
Suara kicauan burung terdengar begitu merdu. Sinar matahari pun terasa hangat. Jam berapa sekarang? Sepertinya aku tertidur cukup lama.. Semalam dokter mengatakan aku akan baik baik saja, tidak ada masalah serius.. Infus ditanganku pun sudah dilepaskan.. Aku mencoba untuk duduk secara perlahan dan melihat sekeliling.. Baru kusadari kembali kamar ini terasa sangat luas, semua barang juga terlihat produk produk modern yang pasti mahal, lalu ranjang ini juga.. Apa jika tidur normal dia jungkir balik? Kasur ukuran super king bed dimana dia tidur sendirian? Benar benar luar biasa sekali pria ini.. Apa semua produk disini adalah hasil dari perusahaannya? Saat aku mencoba untuk keluar dari kasur dan berdiri, aku terlupa akan perut dan kakiku yang masih diperban dan masih terasa sangat sakit.. Aku pun kehilangan keseimbanganku, namun malangnya arah aku akan terjatuh bukan tepat diatas tempat tidur, melainkan meja kerja yang berada disampingku.. Merasa pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku, tiba tiba ada yang menarik tanganku dan tanpa sadar aku berada dalam dekapannya.. Aku terasa seperti terhipnotis oleh wangi parfum dan dekapan ini terasa hangat sekali..
“ Mau kemana?”
“ Apa?”
“ Kau mau kemana? Lupa kondisimu sekarang seperti apa?”
“ Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”
“ Pelan pelan almira, kakimu akan semakin parah jika begini”
“ Kenapa kau telanjang ( Tanpa busana)?! Dasar Mesum!!”
“ APA?? Kau lihat baik baik aku sudah mengenakan celana kerjaku, bahkan ikat pinggangku pun sudah terpakai. Hanya kancing kemejaku yang belum sempat terpasang”
“ Ke, Kenapa kau tidak mengancing kemejamu?”
“ Kudengar kau terbangun saat berada di ruang ganti pakaian. Lalu aku melihatmu tiba tiba berdiri dan hilang keseimbangan. Aku berlari untuk menolongmu. Kalau tidak, mungkin kepalamu yang akan mendapat perban tambahan karena terhantuk meja ini. Apa itu yang kau mau?”
“ Aa..apa kau tidak bisa mandi dan bersiap diruangan lain? Kulihat seperti ada 3 kamar tidur lain dirumah ini”
“ Semua baju dan perlengkapanku berada dikamar ini! Lagi pula ini adalah kamarku.”
“ Kenapa kau marah marah??”
“ KAUU!! Aku membantumu tapi kau malah membuatku seperti PRIA TIDAK BERMORAL!"
“ Dasimu.. Terlihat miring...”
“ Bagaimana aku tahu dasi ini miring atau tidak?! Aku tidak melihat kaca!”
“ Okee.. Oke.. Maafkan aku, kemarilah aku betulkan dasimu..”
Serkan melipat salah satu kakinya dan menekuk kaki yang satunya lagi agar bisa sejajar denganku.. Baru kali ini aku melihatnya seperti ini.. Ternyata dia bisa menunjukan sisi lainnya yang baru padaku.. Serkan masih saja merasa kesal namun mencoba menahannya sehingga dia hanya menggerutu tidak jelas padaku.. Aku juga sangat mengerti kenapa dia seperti ini, mengingat peristiwa yang baru saja menimpaku, dia pasti takut akan persepsiku dan kondisi mental ku saat ini.. Saat selesai dengan dasinya, serkan langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan pakaian.. Tak lama dia keluar dengan penampilan yang membuatku terpana.. Benar benar memiliki aura yang sangat mendominan..
“ Sebentar lagi lilian akan datang kemari untuk menjagamu. Kau.. Kau menurutlah”
“ Apa aku masih harus di rumahmu? Kupikir tidak apa apa jika aku...”
“ Kembali ke apartment? Lalu bagaimana dengan obatmu? Kau lupa nanti malam akan ada terapis datang kemari untuk melihat perut dan kakimu?”
“ Atau.. Apa aku bisa berpindah kamar?”
“ Ini adalah kamarmu.”
“ Apa?”
“ Aku ada meeting penting. Kau tunggu lilian datang dan menurutlah”
Serkan langsung pergi tanpa mengijinkanku berbicara lagi kepadanya.. Tunggu, pendengaranku yang salah atau dia memang mengatakan bahwa ini adalah kamarku? Tapi kenapa? Tidak.. Sepertinya aku yang salah dengar.. Tidak mungkin dia berkata seperti itu. Lalu terapis? Aku perlu? Kenapa dia sampai memperlakukan aku seperti ini? Aku takut salah mengartikan semua kebaikan yang dilakukannya.. Tak lama ketika aku sedang berpikir, terdengar suara mobil terparkir.. Apa itu adalah lilian? Namun ternyata aku dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tak diundang..
“ Berguzar?”
Almira yang menatap dengan sedikit ketakutan
“Mengapa kau masih di sini, terutama kau berada di kamarnya?"
Ucap Berguzar kesal menggunakan bahasa turki
“ Serkan sendiri yang inginkanku di sini"
“ Kurang peringatan yang ku berikan kepadamu?"
“ Apa? Tunggu.. apa yang terjadi kemarin malam.. Kau yang..?"
“ Ya, Aku kira kau tahu dan pintar setelah apa yang terjadi di Restaurant.. Tapi ternyata tidak!"
“ Kenapa kau melakukan ini padaku?"
“ Asal tahu saja, jangan main-main dengan apa yang menjadi milikku!
Setelah mengatakan itu Berguzar langsung berlalu pergi dengan tatapan penuh amarah kepadaku.. Pikiranku tiba tiba kosong dan entah mengapa dadaku terasa sesak.. Berguzar tidak main main, bahkan dia sampai melakukan hal seperti ini padaku.. Betul yang dikatakan hazal dan ozge hari itu, wanita ini sangat berbahaya.. Apa ini berarti hubungan serkan dan dirinya berlanjut? Itu berarti serkan masih menerima dirinya, lalu kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Membuatku menjadi salah paham atas perlakuannya.. Tak lama Lilian muncul didepan pintu dan tersenyum padaku dengan mengangkat kedua tangannya memperlihatkan barang apa saja ditangannya..
“Kirey ada seminar hari ini, jadi dia tidak bisa datang sampai sore ini.. Dan Ini laptopmu.. Jadi kau bisa mengerjakan tesismu di saat senggang.. Kudengar kau sedang mengajukan sidang tesis minggu lalu..”
“ Aah yaa.. terima kasih Li.. Tapi, apa ini?”
Almira yang tidak begitu fokus dengan perkataan Lilian
“ Kau tidak mendengarku? Kubilang apa kau sedang mengajukan sidang tesis minggu lalu? Ini adalah formulirnya..”
“ Yaa.. Maaf, aku sedikit tidak fokus tadi..”
“Mir.. Saat aku mau masuk kemari, kulihat seorang wanita cantik keluar dari sini lalu berkendara pergi.. Siapa mir?”
Ucap Lilian sembari memberikan semangkuk soup bubur pada Almira
“ Dia...?”
“ Siapa? . . . Kenapa kau diam?”
Lilian yang terduduk disebelah Almira dan menatapnya serius
“ Bukan siapa siapa..”
Almira mencoba mengalihkan pandangannya
__ADS_1
“ Aku yakin perempuan itu datang dan berbicara denganmu kan? Aku tahu dari expresimu saat tadi datang kemari”
“ Bukan apa apa..”
“ Lantas kenapa tatapanmu terlihat kosong? Pikiranmu seperti melayang bebas.. Kau pun hanya mengaduk ngaduk makanan ini tanpa memakannya”
“ Apa? Hanya... Panas, aku mencoba mendinginkannya”
“ Soup ini sudah hangat tidak panas mir.. Jujurlah, siapa wanita itu? Atau aku hubungi...”
Lilian mengeluarkan Handphone dari sakunya
“ JANGAN”
Almira langsung mengambil Handphone dari tangan Lilian
“ Berguzar.. Jangan bilang, dia yang melakukan hal ini padamu mir”
“ Yaa..”
“ Gila!! Wanita itu sudah gila!! Pantas saja Serkan dan Emre mencoba mencari keempat pria itu tapi mereka seperti dengan rapi disembunyikan oleh seseorang. Kepolisian hanya bisa memberikan keterangan melalui rekaman cctv lalulintas, sesaat sesudah kejadian mereka berlari dan dijemput sebuah mobil dengan tidak menggunakan plat no. Mobil”
“ Serkan melapor pada polisi?”
“ Ya, awalnya Serkan merasa curiga karena itu adalah jalan utama tapi tiba tiba ada 4 pria dengan kondisi mabuk mengejarmu.. Lalu menurut Serkan, saat dia berkelahi dengan mereka, mereka sama sekali tidak seperti orang yang sedang mabuk saat melawannya”
“ Li, aku lupa mau bertanya padamu dan kirey, apa kalian memberitahu...”
“ Tidak. Kami tahu ayahmu menderita penyakit jantung, ibumu juga rentan sakit.. Jadi aku dan kirey tidak memberitahukan mereka.. ”
“ Syukurlah.. Terima kasih”
“ Makanlah selagi hangat lalu minum obatmu..”
Aku memakan hidangan ini dengan pikiranku yang pergi entah kemana.. Apa aku harus pergi saja dari sini sekarang? Emre juga masih memberikan mobilnya untuk dipakai oleh lilian.. Tapi jika aku pergi, apa akan menimbulkan masalah? Atau malah mungkin membuat segalanya lebih baik? Apa yang harus aku lakukan saat ini? Belum selesai aku berpikir, tiba tiba seperti terdengar suara langkah kaki menuju kearah atas.. Aku dan lilian saling menatap seolah bertanya siapa yang datang? Lilian dengan sigap berjalan menuju keluar pintu.. Lagi lagi hari ini aku dikejutkan kedatangan tamu yang tak terduga..
“ BU FARRAH..”
Almira yang terkejut hingga langsung terdufuk tegap
“ Almira? . . . . Apa yang terjadi padamu? Apa gara gara Serkan sehingga kamu jadi...”
Bu Farrah yang juga terkejut berjalan dan langsung terduduk disamping Almira melihatnya dengan khawatir
“ Tidak, bukan Bu.. Bukan..”
“Apa kamu baik baik saja? Haruskah kita ke rumah sakit?”
“ Tidak perlu bu.. Serkan memperlakukan saya dengan baik, bahkan memanggil dokter kemari.. Serta maafkan kelancangan Almira, ditempat tidur Serkan saya berani...”
“ Bukan.. Bukan.. Maksud ibu adalah akhirnya Serkan mulai melangkah maju. Ini perkembangan Almira..”
“ Maksud ibu?”
“ Semenjak dia menderita BPD, pintu rumahnya sangat tertutup rapat untuk siapa pun. Hanya Emre dan ibu yang diperbolehkan masuk kemari. Semua tirai jendela tertutup, bahkan assisten rumah tangga pun, dia pindahkan ke rumah ibu.. Tapi, melihat saat ini dan dirimu saat ini.. Maafkan ibu.. Ibu seperti mensyukuri keadaanmu yang seperti ini. Almira, mohon maaf.. Jangan salah paham, ibu...”
“ Almira sangat mengerti maksud ibu..”
“ Kau sudah membersihkan dirimu? Ibu akan membantumu..”
“ APA?? Tidak bu.. Tidak perlu, ada Lilian yang akan membantuku”
Almira yang merasa canggung mencoba untuk menolak tawaran bantuan Bu Farrah
“ Berhenti menolak dan menurutlah pada ibu.. Lilian, siapkan baju gantinya, dan juga siapkan handuk, air hangat dengan sedikit sabun, lalu...”
“ Siap!”
Lilian yang langsung menuju kamar mandi mempersiapkan semua
“ Bu.. Almira mohon, tidak perlu..”
“ Ibu tidak akan mendengarkanmu kali ini. Jadi diamlah”
“ Tapi bu....”
Bu farrah sudah tidak mendengarku berbicara, beliau berjalan menuju kamar mandi dan entah apa yang sedang didiskusikan oleh mereka berdua disana.. Tak lama mereka keluar dengan membawa semua peralatan untuk mambantu membersihkan dan mengganti pakaianku.. Jujur aku merasa sangat canggung dengan prilaku bu farrah saat ini.. Namun seperti layaknya seorang ibu, bu farrah memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.. Saat membuka baju yang kukenakan, bu farah benar benar terkejut melihat luka memar diperutku.. Beliau juga melihat kearah lilian, namun lilian juga tidak bisa berkata hanya bisa menundukkan kepalanya.. Dengan sangat perlahan bu farrah mencoba membasuh dan mengusap tubuhku dengan handuk kecil, saat mencoba membersihkan punggungku, kembali bu farrah terdiam melihat bagian belakang leher dan pundakku.. Tak lama Bu Farrah mencoba membasuhku kembali dengan handuk dan membantu mengeringkan serta memakaikan bajuku..
“ Almira. Apa yang terjadi padamu? Ceritakan pada ibu”
“ Tidak ada bu.. Saya hanya terpeleset dan terjatuh..”
“ Lilian?? Apa kau juga tidak akan menceritakannya?”
Bu Farrah yang mengalihkan pandangannya langsung kepada Lilian
“ Saya...? Tapi...”
Lilian yang kebingungan serta melihat Almira yang dibelakangnya memohon untuk tidak menceritakannya
“ Lilian..?! Jangan melihat Almira! Ceritakan pada ibu!”
“ Maafkan aku almira.. Sebenarnya almira...”
“ LILIAN..!!”
Lilian sudah tidak mendengarkan lagi aku berbicara saat ini.. Dengan detail dia menceritakan semuanya pada bu farrah.. Bahkan saat Berguzar datang sebelumnya dan apa yang dia bicarakan padaku pun, Lilian ceritakan semua padanya. Terlihat sangat terkejut sekali Bu Farrah saat ini, aku pun hanya bisa menundukkan kepalaku padanya.. Begitu selesai mendengar Lilian bercerita, tangan bu farrah tiba tiba terlihat bergetar, Lilian yang melihatnya langsung memegang erat tangan Bu Farrah saat ini.. Aku hanya bisa duduk terdiam melihatnya.. Begitu sudah merasa tenang, Lilian melepaskan tangannya dan tiba tiba Bu Farrah mengulurkan tangannya ke wajahku dan dengan lembut menyentuh bibirku yang juga terluka..
__ADS_1
“ Apa kesalahanmu sampai harus mengalami ini semua.. Kau pasti merasa takut.. Maafkan kami, kamu sampai harus seperti ini.. Apa yang ibu bisa lakukan untukmu?”
“ Bu farrah? Apa ibu menangis?”
“ Bagaimana jika orang tuamu tahu akan kondisimu saat ini? Orang tua mana yang sampai hati melihat anaknya sampai seperti ini..”
“ Almira baik baik saja bu.. Berhentilah menangis..”
Almira mencoba menepuk lembut bahu Bu Farrah
“ Maafkan kami almira... Maukah kau memaafkan kami?”
“ Bu Farrah apa yang ibu dan keluarga ibu lakukan padaku? Kenapa menundukkan kepala anda pada saya?”
“ Kau bahkan membantu Serkan kembali normal seperti dulu tapi kau juga yang harus menanggung akibat dari semua itu.. Maaf almira.. Ibu memohon maaf..”
Bu Farrah yang menangis di hadapan Almira
“ Hentikan bu.. Angkatlah kepala anda.. Jangan seperti ini bu..”
Karena Bu Farrah masih saja menangis dengan menundukkan kepalanya padaku, aku akhirnya memeluknya.. Tapi dengan kondisiku saat ini, membuatku sedikit sulit untuk memeluknya, tersadar akan kondisiku Bu Farrah lebih mendekatkan dirinya padaku dan memelukku dengan eratnya.. Terasa seperti mama yang sedang memelukku saat ini, dan entah mengapa aku jadi sangat merindukannya dan ingin pulang kerumah.. Ya, rumah tempatku berasal.. Mama.. Mama.. Itu yang kukatakan dalam hatiku saat bu farrah memelukku dan mengusap rambutku dengan lembut.. Tak sadar aku pun menjadi ikut menangis bersamanya bahkan Lilian pun ikut terbawa menangis..
Begitu merasa tenang, bu farrah melepaskan pelukannya dan menatapku dengan penuh kasih sayang lalu tersenyum padaku.. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 1 siang, bu farrah berkata membawa makanan saat menuju kemari, kemudian meminta Lilian untuk membantunya mempersiapkan makanan itu dan mereka pun berjalan keluar kamar menuju dapur.. Sedangkan aku entah mengapa mataku terasa berat untuk tetap tersadar, sepertinya efek dari obat yang tadi kuminum.. Aku pun membaringkan kembali tubuhku dan tertidur.. Seperti terdengar suara tawa dari arah dapur, apa yang sedang mereka lakukan? Tapi untuk berpikir pun seolah tubuhku menolak hingga tak sadar aku pun tertidur..
.......................
“Katakan saat ini, kau sudah tidak menghubungi wanita itu?”
“ Maa..”
“ JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU JIKA KAU MASIH MENGHUBUNGINYA!! Ada apa dengan wanita itu sehingga kau sangat mencintainya bahkan setelah mengingat semuanya..”
“ Ma, Bukan seperti itu. Aku...”
“ Sepertinya baik aku ataupun ayahmu tidak mendidikmu untuk menjadi pria seperti ini Serkan.”
“ Maa..”
“ Kami sangat merasa kecewa padamu Serkan.. Renungkanlah dirimu kembali”
“ Ma, Ma tunggu dengarkan... MAMA. tunggu....”
Aku terbangun karena mendengar suara, tapi ternyata perdebatan adalah bu farrah dan serkan.. Jam berapa sekarang? Kenapa tiba tiba sudah akan menjelang malam? Apa aku tertidur cukup lama? Bukan bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka, aku pun merasa serba salah saat ini.. Aku hanya mencoba bersikap tenang seolah masih tertidur.. Serkan mencoba mengejar bu farrah yang berlalu pergi, akhirnya aku pun dapat membuka mataku dan mencoba untuk terduduk.. Ternyata betul serkan masih menjalin hubungan dengan berguzar.. Dia sangat begitu mencintainya.. Lalu apa yang kulakukan disini? Jelas jika berguzar merasa marah bahkan mengancamku..
Apa dia melakukan ini karena rasa terima kasihnya padaku? Atau rasa bersalah kembali padaku? Jujur aku merasa malu pada diriku saat ini, apa yang kau lakukan almira? Bangun dan pergilah dari sini.. Aku mencoba untuk bergerak meski seluruh tubuhku masih merasakan sakit dan mencoba untuk berdiri secara perlahan.. Saat mencoba berjalan lagi lagi tubuhku tidak bisa untuk bekerja sama denganku sehingga aku pun terjatuh dan tertidur dilantai.. Kembali dapat kurasakan perut, pundak, dan kaki ku menjadi lebih sakit kala ini, mencoba menahan sakit, tiba tiba serkan datang dan berlari kearahku..
“ Apa yang kau lakukan?! Almira!!”
“ Aku mau pulang..”
Almira yang mencoba membereskan barang barangnya
“ Apa kau mendengar percakapanku dengan ibuku sabrusan? Itu semua bukan karena...”
“ Ya aku mengerti kau tidak perlu menjelaskannya”
“ Apa yang kau mengerti?”
“ Hentikan, aku tidak mempunyai tenaga lebih untuk berdebat denganmu saat ini..”
“ Bukankah aku menyuruhmu untuk diam dan beristirahat? Kenapa kau susah sekali untuk mendengarkanku?!”
Serkan langsung menghampiri dan menggendong Almira layaknya seorang putri
“ Tunggu.. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menggendongku? Aku mau dibawa kemana?”
“ Diam”
Kemana dia akan membawaku saat ini? Tidak mungkin Bu Farrah mengatakan semuanya pada serkan, aku meminta untuk merahasiakan darinya.. Apa karena itu bu farrah menyuruh serkan untuk tidak menghubungi berguzar, lalu dia merasa marah padaku? Sekilas saat ini aku juga melihat sedikit kekesalan diwajahnya.. Apa aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya? Banyak pertanyaan dikepalaku saat ini.. Mungkin sebaiknya kusampaikan saja agar dia tidak salah paham padaku.. Serkan terus membawaku ke halaman belakang rumahnya dimana terdapat kolam renang.. Entah mengapa tiba tiba aku berpikiran negative kepadanya, apa aku akan berakhir seperti di film horor? Apa dia akan menjatuhkanku ke dalam kolam itu? Aku melihat kepadanya, namun tatapan serkan sama sekali tidak mengarah padaku.. Serius?? Inikah kisah hidupku??
“ Duduklah dan semoga kau menyukai makanan ini..”
“ A.. apa?”
“ Kenapa mukamu seperti itu?”
Aku sama sekali tidak melihat ternyata dia sudah menyiapkan meja dan kursi disini karena arah tubuhku saat dia menggendongku membelakangi ini semua.. Meja yang teratur dengan rapi dengan lilin yang menyala ditengahnya, tercium sangat wangi saat menghirupnya.. Apa ini lilin aromatherapy? Lalu makanan dan minuman yang berbeda, terlihat dia memperhatikan bahwa saat ini sangat sulit untukku membuka mulut bahkan untuk menyantap makanan keras sehingga dia memilih menu yang terlihat sama namun menu makananku dibuat lebih lunak dari menu mekanannya.. Apa dia menyiapkan ini semua? Buat apa dia sampai seperti ini? Apa hanya karena rasa terima kasihnya? Almira, kendalikan perasaanmu.. Berpikirlah secara jernih..
“ Jujur semua makanan ini bukan aku yang memasak, aku meminta mete dan ozcan yang menyiapkannya”
Ucap Serkan yang mulai menyantap makanannya
“ Kau yang memilih menu makanan ini?”
“ Ya. Saat dikantor aku mencoba mencari referensi makanan dan minuman untukmu, lalu teringat kau tidak bisa menyantap makanan yang padat”
“ Kau meminta mereka melunakkan makanan ini..”
“ Ya. Tapi aku tidak menyangka mete bisa membuatnya terlihat sama..”
“Bukankah tidak perlu memakai meja dan lilin seperti ini.. Terlihat sangat formal.. Jika ada yang melihat mungkin mengira kita berdua sepasang kekasih.”
“ Aku tidak keberatan dengan itu”
“ Apa?”
“ Makanlah selagi hangat, ini lezat sekali”
__ADS_1
Serkan menyantap makanan itu dengan lahapnya, apa dia sengaja tidak makan dikantor untuk sekedar menemaniku makan malam saat ini? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Membuatku menyalah artikan perhatian yang diberikannya untukku, bagaimana perasaanku saat aku tahu bukan tempatku untuk berada disini.. Serkan kembali menyuruhku untuk menyantap makanan dan minuman ini.. Selesai menyantap semua, serkan kembali menggendongku untuk kembali ke kamar tidur lalu berlalu pergi keluar kamar.. Tak lama dia datang kembali bersama 2 orang wanita berpakaian seragam, mereka pun memperkenalkan diri padaku sebagai terapis yang akan mengobatiku selama seminggu kedepan.. Dari ujung kepala hingga ujung kaki mereka sangat berhati hati, terlihat sangat profesional sekali.. Pasti mahal biaya pengobatan mereka terlebih jika melakukan panggilan pribadi dengan datang kerumah seperti ini..
Perasaanku semakin tak karuan saat ini.. Kenapa dia seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Sebagai sesama wanita, bukankah tidak pantas aku bersama pria yang memiliki tunangan? Aku tahu aku harus segera pergi dari sini.. Tapi kenapa aku berdiam diri seperti ini? Sadarlah almira..