Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 37


__ADS_3

Detik jam seolah terhenti ketika melihat Berguzar ketakutan setengah mati dengan memukul mukul dirinya sendiri.. Tak melihat semua yang berada disekelilingku, aku mencoba untuk menenangkannya dengan berlari tepat menghentikan kedua tangannya, hingga Berguzar merasa tenang dan akhirnya menatap mataku dengan tatapan yang mengisyaratkan akan permintaan pertolongan dan perlindungan yang tidak bisa dia katakan. Menyadari maksud dari tindakannya, dengan sigap aku meminta mereka semua untuk segera meninggalkan ruangan ini dan kini hanya tersisa aku dan dirinya di ruangan berwarna putih di tengah keheningan malam.


Tubuh ini pun mulai terasa lemas mengingat daya tahan tubuhku yang sudah mulai menurun akibat penyakit yang aku derita ini. Namun melihatnya yang menatapku dengan tatapan penuh harapan, akhirnya berdiri tegap dengan bersandar pada dinding yang bisa menopang tubuhku, akhirnya waktu dapat membuat wanita ini luluh dan menceritakan semuanya kepadaku hal hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya..


“ Aku saat ini sedang hamil kembali.. Sebelumnya, aku berbohong dengan kondisiku pada kalian semua dengan mengatakan akibat kecelakaan mobil waktu itu membuatku tidak memungkinkan untuk hamil kembali..”


Berguzar bercerita dengan berbahasa Turki sembari menundukkan kepalanya dan terduduk diatas tempat tidurnya


“ Kenapa kau lakukan itu?”


“ Karena aku cemburu.. Bagitu aku kembali kemari, aku tahu bahwa tidak ada tempat bagiku dihati Serkan. Dapat kulihat itu saat melihat kalian pertama kali di Restaurant malam itu.. cara Serkan menatapmu, aku tahu jelas akan hal itu.. Namun, melihatnya memperlakukanmu seperti itu, entah mengapa aku menjadi dibutakan oleh rasa cemburu..”


“ Apa ada lagi yang ingin kau katakan atau kau sembunyikan Berguzar?”


“ Damien sebenarnya.. Dia adalah kekasih Safiye, adik Serkan..”


“ Ap.. Apa kau bilang?”


Almira yang terkejut berjalan mendekatkan dirinya kepada Berguzar


“ Saat aku menjalin hubungan dengan Serkan, aku dibutakan oleh banyaknya bujukan kesenangan yang datang menghampiriku.. Saat aku pergi dengan salah satu teman priaku, aku bertemu dengan mereka yang saat itu sedang makan siang bersama di Restaurant yang sama denganku.. Safiye memperingatiku dan mengancamku jika aku masih mendekati Serkan. Merasa marah, aku mencoba mendekati Damien dan entah mengapa, kami menjadi terbawa perasaan satu sama lain dan melakukan hubungan hingga aku hamil..”


“ Apa yang ada dipikiranmu Berguzar?”


“ Aku ingin semua barang milikku tidak hilang..”


“ Barang? Lagi lagi kau beranggapan Serkan seolah hanya sebuah barang?”


“ Ya, bagiku Serkan tak lain sebagai pemuas keinginanku saja, terlebih dengan status sosial yang dimilikinya, semua dengan mudah kudapatkan. Tapi, ancaman Safiye ternyata tidak main main disaat dirinya mengetahui Damien berselingkuh denganku.”


“ Lalu, kau bertemu dengan Damien di Restaurant Pak Mete untuk berbicara?”


“ Ya.. Namun ternyata Serkan dan Safiye datang, Serkan marah sekali dan mengamuk sejadi jadinya hingga akhirnya berujung terjadilah kecelakaan mobil itu..”


“ Apa yang kau lakukan dengan Damien saat itu?”


“ Damien yang tersulut emosi, terbawa suasana dengan menyuruh anak buahnya untuk muncul di persimpangan jalan dan menubruk mobil Serkan dari arah samping.. Namun kami tidak menyangka, kecelakaan itulah yang terjadi dan kami pergi kesuatu tempat, seolah tak terjadi apa pun..”


“ Lalu, kau kembali setelah 2 tahun dan melihatku dengan Serkan malam itu.. Lalu Damien?”


“ Dia terkejut saat mengetahui Safiye meninggal dan menjadi hilang akal.. Sejak saat itu, Damien selalu mengancamku jika aku tidak menuruti keinginannya..”


“ Salah satunya mengorbankanku agar Serkan juga mengalami kesulitan?”


“ Dan juga aku memanfaatkan ingatannya yang buram, Lalu tak lama dengan bantuanmu, Serkan akhirnya mengetahui dan mengingat semuanya kembali..”


“ Lalu, alasan kalian menikah adalah karena kau hamil kembali anak Damien? Dimana kau mengalami keguguran pertamamu?”


“ Tak jauh berselang dari kecelakaan itu, saat kami bersembunyi, aku tiba tiba pendarahan dan mengalami keguguran.. Almira, maafkan aku..”


Berguzar menadahkan kepalanya keatas dan menatap Almira yang berdiri dihadapannya


Mendengar pengakuan Berguzar dengan tatapan kehampaan, rasa marah ini terasa memudar sedikit demi sedikit.. Namun rasa sakit tetap tidak dipungkiri mengingat semua hal yang dia lakukan kepadaku.. Berdiri diam dihadapannya, tiba tiba Berguzar memberikan sebuah kotak kecil dimana berisi sebuah cincin permata yang indah. Mata ini pun menatapnya dan seolah mengerti apa arti dari tatapannya, cincin ini adalah cincin pertunangan yang Serkan berikan padanya dan Berguzar bermaksud untuk mengembalikannya. Dengan menutup kembali kotak ini, entah apa yang aku lakukan ini benar atau tidak, tapi kotak cincin ini aku terima dan kembali aku pun menyampaikan pengobatan rawat jalan yang harus dilakukan olehnya.. Menunduk menerima semua yang aku katakan, akhirnya Berguzar tertidur dan aku pun berjalan keluar dari ruangan ini.


“ Almira..”


Serkan yang tiba tiba datang dengan menarik salah satu tangan almira


“ Kau belum pulang? Bukankah sudah larut malam? Besok kau harus bekerja!”


Ucap Almira yang terlihat panik


“ Akhirnya kau mengkhawatirkanku? Memang benar besok aku harus kembali bekerja setelah seminggu ini aku tidak hadir di kantor.”


“ Siapa yang menyuruhmu untuk datang ke Indonesia dan mengunjungi Rumah sakit tempatku bekerja?!”


Almira yang kesal sedikit mendorong tubuh Serkan kebelakang


“ Telingaku terasa sakit mendengar omelan darimu. Katakan dimana ruanganmu? Aku akan beristirahat sejenak, lalu pergi kembali ke Istanbul.”


“ Ruanganku? . . . . Aku jamin bahkan Kursi mobilmu bahkan jauh lebih nyaman dari kursi sofa di ruanganku..”


Almira sedikit merasa malu dengan memalingkan pandangannya


“ Kenapa kau seolah membayangkan yang tidak tidak? Atau kau malu karena ruanganmu berantakan?”


“ Ya, penuh debu! Bahkan laba laba pun mem..”


Almira mencoba mempraktektak bagaimana kondisi ruangannya


“ Aku akan menuju Ruanganmu, kau lanjutkan saja untuk bekerja.”


Serkan memalingkan tubuhnya seolah mengacuhkan Almira yang sedang berbicara


“ Tunggu dulu Serkan.. Ini...”


Almira menarik tangan Serkan dan menyerahkan kotak yang diberikan Berguzar padanya


“  Cincin ini, adalah warisan dari ibuku. Aku pikir dia tidak akan mengembalikannya. Titipkan terima kasihku untuknya.”


Ucap Serkan yang berlalu pergi dengan memasukkan kotak cincin kedalam saku Jasnya


Langkah kakinya berjalan dengan sangat tegap kearah depan menjurus menuju Ruangan kerjaku. Terdiam melihatnya, baru aku sadari ternyata Serkan memiliki punggung yang begitu lebar, dengan penampilannya yang seperti itu.. Aku pikir wanita mana pun akan jatuh hati kepadanya, dan dia pun tidak akan merasa kesulitan seperti yang sedang dialami jika terus berada disampingku seperti ini.. Disaat sedetik aku berpikir, tiba tiba tersadar akan kondisiku yang semakin melemah, aku mencoba untuk menutupinya dengan berlindung dari balik dinding agar Serkan tidak melihatku. Beruntungnya saat ini Filiz mempunyai jadwal jam kerja sehingga aku berjalan mencoba menahan pilu sakit yang menerjang dengan menemui Filiz kembali untuk berkonsultasi..


“ Berbaringlah.. Pelan pelan Almira, kau demam.. Katakan apa yang kau rasakan kali ini?”


Ucap Dokter Filiz berbahasa Turki kepada Almira yang terlihat pucat menahan sakitnya

__ADS_1


“ Aku merasa tidak ada tenaga sama sekali, serta nyeri pada bagian ini terasa lebih sakit dari sebelumnya..”


Almira mengarahkan tangannya pada bagian hati dan perutnya dengan berbahasa Turki


“ Seperti yang kukatakan terjadi Peradangan yang memicu terbentuknya jaringan parut pada organ hati.. Almira, Infeksi hepatitis B kronis yang tidak segera ditangani dapat memicu kemunculan sel kanker yang dapat berkembang menjadi Kanker hati. Apa itu yang kau inginkan?”


“ . . . . . . . . . .”


Almira yang terdiam mendengar perkataan Filiz


“ Almira, segera mungkin aku menganjurkan Prosedur Transplantasi Hati jika kau seperti ini terus!”


Ucap Filiz sembari memberikan obat kepada Almira


“ Apa dengan itu aku sembuh total?”


“. . . . . . . .”


Filiz yang terdiam mendengar pertanyaan Almira


“ Aku yakin kau pun tahu, rata rata 75% pasien yang melakukan Transplantasi Hati bertahan hidup hanya 5 tahun.. Belum lagi kemungkinan penyakitku akan kambuh kembali karena penyakit ini sampai detik ini belum ada pengobatan yang berhasil menyembuhkan..”


“ Tapi, Almira.. Setidaknya dengan kau me..”


“ 5 tahun..? Untuk apa aku bertahan hidup hanya 5 tahun? Apa yang harus kulakukan jika aku sendiri tahu kapan waktu ajal menjemputku?”


Almira yang mulai menangis dengan menutupi wajahnya


“ Baiklah, kita bicarakan ini nanti.. Kembalilah istirahat di ruanganmu.. Perlu kubantu?”


“ Tidak bisa, karena Serkan saat ini sedang berada di ruanganku..”


“ Almira... Kau...”


“ Ijinkan aku memejamkan mataku sejenak disini, lalu aku akan kembali bekerja..”


“ Ambilah cuti liburmu, kau belum menggunakannya sama sekali..”


“ Dengan aku yang sudah berapa kali jatuh sakit? Sepertinya tidak mungkin aku tebal muka Filiz.. Aku tahu dimana posisiku, jadi kumohon ijinkan aku sejenak untuk tertidur..”


“ Baiklah, aku keluar dulu, kau beristirahatlah..”


Terdengar Filiz menutup pintu ruangannya, dengan begini aku bisa menangis sepuasnya tanpa ada siapa pun yang mengetahuinya.. Transplantasi Hati, apa kau bercanda? Selama kurang lebih 2 tahun ini aku bertahan dan tidak ada masalah sama sekali! Namun yang menjadi pertanyaanku adalah, bagaimana bisa kondisiku menurun disaat aku datang ke kota yang juga kurindukan ini? Di kota indah penuh kenangan, yang kuharap setidaknya aku bisa merasakan nostalgia dan bukanlah untuk menitikkan air mata kesedihan yang terasa begitu memilukan ini.. 5 tahun? Itu pun jika Penerima donor mengalami kecocokan dengan hati yang berasal dari Pendonor. Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam hal ini, dan sepertinya jika memang aku harus berakhir dengan cara seperti ini.. Maka, sudahlah tak mengapa.. Namun kenapa air mata tangisan ini tak dapat kuhentikan?


. . . . . . . . . . . . .


“ Tuan Serkan? Ada yang bisa kubantu?”


Tanya Filiz berbahasa Turki yang melihat Serkan berjalan kesana kemari


“ Maafkan aku, aku sedang mencari Dokter Almira.. Apa kau melihatnya?”


“ Ada sesuatu yang ingin kuserahkan padanya kemudian aku segera pergi.”


“. . . . . Apa, saat ini... Anda, ada waktu... untuk..”


Filiz yang merasa ragu untuk berbicara


“ Ada apa Dokter? Ada yang ingin kau katakan padaku?”


“ Ini mengenai Almira.. Kondisinya saat ini menurun drastis dan aku menyarankannya untuk melakukan Transplantasi Hati..”


“ Apa? Maaf, bisa anda ulangi kembali Dok?”


“ Infeksi hepatitis B kronis yang tidak segera ditangani dapat memicu kemunculan sel kanker yang dapat berkembang menjadi Kanker hati. Karena itu aku menyarankannya untuk melakukan Transplantasi Hati..”


“ Dia, menolaknya bukan?”


“. . . . . . . . .”


Filiz yang terdiam mendengar pertanyaan Serkan


“ Terima kasih sudah memberitahuku Dok..”


Serkan sedikit menundukkan kepalanya kepada Dokter Filiz


“ Aku sebenarnya tidak tahu apa baik memberitahukan hal ini padamu, tapi menurutku hanya kau orang terdekat yang Dokter Almira kenali di kota ini.. Jika menunggu untuk kembali ke Indonesia, aku yakin dia akan memilih untuk...”


“ Terlepas dari itu semua, saya sangat berterima kasih kepada anda sudah memberitahukan hal sepenting ini padaku.”


“ Baiklah, aku pergi dulu.. Semoga kau dapat membujuknya..”


. . . . . . . . . . . . .


#BEEPPP #BEEPPP #BEEPPP


Suara Alarm Handphone Almira yang berbunyi


Pukul 07.00 Pagi? Tanpa sadar aku tertidur cukup lama disini.. Fiiliz telihat sudah pulang dengan tergantung jubah putih miliknya dihadapanku.. Lalu, tunggu dulu.. Apa Serkan sudah pergi? Karena kondisiku semalam, aku tidak sempat untuk berpamitan dengannya.. Bangun dan berjalan dengan setengah berlari, menuju ruanganku dan mendapati Serkan yang sudah meninggalkan ruanganku. Bahkan tidak ada satu pesan pun yang dia kirimkan padaku.. Kenapa aku merasa hampa? Almira, apa yang kau pikirkan?! Hentikan pikiranmu yang tak jelas ini dan kembalilah bekerja!.


Selesai aku membersihkan diriku dan mengganti pakaianku diruang khusus loker para Dokter, aku kembali berjalan dan melakukan sesi terapis psikolog dengan semua pasien.. Tatapan dan gerakan mereka jauh lebih baik dari hari kehari.. Respon dan tanggapan mereka pun kuliha sudah sangat amat baik bahkan jauh diluar harapanku dalam perkembangan selama hampir 3 bulan bersama dengan mereka.. Diakhir hari, aku berjalan menuju Ruangan Berguzar dimana terlihat para Dokter pun sedang memeriksa kondisi tubuhnya serta bagaimana perkembangan bayi dalam kandungannya setelah mengalami kekerasan yang dilakukan Damien padanya..


Merasa kehadiranku saat ini tidak diperlukan, aku kembali berjalan menuju ruanganku dan bersiap siap untuk pulang kembali ke penginapan dan mencoba untuk beristirahat mengingat semalam aku tidak beristirahat secara benar dengan kondisi tubuhku yang semakin terasa melemah..


“ Maaf Dokter Almira, apa kau dalam perjalanan pulang?”


Ucap seorang Rekan Dokter yang menghampiri Almira berbahasa Turki

__ADS_1


“ Ya Dok.. Jam kerjaku sudah selesai.. Apa kau perlu sesuatu?”


Balas Almira menggunakan bahasa Turki kembali


“ Tidak, tidak, aku hanya ingin memberikan surat hasil laporan ini kepada Dokter Filiz.. Pasien itu berkata ini sangat mendesak sehingga menyuruhku begitu terburu buru mengerjakan hasil laporan medis ini..”


“ Apa Dokter Filiz ada rencana untuk melakukan Operasi mendadak? Kebetulan aku akan berkendara melewati rumahnya, jika mendesak akan aku berikan kepadanya..”


“ Bagus sekali, jika begitu aku titipkan hasil medis ini padamu.. Terima kasih Dokter Almira..”


Berjalan menuju kendaraan, entah ada angin apa yang membawaku untuk mengetahui isi dari Rekam Medis yang saat ini berada ditanganku.. Tak sengaja berbenturan dengan seseorang yang sedang berlari diarea parkiran mobil, Map itu pun tak sengaja terbuka sehingga aku dapat membacanya dengan jelas. Sekilas aku tidak mempercayai apa yang kulihat dan kubaca ini, namun semakin kubaca semakin jelas laporan Rekam medis ini menunjukkan...


“ Halo, Almira? Ada apa?”


Ucap Filiz yang mengangkat panggilan dari Almira


“ Katakan padaku Filiz, apa kau memberitahukan kondisiku pada Serkan?”


“ . . . . . Maafkan aku...”


“ APA YANG...!!! Filiz, apa kau tahu apa yang dilakukannya saat ini?”


“ Ja, jangan bilang dia...”


“ YA, DIA BERMAKSUD MENDONORKAN HATI (LIVER) NYA PADAKU!!”


Ucap Almira dengan sedikit merasa kesal


“ Da.. Dari mana kau tahu hal ini? Menjadi Pendonor bukanlah hal yang mudah dan harus melalui serangkaian Test! Tidak mungkin Almira..”


“ Aku akan kirim dan kau lihat sendiri bagaimana hasilnya.. Maaf aku tidak bisa menemuimu karena ada hal yang harus aku lakukan..”


Almira yang langsung mengirimkan beberapa Foto kepada Filiz melalui aplikasi media


“ Baiklah, sudah kuterima.. Akan aku periksa.. Maafkan aku Almira, aku tidak ber..”


“ Aku tahu.. Filiz, aku mohon demi nyawaku berjanjilah.. Apa pun yang terjadi padaku, aku tidak akan pernah menyetujui Donor ini.. Tidak darinya, tidak dari siapa pun itu! Kumohon berjanjilah Filiz..”


“ Tapi, Almira.. Dengan ini kau bi..”


“ BERJANJILAH! KUMOHON.. Lebih baik aku mati saat ini juga, dari pada melakukan Transplantasi Hati.”


“ Baiklah, jika itu maumu.. Aku akan memegang perkataanmu.”


“ Aku percaya padamu.. Terima kasih banyak Filiz..”


Menutup panggilan ini dan langsung berlari menuju mobil untuk berkendara menuju Kantor tempat Serkan saat ini berada.. Selama perjalanan, lagi lagi kondisiku terasa menurun dengan perut yang terasa nyeri, dada sedikit sesak, dan terasa tubuhku kembali mengalami demam. Namun, aku memaksakan diriku untuk terus berkendara dan menemui Serkan untuk menghentikan niat hatinya.. Semakin lama penglihatanku terasa buram dengan sedikit berputar, berhenti sejenak dan kembali berkendara kembali pun aku paksakan hanya untuk agar tidak mengorbankan apa pun yang tersisa dariku untuk kuberikan padanya.. Permohonan terakhirku padanya, serta doa doa terbaikku untuknya.


Begitu sampai, suatu kebetulan aku bertemu dengan Emre yang sedang berjalan menuju mobilnya dan aku pun menghentikannya untuk berbicara dengannya begitu mengetahui Serkan yang sedang dalam pertemuan Rekan Bisnis disebuah Hotel dan sedang dalam perjalanan pulang kembali ke kantor.. Sembari menunggunya, aku pun memperlihatkan Map hasil Rekam medis ini kepada Emre dan kembali meminta permohonan yang sama seperti yang aku katakan kepada Filiz..


Emre hanya terdiam dan hanya menundukkan kepalanya serta memalingkan pandangannya dariku yang bisa kubaca apa maksud dari tindakannnya saat ini dihadapanku. Dengan berat hati dan menahan tangis, aku kembali memohon padanya dan memohon kembali hingga akhirnya Emre setuju dan membuatku dapat bernafas lega mendengarnya..


“ Almira, apa kau diantarkan oleh seseorang? Tunggu dulu.. Apa pria itu... DAMIEN??”


Ucap Emre yang tiba tiba berdiri tegap membelakangi Almira dengan menatap lurus dan penuh amarah kepada Damien yang berada didalam mobilnya


“ Tunggu dulu, sedang apa dia... Emre, sepertinya dia mengikutiku..”


“ APA??”


“ Sepanjang perjalanan kemari, aku memang melihat mobil itu berada dibelakangku. Aku pikir dia hanya me..”


#BRUUUMMMM #CKIIITTT #CKIIIITTTTT


Suara Ban Mobil Damien yang menancap Gasnya dengan kencang


Dari kejauhan aku melihat Damien tiba tiba menancapkan Gas nya dengan kemudi yang mencoba untuk berbelok tajam lewat tikungan yang terhalang tiang pembatas tinggi sehingga mobil dari arah sebaliknya tidak akan melihat mobilnya yang sedang melaju kencang, hingga akhirnya aku melihat...


“ Serkan... TIDAK SERKAN!!”


Almira yang berteriak tiba tiba berlari dengan cepat


“ ALMIRA!! TUNGGU!! TIDAK ALMIRA!!”


Teriak Emre yang mencoba mengejar Almira


#BRUUMMM #CKIIITTTT #BRUUAAKKKK


“ A L M I R A”


Teriak Emre yang melihat Almira tertabrak mobil Damien


“ Apa yang.... Tidak, tidak, Almira... Tidak!!”


“ Serkan tenanglah, Hallo ambulance kumohon segera datang ke lokasi yang saya kirimkan! Terjadi kecelakaan! SECEPATNYA!”


Emre yang dengan sigap memanggil ambulance dan menghentikan Serkan


“ Almira.. Tidak! LEPASKAN AKU EMRE!”


“ TENANGKAN DIRIMU! BERBAHAYA JIKA KAU MENYENTUHNYA! BAGAIMANA JIKA MENAMBAH LUKA DIBAGIAN TUBUHNYA YANG LAIN? TENANGLAH SERKAN!!”


Emre yang menahan tubuh Serkan dengan tubuhnya dengan mendorongnya keras kebelakang


“ Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Almira berada di... Damien? Apa itu dirinya?”


“ Serkan tenanglah... Serkan.. Serkan dengarkan aku!! SERKAN DENGARKAN AKU!!”

__ADS_1


Dengan kesadaran terakhir kulihat Emre mencoba menghentikan Serkan yang terlihat begitu marah.. Aaahhh, apa ini akhir hidupku? Kenapa tubuhku mengeluarkan banyak sekali darah saat ini?


__ADS_2