memang lebih mudah ditebak. Tapi orang yang terlihat kalem dan lebih banyak menerima bisa saja menyimpan bom waktu yang bisa meledak akan saja.


"Maafkan aku ya."


"Hari ini kamu bilang maaf sering sekli, Mas," kekeh Aish.


"Ya karena aku kamu harus mengeluarkan banyak air mata. Maafkan aku ya. Katakan kamu ingin pernikahan seperti apa?" Asyraf menatap manik sang istri.


"Aku ingin pernikahan yang di dalamnya penuh kehangatan dan juga kasih sayang. Aku sudah mendapatkan itu dari kamu, seharusnya aku tidak egois dan mengatakan hal seperti tadi pagi. Padahal seharunya aku paham situasi." Aish menunduk menatap tauatan jari tangan mereka.


"Aku minta maaf ya karena membuat kamu merasa tidak nyaman. Maaf kalau usahaku menunjukan cinta masih belum memuaskanmu."


Aish mengangkat wajah dan membalas tatapan Asyraf sambil tersenyum. "Jangan terus mengatakan maaf, kamu mau aku jadi selalu merasa benar dan besar kepala. Nanti helm gak masuk loh. Aisyah mencoba berkelakar.


"Kamu memang paling pandai membuat rumah jadi adem, Aish. Aku sangat berharap kamu tetap bertahan di sisiku. Mungkin ini egois tapi aku tidak menemukan rasa nyaman selain bersama kamu. Duduk di sampingmu dan melangkah bersamamu. Andai suatu hari kamu meminta untuk pergi, aku tidak akan melarangmu. Itu hakmu tapi aku akan mengangkat tangan seperti ini dan meminta pada pemilik sesungguhnya agar kamu tetap di sisiku."

__ADS_1


Aish tersenyum dan kembali menunduk. Katakan dia memang lemah untuk urusan hati.


"Makan bubur ayam atau kupat tahu?" tawar Asyraf.


"Bubur deh. Dah lama juga gak makan bubur."


"Tunggu di sini ya! Jangan coba-coba lari dariku atau ...."


"Atau?" tantang Aish.


"Aku kurung kamu di kamar selama satu bulan penuh," bisik Asyraf sambil mendaratkan satu kecupan di pipi sang istri. Ia bernajak dan kembali membawa dua mangkok bubur. Menikmatinya di bawah sinar matahari pagi.


"Mas gak papa meninggalkan pekerjaan?"


"Ada Hans yang bisa dipercaya. Hari ini aku ingin berdua saja dengan kamu. Jarang-jaringan kita ngedate berdua kayak gini. Selalu ada Zia yang merecoki."


"Namanya juga nikah sama duda," kekeh Aish.


Selesai sarapan Asyraf mengajak Aish jalan-jalan, dari mulai pergi ke salon, sampai muter-muter di pusat belanja. Tangan terus bergandengan, meski sesekali lepas karena kebutuhan. Asyraf heran karena Aish tidak masuk ke toko manapun.


Saat makan siang barulah mereka pulang dan utu pun ke rumah orang tua Asyraf. Mereka harus mendengar kabar bahagia ini. Di dalam mobil Aish menghubungi Abah.


"Assalamualaikum, Nak?" Suara lembut menyapa dari seberang sana.


"Wa'alaikum salam, Bah. Sehat?" Asyraf yang bertanya.


"Oh ini nak Asyraf, Alhamdulillah Abah sehat. Ada apa siang-siang menghubungi Abah, Nak Asyraf?"


"Kita mau menyampaikan kabar bahagia, Bah. Allah menitipkan rizki berupa anak pada kami. Aish dinyatakan hamil."


Ucapan syukur terdengar dari bibir Abah. Mereka berbincang sebentar kemudian mengakhiri panggilan. Mobil memasuki pelataran rumah orang tua Asyraf.


Mereka disambut oleh pelayan tertua dan mengatakan kalau majikannya sedang ada tamu. Asyraf mengajak sang istri untuk istirahat di kamar tidak lupa meminta sopir menjemput Zia agar pulang ke sana.


"Asyraf," panggil H. Aqim saat melihat anaknya menaiki tangga. Memang letak ruang tamu tidak jauh dari arah tangga.

__ADS_1


Asyraf dan Aish menoleh dan seketika mematung melihat tamu orang tuanya.


__ADS_2