Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 10


__ADS_3

Malam terasa begitu sunyi, langit pun tertutup awan, tidak ada satu bintang pun yang dapat kulihat saat ini.. Pandanganku pun berpindah kepada sosok seorang pria yang sedang terbaring lemas tak berdaya.. Kakiku melangkah kearahnya agar aku bisa melihat dengan jelas kondisinya saat ini.. Serkan masih saja berkeringat, meskipun suhu tubuhnya tidak seperti tadi siang namun masih terasa panas saat aku menyentuhnya.. Sesekali kudengar dia pun berbicara tidak jelas, dengan penuh ketakutan.. Aku mencoba meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat, Serkan membalas genggaman tanganku dengan erat kembali.


“ Maafkan aku.. Seharusnya tidak kubiarkan kau pergi bersamanya.. Segeralah membaik, entah mengapa melihatmu seperti ini membuat hatiku terasa sakit.”


Serkan masih saja berbicara tidak jelas dalam tidurnya.. Aku mencoba untuk mencari sapu tangan atau handuk kecil yang ada untuk meredakan demamnya dengan kompres dahi dan pergelangan tangannya.. Sesekali pun kucoba untuk membuatnya terbangun hanya sekedar menghabiskan minumnya.. Tubuhnya masih saja mengeluarkan banyak keringat, takut akan kondisinya memburuk aku mencoba untuk mengganti pakaiannya.. Saat aku mencoba mengganti pakaiannya, dengan setengah tersadar Serkan berbicara kepadaku.


“ Almira...”


“ Maafkan aku, kau berkeringat banyak jadi aku mencoba untuk mengganti bajumu.. Apa kau bisa menahan dirimu sebentar untuk tidak terbaring?”


Ucap Almira yang memalingkan wajahnya dengan memberikan sebuah kaos pada Serkan


“ Kenapa kau ada disini?”


Serkan pun melepaskan dan mengganti bajunya


“ Bagaimana? Merasa lebih nyaman setelah mengganti bajumu?”


“ Jawab pertanyaanku”


“ Entah mengapa aku merasa sedih melihatmu seperti ini. Kau puas?”


Serkan seperti tidak bisa menahan rasa pusingnya saat ini, dia pun langsung tertidur kembali.. Aku berjalan keluar dari kamarnya untuk membiarkan beristirahat.. Almira, apa yang kau katakan padanya barusan? Semoga saja dengan kondisinya saat ini dia tidak mengingat apa yang kukatakan tadi kepadanya.. Aku kemudian berjalan menuju dapur untuk mengisi teko kaca agar terisi air kembali.. Saat berjalan melewati ruang tengah, mataku teralih pada botol minyak angin yang kuberikan padanya.. Untuk apa dia menyimpannya jika sudah habis seperti ini? Apa dia cocok menggunakan minyak angin ini dan  mencoba membelinya kembali? Aku menaruh kembali botol ini pada tempatnya kemudian mengisi teko ini dan kembali kekamar untuk melihat kondisi serkan..


Menjelang dini hari pada pukul 4 pagi, suhu tubuh serkan sudah mulai stabil.. Tidurnya pun terlihat lebih pulas dan dia pun sudah tidak berbicara dalam tidurnya.. Melihatnya membaik, aku keluar kamar untuk membiarkannya beristirahat.. Aku kembali berjalan menuju dapur di lantai bawah, kemudian membuka kulkas untuk melihat isi didalamnya.. Benar benar pria yang terorganisir sekali dirinya bahkan sampai membuatku tersenyum.. Dari penempatan daging, sayur, buah dan minuman mu sangat tersusun rapi, berbeda sekali dengan kulkas di apartmentku.. Apa dia bisa memasak? Kenapa isi kulkas untuk pria lajang begitu sangat lengkap bahkan bisa dibilang tidak kosong.. Atau mungkin bu farah yang mengisi isi kulkasnya? Merasa aneh dengan pendapat diri sendiri, aku mengambil beberapa sayuran serta daging ayam untuk ku olah menjadi soup.. Aku pun membuat nasi bubur untuknya.. Aku memasak hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 6 pagi.. Aku harus ke kampus pukul 8, mau tidak mau aku harus segera pergi dari sini dan kembali ke apartment untuk bersiap kembali.. Begitu selesai membereskan, aku membawa soup dan nasi bubur ke atas dengan menggunakan meja kecil.. Kulihat serkan masih tertidur sangat pulas, aku menaruh meja ini disamping tempat tidurnya agar jika terbangun dia bisa langsung menyantapnya.. Aku pun bersiap bersiap dan berjalan pulang.


.....................................


“ Almira.. Bagaimana kondisinya? Apa kau terjaga semalaman? Kau terlihat sangat kelelahan”


Ucap Lilian yang menyambut Almira di depan pintu masuk


“ Serkan berangsur membaik, begitu juga denganku.. Tenang saja..”


“ Aku mendengar dari Emre, kemarin.....”


“ Ya. Aku sepertinya melakukan kesalahan, tapi aku juga tahu aku tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam masalah pribadinya. Jujur, saat ini aku bingung harus seperti apa..”


“ Kau mandilah dulu agar segar.. Setelah kau beristirahat, apa kau mau berbincang?”


“ Aku sangat ingin, tapi tidak bisa.. Aku harus ke kampus pukul 8 ini”


“ Apa? Tapi kau baru saja pulang dan kau terjaga semalaman penuh”


“ Lilian.. Aku tidak apa apa.. Tenanglah”


Ucap Almira yang berjalan menuju kamar mandi


Wajah Lilian saat ini sangat penuh rasa kekhawatiran kepadaku, aku pun memeluknya dan dia pun tersenyum kepadaku.. Kemudian dengan sedikit tergesah aku bersiap menuju kampus. Tesis yang sedang kukerjakan sangat banyak kemajuan dan hanya sedikit revisi yang harus kulakukan, jadi dengan begitu aku bisa fokus mengerjakan jurnal akademikku.. Lalu begitu perkuliahan selesai, onur bay menghubungiku dan menyuruhku untuk ke ruangannya.. Aku pun langsung berjalan menuju kesana..


“ Almira, Saya ingin Anda memberikan persepsi Anda dengan menyajikan data yang telah Anda teliti. Lalu pada data tertentu coba temukan analisis yang bisa membantumu menjelaskannya."


Ucap Pak Onur menggunakan bahasa turki sembari meminum secangkir kopi


“ Baik Pak onur.. Dan ini adalah data yang saya kerjakan tadi malam"


Almira yang menyerahkan sebuah Map di hadapan Pak Onur


“ Secepat ini?"


“ Ya Pak.. Saya tidak bisa tidur tadi malam. Jadi sekalian saya membuat laporan data"


“ Sangat bagus sekali. Saya yakin Anda akan segera lulus dari sini dengan hasil yang memuaskan".


“  Terima kasih banyak Pak onur.."


Almira yang sedikit menundukkan kepalanya dan berjalan keluar ruangan


Selesai dengan urusan Pak Onur, aku segera menuju restourant untuk kembali bekerja.. Aku merasa tidak enak kepada Pak Mete dan Kak ozcan setelah hampir 2x tidak pergi bekerja. Terlebih Aku sebenarnya tidak akan mengeluh apa pun jika gaji bulan ini mereka potong, tapi kenyataannya mereka memberi full semua gaji untukku. Saat aku berjalan menuju Restaurant, tiba tiba terdengar suara klakson mobil berbunyi kearahku, setelah kulihat itu adalah ozge dan hazal.. Mereka akhirnya mengantarkanku untuk pergi bekerja..


“ Apakah kalian akan makan di sana juga?"


Ucap Almira pada Hazal dan Ozge menggunakan bahasa turki


“ Kita lihat nanti.. Sebenarnya, ada yang ingin kami tanyakan padamu"


“ Kenapa kalian terlihat sangat serius?"


Mereka tak membalas kembali pertanyaanku, ada apa dengan mereka? Baik hazal atau ozge terlihat sangat serius menatapku saat ini.. Apa aku melakukan suatu kesalahan? Begitu kami sampai Retaurant, hazal berbicara kepada Kak ozcan untuk memberikan waktu kepadaku karena ada yang mau mereka bicarakan.. Kak Ozcan pun menyetujuinya.. Ozge langsung menarik tanganku untuk duduk disalah satu meja di teras luar.


“ Ozge? apa ini?"


“ Benarkah kau membuat jurnal akademik dengan pria yang bersama denganmu saat itu?"

__ADS_1


Ucap Ozge yang duduk di sebelah Almira menggunakan bahasa turki


“ Serkan?? Yaa.."


“ Apakah kau tahu cerita yang menyebar? Siapa mantan tunangannya dan bagaimana wanita ini?"


Ucap Hazal yang baru menyusul dan duduk di kursi sembari membawa kue dan minuman dari kak Ozcan


“ Hazal melihatmu kemarin ketika keluar dari ruangan Pak Onur lalu kau menghadapi wanita itu karena Serkan"


“ Tidak bisakah kau menjauh darinya? Wanita itu sangat berbahaya. Aku tahu itu"


“ Ozge, Apakah kau mengenalnya?"


Almira menarik tangan Ozge memintanya menjelaskan


“ Ya.. Makanya kami minta jangan dekati wanita itu.."


“ Ceritakan.. Kumohon.."


“ Ayah wanita itu adalah seorang tuan tanah. Mereka menggunakan cara kotor untuk menghasilkan uang. Mereka menjual tanah mereka dengan harga murah tetapi menginginkan dividen yang besar dengan kerja sama berbunga besar"


“ Ya.. Kakakku adalah salah satu yang terlibat dalam kesepakatan itu. Bergüzar meyakinkan Serkan untuk membeli tanah mereka ketika yang mereka memulai bisnis ini. Yang dia inginkan hanyalah mendapat untung dari Serkan. Wanita itu menipunya"


Mendengar hazal dan ozge saat ini pikiranku langsung kosong.. Inikah juga salah satu alasan serkan yang membuatnya dalam keadaan seperti sekarang? Emre pernah memberitahuku bahwa Pak Metelah yang membuat Serkan mengetahui bagaimana sebenarnya wanita itu. Dengan banyak pria disampingnya dan penampilan yang tidak semestinya.. Sekarang aku sangat mengerti dan tahu bagaimana wanita itu sebenarnya.. Pantas saja Emre marah kepadaku saat Berguzar membawanya.. Almira, apa yang kau lakukan?


Menjelang sore, entah angin apa yang berputar, kulihat Berguzar datang ke restaurant dengan membawa 2 orang pria bertubuh tinggi kekar.. Aku dan pegawai lainnya yang melihat terdiam tak bisa berkata.. Berguzar langsung menghampiri Pak Mete dan Kak Ozcan, mereka menyerahkan sebuah amplop yang tebal. Terlihat rasa kesal dari wajah mereka saat ini namun mereka mencoba menahannya.. Tiba tiba Aagha, anak Pak Mete dan Kak Ozcan yang berusia 4 tahun secara tidak sengaja terjatuh dengan menumpahkan minuman juice dan mengenai bawah gaun yang dikenakannya.. Berguzar terlihat marah, dia menarik tangan Aagha hingga anak itu pun menangis.


“ Lepaskan tangan anak itu"


Ucap Almira yang berdiri dihadapan Berguzar dan menarik Aagha dari tangannya lalu menggendongnya


“ KAU?? Apakah kau bekerja di sini juga?"


Berguzar berjalan menuju kearahku dengan kedua pria dibelakangnya.. Terlihat kepanikan diwajah Pak Mete dan Kak Ozcan saat ini. Saat dihadapanku, aku menatap mata wanita ini dan dia pun menatapku.. Merasa terganggu dengan tatapanku padanya, dia langsung menarik kearah kemeja yang kukenakan saat ini dan mengusap bajuku seolah ada debu yang menempel.


“ Jauhi tunanganku dan pekerjaanku. Aku hanya akan memperingatkan kau sekali."


Ucap Berguzar dengan Nada rendah yang mematikan disamping telinga Almira


Dia langsung melepaskan tangannya kemudian berlalu pergi meninggalkan restaurant. Pak Mete dan Kak Ozcan berlari kearahku dan menanyakan keadaanku lalu mengambil Aagha dariku untuk mereka bawa. Mereka terlihat ketakutan jika sesuatu terjadi padaku dan Aagha. Aku pun hanya tersenyum pada mereka dan meyakinkan mereka bahwa aku tidak apa apa.. Tak terasa waktu menunjukan pukul 11 malam, restaurant pun tutup tepat waktu.. Saat dijalan pulang tiba tiba aku terhenti disebuah taman yang tepat berada didepan restaurant tempatku bekerja.. Aku berjalan menuju tempat duduk taman yang biasa Serkan duduki.. Cuaca saat ini sudah tidak lagi terasa dingin, langit pun berbintang, serta lampu lampu yang menyala membuat aku memandangi dengan kagum selat bosphorus saat ini.. Meski pun aku tahu harus segera pulang, setidaknya aku ingin menikmati moment ini walaupun hanya sebentar..


...............................


Ucap Kirey yang mengetuk pintu kamar


“ Masuklah.. Pintunya tidak dikunci..”


“ Apa hari ini kau akan datang ke perpustakaan lagi? Bukankah baik tesis atau pun jurnalmu berjalan lancar? Kau tidak merasa lelah?”


Lilian yang tiba tiba menutup Buku buku dan Kirey yang mencoba menyimpan data dan mematikan Laptop Almira


" Kalian. . . .  Mau apa? Ada yang aneh dengan kalian berdua"


“ Tidak ada apa apa. Kalau di pikir pikir, sudah lama sekali kita tidak pergi bertiga.. Mau pergi?”


“ Jangan aneh, Ada hal yang harus aku....”


“ AYOLAHHH ALMIRAA, SEHARI INI SAJA“


Ucap Lilian dan Kirey Bersamaan dengan posisi memohon padanya


“ Oke oke.. Aku akan ikut dengan kalian. Puas? Bersiaplah, aku juga akan bersiap lalu kita pergi..”


Lilian dan Kirey langsung berlalu pergi meninggalkan kamarku dan pergi bersiap.. Namun sepertinya mereka memang sudah merencanakannya dari semalam, belum selesai aku bersiap, mereka berdua sudah berada didepan pintu kamarku dengan pakaian yang siap untuk pergi saat ini juga. Aku pun tertawa konyol melihat tingkah mereka berdua yang seperti anak kecil. Lilian dan Kirey langsung membantuku untuk memilih baju dan juga hal yang lainnya.. Lalu mengajakku segera pergi.. Sungguh diluar dugaan, dihari libur ini mereka mengajakku untuk pergi ke wahana permainan kota.. Mulai dari Roller coaster, wahana permainan lainnya seperti yang berada seperti di dufan indonesia seperti  ontang anting, kora kora, rumah kaca, kicir kicir, bahkan rumah boneka.. Baju kami bertiga sampai basah karena menaiki wahana niagara sebelum kami memutuskan untuk makan siang..


Saat sedang memilih tempat makan siang, Lilian dan Kirey secara kompak melihat handphone mereka masing masing dan mendapatkan panggilan masuk.. Jujur aku merasa sedikit kesal pada mereka saat ini, dapat kupastikan itu adalah emre dan juga hammet yang menghubungi mereka.. Sedangkan aku sama sekali tidak diperbolehkan oleh mereka untuk menyentuh handphone ku sama sekali hari ini. Saat mereka berdua selesai melakukan panggilan, mereka langsung menarik tanganku dan dengan setengah berlari mengikuti mereka saat ini.. Ada apa dengan mereka? Mau kemana ini? Mulai merasa lelah, aku menarik tanganku dari genggaman mereka berdua..


“ Kalian... Mau kemana sebenarnya!! Bukankah makan siang?”


“ Ya.. Itu, kita sudah sampai”


Saat kutolehkan kepalaku kearah belakang terlihat tempat makan bertema western, baguslah mereka memilih tempat ini untuk makan siang karena aku sangat merasa lapar.. Tapi baju kami saat ini basah karena itu terpaksa kami datang ke toko souvenir disebelahnya untuk membeli baju kaos dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut.. Lilian dan Kirey sudah duluan memilih dan terakhir aku pun memilih.. Terdengar saat ini mereka tertawa kecil kepadaku, aku pun menolehkan kepalaku pada mereka dan bertanya ada apa dengan mereka hari ini? Mereka pun hanya tersenyum senyum malu padaku.. Merasa mereka sangat aneh saat ini dan saat akan membayar dimeja cashier, Lilian datang dengan membawa sebuah kartu ditangannya..


“ Lilian? Apa kau juga akan membayar semua ini?”


“ Yup..”


“ Aku baru tahu kau kaya raya.. Tapi, Sepertinya aku baru melihat kau memiliki kartu itu?”


“ Ini memang bukan milikku. Aku hanya disuruh untuk menggunakannya saja”


“ Apa?”

__ADS_1


“ Dia memberikan kartu ini padaku dan Kirey tadi pagi, lalu menyuruh kami untuk kita gunakan hari ini”


“ Dia?? Aahh.. Emre??”


“ Bukan.. Tapi, dia..”


Ucap Kirey yang menunjuk kearah keluar


Saat aku menoleh kebelakang, terlihat serkan sedang berdiri menunggu kami diluar.. Bahkan emre dan hammet ada disana.. Apa yang mereka lakukan disini? Aku pun menolehkan pandanganku pada lilian dan kirey dengan serius, mereka hanya tertawa padaku dan berjalan keluar dari toko souvenir lalu menghampiri emre dan hammet.. Apa aku juga harus keluar? Siapa yang harus kuhampiri? Lalu terlihat serkan melihat kearahku dengan senyuman diwajahnya.. Kenapa dia tersenyum? Jujur kondisi apa ini, kenapa aku seperti salah tingkah seperti ini? Sebaiknya aku biarkan saja mereka pergi duluan, lalu aku menyusul dibelakang mereka.. Tapi... Bajuku.. Tunggu, Lilian tadi membawa semua baju dan handuk yang dibeli.. Apa yang harus kulakukan? Apa aku beli kembali saja baju yang lainnya saat ini?


“ Apa yang kau lakukan? Kau tidak lapar?”


Ucap Serkan yang berdiri dibelakang Almira


“ Serkan..?? Apa yang kau......”


“ Hari ini hari liburku, kebetulan kudengar kalian akan berkunjung kemari. Sudah lama juga aku tak kemari, jadi..”


“ Aahh.. Oke.. Baguslah.. Semoga harimu menyenangkan”


“ Kau tidak ikut makan bersama kami? Aku sudah memesan tempat”


“ Apa? Tidak usah.. Kalian saja.. Aku masih belum begitu lapar..”


Ucap Almira yang menggerakkan kedua tangannya seraya menolak undangan Serkan


“ Betulkah? Sayang sekali.. Aku sudah memesan 6 paket makan siang dengan daging import bagian khas yang empuk, irisan kentang serta sayuran yang enak.. Kudengar saus barbeque atau blackpaper lah yang terbaik. Ada hamburger dan salad. Juga aneka juice serta smooties yang..”


“Terdengar... Sangat lezatt...”


Tiba tiba terdengar suara perut Almira yang berbunyi dan dengan malu menutupnya dengan menundukkan kepala


“ Ahahaaha.. Gantilah bajumu dahulu dengan teman temanmu, lalu kita makan siang”


“ Apa pun itu.. Tunggu aku, Oke?!”


Aku langsung berlari keluar dan tanpa melihat emre dan hammet saat ini, aku menarik tangan lilian dan kirey menuju toilet terdekat untuk berganti pakaian serta mengatakan pada mereka jika serkan telah reservasi tempat untuk kami makan siang dengan menu yang lezat.. Lilian dan kirey yang melihatku saat ini pun tertawa.. Begitu selesai berganti pakaian, kami masuk kedalam tempat makan dan duduk berdampingan.. Kami menikmati makan siang kali ini dengan penuh canda tawa.. Selesai menyantap makanan, kami pun kembali mencoba beberapa wahana main lainnya hingga waktu tak terasa berjalan begitu cepat.. Saat akan berjalan pulang, hammet mengajak kirey untuk pulang bersamanya.. Begitupun emre pada lilian.. Benar benar seperti lupa kawan, mereka sudah seperti lawan yang dengan wajah penuh bahagia meninggalkanku sendirian.. Suasana pun menjadi sangat canggung karena hanya tersisa aku dan serkan..


“ Aku akan mengantarkanmu”


“ Ti.. Tidak perlu, aku akan naik bis dengan rute tercepat”


“ Anggap ini sebagai rasa terima kasihku karena menjaga dan memasakan sarapan untukku”


“ Kau, memakannya?”


“ Ya. Lezat sekali.”


“ Tapi, aku melakukan itu, bukan karena ingin kau. . . . Apa hari ini karena itu, jadi kau. . . .”


“ Aku mohon jangan salah paham. Ini semua bukan karena uang. Aku sama sekali tidak melihatmu seperti itu.”


“ Jikalau begitu, bisa kau ijinkan aku yang menyetir mobilmu?”


Ucap Almira yang mengulurkan tangannya untuk mengambil kunci mobil Serkan


“ APA??”


“ Mobilmu sangat bagus, entah mengapa aku begitu ingin mengendarai dibalik kemudinya”


“ Kau bisa berkendara?”


Ucap Serkan yang akhirnya menyerahkan Kunci Mobilnya


“ Kau terlalu meremehkanku. Mobil Matic atau manual? Motor pun aku bisa”


“ Apa kau serius?”


“ Tentu saja. Mau melihat Surat ijin mengemudi ku? Kau hanya perlu arahkan jalan karena aku tidak tahu harus kearah mana..”


“ Kau sungguh diluar konsep”


Serkan meninggalkan Almira dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir, di ikuti Almira di sampingnya


“ Wanita harus bisa dalam segala hal. Itu yang mama ajarkan kepadaku.. Jadi, AYOO PERGI!!”


“ Tidak perlu berlari. Jalan saja”


“ Aahh.. Kau sudah seperti lelaki tua”


“ Apa kau mengejekku?”


Kami tertawa bersama kali seolah tidak ada yang terjadi dan tidak ada masalah sama sekali. Aku pun mengendarai mobil sport miliknya saat ini.. Sungguh merupakan pengalaman baru untukku.. Melihatku yang merasa senang seperti anak kecil, Serkan tertawa kecil kepadaku.. Kami berkendara hingga sampai di lobby apartment.. Terlihat mereka sudah berada disana menunggu kami, dan terkejut ketika melihatku yang mengandarai mobil serkan.. Mereka semua tertawa dan serkan pun hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya dengan mengusap rambutnya.. Malam berakhir dengan kami yang berkumpul di apartment hanya sekedar minum dengan cemilan yang ada.. Bercanda dan berbincang.. Sungguh hari yang tak terlupakan..

__ADS_1


__ADS_2