
Detik jam yang seolah terhenti, membuat suasana hening tak berujung. Aturan permainan takdir yang sengaja kuhindari ternyta berbanding terbalik disaat hati ini tidak begitu tulus untuk berdoa ataukah kesadaran hati yang masih ingin bertahan disaat tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Melihatnya berdiri tegap dihadapanku, entah sejak kapan aku selalu mencoba untuk menghapus bayang bayangnya dan hanya mengenang semua pemberiannya. Mencoba menahan tangisan yang terlihat begitu menyakitkan akan perpisahan yang terpaksa kulakukan saat ini.
Terlihat dia baik baik saja dengan penampilan yang selalu membuat hati wanita manapun jatuh hati padanya.. Tak kala aku sendiri pun ingin sekali berlari kearahnya, namun hentakan kaki ini sudah tidak bisa lagi bergerak menuju kearahnya yang terlihat semakin jauh dari duniaku yang entah akan berakhir dengan kematian yang tragis ataukah berakhir bahagia..
“ Almira.. Kau mengenalnya?”
Turan yang terkejut kepada Almira bertanya menggunakan bahasa turki
“ Apa?.. Tidak Pak. Mungkin saya tadi salah bicara.. Tidak mungkin saya menge..”
“ Apa kabarmu?”
Ucap Serkan menggunakan bahasa indonesia memotong almira berbicara dengan menatapnya
“. . . . . . . . . . .”
Almira yang terdiam mendengar Pertanyaan Serkan dan merasa serba salah dihadapan Turan
“ Ada apa ini? Apa kalian saling mengenal?”
Ucap Turan kembali kebingungan menggunakan bahasa turki
“ Dialah yang menyembuhkanku. Turan, dia adalah wanita yang..”
“ Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, maka saya mohon pamit.”
Almira berbicara dengan bahasa turki memotong pembicaraan Serkan dengan menundukkan kepalanya dan berlalu pergi
Kemana aku harus pergi? Seandainya aku bisa menghilang saat ini! Siapa yang memberitahunya aku disini?.. Tidak mungkin, apa salah satu diantara mereka? Teganya mereka mengkhianaiku seperti ini disaat aku mempercayakan mereka dengan memberanikan diriku untuk bercerita dan memohon maaf kepada mereka semua! Berjalan dengan setengah berlari, aku kembali ke ruanganku dan langsung melakukan panggilan kepada Lilian dan Kirey melalui handphoneku..
“ Bagaimana bisa Serkan berada disini?”
Ucap Almira kepada Lilian dan Kirey melalui panggilan Video
“ Apa? Tunggu Almira.. Tidak ada satu pun dari kami yang memberitahukannya.. Percayalah!”
“ Aku bahkan menyuruh Emre untuk menjaga jarak dengan Serkan. Karena Emre tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu darinya..”
Ucap Lilian dan Kirey yang mencoba menjelaskan
“Lilian, apa Emre sudah sampai dirumah? Boleh aku berbicara dengannya?”
“ Baiklah, tunggu sebentar..”
Lilian yang berjalan menuju suatu ruangan dan menyerahkan panggilan kepada Emre
“ Almira? Ada apa?”
Ucap Emre kepada Almira
“ Direktur Rumah Sakitku ternyata merupakan teman baik Serkan dan aku baru tahu hari ini. Apa kau pernah mendengar nama Turan Madarik?”
“ Tentu saja. Selain menempuh jenjang pendidikan yang sama saat di Harvard, Tuan Turan merupakan CEO salah satu supply barang baku perusahaan kami.. Tunggu, kau bilang Direktur Rumah sakit?”
Emre yang terlihat kebingungan
“ Ya.. Dia bercerita padaku menggantikan Ayahnya dan baru baru ini menjabat sebagai Direktur di Rumah sakit ini.. Kebetulan apa ini?! Bagaimana bisa..”
Almira menarik rambutnya kebelakang dan menghembuskan nafas lelah
“ Almira.. Jujurlah pada Serkan dan ceritakan semuanya. Tidakkah kau merasa takdir selalu mempertemukan kalian?”
Ucap Lilian kepada Almira
“ Takdir ini terlihat konyol untukku dan Serkan.. Mungkin itu yang lebih tepatnya.. Aku tidak bisa lari kemana pun saat ini seolah terjebak. Apa yang harus aku lakukan?”
Almira tiba tiba terduduk lemas menundukkan kepalanya
“ Almira.. Kau juga masih memiliki perasaan juga bukan padanya? Kami dapat melihat itu darimu.. Tidak bisakah kau sedikit membuka hatimu untuknya?”
Ucap Kirey pada Almira
“ Dan membiarkan dia Terinfeksi penyakitku? Bahkan aku tidak tahu apakah besok aku masih bernafas? Aku ketakutan setiap malam saat membayangkan Hepatitis B yang ini berubah menjadi Kanker Hati.. Usia ku tidak akan.... Itu yang kalian inginkan untuk Serkan?”
Almira yang tanpa sadar menitikkan air matanya namun langsung menghapusnya
“ Pengobatan sekarang sudah modern.. Almira, kau pasti sembuh!”
Ucap Kirey kembali
__ADS_1
“ Itulah yang aku coba lakukan selama 2 tahun ini.. Aku sedang melakukan perawatan medis..”
Almira tersenyum dengan penuh sedih diwajahnya
Melihat mereka yang terdiam, aku pun terdiam dan menutup panggilan ini sebelum semakin mengiris nadi jantung ini pun terasa sesak untuk bernafas.. Menundukkan kepalaku dan entah mengapa semakin lama luka di tangan ini semakin terasa sakit. Waktu pun menunjukkan jam kerjaku terlah berakhir lalu segera berganti pakaian dan menuju apotek di lobby lantai bawah untuk membeli sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakit ini.
Begitu keluar dari ruanganku dan menuju apoteker, masih terlihat para Perawat dan beberapa Dokter Jaga yang masih saja melihatku dengan tatapan mereka yang seolah menyudutkanku. Sungguh tidak nyaman sekali diperlakukan seperti ini dengan oleh mereka yang tidak pernah merasakan bagaimana berada diposisiku saat ini.. Berjalan mencoba mengacuhkan tatapan mereka yang menatapku, tersadar pada sebuah tubuh yang berdiri tegap dan lebih tinggi dihadapanku, akhirnya membuat langkahku terhenti dan bergeming. Wangi aroma parfum ini serta jam tangan hitam yang selalu di pakainya itu, terkadang membuatku merasa.. Apa aku sedang bermimpi saat ini?
“ Aku akan mengantarmu”
Ucap Serkan kepada Almira yang menundukkan kepalanya
“ . . . . . Apa aku mengenalmu?”
Almira yang langsung berlalu pergi melewati Serkan
“ TUNGGU! Aku ingin berbicara denganmu.”
Serkan menarik tangan Almira dan mencoba menghentikannya
“ Tidak ada yang harus dibicarakan..”
Almira menarik tangannya dan tidak membalikkan tubuhnya untuk melihat serkan sedikit pun
Inilah yang tidak kuinginkan. Kenapa harus Serkan yang menjadi donatur utama hingga mengetahui aku berada disini disaat semua berjalan lancar selama sebulan ini.. Kupikir dalam 2 bulan kedepan tidak akan ada masalah sama sekali dan aku pun dapat kembali ke Indonesia tanpa perasaan apa pun. Tapi kenapa? Kenapa?
#BRUUUAAKKK #BRAAKKKK
Suara Map berkas yang berjatuhan dilantai
“ Maafkan Pak Turan.. Aku tidak melihat, maafkan..”
Almira yang menunduk membantu membereskan Map Berkas dilantai
“ Terburu buru?.. Hentikan, biar aku saja. Tanganmu sedang terluka.”
Turan mengambil Map ditangan Almira dan langsung membereskannya seorang diri dan membantu Almira untuk berdiri
“ Ya, aku sedang dalam perjalanan untuk pulang kembali ke penginapan..”
“ Almira, boleh aku bertanya sesuatu? Ada hubungan apa antara kau dan Serkan?”
Ucap Turan dengan tatapan serius kepada Almira
“ Dengar, seperti kau tahu besok adalah keputusan kesepakatan mengenai masa dinasmu di Rumah sakit ini. Jika aku terpaksa harus memulangkanmu, ma..”
“ Aku sangat mengerti, tenanglah Pak Turan..”
Almira yang tersenyum lembut pada Turan
“ Namun jika keputusan memutuskan kau masih harus berada di Rumah sakit ini, aku memintamu untuk datang menghadiri sebuah acara sebagai pasanganku.”
“ Ap.. Apa maksud dari..”
“ Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Jujur begitu pertama bertemu denganmu, aku merasa ingin lebih mengenalmu. Tentu aku tidak akan memikirkan penyakitmu atau apa pun itu karena aku sudah mengetahuinya, kupikir bisa kita bicarakan kedepannya dengan serius.”
“ Kenapa tiba tiba..”
“ Pertimbangkanlah.. Maaf tiba tiba aku berkata seperti ini padamu.”
Turan yang langsung melewati Almira tanpa berkata kembali
. . . . . . . . . . . . . .
Detik jam berjalan menunjukkan pukul 22.00 malam. Selesai membersihkan diri dan mengobati kembali tanganku, entah mengapa perut ini merasa lapar mengingat tidak ada satu makanan pun yang dapat kusentuh untuk mengisi perut yang kosong ini.. Tiba tiba teringat pada sebuah Cafe yang berada di ujung jalan tak jauh dari penginapan, aku segera berjalan keluar dengan memakai jaketku karena cuaca saat ini sudah mulai terasa dingin. Berjalan keluar ternyata masih ramai orang yang melakukan aktivitas pada jam ini mengingat lokasi yang begitu dekat dengan pusat kota dan fasilitas yang disediakannya..
Dengan pintu pagar yang terbuka, tiba tiba aku melihat sebuah mobil hitam mewah yang terparkir dengan lampu yang menyala. Berjalan melewatinya seolah tidak merasa perduli, aku pun mengancingkan jaket ini dan berjalan tanpa melihat sekelilingku kembali. Sepanjang perjalanan tiba tiba aku terpikir akan perkataan Turan kepadaku siang tadi yang terlihat begitu serius dan menatapku dengan sangat dalam.. Apa yang ada dipikiran pria itu? Apa dia merasa iba penuh rasa kasihan kepadaku yang terlihat tak berdaya ini? Jika benar ma....
#TIIINNNN #TIIINNNN #TIIIINNNNN
“ HEY. DIMANA MATAMU!!”
Suara decit Rem mobil dengan seorang pria yang marah kepada Almira saat melewatinya
“ Apa yang...”
“ Almira, kau sedang memikirkan apa?”
Serkan yang melingkarkan tangannya pada pinggang Almira selepas menariknya dari Belokan lalu lintas berlampu merah
__ADS_1
“ Serkan?... Kau..”
“ Maaf aku mengikutimu.”
“ Te, terima kasih.. Barusan kau sudah..”
Almira mencoba melepaskan tangan Serkan dan menatapnya
“ Kau tidak apa apa? Ada tempat yang mau kau kunjungi di malam malam seperti ini?”
“ Pe.. Perutku merasa lapar.. Jadi aku berencana makan di cafe yang...”
Almira menghentikan bicaranya karena merasa bodoh dan polos dengan berbicara menjelaskan kepada Serkan
“ Aku mengerti. Aku akan menemanimu.”
Serkan yang langsung menarik tangan almira dan menggenggamnya
Kubiarkan Serkan melakukan ini padaku karena jika aku menolak terlebih melakukan perlawanan padanya pasti tidak akan selesai dan aku akan kehabisan tenaga hanya untuk melawannya. Mungkin dengan seperti ini aku juga dapat menjelaskan dan juga membuat dia untuk tidak mendekatiku lagi. Sesampainya kami di Cafe, seperti biasa layaknya pria berwawasan tinggi Serkan menarik salah satu kursi dan mempersilahkan untukku agar terduduk di kursi itu dan langsung memesan beberapa makanan dan minuman.. Walau sudah lama kami tidak bertemu, dia masih ingat makanan dan minuman apa yang sukai bahkan makanan penutup yang sangat ingin kunikmati saat ini..
Menunggu pesanan datang, kami tidak berbicara sedikit pun dengan keramaian Cafe ini seolah menjadi Bisu tak berpenghuni. Yang aku lakukan hanya sedikit menundukkan pandanganku agar tidak menatapnya sedikit pun yang mungkin membuat Serkan merasa Canggung dengan apa yang aku lakukan ini.. Aku tahu apa yang harus aku katakan padanya, tapi kenapa bibir ini seolah terkunci tak dapat berkata dan aku membiarkan moment ini berjalan hanya karena aku pun sangat merindukan suasana ini bersamanya.. Sadarlah Almira! Apa yang kau lakukan? Bicaralah dengannya!
“ Silahkan menikmati pesanan anda..”
Ucap pramuniaga yang mengantarkan makanan dan minuman dalam bahasa turki
“ Terima kasih”
Ucap Serkan kepada pramuniaga itu
Merasa lapar, tanpa menunggu lama aku menyantap Steak daging sapi dan kentang serta sayuran yang dibalut dengan bumbu yang lezat dan juice yang terasa sangat menyegarkan.. Sungguh paduan yang sempurna untuk mengisi tenaga yang sudah terkuras seharian hanya dengan menyantap makanan dan minuman ini.. Diakhir Pramuniaga pun menyuguhkan kue manis penutup dimana perpaduan kue coklat dan keju terpadu sempurna membuatku tak kuasa menahan expresi diraut wajahku yang tanpa sadar Serkan sedang memperhatikanku dengan sedikit tawa diwajahnya..
“ Makan kembali.. Syukurlah kau menyukai makanan ini..”
“ Eeemm Ya, inyihh enak syekali.. Teurimah kuasih..”
Almira yang mencoba berbicara dengan mulutnya yang terisi penuh
“ Kenapa kau membawa sendok, garpu, bahkan pisau steak dan pipet itu sendiri dari rumah?”
Serkan yang tiba tiba memandang Almira dengan serius
“ Ti, tidak apa apa.. Tidak ada alasan khusus.”
Ucap Almira yang mengalihkan sembari meminum segelas Juice
“.... Apa juice itu enak?”
#BRAAKKK #PRAAANGGGG
“ APA YANG KAU LAKUKAN SERKAN?!”
Suara pecahan gelas saat Almira yang terkejut merasa marah dengan mendorong tangan Serkan yang tiba tiba mengambil Gelas Juice yang sedang diminumnya hingga terlempar
“ Kau menyembunyikan sesuatu. Ada apa Almira?”
Serkan yang terdiam namun menatap Tajam kepada Almira
“. . . . . . . .”
Almira terdiam dan hanya mengacak acak rambutnya lalu menundukkan kepalanya
“ Hari ini pun aku melihatmu di Ruangan Gawat Darurat. Kau tidak membiarkan siapa pun menyentuh atau membantu mengobati Luka ditanganmu.”
Serkan semakin menatap Almira dengan sangat tajam dengan raut wajah yang lebih serius
“ Maaf aku harus pergi..”
“ AKU YANG AKAN MEMBAYAR TAGIHAN INI.”
Teriak Serkan kepada Almira yang berjalan menuju meja Cashier
Berjalan berpaling tanpa melihatnya kembali aku lakukan dengan rintihan suara hati yang menjerit perih.. Ternyata bukan hanya tanganku yang terasa sakit, namun hati ini ternyata lebih terasa perih dengan luka yang tidak terlihat oleh mata.. Berlari menuju kediaman dan mengunci pintu dengan sangat cepat lalu tersungkur terduduk dengan lemas didepan pintu ini membuatku berpikir tentang debaran jantung ini yang terasa semakin berdegup kencang hingga membuat nafas ini terasa sesak. Apa yang aku pikirkan dengan makan malam bersamanya seperti itu? Apa yang aku harapkan? Almira, kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu! Sungguh memalukan sekali..
Kenapa air mata ini mengalir? Apa alasanku menangis hingga tanganku bergetar tiada henti.. Merengkuh memeluk tubuhku sendiri dengan bersandar pada dinding pintu hingga tak terasa tertidur dan waktu pun berlalu. Alarm di handphone pun berbunyi menunjukkan aku yang harus menyiapkan diriku kembali pada medan tempur akan masa depan yang akan menjadi takdir hidupku..
Dengan menyisihkan sedikit energi dan bersiap siap, aku kembali berjalan menuju rumah sakit dan langsung menuju ruangan khusus pertemuan dimana Pak Turan sudah duduk bersama para Dokter dan juga Perawat yang akan memberikan keputusannya padaku dalam pengambilan suara ini..
“ Baiklah kita mulai. Siapa yang merasa keberatan dengan kehadiran Dokter Almira disini dan Siapa yang setuju jika Dokter Almira masih melanjutkan masa dinasnya di sini. Kita mulai dengan siapa yang keberatan atas kehadiran Dokter Almira, silahkan tegakkan tangan kalian..”
__ADS_1
Ucap Turan dengan berdiri dari tempat duduknya dan menatap para Dokter dan juga Perawat
Menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mataku untuk kembali bernafas menenangkan diri walau hanya sejenak, sebelum melihat dan menerima kenyataan hidup apa yang menjadi tujuan hidupku kelak. Tangan yang mengepal dan berdiri tegap. Baiklah, apa keputusan kalian terhadapku?