
Sengaja pulang hampir tengah malam agar ketika sampai dirumah istrinya sudah tidur. Akan tetapi harapannya tidak sesuai. Saat ia membuka pintu istrinya masih duduk di sofa menantikan dirinya pulang. Dengan raut cemas Aish menghampiri sang suami. Menyalami dan mengambil tasnya. Menawarkan air minum untuk sang suami.
Rasa penasaran tentang telepon dari mertua tadi siang dia tahan dalam hati. Menunggu sang suami bicara sendiri. Segelas air putih Aish sodorkan untuk menghilangkan sedikit rasa lelah.
Asyraf menerima uluran gelas dari tangan Aish? Setelah minum dan gelas sudah diletakan di atas meja, Asyraf meminta sang istri duduk di sebelahnya. "Sungguh-sungguhkah permintaan tadi siang, Aish?" Asyraf menatap manik mata yang indah itu. Sejujurnya kalau Aish menjawab dengan kata iya, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Melepaskan memang lebih mudah dari saat menggapainnya.
Aish meremas jarinya kemudian membalas tatapan Asyraf. Dia menemukan sorot takut kehilangan dari tatapan Asyraf tapi itu bukan untuk kata cinta. "Iya karena kamu tidak lagi percaya padaku. Menjalani sebuah hubungan tanpa saling percaya itu terasa pincang, Mas. Sekali lagi aku katakan aku tidak menuntut cinta darimu karena aku sudah memposisikan cinta berada diurutan sekian dari prioritas. Tapi ketika kamu tidak lagi percaya, selalu mencurigai, itu hanya akan saling menyakiti."
Asyraf mengbela nafas sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Ya kamu benar. Seandinya aku tidak membaca surat itu mungkin aku tidak akan terpengaruh. Tapi aku tidak akan melepaskanmu."
"Kenapa?" Aish menatap datar.
"Karena Juan dan Isha akan menikah.
"Loh, kok bisa? Bukannya Isha sudah menolak. Tadi pagi dia menghubungiku dan mengatakan tidak mau menikah muda."
"Mereka digerebek karena berada dalam satu ruangan yang sama dan hanya berdua. Juan ngakunya ingin memberi kejutan pada Isha dan sedang berusaha menaklukan hatinya. Dia berhasil dapat restu tapi aku tidak yakin kalau dia benar-benar mencintai Isha. Bisa saja dia mendekati Isha demi lebih dekat dengan kamu."
"Kalau begitu larang mereka ke rumah kita setelah mereka menikah. Aku juga tidak akan sering main ke rumah ibu."
"Ya mungkin begitu akan lebih baik." Asyraf meninggalkan Aish dan masuk ke dalam kamar di susul oleh Aish. Dia tetap menyuapakn pakaian ganti untuk sang suami.
Asyraf keluar dari kamar mandi, kali ini dia memakai pakaian yang disediakan oleh Aish. Dia menatap Aish yang tengah menahan mual. Sesakit itu menjadi seorang istri yang tidak dicintai oleh suaminya.
__ADS_1
"Aish aku minta maaf," kata Asyraf yang sejak tadi menunggu di tepi pembaringan.
"Aku berusaha untuk memaafkanmu meskipun terasa sulit."
Asyraf memalingkan wajah, "manusiawi," katanya.
Aish merebahkan tubuhnya, sejak diketahui ia hamil belum ada perlakuan manis dari Asyraf. Lelaki kadang sering tidur di kamar sang istri tapi tengah malam akan bangun dan pindah ke ruangan lain.
Meski Aish mengatakan biasa tetap saja hal itu membuat dirinya merasakan sesak.
***
Persiapan pernikahan Isha dengan Juan sudah berjalan hampir rampung. Taman rumah yang luas di sulap menjadi tempat berlangsungnya acara. Sengaja Isha meminta pernikahan yang tidak terlalu mewah.
Aish ikut bergabung tapi tidak banyak membantu karena dilarang oleh mertuanya. "Sudah jangan terlalu banyak bergerak. Istirahat saja di sini." Salwa mendudukan Aish di sofa. Lalu meminta pekerja menyediakan cemilan untuk sang menantu.
Merasa bosan Aish menghampiri kamar Isha. Adiknya terlihat murung tidak seperti calon manten pada umunya. Aish merangkul pundak Isha memeluknya dan menyakinkan kalau baktinya pada orang tua akan berbuah manis. "Menikah tidak harus selalu dengan orang yang kita cintai, Sha. Itu ujiannya untuk kamu. Ayah melakukan ini selain untuk kebaikan kamu juga untuk banyak hal. Bisa jadi pendapat kita benar tapi mengandung kesalahan di dalamnya. Pendapat Ayah bisa jadi salah terapi mengandung kebenaran di dalamnya."
"Tapi aku gak mungkin sekuat, Kak Aish. Di mana bisa hidup dengan laki-laki yang gak memberikan sepenuh hatinya untuk Kak Aish."
"Apa aku terlihat kuat?" kekeh Aish sambil menyandarkan tubuh. "Aku hanya berusaha untuk tidak membagi kesedihanku dengan orang-orang disekelilingku. Aku belum memberikan kontribusi kebahagiaan pada mereka. Setidaknya aku tidak menambah bebas mereka dengan mengetahui kesedihanku."
"Kak Aish pernah menangis? Pernah protes pada kelakuan Kakakku?"
"Tentu. Aku tidak sesempurna itu untuk tidak protes tidak marah, tidak nangis. Pernah. Bahkan hal buruk lainnya pernah aku lakukan tanpa pernah kamu lihat."
__ADS_1
Isha memeluk kakak iparnya erat. Cara bicara Aish yang santai dan lembut membuatnya merasa nyaman.
"Belum kelihatan ya hamilnya." Isha mengurai pelukan dan mengalihkan topik pembicaraan.
Asih tertawa, "ada-ada saja kamu ini. Namnya juga baru enam beranjak tujuh minggu.
Di ruangan lain Asyraf tengah sibuk bersama ayah dan beberapa orang yang dianggap dewasa dan matang untuk hari esok. Sesekali dia menanggapi Zia yang kadang berlari ke arahnya.
"Jadi sudah ini sudah fiks untuk sebagian tugasnya ya?" tanya Aqim. "Asyraf mertuamu sudah dihubungi?"
"Sudah, Ayah. Nanti sore aku akan menjemputnya."
Tanpa ditemani Aish, Asyraf menjemput Abah. Saat turun dari mobil ia mendengar percakapan beberapa santri remaja yang tengah belajar di sebuah bale di bawah pohon rindang.
"Gak nyangka banget kalau kak Juan dan Kak Aish malah jadi iparan ya," kata seorang anak yang berkerudung coklat.
"Iya aku juga gak nyangka. Kakaku yang dulu sengkatan sama mereka juga pernah cerita. Katanya Kak Asih dan Kak Juan itu serasi loh. Kata kakakku mereka itu unik. Tidak saling mengakui perasaan tapi sikap mereka menunjukan kebalikannya. Lucu sih, iya kan?" kata si anak perempuan satu lagi.
"Hush kalian itu suka sekali berghibah," kata anak lainnya.
"Bukan ghibah, mbak. Kan yang dibicarain itu fakta. Sumbernya jelas dari kakakku."
"Tapi apa pantas kita membicarakan orang lain? Kita di sini bukan hanya sekedar menuntut ilmu untuk gegayaan suatu hari nanti. Aku lulusan A, aku lulusan B. Tapi untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecilnya agar kita tidak menumpuk dosa dari perlakuan yang gak kita sadari contohnya ghibah."
"Huu," sorak dua anak yang tadi diingatkan.
__ADS_1
Asyraf melanjutkan langkah setelah mendengar obrolan santri tadi. Pikiran kadang sulit dikendalikan saat perasaan yang berbicara. Menduga yang belum tentu nyata. Benarkah istrinya dan Juan seperti yang dikatakan santri tadi. Apakah keputusannya menyetujui keputusan sang ayah untuk menikahkan Juan dengan adiknya sudah benar? Dia menjadi gamang tapi pernikahan akan dilakukan hari esok. Pun kalau dibatalkan maka akan ada akibat.