
Aish gak bisa tidur nyenyak kala suaminya dalam keadaan demam. Sebentar-sebentar dia bangun untuk memeriksa suhu tubuh sang suami. Bahkan di tengah kondisinya sendiri kurang sehat karena rasa mual dan pusing sering menyerang secara tiba-tiba.
"Masih demam," gumam Aish mengganti lap kompresan.
"Jangan pergi, tolong jangan pergi. Bisa kan tetap di sini aku butuh kamu," ucap Asyraf mengigau.
Aish tersenyum karena ternyata sang suami membutuhkan dirinya. "Mas, aku di sini," bisik Aish.
Hal yang tak pernah dipikirin Aish adalah saat Asyraf menyebut nama Syfa dalam keadaan tidak sadar.
"Syfa," panggil Asyraf dengan tubuh menggigil.
Disitulah air mata Aish jatuh. Tadi dia begitu bahagia kala ia pikir bahwa dirinya memang dibutuhkan oleh sang suami Ternyata ia terlalu cepat menduga. Bukan, bukan dirinya yang dibutuhkan Asyraf. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
Manusiawi ketika Aish berharap dicintai oleh sang suami. Dia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Menangis sebentar di sana kemudian mencuci wajah dan mengambil wudhu. Dia adukan segala lara pada Sang Pemilik Hidup dalam sujudnya.
"Ampuni aku ya Allah yang terlalu berharap pada makhluk ciptaanmu. Ampuni aku atas segala khilaf yang terbuai akan nikmat dunia. Ampuni aku ya Allah yang terlalu mencintai ciptaanmu sehingga aku abai pada-Mu. Ampuni aku, aku mohon. Ampuni aku."
Air mata terus mengiringi doa memohon ampunan yang Aish bisikan pada bumi.
Pagi-pagi Aish bangun lebih dulu, bukan karena kebiasaannya tapi karena rasa mual kembali menyerang. Bahkan ia memuntahkan cairan bening sampai meneteskan air mata. Dia basuh wajahnya dan kembali ke dalam kamar.
Dia cek sekali lagi suhu tubuh sang suami. Beruntung demamnya tidak seperti semalam. Asyraf yang merasakan tangan dingin menyentuh permukaan wajah pun membuka mata.
__ADS_1
"Aish kenapa menangis?" tanyanya sambil berusaha bangun dan mengedarkan pandangan ke sekitar. "Syfa mana?"
Kembali hati Aish terasa ditikam. Dia hanya manusia biasa yang tentu akan merasa sakit hati juga. Semalaman dia kurang tidur untuk mejaga sang suami tapi saat bangun yang ditanyakan malah yang sudah tidak ada. Aish tak menjawab ia masih berusaha mengolah perasaanya.
"Aish, tadi malam Syfa menemaniku. Tapi aku gak tahu sekarang dia kemana. Kamu lihat ga?" Rupanya Asyraf belum-benar sadar.
Aish menghela nafas untuk menjawab tapi rasa mual kembali datang. "Astagfirullah," desis Aish kembali ke kamar mandi.
Asyraf bingung karena tak mendapat jawaban dari Aish. Bahkan ia merasa heran karena Aish ada di kamar dirinya. Ia bangkit dari kasur dan menyusul Aish.
"Aish, kenapa tidak menjawab pertanyaanku. Dan ini kenapa kamu ada di kamarku?"
Aish berbalik setelah membuang sisa muntahnya. "Tidak ada Syfa di sini." Aish berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. "Semalam aku yang menjagamu, dan kamu tanya kenapa aku ada di kamar kamu, karena aku adalah istrimu sekarang. Kamu datang pada Abah dan memintaku padanya. Ini ...." jawab Aish dengan berurai air mata dan memperlihatkan jari tangan yang terhias oleh cincin pernikahan mereka.
Asyraf bergeming. Dia masih mencerna ucapan Aish. Melihat Aish yang menangis sambil menutup wajah menggunakan telapak tangan di situlah dia baru sadar kalau yang ia anggap ada hanyalah sebuah godaan semata. Dia mengusap wajah lalu membangunkan Aish dan memeluknya.
"Maafkan aku Aish," ucap Asyraf merengkuh tubuh yang tersedu itu.
Aish tak menolak rengkuhan dari Asyraf tapi rasa mual kembali menyerang sehingga pelukan mereka lepas. Aish kembali muntah. Asyraf membantu memijit tengkuknya. Setelahnya ia membantu Aish berjalan kembali ke kamar ia dudukan sang istri lalu dia oleskan minyak penghangat ke tengkuk dan perut Aish.
Asyraf melihat selimut yang ada di sofa dan Zia yang tidur di atas kasur. Berarti semalam Aish tidur di atas sofa. Dia tatap wajah Aish yang terlihat pucat, jelas kentara kalau istrinya kurang tidur. Dia pun mengucap maaf dalam hati.
"Nanti kita ke dokter ya," ajak Asyraf.
__ADS_1
Aish mengusap sudut matanya lalu menatap sang suami. "Gak perlu khawatir, Mas, mungkin hanya masuk angin aja. Nanti aku minta Teh Tika membeli obat.
"Aish ... Jangan seperti ini. Aku minta maaf atas yang tadi. Aku benar-benar ...."
"Aku paham kok, Mas," potong Aish dengan nada lembut. "Kamu kan lagi sakit seharusnya aku bisa mengontrol perasaanku. Aku istri yang buruk. Maafkan aku ya." Aish mengulas senyum tulus membuat Asyraf semakin merasa bersalah.
Adzan subuh menjadi waktu yang tepat untuk mengakhiri percakapan mereka. Asyraf lebih dulu mengambil wudhu sedangkan Aish membangunkan Zia. "Kak, bangun Shalat subuh yuk," ajaknya lembut.
Zia menggeliat, "masih ngantuk Buna."
"Cuci muka, nanti kantuknya hilang. Ayo bangun, kalau kakak bangun nanti siang boleh memilih jajan yang kakak suka."
Zia bangun meski matanya tetap merem. Aish terkekeh lalu mengangkat tubuh sang anak tak lupa meenciumnya dengan penuh kasih sayang. Membawanya ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Asyraf yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikan cara Aish dalam membujuk sang anak. Ah ya benar dia Aish. Istrinya yang sekarang. Permpuan soleha yang tetap berbakti meski menyadari bahwa cinta suaminya bukan untuk dia. Bahkan beberapa menit yang lalu ia telah menorehkan luka pada sang istri. Akan tetapi sikapnya tidak berubah sama sekali.
Asyraf shalat subuh di rumah karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih. Selesai Shalat Aish langsung ke dapur menemui para pekerja untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Asyraf menemani Zia menonton tayang kartun yang banyak memberi contoh untuk ditiru oleh Zia. Seperti cara berbucara yang baik, dan cara bersikap sopan pada orang tua.
Aish kembali merasa mual, gegas dia kembali ke kamar dan masuk ke kamar mandi. Setelah menyalahkan air untuk membuang cairan muntahannya Aish membuka laci yang menyimpan alat tes kehamilan.
Kemarin Salwa-mertuannya menyaranakan dia untu ciba tes tapi Aish belum berani. Memang ia belum memasuki siklus bulanannya tapi memang sejak masih lajang siklus bulanannya tidak teratur.
Dia tampak ragu untuk mencoba, tapi kalau tidak dipastikan takutnya benar hamil dan tidak disadari. Nantinya akan berbahaya pada janin apa lagi kalau sampai ia melakukan banyak aktifitas yang menguras tenaga.
__ADS_1
Aish membuang nafas sebelum mencelupkan alat tersebut pada air seni yang sudah ia tampung. "Bismillah."