Menanti Cinta Sang Suami

Menanti Cinta Sang Suami
MCSS 34


__ADS_3

Pukul delapan Mc mulai menjalankan tugasnya karena rombongan pengantin pria sudah datang. Acara di mulai dengan pembacaan Al-Quran oleh Qori terbaik. Kemudian dilanjutkan sambutan dari kedua belah pihak yang sudah mewakilkan pada yang ditunjuk.


Pada saat akan memulai acara inti Asyraf memperhatikan Juan yang sejak tadi melihat ada keraguan dari laki-laki itu. Selain itu Juan juga mencuri pandang pada perempuan yang duduk di sebelahnya dengan balutan pakaian yang teramat cantik. Ya Asyraf mengakui bahwa Aish tampil sangat cantik hari ini.


Juan sendiri meyakinkan bahwa pilihan sudah benar. Tinggal satu langkah lagi Aish bisa jadi miliknya.


"Siap?" tanya pak penghulu pada Juan termasuk pada saksi dari kedua mempelai.


"Siap," jawab Juan mantap. Kemudian ia diminta untuk menjabat tangan Aqim yang akan memberikan tanggung jawab atas putrinya.


Dengan lantang Juan mengucap kabul atas perempuan bernama Aisha dari ayahnya. Tidak peduli dia memiliki tujuan lain dalam pernikahan ini. Kewajiban tetaplah kewajiban, hak tetaplah hak.


Kata Sah membuat keluarga dan tamu yang menyaksikan merasa lega. Sayangnya tidak bagi perempuan yang batu saja diminta keluar dari kamar khusus dan diantar ke meja ijab untuk menandatangi berkas pernikahan.


Saat memasngkan cincin pernikahan Juan tampak menikmati status barunya. Santai dan penuh senyum. Sedangkan Aisha sangat gugup untuk bersentujan dengan laki-laki yang baru saja sah menjadi suami.

__ADS_1


"Cieeeeee," sorak keluarga dan tamu saat Juan mengecup kering Isha lama. Menunjukan kalau dirinya sungguh-sungguh menikahi Isha. Dia tidak boleh gegabah di awal pernikahan. Dia sudah bermain cantik dan harus tetap seperti itu.


Tunggu aku Aish, kamu harus menghargai pengorbananku ini.


Asyraf melihat ekspresi istrinya yang tampak biasa saja saat menatap Juan. Oh apa dirinya sudah masuk katagori cemburu buta sehingga selalu mencurigai sang istri. Padahal istrinya biasa saja. Tidak menunjukan ekspresi berlebihan. Bahkan seolah tidak terganggu dengan Juan menjadi iparnya.


Acara demi acara berjalan dengan baik. Tamu undangan mulai menyalami dan berpose dengen kedua pengantin yang sudah duduk di kursi pelaminan.


Sungguh hari ini banyak orang yang bahagia tapi tidak bagi Asyraf, Isha dan Juan. Aish? biasa saja.


Saat waktunya ramah tamah mencicipi hidangan yang disediakan si empu hajat, banyak tamu yang memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan Asyraf. Termasuk tamu-tamu yang dianggap penting. Tentu tujuan mereka adalah keuntungan.


"Ini Bu Asihwa 'kan?" tanya seorang laki-laki yang menghampiri Aish. Perempuan itu tengah membantu Zia menyuapkan makanan agar tidak mengotori pakaian.


"Iya benar." Aish membalas sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Bersyukur sekali saya bertemu dengan anda. Kemarin saya ke kantor dan hanya bertemu dengan tim anda saja," kekehnya. "Boleh saya duduk di sini?"


"Emm itu, maaf bolehkah duduknya di kursi yang satu lagi. Saya tidak nyaman." Menolak sungkan tapi mengiyakan juga tidak pantas karena dia adakah wanita bersuami.


"Oh, maaf," kata pria itu dan duduk di kursi yang terhalang dua kursi dari Aish tapi masih dalam meja yang sama. Laki-laki itu banyak menanyakan soal bisnis.


Bukan hanya pria itu masih ada yang lain yang ingin berbinvmcang dengan Aish. Ada yang benar-benar karena bisnis ada juga yang bermaksud lain. Aish yang merasa tidak nyaman terlebih suaminya jug sibuk memilih istirahat lebih dulu.


"Aku istirahat duluan ya, bu," bisik Aish pada Salwa.


Sungguh dia merasa tidak nyaman. Aish tidak pamit pada suaminya sehingga beberapa waktu kemudian menimbulkan masalah baru. Saat Asyraf moleh istrinya sudah tidak ada di sana, pun Juan yang tidak ada di pelaminan.


Asyraf berburuk sangka, apalagi saat melihat Juan kembali ke pelaminan dengan senyum yang merekah. Asyraf mengepalkan tangan.


"Kalau sampai terbukti kalian bermain api dalam pernikahan ini, aku tidak akan segan memberikan pelajaran yang seharusnya,"kata Asyraf dalam hati.

__ADS_1


Dia ingin mencari istrinya tapi banyaknya telas bisnis yang ingin berbincang dengan dirinya menulitkan ia untuk pergi.


Juan yang melihat ekspresi Asyraf merasa puas. Memang kakak iparnya terlihat ramah pada relasi, tapi lelaki iti sering menatap tapa dirinya. "Ini belum seberapa, katena aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya aku miliki." kata Juan dalam hati.


__ADS_2