Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 7


__ADS_3

“ MIIRR.. MIIRAAA...!!”


Tersadar Seperti suara lilian atau kirey yang memanggilku saat ini.. Tapi Kepala ini masih saja terasa sedikit pusing, mata pun juga masih terasa berat untuk terbuka. Tubuhku terasa lemas sekali, apa akhirnya aku tadi pingsan? Tunggu dulu, ada dimana aku saat ini? Kenapa disini ramai sekali, bukankah terakhir kali aku masih berbincang dengan Serkan. Ingin sekali aku tersadar dan membuka mataku, tapi kenapa sulit sekali..


“ Ke, Kenapa dia masih belum sadar? Apa kondisinya sangat menurun?”


Ucap Lilian yang begitu mengkhawatirkan kondisi Almira yang terbaring


“ Terakhir kalian melihat kondisinya seperti apa?”


Ucap Serkan yang berdiri disamping Ranjang Almira


“ Kemarin aku memang sempat melihatnya seperti mencari sesuatu dikotak obat di ruang tengah, tapi sepertinya tidak menemukan obat yang dia cari..”


Ucap Lilian yang mengusap lembut kepala Almira


“ Ya, aku menghampirinya dan dari situ almira sempat meminta bantuanku membuat segelas susu hangat kemudian dia masuk kamar.. Tak lama dia bersiap dan pergi keluar..”


Ucap Kirey yang menggenggam erat tangan Almira


“ Saat kami tanya, dia menjawab akan ke kampus kemudian langsung pergi bekerja..”


“ Apa dia sudah terlihat tak sehat sejak kemarin?”


“ Almira itu wanita yang kuat.. Terkadang dia suka menyembunyikan kondisinya walaupun saat sedang sakit, jadi kami pikir dia baik baik saja..”


Ucap Kirey dengan menatap Almira penuh kekhawatiran


“ Ka.. Maaf sebetulnya almira sempat bertemu denganku dan berbincang. Dia memintaku merahasiakannya darimu.. Maaf”


Ucap Emre yang sedikit Menunduk dihadapan Serkan


“Untuk apa?”


“ Sepertinya dia sangat serius ingin mengetahui perkembanganmu, dia bahkan menanyakan beberapa hal mengenaimu, serta untuk jurnal akademik yang dia sedang kerjakan”


“ . . . . . Meeting hari ini, bisa kau tangani?”


“ Sepertinya tidak, kau harus datang. Tidak bisa diwakilkan olehku”


“ Tenang saja.. Kami tahu kau pasti sangat sibuk, tenang almira serahkan pada kami. Kami akan menjaganya..”


“ Mohon kabari perkembangannya.”


Ucap Serkan yang berlalu pergi di ikuti Emre dibelakangnya


“ Baik..”


...........................


“ Ada dimana ini?”


Ucap Almira yang baru tersadar


“ ALMIRA? Mir... Kau sudah sadar? Kau baik baik saja? Bagaimana kondisimu?”


" Aku akan memanggil dokter kembali.."


Kirey yang langsung berlari memanggil dokter atau suster jaga


" Kirey, jangan lupa sekalian tadi ada tagihan yang harus dibayar.."


" Oke,Oke"


“ Aku baik baik saja, Hanya Masih terasa sedikit pusing... Aku di infus?”


“ Semalam kau pingsan.. Serkan membawamu ke rumah sakit karena kau demam.. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?”


“ Aku pikir tidak akan sampai terjadi seperti ini.. Sepertinya aku menyusahkan kalian.. Maaf..”


“ Bukan kepadaku dan kirey.. Sepertinya kau harus mengucapkan itu kepada Serkan. Dia menemanimu semalaman di ruangan ini.. Bahkan saat kami datang pagi tadi, dia masih terjaga.."


" Dokter segera kemari. Lalu, ini mir.. Biaya administrasi pun ternyata sudah dia bayarkan”


Ucap Kirey yang menyerahkan bukti pembayaran pada Almira

__ADS_1


“ APA??”


“ Tenanglah, Tekanan darahmu juga cukup rendah, apa kau terlalu lelah?”


“ Kemana Serkan sekarang?”


“ Dia dan Emre kembali ke kantor karena ada meeting yang sangat penting”


“ Sepertinya aku menyusahkannya lagi... AArrrgghh!!”


Almira yang merasa kesal dengan mengacak ngacak rambutnya


“ Tidak perlu kesal mir, siapa yang tahu nasib kita di depan kan? Tapi, dia memang terlihat sangat khawatir..”


“ Tapi Mir.. Kau betul betul beruntung sekali bisa bertemu dengan pria seperti itu.. Kau bisa bersikap biasa saja dihadapannya? Kau tidak gugup?”


“ LILIANNNN....!!”


Ucap Kirey yang menatapnya dengan Sinis seolah menyuruhnya untuk diam


“ APA? Saat aku dan kirey datang tadi pagi, kami sempat tak dapat berbicara ketika bertemu langsung dengan pria itu.. Selain tampan, tinggi.. Dengan tampilannya dan sikapnya itu, bahkan kudengar dia adalah pimpinan perusahaan? Mir.. Itu paket lengkap..”


“ SSsstt!! Jujur mir.. Ada hubungan apa antara kalian? Kenapa dia dan rekannya itu juga sangat lancar berbahasa indonesia? Sepertinya mereka juga bukan orang indonesia..”


Ucap Lilian dan Kirey menginterogasi Almira dengan melayangkan pandangan akan penjelasan dari Almira


“ Pertanyaan kalian semakin membuatku pusing..”


Almira membalas dengan Tatapan yang terlihat kesal


“ Maaf mir, Maaf.. Kita juga sebenarnya sangat terkejut hari ini dengan apa yang terjadi padamu”


“ Kalau begitu aku akan mengabari Emre dulu memberitahukan bahwa kau sudah sadar. Serkan meminta kami mengabarinya. Kita tunggu dokter saja dan sampai cairan infus mu, lalu pulang..”


“ Makasih ya Li.. Rey..”


“ Tidurlah.. Istirahat yang cukup..”


........................


“ Semua oke? Kita berangkat sekarang?”


“ Ya emre.. terima kasih banyak..”


Sepanjang perjalanan Emre dan Lilian berbincang seperti menikmati dunia mereka berdua, aku dan kirey yang memperhatikan mereka dari belakang tersenyum senyum sendiri melihat mereka. Tak lama kirey mendapatkan sebuah panggilan masuk dari handphonenya, sepertinya baik lilian dan kirey sedang menikmati waktu mereka masing masing.. Aku pun akhirnya melihat keluar jendela, cuaca saat ini masih bersalju meskipun tidak seperti hari sebelumnya. Entah mengapa mataku kembali terasa berat, dan tak terasa aku tertidur kembali selama perjalanan pulang menuju apartment. Sesampainya kami di lobby utama apartment, kirey membangunkanku, kami pun segera keluar dari mobil.. Emre tiba tiba menghampiriku dan memberikan secarik kertas berwarna putih padaku.. Aku pun memberikan tatapan penuh tanya padanya, namun dia hanya tersenyum dan seperti menyuruhku untuk melihat isi kertas itu saat aku sedang sendirian.. Akhirnya aku dan kirey masuk duluan, karena sepertinya Lilian masih ingin berbincang dengan Emre.


Saat hendak masuk menuju pintu kamar, ternyata hazal dan ozge sudah menunggu didalam apartment dengan tatapan penuh khawatir padaku. Mereka pun menghampiri dan memelukku.. Dan saat ini entah mengapa, tubuhku masih terasa sedikit lemas dan rasa pusing ini masih saja belum menghilang.. Hazal dan ozge memberikan semangkuk bubur yang hangat untuk kusantap, aku sangat bersyukur memiliki orang orang baik yang mengelilingiku.. Mereka pun mengantarkanku menuju kamar, Sepertinya obat yang kuminum ini memiliki efek mengantuk seperti memang menyuruhku untuk beristirahat. Saat aku tertidur, entah berapa lama dan pukul berapa saat ini, tiba tiba terasa ada yang menyentuh kepalaku dengan lembut.. Lalu tercium wangi parfum dari pria yang kukenali.. Aroma ini, apakah serkan yang menyentuh kepalaku saat ini?


“ Dia sudah tidak demam. Syukurlah”


Ucap Serkan yang menyentuh kepala Almira


“ Ya, tadi siang hazal dan ozge juga kemari untuk memberikan bubur untuknya, dia makan dengan lahap kemudian meminum obatnya.. Dari situ dia tertidur”


“ Apa kau datang langsung kemari? Seorang diri dari kantor?”


Ucap Lilian pada Serkan


“ Ya. Emre ada pekerjaan yang harus dikerjakannya. Kenapa? Merasa kecewa? Bukankah kalian baru bertemu tadi siang?”


“ Aapa..? Tidak.. Tentu saja tidak.. Aku hanya bertanya saja”


Lilian yang salah tingkah menggerakan kedua tangannya seraya penolakan


“Sepertinya kau pria yang sangat peka Serkan bey.. Harap maklum, lilian memang seperti ini.. ”


Ucap kirey dengan tatapan sinis pada Lilian


“KIREYY..!!”


“ Aku bisa langsung mengerti begitu melihat expresinya saat menyebut nama Emre. Kalau begitu aku pamit karena masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan”


Serkan berdiri dan merapikan jasnya, berjalan meninggalkan kamar Almira


“ Kau kemari hanya melihat kondisi almira kemudian kembali ke kantor lagi? Kenapa kau tidak melakukan panggilan video saja padaku atau lilian?”

__ADS_1


“ Aku ingin melihatnya secara langsung. Kalau begitu, aku permisi”


Serkan pun sedikit membuka lalu membuka pintu dan berlalu pergi


“ Aahh.. Ya silahkan.. Terima kasih sudah kemari melihat almira”


Saat pintu kamarku tertutup, aku pun membuka mataku mencoba untuk duduk dan berdiri berjalan menuju balcon luar kamar. Tak lama kulihat Serkan keluar pintu lobby apartment dan berjalan menuju mobilnya.. Saat akan masuk kedalam mobil, tiba tiba dia mengarahkan pandangannya kearah kamarku, dan seperti anak kecil aku malah bersembunyi dibalik tirai jendela.. Dengan sedikit mengintip keluar, kulihat serkan masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi.. Kenapa dia begitu baik padaku? Aku takut menyalah artikan maksud dari perhatiannya ini.. Apa dia seperti ini hanya karena rasa bersalahnya lagi? Dengan berjalan sedikit lemas untuk kembali membaringkan diriku, aku berpikir banyak hal yang menurutku tidak perlu aku pikirkan hingga kembali tertidur..


.........................


Pagi menyambut kembali\, cuaca sudah lebih terasa hangat dibandingkan sebelumnya menandakan musim semi akan tiba.. Saat aku melihat handphone\, tiba tiba Note pengingat di handphone ku berbunyi dengat label *Pak Onur\, Wawancara Pertama*. Tanpa berpikir panjang aku langsung bangun dan mempersiapkan diriku untuk bersiap dan dengan terburu buru menuju kampus.. Sesampainya di ruangan Pak Onur aku sedikit terlambat sehingga aku mendapatkan giliran terakhir.. Hari liburku melayanglah sudah.. Pasti sebulan kedepan aku akan sangat disibukkan dengan jurnal akademik ini\, beruntungnya Pak Mete dan Kak Ozcan Hanim sangat perngertian padaku jika aku tidak bisa datang untuk berkerja.


Semua dipanggil kedalam ruangan, namun entah mengapa Pak Onur tiba tiba menyuruhku untuk masuk keruangan sebelah.. Dengan wajah penuh kebingungan, aku menuruti perintahnya dan masuk keruangan sebelah.. Saat aku membuka pintu, terlihat emre sedang menunggu didalam dengan seorang wanita bersamanya. Mencoba untuk bersikap tenang tanpa terkejut sedikit pun, aku seperti sudah memiliki firasat jika aku mengambil jurnal ini, maka hal seperti ini pasti terjadi.. Tapi, Siapa wanita cantik itu? Meski terlihat seolah usia tak jadi permasalahan, paras dan auranya membuatnya sangat cantik dan terasa sangat mengintimasi suasana diruangan saat ini. Wanita ini memiliki aura yang sama sepertinya.. Setiap hal yang dikenakan mulai dari pakaian dan tas yang tidak mencolok namun terlihat begitu elegant dan sangat berkelas..


“ Bagaimana kabarmu?”


“ Jauh lebih baik Emre, Terima kasih.. Dan ini adalah...”


“ Dari tatapanmu sepertinya kau sudah tahu.. Perkenalkan Farah Amanya. Saya ibu dari serkan.. Saya juga sama sepertimu dari indonesia jadi....”


“ Aahh maafkan kelancangan saya, Nama saya Almira Basera.. Saya tidak tahu kalau hari ini akan bertemu dan melakukan wawancara terlebih dahulu dengan anda.. Senang dapat bertemu dengan nyonya..? Maaf.. ibu..? Ta.. tante..??”


Terlihat kebingungan diwajahnya saat ini.. Dan terlihat emre seolah menertawakanku dengan menutup mulutnya dibelakangnya.. Ada apa denganku?! Kau tidak bertemu dengan calon mertuamu atau yang lain! Almira!!! Kau sudah hilang akal? Biasanya kau tidak seperti ini. Sadarlah miraaaa!! Anggap mereka adalah klien mu saat ini dan bersikap lah profesional. Tak lama dia pun tersenyum melihatku yang salah tingkah dihadapannya dengan membuka halaman demi halaman map profile cadangan serkan yang sudah aku lingkari atau aku garis bawahi dengan pena berwarna merah bahkan aku berikan sedikit coretan, gambar emotic marah dan lain lain atau sindiran didalamnya saat aku merasa kesal padanya.. Tersadar aku langsung menutup kembali map itu dan menundukkan kepalaku.. kenapa aku harus melakukan ini?? Aaahhh miraaa...!! Ibu serkan kembali tersenyum melihat map yang berada ditanganku kemudian menatapku..


“Almira.. Kau bisa memanggilku dengan sebutan ibu jika kau tidak keberatan.. Dan, apa bisa kita lanjutkan? Karena saya yakin banyak yang harus dilakukan sesudah ini bukan?”


“ Baik.. Maaf bu, pertanyaan yang saya sangat ingin tanyakan adalah inti dari awal semua ini...”


“ Saya mengerti, Anakku serkan dan wanita itu diam diam melakukan pertunangan tanpa diketahui olehku dan ayahnya. Asal usul wanita itu jujur belum jelas saat serkan menjelaskannya pada kami.. Yang kutahu saat pertama kali serkan bercerita dengan memperlihatkan foto wanita itu bahwa dia bernama Berguzar dan bekerja di sebuah bar.”


“ Ya.. Saya juga sudah melihat wanita cantik itu dari sebuah buku note yang sepertinya selalu serkan bawa dalam kantong jas nya..”


“ Note? Buku Note??.... Emre??”


“ Maaf.. Kakak menyuruhku untuk tidak memberitahu ibu dan ayah”


“ Kalian memang seperti adik dan kaka. Tapi jika kau ingin kakak mu itu sembuh, bukan seperti ini caranya. Kau jelas tahu itu Emre..”


“ Maafkan aku, bu.. Semua salahku.”


“Maaf kelancangan saya berbicara bu.. Sepertinya Emre pun tidak menyangka bila Serkan sampai saat ini masih membawa buku note itu. Bukan kah begitu Emre? Karena, saat saya mengembalikan jas waktu itu pada Serkan, kau tampak terkejut ketika ditangan Serkan ada buku note itu lagi yang sepertinya kau pun sengaja menyembunyikannya.”


“ Kak Serkan, dia betul betul dalam masa sulit selama 2 tahun terakhir. Kami mencoba melakukan yang kami bisa tapi....”


“ Keadaan semakin memburuk saat ibu memberitahukan bahwa adiknya Safiye, meninggal dalam kecelakaan saat bersamanya.. Pada malam hari dia tiba tiba demam tinggi selama 2 hari, lalu pada hari ketiga membaik.. Namun dia tidak ingat apa pun mengenai wanita itu..”


“ Maaf kecelakaan itu.. Bisa anda menceritakannya?”


“ Saat kecelakaan terjadi ibu dan ayah sedang berada diluar negeri, jadi akulah yang tepat berada disisinya.. Kecelakaan itu terjadi saat Mete menghubungi ku memberitahu Berguzar membawa seorang pria ke restaurant miliknya menjelang malam hari.. Aku pikir hanya teman dan lainnya, tapi mete mengirimkan sebuah video padaku yang memperlihatkan berguzar terlihat sangat mesra dengan pria itu bahkan pakaiannya pun sangat terbuka”


“Lalu Serkan tidak sengaja melihatnya tanpa kau sadari?”


“ Ya.. Aku tidak sadar bahwa dia sudah berada dibelakangku saat itu.. Dan kebetulan Safiye sedang berada dikantor bersama kami.. Melihat video itu Tanpa pikir panjang kakak mengambil kunci dan berlari pergi. Tapi safiye merasa khawatir sehingga memintaku untuk mengantarkannya ke restaurant dan aku pun menurutinya. Begitu sampai di restaurant, kakak dan pria itu terlibat perkelahian. Terlihat Mete kewalahan menengahi mereka, aku pun akhirnya turun tangan. Lalu tiba tiba pria itu membawa Berguzar pergi dan berkendara pergi dengan mobilnya. Kak Serkan pun langsung mengejarnya, tapi ternyata Safiye sudah berada dimobil bersamanya. Aku mengikuti mobil mereka, mereka seolah saling bersaing satu sama lain berkendara tanpa arah.. Hingga sebuah mobil dari arah samping sengaja menabrakan diri kearahnya hingga mobil terbalik. Bodohnya aku seperti patung saat itu tidak berbuat apa pun, dan saat menghentikan mobilku, aku pun langsung berlari kearah mereka. Namun ternyata mobil yang menabrak mereka, memutar balik dan dengan sengaja mendorong mobil mereka hingga jatuh ke bawah jurang. Meski jurang itu tidak tinggi, kulihat mobil mereka berputar sebanyak 2X”


“ Anakku Safiye meninggal saat tengah melakukan operasi, sedangkan Serkan koma selama hampir sebulan. Selama Serkan koma, kami menguburkan safiye tanpa kehadirannya.. Saat serkan sadar, dia masih mengingat semuanya, sampai akhirnya ibu memberitahukan kabar itu padanya”


“ Lalu pria yang bersama Berguzar ternyata adalah saingan bisnis Kak Serkan. Akibat itu salah satu anak perusahaan inti hampir terjadi kebangkrutan sehinga ayah yang mengurus itu semua dan harus menghentikan produksi selama beberapa waktu sampai keadaan normal kembali”


“ Dan akibat dari kecelakaan itu lengan kiri kakak cacat sehingga tidak bisa bergerak bebas seperti dulu.. Kakinya pun terdapat luka yang tidak bisa hilang sampai saat ini”


“ Ibu juga baru tahu ternyata Serkan sudah membeli sebuah rumah untuk dia tinggali setelah menikah, namun ternyata berguzar menipunya.. Anakku membeli rumah itu atas nama wanita itu, namun wanita itu ternyata menjualnya bahkan memiliki hutang yang entah bagaimana Serkan yang harus menanggung itu semua.”


“ Dari semua itu, kakak yang mendengar cerita kami hanya terdiam dengan tatapan kosong.. Pada malam hari kondisinya tiba tiba menurun dan dia demam tinggi. Pada hari ketiga kondisinya membaik, namun dia tidak ingat sama sekali mengenai apa yang terjadi. Kami pun mencoba berkonsultasi dengan dokter dan akhirnya berdasarkan rekam medis kondisi tubuh memang sudah jauh lebih baik, namun psikisnya tidak hingga dia menekan memory nya, sehingga psikologisnya yang terkena dampak. Dari situ hanya ada 1 ingatan yang kakak ingat, yaitu selalu datang pada sore hari pada tanggal yang sama melihat selat bosphorus karena terakhir kali saat safiye datang ke kantor, safiye memohon bantuan kakak saat ulang tahunnya untuk menjadi model, melakukan beberapa pemotretan untuk desain baju yang sudah dia kerjakan. Tak lama ingatannya kembali sedikit demi sedikit saat bertemu dengan Dokter Onur. Dan disitu dia mengingat bahwa safiye meninggal karenanya dan dia menjadi lepas kendali. Marah, sedih, dan di saat bersamaan itu juga kau tiba tiba datang dan berdiri disamping pintu masuk ruangan Dokter Onur, lalu terjadilah kejadian waktu itu”


“  Saya mengerti.. Dan apa dari situ dia mulai seperti tidak mengenali dirinya sendiri?”


“ Ya.. Dirumah anakku itu selalu berganti pakaian, bahkan terkadang cara bicaranya pun seperti orang lain yang tidak kami kenali.. Terkadang dia terlihat kacau, malam jadi siang, siang jadi malam.. Sampai akhirnya Dokter Onur membantunya.. Dari situ Serkan mulai melampiaskan dengan berolahraga dan jadi seperti hanyut dalam dunia pekerjaan.”


“ Kurang dari sebulan semua kerugian yang sempat dialami, kakak kembalikan menjadi keuntungan bahkan dengan jumlah kelipatan besar. Sehingga para investor, para direktur lainnya yang awalnya menentangnya menjadi berbalik mendukungnya. Tapi, tetap untuk ingatan mengenai Berguzar dia masih belum sepenuhnya mengingat.”


“ Saya mengerti.. Terima kasih ibu, dan juga Emre..”


“ Almira.. Ibu harap kau dapat membantu serkan..”


Mendengar ibu serkan berbicara seperti ini, aku hanya bisa tersenyum.. Lalu saat kami berpamitan dan mereka berlalu keluar, seketika aku terduduk dikursi.. Hanya sekilas pikiranku terasa kosong melayang entah kemana mendengar cerita ini.. Ternyata itukah yang terjadi padanya? Adiknya meninggal.. Bukan hanya psikologisnya yang terluka, tapi anggota tubuhnya pun terluka.. Pantas saja saat menolongku di ruang kebersihan, dia terlihat sedikit kesusahan menahan dus yang menimpanya saat itu.. Dia juga tertipu, sampai harus melunasi hutang yang dia sendiri tidak tahu dari mana asal hutang itu.. Usaha yang dia kembangkan bangkrut dalam seketika, hanya karena seorang wanita? Tapi, kau masih bisa tersenyum padaku, mau berbincang dan terkadang dengan tatapan hangat melihat kepadaku, meskipun bisa dibilang aku adalah orang yang tidak dia kenali.. Bagaimana aku bisa membantumu? Apa yang harus kulakukan terlebih dahulu?

__ADS_1


__ADS_2